Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
17. INT. RUANG RAWAT INAP RUANG SEHATI NO 7 – PAGI HARI
Atiya dan Irfan memperhatikan Fathan yang sedang teleponan hingga selesai. Atiya duduk di kasurnya dan Irfan sedang mencuci tangan.
ATIYA
Siapa, tumben sampai seperhatian itu? Sampai titip salam segala ke keluarganya.
FATHAN
Anggota di tempat kerja aja mi.
ATIYA
Kirain calon mantu umi.
FATHAN
Nantilah mi, masih mau fokus karir dulu.
ATIYA
Ya Allah nak, sampai umur berapa, ini kamu sudah 32 tahun loh.
FATHAN
35? Mungkin kisaran segitu mi.
ATIYA
Ya Allah, umi keburu mati kalo segitu. Umi itu mau lihat kamu nikah, sebelum umi meninggal.
Fathan mendekati Atiya dan menggenggam tangannya.
FATHAN
Umi jangan bilang gitu, umi harus masih lama lagi hidup sama Fathan.
Irfan mendudukan dirinya di kursi yang di sediakan di kamar, dia sibuk mengupaskan buah-buahan untuk Atiya.
IRFAN
Gimana nggak ngomong gitu, kalau umimu bisa ada di sini karena sempat henti jantung.
Fathan kaget, lantas dia menatap Atiya terkejut.
FATHAN
Umi, benaran? Nggak bohong. Kan abi?
Atiya langsung menatap Irfan dengan muka jengkelnya.
ATIYA
Abi ya, nggak bisa apa basa-basi dulu atau pakai kosa kata halus biar Fathan nggak kaget!
FATHAN
Jadi mi?
IRFAN
Ya maaf mi, kan tau, abi kurang jago basa-basinya.
ATIYA
Ya gitu kata dokter, Alhamdulillah ini sudah mendingan, tapi harus jaga lagi pola makan, olahraga dan lain-lain.
FATHAN
Ya Allah mi. Tau gini kan umi sama abi di Tanggerang aja.
IRFAN
Kan nggak tau. Umimu juga ingin lihat datangin makan almh nenekmu di Yogya. Ini kita juga tunggu isi infus umimu habis baru kita langsung pulang.
FATHAN
Pulang ke mana?
ATIYA
Tanggerang.
FATHAN
Umi serius?
ATIYA
Umi mau istirahat di rumah sendiri, kalau kambuh lagi juga umi mau mieninggalnya di rumah sendiri juga.
FATHAN
Umii…
Atiya menatap Fathan dengan mimik penuh harap dan menggenggam erat tangannya.
ATIYA
Jadi umi mohon, umi ingin banget lihat Fathan nikah, lihat Fathan membangun rumah tangga. Biar umi tenang kalau umi bisa lihat kamu bahagia, ya?
Fathan menundukkan kepalanya, berpikir keras, sedangkan Atiya menggenggam tangan Fathan lebih erat lagi.
ATIYA (CONT’D)
Ya?
Fathan menghembuskan napasnya lemah. Kemudian menatap Atiya lembut.
FATHAN
Fathan usahain ya mi.
ATIYA
Kapan?
FATHAN
Sampai tahun depan ya.
ATIYA
Itu terlalu lama. Sampai akhir tahun ini kamu harus nikah ya. Itu pun umi nggak bisa menjamin.
FATHAN
Ya allah umi, jangan bilang gitu. Tapi mi, kalau tahun ini waktunya tinggal tiga bulan lagi dong.
ATIYA
Jadi mau bagaimana? Dokter bilang, kan ini keadaaan umi nggak bisa diprediksi kapan terjadi henti jantung lagi.
FATHAN
Fathan usahain ya mi.
Atiya hanya menganggukan kepalanya dengan muka penuh kelegaan.
FATHAN
Fathan, mau ke kantin dulu ya cari makan. Umi sama abi ada yang mau dititip?
IRFAN
Umimu sudah dapat makan dari rumah sakit, abi aja beliin makan juga ya di bawah, sama kopi.
FATHAN
Oke. Fathan keluar dulu ya.
Fathan keluar untuk membeli makanan dan minuman ke kantin. Setelah dua menit telah berlalu, Irfan berjalan mendekati pintu sambil membawa piring dengan buah yang sudah dia kupas dan membuka pintu itu sedikit, memeriksa bahwa Fathan sudah tidak di dekat sana lagi.
ATIYA
Gimana bi?
IRFAN
Super aman, gila, istri abi tercantik, aktingnya bagus banget sih.
Irfan berjalan mendekati Atiya dan duduk di kursi jaga samping tempat tidur Atiya.
ATIYA
Abi gimana sih, nggak ngebantu lagi. Syukur aja si Fathan nggak curiga seperti biasanya.
IRFAN
Kalau abi ikut-ikutan panasin, yang ada Fathan jadi curiga mi.
ATIYA
Alhamdulillah pokoknya bi, anak kita akhirnya mau nikah juga. Jadi nggak sabar.
IRFAN
Makanya mi, jaga kesehatannya, jangan sampai maagnya kambuh sampai harus di bawa ke rumah sakit segala.
ATIYA
Ya bi, siap.
IRFAN
Nih makan dulu.
Irfan menyerahkan piring yang berisi buah yang dia kupas tadi.
ATIYA
Terima kasih abi.
IRFAN
Sama-sama umi sayang.
Irfan memperhatikan Atiya yang makan buah-buahan.
CUT tO