Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Remuk
Suka
Favorit
Bagikan
2. Part 2

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG DEPAN - MALAM

Astrid sedang mengerjakan pekerjaan rumah, wajah dan tangannya diterangi cahaya lampu patromak, pintu dibiarkan terbuka.

Terdengar dari dalam Asti membaca surah Ali Imran. Satriyo yang berdiri di halaman depan menghisap rokok dan menghembuskannya, Satriyo kemudian membuang rokok ke lantai dan menginjaknya sampai apinya mati.

ASTRID

eman-eman sesipun, pak. Ngesih panjang.

EXT. HALAMAN DEPAN - MALAM

Satriyo melihat ke arah bawah, dilihatnya rokok yang masih panjang. Ia mengambilnya kembali, memperhatikan rokok, kamera menshot jari jemari Satriyo yang memegang rokok kemudian memperluas pandangan sampai dititik Astrid dishot sedang memperhatikan ayahnya, Shot tersebut diambil dari balik jendela dengan korden putih renda-renda.

ASTRID

Alhamdulillah mas pardi kersa panjenengan mbenjangaken ses, pak. Ampun mbuang rezeki.

Dengan shot yang sama, Satriyo, pergi berlalu. Astrid tertegun, keheranan nampak di wajahnya.

CUT TO:

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - KAMAR - DINI HARI

Satriyo tertidur pulas dengan posisi merebah, ia tidur di bawah dengan hanya beralaskan seprei tipis, selimut yang dilipat-lipat dijadikan bantal. Di ranjang Astrid tidur menghadap samping sambil memeluk guling. Terdengar suara mengalir, suara orang berwudhu, Satriyo dan Astrid terlelap pulas.

Terdengar pintu ditutup dan dikunci, Asti muncul dari arah ruang belakang dengan wajah, tangan dan kaki basah, ia mengelap tubuhnya yang basah dengan handuk, setelah berhanduk, ia berjalan, menggantungkan anduk di pintu.

Asti mendekati Satriyo, menggoyang-goyangkan tubuh Satriyo dan memanggil-manggil dengan suara perlahan.

ASTI

Pak, tangi, pak. Dewek sholat hajat.

Dalam keadaan mengantuk berat, Satriyo menggumam,

SATRIYO

Jawabane wis jelas bu, usah nggawa-nggawa agama.

ASTI

Udu kuwe, maksud ibu, dewek sholat hajat nggo nggolet petunjuk apa dewek ngeweih ngerti Astrid soal kae ngesuk apa mendadak pas videone arep digawe.

SATRIYO

Angger bisa ngesuk bae.

ASTI

Dadi maksud bapak lewih cepet lewih apik?

Satriyo tidak merespon, ia tidur kembali.

Asti terdiam dengan ekspresi sedih, ia melangkah beberapa langkah dan mengambil sajadah. Asti menggelar sajadah, mengambil mukena dan memakainya, ia berdiri di atas sajadah, melafalkan niat shalat shalat, takbiratul ihram.

DISSOLVE TO:

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG DEPAN - PAGI

Astrid menyisir rambutnya dengan tangan kanan, tangan kirinya memegang cermin genggam berukuran sedang, Satriyo yang duduk di kursi memperhatikan dengan serius Astrid yang ada tepat beberapa langkah di depannya.

SATRIYO

Trid, bapak arep ngomong.

ASTRID

Nggih, pak?

SATRIYO

Dadi ceritane...

Satriyo terdiam.

ASTRID

Ceritane nopo, pak?

SATRIYO

Nak Astrid ngerti keadaan ekonomi keluargane dewek, utang bapak ibu numpuk, akeh banget sing hurung disaur, nah bapak olih info ana bule sing arep ngelunasi utang bapak ibu, tapi ana syarate, syarate bapak, ibu, lan Astrid kudu terlibat pembuatan video dewasa, Astrid sing dadi modele.

Sekilas espresi Astrid terkejut, tapi kemudian ia tersenyum dan berkata,

ASTRID

Mboten punapa-punapa, pak. Astrid jagi bantu bapak ugi ibu.

Satriyo terhentak, ia sujud di kaki Astrid, berdiri, kemudian memeluknya dan menangis.

ASTRID

Mboten punapa, pak. Astrid ikhlas. sakmenika astrid jengkar rumiyen, nuwun inggih, pak.

Astrid melangkah, mengambil tas yang tergeletak di kursi.

ASTRID (CONT'D)

Assalamualaikum.

Astrid melangkah, Satriyo masih terisak, Astrid berbalik menuju Satriyo.

ASTRID (CONT'D)

Dereng salim, pak.

Astrid mencium tangan Satriyo, kemudian melangkah pergi, Satriyo tetap terdiam dengan terisak, ia melihat Astrid melangkah pergi, Satriyo memperhatikan Astrid yang pergi dengan mata merah, berair, dan nanar, dilihatnya dari jendela Astrid yang menunduk murung.

DISSOLVE TO:

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - KAMAR & RUANG BELAKANG - SIANG

Satriyo sedang berbaring di kursi lesehan, ia melihat ke langit-langit tembok, tangannya seperti ingin meraih sesuatu, di meja kecil di sampingnya, tangannya terus mencari, ia bangun, dilihatnya meja kecil, disana tidak ada apa-apa.

SATRIYO

Bu...! Rokok-ku endi?!

Asti tidak menjawab, adegan senyap selama beberapa detik, Satriyo kembali berteriak

SATRIYO (CONT'D)

Bu...! Ndeleng rokok ku ora?!

Tetap tidak ada jawaban, suasana kembali hening. Beberapa saat kemudian Satriyo kembali membaringkan tubuhnya, ia melihat ke arah Astrid biasa tidur, dilihatnya guling, Satriyo berdiri, berjalan kemudian mengambil guling, Satriyo berjalan balik ke tempatnya berbaring kemudian merebahkan tubuhnya dan memeluk guling tersebut, ia memejamkan mata selama beberapa detik, kemudian membuka matanya kembali.

Asti muncul dan melongok.

ASTI

Ana apa, pak?

SATRIYO

Anu...Apa, ya? Maune soal rokok, tapi siki dudu kue, aku kepikiran karo uripe Astrid.

ASTI

Pasrahna bae, pak, siki dina kepitu dewek sholat hajat bareng, termasuk karo Astrid. Soal rokok mbok ngesih ana sing diweih mas Pardi, apa wis entong?

SATRIYO

Oh iya ya, bu. Aku kelalen. Anu...

ASTI

Anu apa, pak?

SATRITO

Pardi kae lawan maine astrid neng film saru, mbok? Kaya apa wonge?

ASTI

Ya... Wonge gagah, apik, bersih.

SATRIYO

Angger Astrid ngerti arep digagahi... Pas pertama ngerti... Neng ngarepe dewek reaksine mesti ikhlas, ya? Tapi, neng buri...

ASTI

Astrid dudu wong kaya kue, pak.

SATRIYO

Tapi... Mau esuk...

Asti merebut guling yang ada di tangan Satriyo kemudian melemparnya dan mengenai bilik bambu kamar.

ASTI

Bapak deneng wis cerita?!

Luapan emosi yang besar nampak dari wajah Asti.

ASTI (CONT’D)

Bapak deneng ora bareng karo ibu nyeriktanane? Apa bapak bisa ngomong angger dewekan? Soal kayak kiye kudune ibu sing ngomong, bapak ndampingi tok.

SATRIYO

Lah, waktune ora suwe maning. Ben Astrid ora kaget.

ASTI

Apa ora bisa ngenteni nganti sore, pas aku ana neng umah? Jajal ngomonge kaya apa?

SATRIYO

Waduh aku kelalen, bu. Pokoke menjelaskan "Kiye, kiye, penyebabe, alesane" tapi aku kelalen lengkape.

ASTI

Pak, kok bisa kelalenan kayak kae, umur ngesih patang puluh loro, koh.

 

Satriyo hanya terdiam, ia melangkah mendekati bantal guling yang tergeletak, kemudian mengambilnya dan menepuk-nepuknya.

ASTI (CONT'D)

Angger mbersihina bantal aja neng kene, pak. Ngko malah seruangan kiye debuan kabeh. Neng luar!

Satriyo melangkah, ia melewati Asti tanpa berkata sepatah katapun, Asti yang kesal duduk di kursi lesehan, ia beristighfar.

SFX: Bantal ditepuk-tepuk.

CUT TO:

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG DEPAN - SORE

Astrid duduk menghadap Satriyo dan Asti, Asti menangis sesenggukan, Satriyo berbicara terpatah-patah.

SATRIYO

Wis jelas hurung, Trid, sing disampekna ibu mau?

ASTRID

Sampun, pak

SATRIYO

Astrid ikhlas? Mboten nopo-nopo?

ASTRID

Mboten, pak.

ASTRID (CONT’D)

Pak, bu, Astrid kresa gegulang rumiyen, benjing wonten ulangan geografi. Bapak ugi ibu saged tilaraken Astrid sekedhap dipunmriki?

ASTI

Nggih, Trid.

SATRIYO

Semoga sinaune membuahkan hasil.

ASTRID

Amin.

Satriyo dan Asti melangkah menuju ruang belakang, Astrid berdiri melangkah ke arah rak buku yang ada di depannya, mencari-cari LKS dan buku serta buku catatan Geografi, ia menemukannya dan melangkah kembali ke kursi yang tadi ia duduk kemudian menaruh buku, buku catatan dan LKS geografi di meja.

CUT TO:

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - KAMAR - DINI HARI

Satriyo, Asti dan Astrid sedang sholat tahajud berjamaah, Astrid dan Asti mencium tangan Satriyo. kemudian Satriyo dan Asti berdzikir, Tiba-tiba Astrid berkata:

ASTRID

Matur sembah nuwun, bapak ugi ibu. saben dalu sampun doakan Astrid, Astrid ngertos alasan bapak ugi ibu sholat bareng.

Astrid melanjutkan,

ASTRID (CONT’D)

Ampun nyekel penggalih, Astrid sampun jagi.

Satriyo dan Asti terus berdzikir, Astrid mulai berdzikir.

CUT TO:

EXT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - HALAMAN DEPAN - PAGI

Satriyo menggambil gelas kemudian menyeruput kopi, lalu masuk ke dalam,

INT. RUANG DEPAN - PAGI

Sambil masuk ke dalam ia bertanya dengan suara keras.

SATRIYO

Jam pira siki, Bu?

ASTI

Pitu kurang sepuluh.

SATRIYO

Lah, Astrid?

ASTI

Ra mangkat. Pas aku arep tangikna tangane adem banget. Kayane masuk angin kebanjur.

ASTI (CONT’D)

Gara-gara bapak ngeweih ngerti Astrid kecepeten.

Dengan murung Asti mengomel,

ASTI (CONT'D)

Angger bapak ora bisnis tanah karo pak Tarjo, ra bakal kenal karo Nyoto. Bapak cara gaule karo Nyoto salah, ngomong vulgar, mbahas filem porno Jepang, ya wis darani bapake ora masalah karo sing saru-saru, kerayu omongane Nyoto, nganti ngomongna bocah jaman siki smp rata-rata wis ora perawan, kenal istrine bos terus kena bujukane, bapak kikuk gegara spp-ne Astrid enem wulan wis dibayari istrine bos, dadine arep nolak tawarane bos asu angel, ora kepenak.

Satriyo masuk ke dalam tanpa berkata sepatah katapun.

ANGLE ON: ASTI MEMPERHATIKAN SATRIYO YANG MENGAMBIL KURSI KEMUDIAN MELETAKAN KURSI DI SAMPING PINTU DAN DUDUK BERSANDAR PADA BILIK BAMBU. DARI SUDUT DALAM, DI DALAM KAMAR TERLIHAT ASTRID, DUDUK MEMPERHATIKAN AYAHNYA DAN IBUNYA DENGAN RAUT SEDIH.

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, Pardi mengucapkan salam.

PARDI (O.S)

Asalamualaikum.

Asti menggerutu.

ASTI

Tukang kitul enteng ngucapna salam, ra sadar diri.

Asti melangkah

ASTI (CONT’D)

Wa’alaikum salam.

Asti tepat berhenti melangkah beberapa meter dari Pardi berdiri, Asti tersenyum ramah, ia mempersilakan Pardi untuk masuk.

ASTI

Silakan masuk, mas.

PARDI

(memelankan suaranya)

Ing njawi kamawon, bu. ajrih mireng Astrid. eh, Astrid sekolah nggih, bu. kula kesupen.

ASTI

Mboten menapa-menapa. Astrid sampun mangertos. Astrid ugi mboten budhal amargi demam.

Pardi tertegun sesaat kemudian melangkah ke dalam, ia tersenyum namun agak dipaksakan.

PARDI

Saea, bu.


Pardi duduk, Asti mengucap permisi untuk membuat kopi. Pardi mempersilakan. Tanpa sengaja Pardi melihat secara POV Asti yang sedang memberi tahu kedatangan Pardi pada Satriyo, Pardi memperhatikan rait wajah mereka, Satriyo dan Asti berbicara pelan sekali. Pardi melihat Satriyo berdiri dan melangkah ke arahnya, Pardi refleks melihat ke arah lain. Satriyo menyambut Pardi.

SATRIYO

(duduk)

Enten betah menapa, mas Pardi?

PARDI

Dados... Bos ageng dipuntimbali inggilanipun ing mukawis daerah ing ler Amerika Serikat, piyambakipun berpesan, menawi nyaged kengken konjuk memprioritaskan Kolombia riyen konjuk bisnis niki. dados berpengaruh ugi datheng film ingkang rencananya kersa dipunkartikani Astrid, udakawis 3-4 wulan masa tayang saksampune syuting.

SATRIYO

Kados pundi, nggih? mboten masalah menawi 3 wulan, masalahnya menawi 4 wulan malih Astrid malih ujian.

indhak-indhakan kelas. Mboten nyamleng, pas ujian wonten film porno ingkang ameng Astrid.

PARDI

Mekaten, pak? mangke kula cobi taken datheng Nyoto napa niki sanguh dipunmanahi utawi mboten. ingkang mesti tembung bos rencana tetap dipunradinaken, namung wancinipun ingkang diundur, nanging mesti bos uga Nyoto mangertos solusi paling sae.

ANGLE ON: TANPA SENGAJA PARDI MELIHAT ASTRID YANG BERDIRI DI DEPAN PINTU KAMAR, ASTRID TAMPAK KUMAL, IA MENGUCEK-UCEK MATANYA KEMUDIAN MELANGKAH PERGI KE BELAKANG. SAAT SAMPAI DI DEPAN PINTU, DIAMBILNYA HANDUK YANG TERGANTUNG. PARDI MEMPERHATIKAN HAL TERSEBUT DENGAN MIMIK TRENYUH.

PARDI

Astrid sampun mangertos hubungan badanipun kaliyan kula, pak?

SATRIYO

Piyambakipun mboten kula tedah menawi mas Pardi ingkang badhe laki kaliyanipun.

PARDI

Oh, mekaten. nggih, kula ngerti.

INT. RUANG BELAKANG - PAGI

Astrid mengucek-ngucek matanya, ia berdiri di pintu. Terdengar suara obrolan Satriyo dan Pardi.

PARDI (O.S)

Bapak ampun kuwatos, tembe kawula berhubungan salira, kawula badhe ngupados numindakaken Astrid kaliyan lembat sanget ugi sasae-saenipun.

SATRIYO (O.S)

Nuwun inggih. menawi saged ampun ngasta panjenenganipun kejot utawi terpojok, ngasta Astrid menikmati pandalon setunggalipun.

PARDI (O.S)

Sae, pak.

Pardi pause sejenak lalu melanjutkan. Ada reaksi beban moral dari wajahnya.

PARDI (CONT’D) (O.S)

Astrid sakmenika yuswa pinten, pak?

SATRIYO (O.S)

September mangke 15, Di.

PARDI (O.S)

Oh. mugi-mugi kaliyan proyek menika Astrid mboten trauma, pak. wanci bapak paring priksa Astrid, panjenenganipun reaksinya kados pundi? punapa biasa kemawon? utawi kejot mekaten? sakasinggihanipun, kawula mangertos wangsulanipun, priyantun ingkang mboten wonten sangkut pautnya pun saged mangsul gampil menawi dipunndangu reaksi estri kala saliranipun badhe dipunicalaken keperawananya tanpa ikatan pikrama an.

SATRIYO (O.S)

Awalnya panjenenganipun kejot, sayangipun Astrid akhirnya kresa, panjenenganipun ugi mboten meronta.

PARDI (O.S)

Sanget mbektos pisan nuwun inggih, pak. mugi-mugi proyek menika dados ingkang terakhir kagem Astri.

SATRIYO (O.S)

Amin.

PARDI (O.S)

Muga-muga bekti Astrid bisa nggawe doanya dikabulkan Allah swt, ya, pak.

Setelah menarik nafas panjang Pardi melanjutkan,

PARDI (CONT’D) (O.S)

Lan nggawe bahagia wong-wong sing dheweke demen.

Astrid menunduk, ia sandarkan tangan dan kepalanya ke dinding rotan, Astrid tidak terisak, badannya gemetar.

PARDI (O.S)

Asma pepakipun Astrid sinten, pak?

SATRIYO

Sintia Astrid Permata Putri.


INT. KAMAR DODI - PAGI

Dodi melihat ke handphonenya, Dia menatap handphonenya beberapa saat, wajah Dodi pucat, di handphone Dodi terlihat beberapa nama yaitu:

Ayu Tania Ningrum.

Putri Widyasari.

Sintia Astrid Permata Putri.

Nindi Mikhayla Adams.

Bella Nanda Pratiwi.

Terlihat di SMS yang mengirim adalah Sinyo pada pukul 02.00 dini hari.

Dodi menghapus SMS, ia duduk, menghela nafas, mengambil cangkir berisi kopi dingin di atas meja di samping ranjang.

MARYAN (O.S)

Dodi! Dodi! Ngeneh! Bantuni angkat kasur, mumpung panas!

Dodi yang memegang cangkir kopi tangannya gemetar, pandangannya kosong.

INT. KANTOR POLISI - MARKAS INVESTIGASI BAGIAN EKSPLOITASI WANITA DAN ANAK - POLDA METRO JAYA - SIANG

Beberapa polisi dan polwan juga Sinyo dengan serius membaca transkrip,. Di transkrip terdapat nama Sunyoto, Dodi dan satu orang yang diberi nama tanda tanya.

POLISI 01

Nyoto kemarin mengirim SMS ke Dodi, isinya nama-nama, dari data yang didapat Sinyo, itu anak-anak yang akan berperan dalam proyek film porno amatir orang yang mereka sebut bos besar, orang yang kita beri nama tanda tanya ini, dari keterangan mas Sinyo lagi, semua menyebut namanya Thomas, tapi bisa saja itu samaran karena Sunyoto memberi nama bosnya di handphone sebagai "Big Boss"


POLISI 02

Sudah didapat data anak-anaknya?

POLISI 01

Ya. Rata-rata mereka tinggal di Jawa Tengah, ada satu yang di Jawa Barat.

POLISI 01 (CONT’D)

Kita sedang berusaha mendekati anak-anak itu, baik di sekolah atau lingkungan sekitar.

POLISI 03

Tunggu. Yang namanya Sintia itu satu kampung dengan Dodi, kan?

POLISI 02

Iya. Tapi nama lainnya tidak satu kampung dengan para penghubung lainnya.
 

Supriyadi (48) kompol, buncit, berkumis lebat dan tinggi berpikir sejenak, setelah satu menit terdiam ia berkata,

SUPRIYADI

Dodi tinggal satu desa dengan Sintia, dan yang lainnya tidak. Orang itu seolah ingin perhatian kita tertuju pada Dodi, tapi...

Supriyadi pause sesaat.

SUPRIYADI (CONT’D)

Selidiki satu yang dari jawa barat!

Lalu Supriyadi menunjuk Sinyo.

SUPRIYADI (CONT’D)

Sinyo....

Sinyo bereaksi dan mengangguk.

SUPRIYADI (CONT’D) (cont’d)

Kamu lanjutkan tugas kamu.

SINYO

Baik!

DISSOLVE TO:

 

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG BELAKANG - SORE

Asti muncul dan mengucap salam, namun Astrid tidak menjawab, Astrid hanya serius memperhatikan soal dari LKS Fisika yang ia baca.

ASTI

Trid, Assalamualaikum.

ASTRID

Nggih.

ASTI

Lah, Deneng ora dijawab, Trid.

ASTRID

Lah, ngapa sandiwara neng penglihatane Gusti Awloh, bu. Nyong kan tlembuk.

Asti terdiam, tangannya bergetar ingin menampar, namun ia urungkan. Ia berjalan beberapa langkah, meletakan tas kresek berisi belanjaan di meja, yaitu sebuah terong, sebuah timun dan beberapa buah pisang.

ASTI

Trid, kiye nggo latihan. Mengko ibu waraih carane. Pisang nggo latihan ngoloh, terong lan timun nggo kiclik.

Astrid tidak bergeming, ia tetap mengerjakan tugas Fisikanya.

 

CUT TO:

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG BELAKANG - MALAM

Satriyo duduk di kursi sambil bertopang dagu di meja, ia melirik ke arah jam, di dinding terlihat jelas waktu menunjukan pukul 22.30

SATRIYO

Hurung bali, bu?

ASTI

Mbok kancane Astrid smse ming bapak? Bapak sing nduwe hape.

SATRIYO

(mengambil handphone dari sakunya)

Wis tua, bu.

Satriyo mengecek SMS nya.

SATRIYO (CONT’D)

Arep dijujugna Dedi.

ASTI

Smse kapan?

SATRIYO

Kepriwe cara werueh?

ASTI

Masa bapak ora ngerti?! Kae sing angka, neng ngisore sms persis.

SATRIYO

(menunjukan ke Asti)

Kiye, bu?


ASTI

Iya.

Asti melihat ke handphone Satriyo

ASTI (CONT’D)

Oh, 22.04. Dela maning berarti.

Satriyo berdiri, ia mengambil charger dan berjalan beberapa langkah kemudian menyolokan charger ke handphone, Satriyo berdiri sambil memperhatikan gerak laju batterai handphone-nya.

SATRIYO

Wong mlarat ngecas hape ya kambi ngadeg.

Asti tak menggubris, ia berjalan masuk ke kamar dan rebahan.

SATRIYO (CONT'D)

Temenan Astrid mau ngomong kaya kae, bu?

Suasana hening, hanya terlihat rambut dan kaki serta badan bagian bawah samping Asti yang rebahan yang terlihat. Asti tidak menjawab.

Satriyo menghela nafas dan sedikit tersenyum kecut.

SATRIYO

Sandiwara neng hadapane Gusti Awloh. Dasar omongane bocah siki.

SFX: Motor di parkir di depan halaman rumah.

Asti sedikit menggerakan tubuh, tetapi kemudian diam.

Satriyo bergegas pergi, Asti tetap terdiam, terdengar suara Satriyo berterima kasih pada Dedi, Asti tetap terdiam, Asti sedikit meninggikan posisi bantal.

kamera diam dimana posisi shot Asti dan memperluasnya sampai Establishing shot dari sudut rumah yang sempit, Astrid melangkah, langkahnya sampai ke kamar, wajahnya ceriadan penuh semangat, sambil menenteng dua bungkus martabaktelur, seketika wajahnya berubah kikuk ketika ia melihat ibunya. Astrid keluar dari kamar. Satriyo memperhatikan anak dan istrinya, kemudian membantu Astrid untuk meletakkan martabak di meja. Sambil meletakkan martabak dimeja Satriyo berkata sambil berpura-pura bercanda.

Shot fokus ke Satriyo.

SATRIYO

Ibu dijejeli martabak telur bae, Trid, mengko teli melek.

Kembali Establishing shot dari sudut sempit rumah, suasana hening dan Astrid sudah tidak ada di tempat.

SATRITYO

Trid?

Suara Astrid dari depan terdengar

ASTRID (O.S)

Aku neng ngarep, pak.

 

INT. KAMAR DODI - DINI HARI

Dodi sedang mengetik sms ke seseorang. Setelah menekan tombol send Dodi gundah, gerak tubuhnya seperti mencemaskan sesuatu. Dodi menekan beberapa tombol di handphonenya, menekan tombol yes kemudian meletakkan handphonenya di telinga. Beberapa saat ia menunggu panggilan masuk.

Terdengar Sinyo di ujung telepon.

SINYO (O.S)

Ana apa, Di?

DODI

Ketemu aku neng tempat biasane. Siki.


SINYO (O.S)

Cocotmu. Adoh, lah.

DODI

Ana motor! Cepetan!

SINYO (O.S)

Iya... Iya...
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)