Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Remuk
Suka
Favorit
Bagikan
3. Part 3

INT. KANTOR POLISI - MARKAS INVESTIGASI BAGIAN EKSPLOITASI WANITA DAN ANAK - POLDA METRO JAYA - SIANG

Supriyadi sibuk mengecek data-data dari berkas-berkas yang tersusun rapi di sebuah rak biru kecil.

Suara pintu diketok, Sinyo masuk, memberi hormat sekaligus menyapa.

SINYO

Hormat, dan selamat siang, pak Supriyadi.

SUPRIYADI

Ya. Ada perlu apa?

SINYO

(duduk)

Dodi semalam mengajak pertemuan darurat dengan saya berhubungan dengan kasus yang kita bicarakan sewaktu rapat tempo hari. Dan ia menyatakan tidak setuju dengan terlibatnya sebuah keluarga dimana Dodi sudah merasa berhutang budi kepada keluarga tersebut.

SUPRIYADI

Hutang budi?

SINYO

19 tahun lalu pak Satriyo menikahi bu Asti, ia mewarisi bisnis mertuanya yang hampir bangkrut dan berhasil membangkitkannya, sebagai pengusaha muda sukses ia membiayai beberapa anak di desa selama beberapa tahun termasuk Dodi.

SUPRIYADI

19 tahun? Sintia bukannya masih berusia 14 tahun?

SINYO

Sintia anak kedua. Kakak Sintia meninggal saat masih berusia 8 tahun.

SUPRIYADI

Satriyo menikah muda?

SINYO

Iya.

SUPRIYADI

Kenapa bangkrut?

SINYO

Sepengetahuan Dodi, biaya berobat untuk anak pertamanya, yang akhirnya meninggal itu, pak. Sepengetahuan Dodi, bolak-balik rumah sakit sejak si anak pertama usia 4 tahun.

SUPRIYADI

Dodi tidak menyebut namanya?

SINYO

Imam. Dodi masih hapal karena sering bermain dengan Imam kala itu, meski usia Dodi lebih tua 3 tahun. Setiap anak-anak menengok Imam ke rumah sakit, Dodi ingat karena dia selalu diberi uang ketika menjenguk. Padahal kondisi Satriyo saat itu hampir pailit.

SUPRIYADI

Dari yang kamu ceritakan Satriyo sepertinya orang baik. Pasti ada hal yang membuatnya tega membuat anaknya disetubuhi orang lain dan direkam dalam bentuk video nantinya.

SINYO

Hutangnya masih belum lunas sampai saat ini, pak, karena pinjaman yang berbunga-bunga. Meminjam bukan di bank atau peminjaman resmi, itu yang diceritakan Dodi. Tapi seingat Dodi hutangnya tinggal beberapa belas juta. Saat ada tawaran pembuatan video porno dan akan dibayar melebihi jumlah hutang Satriyo, ia menerima karena jika tidak diterima beberapa bulan ke depan akan berbunga lagi. Dua bulan ini sangat penting bagi Satriyo, ia juga punya hutang budi pada istri bos besar pembuatan konten porno dibawah umur, SPP Sintia selama beberapa bulan dibayari oleh istri si boss.

SUPRIYADI

Haah... Jerat kemiskinan apalagi hutang bisa membuat orang gelap mata, dan ditambah balas budi, sulit keluar dari jeratan itu.

SUPRIYADI (CONT’D)

Kalau begitu kamu amati mereka dulu. Apakah ada laporan lain?

SINYO

Baik, pak. Tidak ada, pak. Hanya itu saja.

Sinyo berdiri dan memberi hormat.

SINYO (CONT’D)

Selamat Siang, pak.

Supriyadi berdiri dan memberi hormat.

SUPRIYADI

Ya. Selamat siang.


INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG BELAKANG - SIANG

Satriyo yang berpakaian batik usang dengan wajah kusam melangkah, ia melongok ke kamar, dan terkejut, terdengar pula suara terkejut dari Asti.

SATRIYO

Astagfirullah, bu! Ibu lagi ngapa?!

Asti keluar dari kamar, memegang terong panjang yang basah penuh cairan merah darah, Asti balik memarahi Satriyo.

ASTI

Mbok bapak sing ngonkon aku ngelatih Astrid! Dela maning waktu syutinge jere bapak!

SATRIYO

Tapi aja awan-awan kayak kiye, kan aku hurung turu.

ASTI

Bapak kan lagi lunga, jere berjam-jam gutul wengi jebule jam semene kayak kiye.

Terlihat Satriyo seperti orang panik. Asti melanjutkan kata-katanya,

ASTI (CONT’D)

Lagian pas proses syuting apa dewek ora weruh Astrid lagi main.

SATRIYO

Jere Nyoto, Astrid maine neng kamar. Dewek ngenteni neng ruang sebelah.

ASTI

Angger lawane kebukak? Bapak ngintip?

SATRIYO

(melengos)

Aku melas angger ora diawasi, mbok anakku kenapa-napa. Ngesih perawan kayak kae, koh.

Asti melotot.

ASTI

Angger sayang anak perawan, anake aja didol.

 

SATRITYO

Ibu dewek wis setuju, dibatalna angel, lawane dewek mafia, bu!

ASTI

Alah, ngomong bae ora penakan karo Nyoto.

SATRIYO

Aku wani karo Nyoto!

Satriyo menarik tangan Asti

SATRIYO (CONT’D)

Ayo, parani Nyoto.

Tiba-tiba terdengar suara Astrid dari dalam kamar.

ASTRID (O.S)

Asu kabeh, ribut bae. Angger bapak pengen nonton aku kitul gari nonton bae. Siki karo aku be ngeneh sisan latihan.

Satriyo memelototi Astrid.

ASTRID (CONT’D) (O.S)

Apa?1 Pengen weruh anak prawanmu wuda, mbok? Kiyeh!

Satriyo diam tidak bergerak, dia shock, Asti terkejut. Tiba-tiba terdengar suara salam dari luar.

ORANG DI LUAR (O.S)

Assalamualaikum.

Satriyo langsung beranjak pergi.

SATRIYO (O.S)

Wa’alaikum salam.

SATRIYO (O.S)

Wonten nopo nggeh, pak?

ORANG DI LUAR (O.S)

Niki, pak. Kulo bade nganterna surat pertemuan RW.

SATRIYO (O.S)

Matur nuwun.

ORANG DI LUAR (O.S)

Nggih, pak. Sami-sami.

Bersamaan dengan dialog Satriyo dan tamu dadakan, kita melihat Asti yang berada di depan pintu kamar memarahi Astrid, suara Asti dipelankan. Astrid yang bugil menyelimuti dirinya dengan kain yang sudah bolong-bolong, sehingga sedikit betis kaki kirinya terlihat.

ASTI

Trid, kowe mbok kang cilik neng madrasah! Karo wong tua ngerti adab sopan santun lan aturane, siki ora ngajeni kowe ya!

Astrid yang masih berselimut merebahkan dirinya ke samping dan memejamkan mata untuk tidur, sambil memejamkan mata Astrid berkata,

ASTRID

Wis, lah. Aku ngantuk, bu.

ASTI

(menghampiri astrid)

Adus disit nembe turu, mandine mandi junub!

Astrid tidak bergerak, ia tertidur, Asti menggoyang-goyangkan tubuh Astrid, Astrid tidak bergerak dan makin pulas.

EXT. JALANAN DEKAT WARUNG TENDA - MALAM

Terdengar suara bapak-bapak juga om-om dan gadis-gadis remaja tanggung tertawa beriringan dengan suara musik dangdut koplo. Suara makin jelas dan jelas ketika,

EXT. DALAM WARUNG TENDA - MALAM

Beberapa om-om dan bapak-bapak paruh baya sedang memangku gadis-gadis remaja tanggung, diantara mereka terlihat Astrid dipangku oleh bapak-bapak paruh baya, Astrid mabuk,tangan bapak-bapak tersebut meraba-raba paha Astrid.

EXT. DALAM WARUNG TENDA -MALAM

ASTRID

Sisan bae lah, pak Djalal. Garap neng buri bae.

DJALAL

Koe gelem, Trid.

Pak Djalal mengeluarkan kondom dari saku kemudian mulai membukanya, tiba Astird merebutnya, mengambil gunting yang ada di meja di dekatnya dan menusuk-nusuk kondom hingga bolong.

ASTRID

Ra usah kondom-kondoman, pak Wanto, pak Iwan, karo pak Deni sisan garap aku ya kena.

TEMAN PAK DJALAL 1

Temenan kiyeh? Neng kene bae apa priwe?


PEMILIK WARUNG TENDA

Neng bukit nduwur sewelah kulon sepi.

DJALAL

Usah, ah, neng buri tenda kiye bae.

 

TEMAN PAK DJALAL 2

Oke.

 

Astrid turun dari pangkuan Djalal, menggandeng tangan Astrid dan menuntunnya. Empat bapak-bapak dan om-om paruh baya berjalan menuju belakang tenda.

EXT. BELAKANG TENDA - MALAM

TEMAN PAK DJALAL 2

Piwe kiyeh bayarane?

ASTRID

Sewong satus seket bae.

DJALAL

Gampang, hahahaha.

Bapak-bapak lainnya ikut tertawa, terdengar suara manja nakal dari Astrid.

DISSOLVE TO:

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG BELAKANG - SIANG

Asti sedang memasang oseng kangkung, Astrid duduk di kursi rotan, Asti melihat keluar, dilihatnya bantal dan kasur yang sedang dijemur, Asti mengecilkan api kompor, berjalan beberapa langkah dan menggambil penggebuk kasur yang tergantung di samping pintu belakang dan melangkah keluar.

Adegan Asti terlihat dari sudut pandang Astrid.

Angle On: Asti mulai menggebuk kasur dari sudut pandang Astrid, Asti memunggungi Astrid.

Secepat kilat Astrid berdiri kemudian berlari, ia masuk kamar.

INT. KAMAR TIDUR - SIANG

Astrid merogoh-rogoh lemari bagian barat, ia merogohnya dalam-dalam, beberapa saat kemudian ia menarik tangannya dan di tangannya sudah ada sebuah celengan dari plastik bertuliskan Astrid.

Astrid buru-buru mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dan puluhan ribu kemudian memasukkan semuanya ke dalam celengan dengan cepat dan terburu-buru

SFX: SUARA ASTI MENGGEBUK KASUR

Asti memanggil Astrid.

ASTI

Trid! Ngeneh! Bantuni ibu mbalik kasur!


Astrid dengan terburu-buru memasukan satu lembar uang seratus ribu dan menaruh kembali celengan ke lemari di sebelah bagian barat, tidak lupa ia merapikan dan menata kecil kembali pakaian.

ASTI

Trid!

ASTRID

Dela, bu!


ASTI

Lagi ngapa sih, ko?

CUT BACK TO:

INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - RUANG BELAKANG - SIANG

Astrid berjalan keluar kamar sambil berpura-pura mencari sesuatu.

ASTRID

Aku lagi nggolet lip tint ku, bu.

ASTI

Alah, kayak remaja sugih bae! Ngeneh bantuni ibu!

ASTRID

Jere kancaku aku ora nganggo lip tint elek, bu. Kaya wong panas dalem.


ASTI

Koe wis ayu, koh. Kae kancamu nglomboni, ben ngirane wong sing ora kenal kowe nyangkane umurmu wis legal. Kowe ngesih 14 tahun, Trid.


ASTRID

Lah, ibu lan bapak sing nyered aku.

Asti memukul kasur dengan sangat keras beberapa kali sampai gebukan kasurnya terpelanting.

ASTI

Kiyeh, ibu kandani ya, Trid. Ibu lan bapak maraih koe kur soal syuting film dewasa, tok, dudu ngelakokna meh ben dina neng dunia nyata! Ngerti?!

Astrid bergeming, ia melihat ke arah lain. Wajahnya tidak terlihat.

Tiba-tiba terdengar suara Satriyo memanggil Asti dan Astrid

SATRIYO

Bu, rapat keluarga!

Astrid melangkah, ia berpapasan dengan Satriyo kemudian masuk ke ruang tamu bersamaan dengan jawaban Asti.

ASTI (O.S)

Soal apa, pak?!

SATRIYO

Pokoke siki kudu dirapatna!


INT. RUANG TENGAH RUMAH - SIANG

Astrid mengambil buku LKS Bahasa Indonesia, membuka lembar demi lembar dengan perlahan kemudian berbalik mengambil pulpen yang ada di rak. Ia memukul-mukulkan bagian belakang pulpen ke buku LKS.

Satriyo melongok ke arah Astrid dan bertanya,

SATRIYO

Trid, lagi ngapa kowe?

Sambil terus memukulkan bagian belakang pulpen, dengan santai Astrid menjawab,

ASTRID

Sinau, ngesuk ulangan bahasa indonesia.


SATRIYO

Tutup disit bukune, siki dewek kudu rapat.

Astrid berhenti memukul-mukulkan pulpen ke buku LKS.

Satriyo melangkah, menggeser kursi kemudian duduk, ia memanggil Asti.

SATRIYO (CONT'D)

Bu! Ngeneh ko. Rapat.

ASTI (O.S)

Dela, lagi madaih sayur disit ming piring!

SATRIYO

Las, mangan ngesih suwe, koh.

Asti melangkah mendatangi Satriyo dan Astrid.

ASTI

Iya...Iyaa...

Asti duduk.

ASTI (CONT’D)

Ana apa, pak?

Satriyo mendekatkan kursi sedikit ke arah meja.

ASTI

Kebiasaan. Angger ana omongan penting mesti kursine diperekna ming meja, kaya bocah cilik.

SATRIYO

Ben lewih nyaman ngomonge, bu.

ASTI

Ya wis, silakan.

SATRIYO

Dadi kiye, bu. Mulane rencanane bos besar kae mbok tentang hubungan badan antara keponakan pak lurah lan pacare, tapi siki diganti dadi keponakan pak lurah lan adi perawane.

Asti beranjak dari meja dan sujud syukur.

ASTI

Alhamdulillah.

SATRIYO

Durung rampung ngomong wis sujud disit.

Asti bangkit dari sujudnya.

ASTI

Lah, berarti Astrid ora perlu main film saru, mbok?

SATRIYO

Dudu kuwe.

SATRIYO (CONT’D)

Jere bos, angger kadung Astrid wis ora perawan jere dewek kudu tuku obat perawan neng toko rekanane bose. Bose mbok bisnis, dadi dewek ora olih tuku neng tempat sing langka hubungane karo bos.


SATRIYO

Astrid wis main karo pisang, terong lan timun pasti selapute wis sobek.

ASTI

Ora larang si, pak?

SATRIYO

Aku nyelang ming pak Saiful.

ASTI

Langsung diweih?

SATRIYO

Ora. Ngesuk, bu. Aku ngomonge disaur telung kali lipet.

ASTI

(membuang muka)

Wong goblog!

Terdengar nada sarkasme dari Asti.

ASTI (CONT’D)

Pantes Saiful gelem.

Tiba-tiba Astrid berteriak keras dan lari menuju kamar.

INT. KAMAR TIDUR - SIANG

Astrid melompat ke kasur, sambil tengkurap ia menangis. Samar-samar terdengar suara Satriyo dan Asti, menanyakan apa yang terjadi.

ASTI (O.S)

Ana apa, Trid?

SATRIYO (O.S)

Trid, kowe kesuh gara-gara filme ora batal?


Astrid terdiam, ia masih menangis. Satriyo dan Asti masuk kamar, Asti duduk di samping Astrid, membelai rambutnya dan mengelus-ngelus pundak Astrid.

ASTRID

Aku arep ngomong tapi karo ibu, tok. Bapak tolong ming jaba disit.

Asti meminta persetujuan pada Satriyo.

ASTI

Piwe, pak?


SATRIYO

Ora papa, bu. Trid, bu, bapak ming ngarep disit, ya.

Satriyo melangkah pergi.

INT. RUANG TENGAH RUMAH - SIANG

Satriyo berjalan, ia menggaruk rambutnya yang gatal, ia berhenti sejenak, dilihatnya sehelai uban, Satriyo membuang uban tersebut dan kembali berjalan.

EXT. HALAMAN DEPAN - SIANG

Satriyo berhenti tepat di samping kursi halaman depan, ia bengong, dilihatnya ke arah meja, sebuah cangkir berisi kopi dingin tergeletak disitu, ia duduk dan mengambil cangkir tersebut kemudian meminumnya sampai habis, Satriyo bersendawa dan meletakkan kembali cangkirnya di meja, beberapa saat kemudian Satriyo menerawang ke depan dengan pandangan kosong.

Fokus kamera ke arah Satriyo selama 45 detik, di detik ke 46 Satriyo tersentak bersamaan dengan suara,

ASTI (O.S)

Astagfirullah Hal’adzim!

Beberapa saat kemudian Satriyo menunduk.

INT. KAMAR TIDUR - SIANG

Asti mengusap-usap kepala Astrid yang menangis di pangkuannya.

ASTI

Sing terjadi ya wis terjadi. Siki Astrid tepati janji bae supaya ora ming warung kae maning.

Asti menggangguk di pangkuan Asti sambil menangis.

CUT TO:

INT. TOKO OBAT KUAT DAN KEPERKASAAN PRIA - SIANG

Satriyo memasuki toko, seorang satpam mempersilakan, Satriyo berbisik pada satpam, satpam menggangguk.

SATPAM

Silakan, ke bapak yang berbaju orange.


Satriyo melangkah mendekati bapak yang berbaju orange, Saat Satriyo sudah sangat dekat ia menyapa bapak-bapak berbaju orange sambil menyerahkan uang.

SATRIYO

(menundukkan kepala)

Permisi, pak.


Pria berbaju orange mengangguk, mengambil uang yang diserahkan Satriyo kemudian melangkah pergi, ia masuk ke ruang belakang toko, sambil masuk ia berkata,

PRIA BERBAJU ORANGE

Silakan masuk, pak.

Satriyo masuk ke dalam.

INT. SEBUAH RUANGAN DI TOKO OBAT KUAT DAN KEPERKASAAN PRIA - SIANG

Satriyo yang baru masuk ditahan tubuhnya oleh pria berbaju merah, sambil menahan tubuh Satriyo pria tersebut berkata,

PRIA BERBAJU ORANGE

Bapak cukup tunggu disini saja.

INT. TOKO OBAT KUAT DAN KEPERKASAAN PRIA - SIANG

Nurdin (21), bertubuh kurus dengan rambut lurus serta tampan juga putih bersih memperhatikan ke arah dalam, ia mengatakan sesuatu pada karyawan toko kemudian melangkah pergi ke luar toko.

EXT. LUAR TOKO OBAT KUAT DAN KEPERKASAAN PRIA - SIANG

Nurdin mengetik pesan kemudian melangkah pergi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)