Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Remuk
Suka
Favorit
Bagikan
5. Part 5

INT. RUMAH SAKIT - RUANG TUNGGU UGD. - MALAM

Asti duduk terdiam, disampingnya Astrid duduk menyandarkan kepala ke pundak Asti, duduk Haikal (42), Komandan, di sebelah Astrid, Haikal tersebut mengajak Asti mengobrol.

HAIKAL

Tenang saja, bu. Di bidangnya kasus ibu sudah ditangani sejak beberapa bulan. Ada mata-mata di pihak kami.

ASTI

(menunduk)

Mata-mata? Siapa, pak?

HAIKAL

Itu jadi urusan kami, bu. Sekarang ibu kembali saja ke rumah. Anak buah saya tadi kasih kabar, pak Satriyo sudah tau semua. Mari kami antar ibu dan nak Astrid ke rumah. Soal lain-lain biar kami yang urus.

kamera men-syut seluruh ruang, terlihat Nurdin menunggu lift yang terbuka.

ASTI (O.S)

Terus, pak? Yanto Bagaimana?

HAIKAL (O.S)

Untuk itu kami turun prihatin, bu. Sangat prihatin. Hari sudah malam, lebih baik jenazah pak Yanto kita semayamkan disini.

 

Asti tersentak, ia menunduk, dilihatnya bayangan dirinya di lantai keramik, lalu bayangan Asti di keramik perlahan-lahan gelap seirama dengan Asti yang menutup mata dan terisak.

 

CUT TO:

 

EXT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - HALAMAN DEPAN - MALAM

Dua orang polisi, Budi (34) dan Rohmat (37) berpenampilan tegap dan berambut cepak serta memakai seragam lengkap duduk di kursi depan, di meja ada dua cangkir kopi dan dua bungkus rokok. Budi yang duduk di sebelah kanan mengambil secangkir kopi dan meminumnya.

Terdengar suara Satriyo dan Asti dari dalam rumah,

SATRIYO (O.S)

Aku ya kelangan bu, Yanto ora kesuh pas ko ngomong keadaan dewek. Jan.....Jan..... Bener-bener bocah apik.

ASTI (O.S)

Nilai pmp-ne duwur pas ngesih sekolah. Tapi pak....


INT. RUANG BELAKANG - MALAM

ASTI (CONT’D)

Tapi... Kae loh, pak. Yanto sing dadi tumbal penyelesean masalaeh deket.

 

SATRIYO

(memelankan suara)

Rampung kepriwe?

ASTI

Maksute bapak?

SATRIYO

(memelankan suara)

Ngomonge aja seru-seru.

ASTI

(memelankan suara)

Iya, pak.


SATRIYO

(memelankan suara)

Koe ngerti komandan polisi sing mau njujukna ko?

ASTI

(memelankan suara)

Ya?


SATRIYO

(memelankan suara)

Pas aku ming nggone bose, kae wong lagi ngobrol karo bangsat kae.

 

ASTI

Astagfirullah....

SATRIYO

(memelankan suara)

Aja seru-seru.


ASTI

(memelankan suara)

Lagi nyamar ndean, pak?

SATRIYO

(memelankan suara)

Nyamar apane? Wong nganggo seragam polisi lengkap kaya kae, koh.


ASTI

(memelankan suara)

Nah, angger polisi sing neng ngarep?

 

SATRIYO

(memelankan suara)

Angger kae aku ora ngerti. Tapi biasane bawahan manut ming atasan, mbok.

Raut wajah Asti Cemas.

ASTI

(memelankan suara)

Iya ya, pak. Dewek kudu piwe kiye.

 

Asti memperhatikan Astrid yang tertidur, tubuh Astrid meringkuk memeluk guling, wajah Astrid kelelahan.

SATRIYO (O.S)

Bu, sholat isya, yuh?

Asti menengok dan membalas,

ASTI

Yuh.

Satriyo mulai berjalan, Asti tetap memperhatikan Astrid. Satriyo membuka pintu belakang dengan cara diangkat, kemudian pintunya digeser dan diletakkan di samping dekat grendel. Sambil melongok Satriyo memanggil Asti.

SATRIYO

Hayuh, bu...!

Asti memperhatikan Astrid. Sambil memperhatikan ia berkata,

ASTI

Astrid siki diajak sholat wengi ora tau gelem, sholat lima waktu be ora. Aku ra paham. Pas terakhir Asti sholat kae pas dzuhur, sorene ngomong...


SATRIYO

Wis, bu... Yuh, wudlu.

ASTI

Tapi kenangapa? Dewek dosa gede ya, pak?

 

SATRIYO

Dosa apa?

 

ASTI

Sandiwara neng hadapan Gusti Allah. Mending dewek njagong, pak?

Satriyo membentak Asti.

SATRIYO

Bu!

Raut Asti sedih, sambil menunduk ia berbalik dan berjalan ke arah pintu, Satriyo berjalan, Asti mengikuti Satriyo.

Shot fokus ke pintu, suara langkah kaki dan beberapa detik kemudian suara Satriyo dan Asti berwudlu terdengar jelas.

INT. KAMAR DODI - DINI HARI

Dodi terlelap, ia tidur menyamping di pinggir ranjang, tiba-tiba handphone di depannya bergetar dan menyala.

Di handphone terlihat Nurdin mengirim pesan.

Kamera syut diantara Dodi yang tertidur dengan suara handphone yang bergetar dan menyala.

CUT TO:

EXT. ALUN-ALUN KOTA - SIANG

Sebuah angkot berhenti, Asti dan Astrid turun, Asti dan Astrid menenteng beberapa kantong plastik, seorang penumpang membantu menurunkan satu kantong plastik yang paling besar, Asti menerimanya.

ASTI

Suwun.

Asti menaruh semua barang di trotoar kemudian memberi dua kepada Astrid, ia pun mengangkat dua lainnya.

ASTI (CONT’D)

Yuh, Trid.


ASTRID

Iya, bu.

 

Mereka berdua berjalan.

ASTI

Dewek ngadang angkot maning neng sebrang dalan. Jere bapak umah sing nggo syuting wis ditetapna, neng umaeh wa Siroh, dadi persiapane dewek wis mateng.

ASTRID

Wa Siroh dibayar pira, bu?

ASTI

Mbuh. Dewek fokus bae karo tugase dewek.


ASTRID

Padahal wa Siroh ben dina solawatan neng mesjid.

ASTI

Jenenge be duit. Jaman siki duit ngalahna segalane, termasuk iman.

ASTRID

Bapak lan ibu juga kalah, ya?

ASTI

Bisik. Koe be iya.

Asti melongok ke koran dinding di sampingnya.

ASTI (CONT’D)

Dela.

ASTRID

Arep ngapa, bu.

ASTI

Mbok ibu menang kuis kang produk susu. Lumayan patang juta.

ASTRID

diumumnan neng koran radar?

ASTI

Iya.

Asti mendekati mading, ia menelusuri berita tentang undian mingguan dengan telunjuknya, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah artikel. Artikelnya,

Seorang Komandan Polisi Ditembak Mati Setelah Dua Anak Buahnya Dibegal, Empat Pelaku Tewas Ditempat, Satu Buron.

ASTI (CONT'D)

Astagfirullah. Ya Allah.

ASTRID

Bu? Kenangapa?

Asti menjawab dengan tawa cemas.

ASTI

Ibu ora menang lombane. Yuh, bali.


ASTRID

(tersenyum lega)

Jarkune apa.

 

INT. RUMAH NURDIN - HALAMAN BELAKANG. - SIANG

Nurdin menjemur pakaian, terlihat sprei besar berwarna putih, beberapa baju anak-anak kecil, kaos kaki, seragam SD anak perempuan tergantung di tiang jemuran. Nurdin menjemur sambil bertelepon.

NURDIN

Ya, Ya. Bener, mas. Itu isi Wa-nya Sunyoto. Saya juga kaget kalo kepala bagian penyelidikan ternyata titipannya istri bos besar. Gimana, mas? Mau meminta bantuan mas Sinyo? Kalo saya manut aja. Oh mas Sinyo dulu sering bantu-bantu di tempatnya pak Supriyadi, jadi intinya gak akan bikin curiga istrinya pak Supriyadi? Iya bener, mas. Kalo udah kayak keluarga, pertanyaan berisiko bisa disamarkan dengan becandaan-becandaan kecil. Oke, mas. Baik, baik. Saya masih pantau hapenya Sunyoto, kalo ada lagi yang penting, saya langsung hubungi.

 

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG BELAKANG - SIANG

Asti dan Satriyo duduk berdekatan, mereka berbicara pelan berbisik.

SATRIYO

Aku be ra nyangka, bu, Bakal kaya kiye.


ASTI

Dewek terlibat karo wong-wong medeni, pak.


SATRIYO

Astrid ngesih neng ngarep, mbok? Ati-ati mbok ming ngeneh. Tapi kyeh, bu. Semisal bos besar pelakune, pasti siki polisi wis nguber bos besar.

ASTI

Wis pasti kae, pak?

SATRIYO

Wis. Siki dewek fokus syutinge Astrid bae.

ASTI

Tapi dewek kok ngesih persiapan syuting, pak? Bukane malah wis meh pasti ya syutinge batal, mbok mengko bakal diserbu polisi pas syutinge, malah ndean umaeh bos besar sing diserbu.

SATRIYO

Ya. Dewek ora ngerti juga, bu. Ben dadi urusane polisi, kae. Dewek tawakal bae.

Suasana hening, dan beberapa detik kemudian Asti berkata,

ASTI

Yakin, pak? Sing mateni polisi-polisi kae dudu bos besar lan anak-anak buaeh?

SATRIYO

Yakin. Nggo ngapa jajal? Malah ngerugigna bos besar. Kyeh rungukna aku, bu. Aku weruh pas neng umaeh bos besar kae polisi-polisi bantu nganah-ngeneh, bantu kae, kiye, lan laine. Dadi mustahil lah, bu. Ra mungkin banget.

 

INT. KANTOR POLISI - MARKAS INVESTIGASI BAGIAN EKSPLOITASI WANITA DAN ANAK - POLDA METRO JAYA - SIANG

Supriyadi rapat dengan anak-anak buahnya, Supriyadi duduk di depan menghadap ke arah beberapa anak buahnya.

POLISI ANAK BUAH SUPRIYADI

Jadi menurut saya, pak. Pak Haikal, pak Budi dan pak Rohmat memang dikorbankan supaya kita mengira bahwa mereka menggunakan cara ini agar kita percaya bahwa kabar beliau bertiga bukanlah anggota mereka adalah kebohongan.

POLISI ANAK BUAH SUPRIYADI LAINNYA

Saya juga sependapat, pak. Ini sepertinya supaya kita berpikir, beliau-beliau cuma korban biasa, biar kita mikirnya "Gak mungkinlah si bos besar itu ngehabisin anak buahnya sendiri"

SUPRIYADI

Memang bisa jadi seperti itu. Baiklah besok siang kita rapat lagi untuk keputusan. Rapat selesai.


Seluruh polisi berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan, Supriyadi menekan beberapa nomor.

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG DEPAN - SIANG

Satriyo dan Supriyadi sedang bertelepon, Satriyo mendengarkan suara Supriyadi di telepon.

SUPRIYADI (O.S)

Besok keputusan udah jelas, tidak ada mata-mata bos karena pak Budi, pak Rohmat dan pak Haikal sudah tewas. Dimata penyidik, kepolisian bersih sekarang. Kamu tinggal tangani istrimu supaya benar-benar percaya, nanti persenannya saya kirim. Bos besar percaya penuh sama kita, jangan buat bos kecewa. Ingat istrimu itu saksi kunci, sekali dia tahu faktanya, otomatis kamu gak bakal dapat duitnya dan istri-anakmu bakal susah makan seterusnya. Ngerti?

Telepon ditutup oleh Supriyadi.

CUT TO:

 

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG BELAKANG - MALAM

Asti duduk, ia memperhatikan ke dalam kamar tidur, sesekali ia memperhatikan stopwatch yang ada di tangannya. Satriyo berdiri di depan pintu belakang sambil merokok.

Enam puluh lima detik kemudian terdengar erangan dari Astrid, Asti berjalan memasuki kamar dan berkata,

ASTI (O.S)

Ngesih terlalu sue, Trid. Filme durasine 21 menit, nggo adeganmu kiye kudune nganti pitung menit ko kuate.

 

ASTRID (O.S)

Ora bisa digawe-gawe apa, bu?

ASTI (O.S)

Ora bisa. Mengko lubangmu sing disorot.

 

ASTRID (O.S)

’Kan bisa nganggo efek, bu.

ASTI (O.S)

Jere bapakmu bose pelit, ra gelem modal efek.

ASTRID (O.S)

Asu!


ASTI (O.S)

Apa, Trid?!

ASTRID (O.S)

Aku ngdumel ming bose, bu.

Satriyo yang sejak tadi disyut terkejut.

INT. KAMAR TIDUR - MALAM

Satriyo berlari panik ke dalam kamar.

ASTI

Ana apa, pak?

SATRIYO

Dewek wis tuku kaos oblong karo celana olahraga nggo Pardi hurung?


ASTI

Ya’Awloh kelalen, pak.

SATRIYO

Ngesuk, bu. Ming pasar.

ASTI

Iya, pak. Waktune sih gari pirang dina maning?

SATRIYO

Angger karo siki diitung, telung dina maning, bu.


Asti mengangguk.

INT. KAMAR DODI - MALAM

Dodi memainkan handphonenya, syut ke hape, dicarinya nama Sinyo di WA, ia mengetik sesuatu.

Yang diketiknya adalah,

Ko neng endi?

Dodi kembali mengetik,

Ket sore langka kabar. Piwe sih?

Dodi mengetik lagi,

Wis nemoni bu Mita, mbok?

Dodi menunggu. Ia mengambil secangkir kopi kemudian menyeruputnya. Dodi menunggu sambil melihat hape, tiba-tiba terdengar suara dari luar

TUKANG PAKET (O.S)

Paket!

 

EXT. JALAN DEKAT PERSAWAHAN MENUJU KAMPUNG - PAGI

Dodi berdiri melamun memperhatikan ke arah para petani yang sedang membajak sawah, seekor sapi yang sedang diarahkan untuk membajak sawah oleh seorang petani diperhatikan oleh Dodi.

Asti lewat sambil menenteng barang belanjaan, ia memperhatikan Dodi, kemudian berkata,

ASTI

Asu ngeres!


Dodi terdiam sesaat kemudian dia melongok dan melihat Asti sudah berjalan beberapa meter. Dodi mengejar kemudian menepuk pundak Asti, Asti melongok. Asti terkejut.

ASTI (CONT'D)

Apa kowe, su?!


DODI

Sabar, bu. Sabar. Aku paham kenangapa bu Asti kesuh karo aku. Aku kiye ana neng pihak polisi, bu. Sinyo kae polisi. Ibu pasti wis kerungu sapa kae Sinyo angger wis ngerti aku melu sindikat.


ASTI

Tai!


DODI

Nggo ngapa aku ngelombo nggawa-nggawa wong sing wis mati. Sinyo wis mati, bu. Endase dikirim lewat paket mau mbengi ming umah, Sinyo wis konangan. Untung ibu lagi ming nengok Lik Samsul neng Jakarta.


ASTI

Koe aja ngarang-ngarang, ya. Seandaine kae temenan terus kenangapa bos besar ora segera ditangkap ket ganu?!


DODI

Prosedur lan bukti, bu. Ditambah ngesih ana mata-mata sing angel dideteksi neng kepolisian, tapi kae Supriyadi, bu. Ket ganu sing nggawe kasus tersendat kue Supriyadi.


ASTI

Tai-lah. Mas Satriyo ngomong telung polisi sing mati kae anak buaeh bos besar, mata-matane bos besar wis mati kabeh! Lunga! Nek ora aku laporna ibumu! Koe, bos besar, karo Sinyo lan Nyoto wis nggawe akeh wong remuk!

Dodi terhenyak.

Asti terus berjalan, ia mempercepat langkahnya.

Dodi pause.

CUT TO FLASH BACK:

EXT. JALAN DEKAT PERSAWAHAN MENUJU KAMPUNG - SEBUAH GUBUG - DINI HARI

Sinyo merokok dan berdiri, angin di persawahan berhembus dengan kencang. Dodi melamun sambil tidur-tiduran di dalam sebuah gubug, sesekali ia memperhatikan Sinyo. Sinyo berbalik, ia menuju gubug, Dodi yang tidur-tiduran bangun dan mempersilakan Sinyo untuk duduk disampingnya.

DODI

(sambil tertawa)

Pak polisi, jagong ngeneh, pak.


DODI (CONT’D)

Ora nyangka loh koe kiye polisi. Aku ngirane koe emang penjahat kelamin temenan. Koe wis nipu aku wolung taun, hahaha.

SINYO

Meski tujuanku sebenere baik tapi aku wis ngeremukna akeh wong termasuk koe, Dod.

DODI

Maksute?


SINYO

Jajal pirang keluarga sing digawe rekasa neng aku. Digawe anake ora perawan maning.

DODI

Sing penting niatmu baik, Nyo. Kebetulan bae pas kae hurung ana bukti cukup. Aku paham akeh keluarga lan anak gadise sing trauma, tapi koe wis berusaha, walau gagal koe wis berusaha.

Dodi menepuk-nepuk pundak Sinyo. Sinyo menangis.

DODI (CONT’D)

Sabar. Gusti Awloh memperhatikan ciptaannya dari dalam, bukan luar.


FLASH BACK CUT TO:

EXT. JALAN DEKAT PERSAWAHAN MENUJU KAMPUNG - PAGI

Wajah Dodi masam, ia lalu memperhatikan Asti yang makin menjauh. Dodi berjalan sambil menunduk.

INT. RUMAH/WARUNG KELONTONG BU MARYAN - PAGI

Dodi berjalan masuk ke dalam ruang warung, ia membuka lemari bagian paling bawah dan mengambil racun tikus dengan merek Mao Wang. Dodi memasukkan racun tikus tersebut ke dalam kaus dalamnya kemudian berjalan.

Kamera mensyut Dodi yang berjalan ke ruang belakang, kamera tetap mensyut meski Dodi sudah tidak terlihat, kamera tetap mensyut, Dodi kembali dengan membawa segelas air putih dan sebuah sendok, kamera bergerak mengikuti Dodi yang masuk ke kamarnya.

INT. KAMAR DODI - PAGI

Dodi memasukkan racun tikus ke dalam gelas yang sudah berisi air kemudian mengaduknya dengan sendok. Dodi mengambil gelas kemudian melangkah dan duduk di ranjang, ia memegang gelas dengan pandangan kosong.

Terdengar suara Maryam memanggil-manggil Dodi,

MARYAM (O.S)

Dod! Ngeneh, Dod! Bantu ibu njemur! Dod! Nembe bali malah turu!

Dodi diam dengan pandangan kosong. Wajahnya masam.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)