Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
INT. SEBUAH RUANGAN DI TOKO OBAT KUAT DAN KEPERKASAAN PRIA
- SIANG
Satriyo melihat ke kanan dan ke kiri, terlihat banyak dus-dus yang menumpuk, dus-dus tersebut nampak disegel, terdapat dua tangga di ruang tersebut, satu tangga menuju ke atas, satu tangga lainnya menuju ke ruang bawah.
Satriyo diam di depan pintu, ia melihat jam di dinding, beberapa waktu kemudian pria berbaju orange keluar membawa sebuah kotak yang dibungkus kresek, pria berbaju orange mendekat lalu sambil melewati Satriyo ia memberikan kotak yang dibungkus kresek. Sambil memberikan kotak yang dibungkus kresek pria tersebut berkata:
PRIA BERBAJU ORANGE
SATRIYO
(mengangguk)
EXT. LUAR TOKO OBAT KUAT DAN KEPERKASAAN PRIA - SIANG
Satriyo keluar dari toko, ia menenteng bungkusan di tangan kanannya, kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya dengan tangan kiri, mengambil satu dengan mulutnya, mengambil korek dari saku celana bagian kanan kemudian menyalakan rokok dengan tangan kiri dan menghisapnya. Setelah menghisap rokok beberapa saat ia melangkah pergi.
CUT TO:
INT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - KAMAR & RUANG BELAKANG - SORE
Astrid tertidur di pangkuan Asti, nafas tidur Astrid berat, Asti membelai rambut Astrid sambil memperhatikannya.
Satriyo muncul di depan pintu, ia terdiam beberapa saat memperhatikan istri dan anaknya. Kemudian ia mengucap salam.
SATRIYO
ASTI
Asti menghela nafas.
ASTI (CONT’D)
Satriyo diam, ia meletakkan bungkusan di meja kemudian duduk, ia membuka kerah kemejanya dan mengipas-ngipas dadanya dengan tangan.
Terdengar suara salam anak-anak seumuran Astrid dari luar, Astrid menanggapi dengan kata-kata ketakutan dan keluhan.
ASTRID (O.S)
ASTI (O.S)
ASTRID (O.S)
ASTI (O.S)
Satriyo memotong. Ia bicara sambil melangkah.
SATRIYO
ASTI (O.S)
SATRIYO
Satriyo melangkah sambil menggaruk-garuk kepalanya.
INT. KAMAR TIDUR - SORE
Astrid tiduran di paha Asti, Asti mengusap-usap pundak Astrid, Kecemasan terlihat dari raut wajah Astrid.
ASTRID
ASTI
ASTRID
Asti menjawabnya lewat membelai pundak Astrid, Tetapi Asti terlihat takut untuk mengeluarkan kata-kata.
ASTI
ASTRID
ASTI
Astrid terkejut.
ASTRID
Asti memotong.
ASTI
Astrid diam, ia menunduk, ia menahan emosi, keningnya berkeringat, lalu beberapa detik kemudian ia kembali tiduran di pangkuan Asti.
Satriyo muncul, sambil memegangi kusen pintu ia berkata,
SATRIYO
Asti terkejut.
ASTI
SATRIYO
Tiba-tiba ranjang bergetar, Astrid terkejut lalu ia melihat ke sekeliling dan kehilangan kesadaran diikuti
kejang-kejang, Satriyo panik berlari menghampiri Asti dan Astrid.
SATRIYO (CONT'D)
Asti yang masih bingung sangat panik, ia melihat ke arah Astrid yang kejang-kejang.
ASTI
SATRIYO
ASTI
SATRIYO
ASTI
SATRIYO
(Sambil mengeluakan handphone Oppo yang cukup mahal)
ASTI
SATRIYO
ASTI
(terkejut)
SATRIYO
ASTI
INT. DI DALAM MOBIL GRAB - MALAM
Satriyo duduk di pinggir kiri, Astrid di tengah, sedangkan Asti di pinggir kanan. Asti memegangi pundak Astrid, kepala Astrid bersandar di pundak Asti, tubuhnya semakin bergetar.
ASTI
SATRIYO
ASTI
Satriyo menunduk, wajahnya penuh rasa bersalah, Asti memperhatikan, ia bertanya,
ASTI (CONT'D)
SATRIYO
(terkejut)
Satriyo melanjutkan kata-katanya,
SATRIYO (CONT’D)
Menyerahkan uang tiga ratus ribu.
SATRIYO (CONT’D)
Raut wajah Asti mendadak pucat, ia melihat Satriyo, kemudian kembali membelai rambut Astrid. Asti melamun sebentar kemudian berkata,
ASTI
SATRIYO
ASTI
SATRIYO
Satriyo melihat ke depan seirama laju mobil yang semakin kencang, Asti memandang Satriyo sambil memegangi pundak Astrid kemudian mengelus-elus rambut Astrid yang masih gemetaran.
INT. RUMAH SAKIT - RUANG DOKTER - MALAM
Seorang dokter wanita, berhijab, masih muda, memeriksa bagian dada dan perut Astrid.
Asti duduk memperhatikan.
DOKTER
Astrid yang masih lemah berusaha berkata-kata, ia sangat sulit mengucapkannya, tubuhnya berkeringat dingin.
DOKTER (CONT'D)
Astrid bangun dengan sangat lemah, Asti bangkit, dan membantu Astrid untuk bangun, Astrid berbalik badan sehingga yang terlihat di kamera adalah punggungnya, ia memperbaiki pakaiannya.
INT. RUMAH SAKIT - RUANG TUNGGU PASIEN - MALAM
Asti bersama Astrid keluaur dari ruang dokter, wajah Asti murung sedangkan Astrid terlihat lelah. Mereka jalan perlahan, sambil berjalan Asti berkata,
ASTI
Asti dan Astrid melangkah dengan perlahan, Asti memapah Astrid, kemudian mereka duduk.
ASTRID
ASTI
Astrid menyandarkan kepalanya ke pundak ibunya.
CUT TO:
INT. RUMAH SAKIT - RUANG LOBI RUMAH SAKIT - MALAM
Asti melamun, Astrid berusaha memejamkan mata namun dirinya terlihat gelisah, nafasnya tidak beraturan. Asti membelai-belai rambut Astrid.
Secara P.O.V terlihat Satriyo berjalan mendekati Asti dan Astrid, lalu saat di depan mereka Satriyo bertanya.
SATRIYO
ASTI
SATRIYO
ASTI
Satriyo duduk dan memelankan suaranya.
SATRIYO
ASTI
SATRIYO
Asti terkejut, ia mengelus dada.
ASTI
SATRIYO
(Dengan suara amat lirih)
Lift terbuka, Nurdin berjalan kemudian duduk di kursi disisi yang sama dengan Satriyo, Asti dan Astrid.
Nurdin mulai mengetik di Whatsapp,
Saya di dekatnya Satriyo sama keluarganya sekarang, mas. Astrid sakit kayaknya, gak tau kenapa, mukanya pucet.
Nurdin menanti jawaban.
Satriyo menunduk, Asti mendekap erat Astrid, Nurdin melihat handphonenya.
Kemudian muncul jawaban di Whatsapp:
Sebelum mereka pulang duluan, biar gak dicurigain.
Nurdin membalas, namun kita tidak tahu apa yang ditulisnya.
Dari sudut P.O.V Nurdin, terlihat Asti menepuk pundak Satriyo.
ASTI
Satriyo terkejut serta panik.
SATRIYO
Mata Nurdin beralih cepat memperhatikan Satriyo yang bangkit dan berjalan cepat dengan panik.
Ia mengetik pesan di Whatsapp. Isinya,
Habis ini bagaimana, mas?
Nurdin menunggu balasan, ia menarik nafas. Satu menit kemudian handphone menyala, Nurdin membuka SMS. Isinya,
Kamu kesini, di warung biasa, sekarang kalo bisa.
Nurdin mematikan handphone nya dan,
INT. WARTEG DI PERTIGAAN KAMPUNG KELUARGA SATRIYO - MALAM
Kamera menzoom-out perlahan handphone, dan terlihat Nurdin bersama Dodi di warteg. Mereka berbincang. Suasana warteg masih ramai, banyak tukang bangunan di tempat tersebut sedang makan.
NURDIN
DODI
NURDIN
DODI
NURDIN
DODI
Dodi memanggil salah satu tukang bangunan.
DODI (CONT’D)
SALAH SATU TUKANG BANGUNAN
DODI
Menunjuk Nurdin.
DODI (CONT’D)
SALAH SATU TUKANG BANGUNAN
DODI
SALAH SATU TUKANG BANGUNAN
DODI
SALAH SATU TUKANG BANGUNAN
DODI
Tukang bangunan itu pun berlalu pergi.
NURDIN
DODI
Kamera syut dari belakang punggung Dodi, Dodi memainkan handphonenya, ia menulis pesan whatshapp dan mengirim pesannya. Tiba-tiba handphone Nurdin bergetar.
Text Whatsapp,
Ada lagi diatasnya. Nyoto menantu bos. Kamu katanya ahli nyadap telepon orang, nomornya Nyoto disadap ya. Abis itu lapor ke Sinyo, tenang bae Sinyo polisi, pertamanya sih gak meyakinkan sama sekali.
Handphone Nurdin kembali bergetar ia membuka Whatsapp nya lagi lalu setelah itu mengetik,
Text Whatsapp,
Oke, mas. Kalo udah ngomong sebelahan tapi pake pesen gini rasanya berat, tapi bakal saya coba, mas.
Handphone Dodi bergetar, ia membuka handphone dan membacanya, Dodi kemudian menepuk-nepuk pundak Nurdin.
Dodi mengetik pesan Whatsapp terlihat ia mengirimnya ke Sinyo,
Perekrutan penyadap beres, bos Sinyo. Polisi paling gagah sejawa tengah. Hahaha.
Beberapa detik kemudian handphone Dodi bergetar, Dodi langsung membuka pesan dan terlihat Sinyo membalas,
Oke.
Nurdin melongok ke arah jauh, ia melihat,
NURDIN
(menunjuk ke jalan)
ANGLE ON: SATRIYO, ASTI, DAN ASTRID DI DALAM BECAK YANG SEDANG MELAJU.
Dodi memerhatikan.
EXT DI DALAM BECAK/ JALANAN KAMPUNGNYA SATRIYO - MALAM
ASTI
SATRIYO
Tiba-tiba dengan suara lemah Astrid berkata,
ASTRID
Asti tersentak, ia menunduk dan berkata,
ASTI
Satriyo menatap Asti dan Astrid dengan bertanya-tanya, lalu ia berkata,
SATRIYO
ASTRID
(dengan suara lirih)
EXT. RUMAH KELUARGA SATRIYO - HALAMAN DEPAN - MALAM
Satriyo meminum kopi dan meletakkannya kembali di meja, bersamaan dengan itu Asti dan Astrid muncul sambil membawa beberapa tas, Astrid menunduk, Asti menunduk dan mengucap salam dengan lirih, Satriyo terdiam, matanya merah dan nanar. Asti dan Astrid melangkah pergi. Syut kemudian fokus pada Satriyo yang memandang ke depan. Kemarahan dan kesedihan terlihat di wajahnya.
Asti berbalik, kembali, dan mendekati Satriyo yang menerawang.
Astrid nampak lemah. Sayup-sayup ia melihat,
ANGLE ON: ASTI MENUNJUK KE ARAH ASTRID, SATRIYO BERDIRI, BERJALAN PERLAHAN, MASUK KE DALAM RUMAH, DAN MENUTUP PINTU.
INT. RUMAH YANTO, ADIK ASTI - KAMAR YANTO. - MALAM
Astrid berbaring di pingggir ranjang, ia berselimut, dirinya menghadap ke pintu, Astrid menggigil, ia menutup matanya, beberapa detik kemudian ia membukanya, ia menutup mata dan mulutnya berdoa, kita tidak mendengar apa yang Astrid panjatkan, kecuali suara lirih,
YANTO
Kita mendengar suara Asti dan Yanto (36) sedang berbincang, Asti berbicara lirih dan tersendat-sendat, sedangkan Yanto kadang meninggikan nadanya.
ASTI (O.S)
YANTO (O.S)
ASTI (O.S)
YANTO (O.S)
ASTI (O.S)
YANTO (O.S)
ASTI (O.S)
YANTO (O.S)
ASTI (O.S)
ASTI (O.S) (CONT’D)
YANTO (O.S)
(meninggikan suara)
Tiba-tiba terdengar suara kaca jendela dipecahkan oleh batu, Astrid tersentak, ia menutup dirinya dengan selimut, ia meringkuk di dalam selimut, Cahaya dari senter menyinari jendela kamar dan Astrid.
Pecahan kaca terpencar di sekitar kamar depan ranjang, dan pecahan-pecahan kecil sebesar serpihan pasir masuk ke kolong ranjang dengan kencang.
Terdengar Asti berteriak,
ASTI (O.S)