Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Remuk
Suka
Favorit
Bagikan
6. Part 6

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG BELAKANG/KAMAR - PAGI

Asti duduk di kursi, memandangi Astrid, Astrid tertidur lelap, beberapa detik kemudian Astrid menggeliat, bangun.

ASTI

Wis tangi, Trid?

Astrid diam, ia mengucek mata.

ASTI (CONT’D)

Ko ngerti mbok kiye dina apa?

Astrid menguap, ia menutupi mulutnya yang menguap.

ASTRID

Iya, bu. Syutinge mbok bar isya ikih.


ASTI

Ko wis apal adegan karo dialoge, mbok?


ASTRID

Wis apal, bu. Dialog secuil, tok.

ASTI

Eh, secuil tapi angger timinge ora pas ra bakal dadi. Ko keangelen neng adegan apa?

ASTRID

Langka, bu.

ASTI

Serius langka?

ASTRID

Iya.


ASTI

Jajal misal adegan penetrasi. Pas kowe ngomong "Mas ana bapak ora, ya?" kae koe ngomonge pas lagi posisi piwe?

ASTRID

Posisi pas melebu setengah, bu. Tenang bae, bu. Aku wis apal.

ASTI

Tapi temenan karo latihan beda, lho. Temenan wis nguasai banget?

ASTRID

Aku arep adus disit, bu. Soal adegan kabeh wis aku apal.

Astrid membuka kaosnya, Asti kaget.

ASTI

Eh! Papa’an sih kowe! Neng kamar mandi nganah, kiye dudu waktune syuting.


ASTRID

(sambil berlalu dan cengengesan)

Kegawa suasana, bu.

 

Asti memandang Astrid yang berlalu kemudian melamun, wajahnya murung.

Satriyo datang dari ruang depan, ia duduk di samping Asti, ia berkata,

SATRIYO

Astrid lagi adus, bu?

ASTI

Iya. Bos besar piwe? Ngesih diselidiki polisi? Kae peluange dewek lho ben Astrid ora dikituli.


SATRIYO

Esih. Tapi siki ditutup rong minggu.

 

ASTI

Deneng ditutup, pak? rong minggu? berarti dewek langka kesempetan.

SATRIYO

Wakile digenti karo pak Supriyadi.


ASTI

Alesane?


SATRIYO

Wakile ngarahna Sinyo, Dodi karo siji maning anu penyadap sing direkrut karo Dodi, sapa jenenge aku, kelalen, tanpa sepengetahuane pak Supriyadi lan penyidik.

 

ASTI

Dadi bener ya, pak. Dodi kerjasama karo polisi. Berarti bener jerene, pak Supriyadi mata-matane. Aku kerungune Pak Hadi ngomong kayak kuwe ming Dodi ben pak Supriyadi digenti. Sing bener ngendi, pak?

SATRIYO

Kayane demi kekuasaan. Pak Hadi pengen banget nyoreng karire pak Supriyadi. Pengen banget nggantikna. Ya, jenenge bae politik. Dewek kudu percaya seratus persen ming pak Supriyadi. Pak Supriyadi kae wong apik, bersih, ora korup.

 

Satriyo melamun, Asti melihat kearah Satriyo, Asti kemudian bertanya,

ASTI

Tapi ra nyangka ya, pak. Dodi bakalan nekat kaya kae. Melasi bu Maryam.

 

SATRIYO

Jenenge ketetapane Awloh, bu. Dewek bisa apa?

 

Asti menunduk, Satriyo mengambil bungkus rokok dan korek dari kantung bajunya, mengambil satu batang rokok,

tiba-tiba Asti berkata,

ASTI

Bagi siji rokoke, pak. Wis suwe ora ngudud.

 

Satriyo memandang Asti, kemudian Satriyo mengambil satu batang dari dalam satu bungkus rokok kemudian memberikannya kepada Asti.

CUT TO:

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG DEPAN - SORE

Astrid bersama dengan tiga anak seumurannya. Seorang remaja smp menunjuk sebuah halaman buku, ia berbicara, namun suaranya tidak bisa didengar penonton, Astrid dan remaja smp lainnya melihat halaman buku yang ditunjuk oleh remaja smp tersebut, Astrid berbicara kepadanya, dua remaja smp lainnya memperhatikan.

Satriyo memperhatikan dari pintu tengah, ia kemudian masuk ke dalam.

INT. RUANG BELAKANG - SORE

Satriyo mengambil kopi yang ada di meja kemudian dia duduk. Terdengar dialog antara Astrid dan tiga orang temannya. Saat dialog Astrid dan tiga temannya terdengar Satriyo sedang menyeruput kopinya beberapa kali, meletakkannya di meja kemudian menyandarkan kepala di tembok anyaman bambu.

TEMAN ASTRID 01 (O.S)

Bukane soal kiye kudune dibagi dudu dikurangi, Trid.

ASTRID (O .S)

Dela, aku cek rumusane disit.

TEMAN ASTRID 02 (O.S)

Wajar Astrid bingung, kiye mbok pelajaran pas Astrid ora mblebu.

TEMAN ASTRID 01 (O.S)

Eh, tapi Astrid sregep. Pasti neng umah wis sinau, eh. Neng nggone dulurmu, ya?

ASTRID (O.S)

Iya.


TEMAN ASTRID 03 (O.S)

Trid..... Ko deneng siki madan menengan, biasane rame. Hurung mari apa?

TEMAN ASTRID 02 (O.S)

Angger hurung mari aja dipaksakna.

ASTRID (O.S)

Iya, sih. Ngesih madan mumet. Tapi angger leha-leha terus kapan bisa marine. Yuh, lanjutna.


TEMAN ASTRID 02 (O.S)

Nah, kiye Astrid sing bia...

Suara yang didengar Satriyo hilang bersamaan dengan suara Wa Sirah yang sedang bersholawat di masjid.

Suara sholawat makin keras, Asti keluar dari kamar. Sambil jalan ke arah pintu belakang ia menggerutu,

ASTI

Nini-nini munafik. Sholawate Sirah ra kanggo neng akherat!

SATRIYO

Aja keseron, bu. Neng ngarep ana kancane Astrid.

Asti menghentikan langkahnya. Berkata,

ASTI

Ra nyangka patang jam maning keperawanane Astrid ilang.

Satriyo terdiam.

EXT. RUMAH WA SIRAH - DEPAN PINTU - MALAM

Pardi berdiri di depan pintu, rokok ia hisap dalam-dalam. Satriyo, Asti dan Astrid berjalan ke arahnya.

Satriyo mendekat dan menyalami Pardi, mereka semua saling memberi salam.

SATRIYO

(mengulurkan tangan untuk salaman)

Maaf mas, telat.

PARDI

(menyalami Satriyo)

Mboten nopo-nopo, pak. Langsung bae, nggih.

SATRIYO

Nggih. Yuh, Trid, Koe langsung melebu kamar karo mas Pardi.

 

Pardi melangkah diikuti yang lain, ia membuka pintu lebar-lebar. Sambil membuka pintu ia berkata,

PARDI

Lawange dibuka bae nggih, pak. kersanipun mboten wonten curiga.


SATRIYO

Nggih.

 

INT. RUMAH WA SIRAH - RUANG BELAKANG - MALAM

Adegan diambil secara Total Shot.

Asti mulai duduk di kursi panjang, kursi yang biasa ada di tempat penjual bakso, ia memilah-milah kaset, dilihatnya kaset Didi Kempot, ia memandangnya dan meletakkannya kembali di meja.

Pardi berjalan menuntun Astrid, Satriyo berjalan di belakang mereka, Astrid masuk disusul Pardi, saat Pardi hendak menutup pintu Satriyo mencegah dengan tangannya.

SATRIYO

Ampun ditutup.

PARDI

Nggih, pak.

Satriyo melihat ke sekeliling, dia melihat sebuah bangku di samping pintu masuk, ia mengangkatnya, Asti sejak tadi terlihat mengetuk-ngetukkan kaset Didi Kempot.

Dalam adegan tersebut kita mendengar Pardi berkata pada Astrid.

PARDI (O.S)

Buka jakete, dek. Buka klambine.

Satriyo meletakkan bangku yang ia bawa tepat di depan pintu masuk

PARDI (CONT’D) (O.S)

Buka behane. Memang montok awakmu.

Satriyo duduk memperhatikan, matanya sayu.

Terdenger suara Pardi mengenyot payudara Astrid, Astrid mendesah.

Mata satriyo makin sayu, Asti membuka kaset Didi Kempot.

PARDI (O. S)

(menghisap puting susu)

Menggairahkan banget body ponakanku iki.

 

Satriyo memperhatikan dengan seksama, matanya menjadi merah, Asti memasukkan kaset Didi Kempot ke dalam tape, ia melongok ke Satriyo dan bertanya,

ASTI

Bapake arep nonton?

Sambil tetap menonton Satriyo berkata,

SATRIYO

Iya.

Kita juga mendengar suara susu Astrid yang dikenyot Pardi dan desahan Astrid.

Asti bertanya lagi,

ASTI

Bapake kuat, tah?

Sambil terus menatap ke depan dengan mata yang makin memerah satriyo menjawab,

SATRIYO

Kuat.

Sambil melengos Asti berkata,

ASTI

Angger aku tah ora kuat.

Asti menekan tombol play, terdengar intro lagu cucak rowo dari Didi Kempot. Satriyo diam, dia menonton dengan mata memerah dan sayu, bola mata Asti menatap langit-langit kemudian menunduk dan menatap langit-langit kembali, gestur tubuhnya resah, Asti berusaha menahan isak.

Saat suara vocal Didi Kempot mulai terdengar kredit title muncul, beberapa saat kemudian saat pasangan duet Didi Kempot mulai bernyanyi layar pun menggelap dan kita bisa melihat full credit title.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)