Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
HOPE AND DREAM
Suka
Favorit
Bagikan
5. #5
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

15. INT. DEPAN RUANG MANAJER STRATEGI – SIANG HARI

 

Aruna berdiri memeluk erat berkas yang ingin dia konsultasikan dengan Fathan. Sesekali Aruna mengatur napasnya untuk mengurangi kegugupan.

Aruna mengetuk pintu.

  

ARUNA

Permisi pak, boleh masuk?

 

FATHAN

Silakan masuk

 

15. INT. RUANG MANAJER STRATEGI – SIANG HARI

 

Aruna membuka pintu pelan dan masuk. Dilihatnya Fathan sedang melakukan panggilan.

Fathan melihat Aruna yang perlahan masuk, dengan gerakan mulutnya dan memperagakan bahwa dia masih dalam pannggilan telepon.

 

FATHAN

Duduk dulu, saya telepon sebentar lagi.

 

Aruna mengangguk dan menarik kursi di depan meja kerja Fathan sambil melihat-lihat ruangan Fathan.

Kegiatan Aruna yang memperhatikan ruangannya menarik perhatian Fathan saat sedang melanjutkan teleponnya. Dia tersenyum tipis melihat tingkah Aruna

 

FATHAN

Baik pak. Baik, saya usahakan dulu pak. Baik. Selamat siang pak.

 

Fathan menutup teleponnya dan memfokuskan pandangannya ke arah Aruna.

 

FATHAN

Jadi ada apa Aruna?

 

Aruna menyerahkan lembar pendaftarannya ke Fathan. Fathan menerima lembaran Formulir itu sambil membacanya sekilas.

 

ARUNA

Saya ingin menyerahkan formulir pendaftaran pak, sekalian ingin menanyakan terkait sistem pengerjaannya.

 

FATHAN

Ya, ada apa?

 

ARUNA

Kalau misalnya selama satu bulan itu, saya kerjakan premis, synopsis dan karakter tokoh untuk agenda kompetisi ini di luar kota boleh pak?

 

FATHAN

Boleh-boleh aja. Kamu bisa ngomong ke HRD, kamu juga buat kesepakatan dengan pembimbingmu dan jangan lupa kasihkan surat izin itu ke saya.

 

Aruna gembira saat mendengar perkataan dari Fathan, kemudian dia dia menjawab ucapan Fathan dengan penuh semangat.

 

ARUNA

Baik pak.

 

FATHAN

Ada lagi?

 

Aruna menggeleng dengan kuat saking senangnya.

 

FATHAN

Oh ya, jangan lupa kalau ada kendala segera hubungi saya.

 

ARUNA

Baik pak, saya akan segera menghubungi bapak jika ada kendala kecil atau pun besar. Terima kasih pak. Kalau begitu saya pamit dulu pak. Permisi pak.

 

FATHAN

Ya, sama-sama, silakan.

 

Aruna pergi keluar dari kantor. Fathan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Aruna tadi sambil mengulas senyuman.

 

Tidak lama setelah kepergian Aluna ponsel Fathan berbunyi. Fathan melihat, bahwa Ayahnyalah yang menelepon. Segera diangkatnya.

 

IRFAN (V.O.)

Assalamu’alaikum, Nak. Gimana kabarnya?

 

FATHAN (V.O.)

Waalaikumsalam, Bi. Kabar baik, Abi dan Umi gimana kabarnya? Oh ya tumbern juga ini Umi sepekan nggak ada telepon Fathan, biasa juga setiap hari.

 

IRFAN (V.O.)

Abi baik, ini dia permasalahan abi telepon kamu tanpa sepengetahuan umi. Sudah sepekan umi jatuh sakit, kemarin umi benar-benar harus dilarikan ke rumah sakit karena jatuh pingsan. Abi ini ke kafetaria, makanya bisa telepon kamu.

 

FATHAN (V.O.)

Kok Abi baru kasih kabar Fathan sih?

 

IRFAN (V.O.)

Karena Umi nggak mau kamu khawatir dan ganggu kerjaan kamu.

 

FATHAN (V.O.)

Sekarang Umi di rumah sakit mana? Sore ini Fathan pulang mau lihat umi.

 

IRFAN (V.O.)

Umi ada di rumah sakit di Yogya, nanti abi kirimkan ruang apa dan nomornya.

 

FATHAN (V.O.)

Ya bi, Fathan tunggu. Terima kasih bi, sudah kabari Fathan.

 

IRFAN (V.O.)

Ya, hati-hati juga ya.

 

FATHAN (V.O.)

Ya bi, assalamu’alaikum bi.

 

IRFAN (V.O.)

Waalaikumsalam.

 

Perasaan Fathan berkecamuk, dia ambil gelas minum yang ada di mejanya dan minum untuk sekadar menenangkan dirinya. Kemudian dia taruh kembali gelas itu pelan.

 

MATCH CUT TO :

 

17. INT. RUANG RAWAT INAP RUANG SEHATI NO 7 – SIANG HARI

 

Atiya menaruh gelas air minum yang tadi diambilkan suaminya. Dia masih setengah berbaring, menatap suaminya yang duduk dikursi samping tempat tidurnya dengan muka harap-harap cemas saat suaminya mengakhiri pembicaraan telepon dengan anaknya.

 

ATIYA

Gimana Bi, berhasil?

 

IRFAN

Ya dong Mi, Alhamdulillah. Sore ini kemungkinan dia akan ke Yogja.

 

ATIYA

Akhirnya, tapi masa harus nunggu Uminya sakit gini sih baru mau pulang aja.

 

IRFAN

Nggak papa Mi, yang penting masih ingat pulang aja.

 

ATIYA

Minta tolong sama dokter dan suster sudah beres, kan?

 

IRFAN

 Beres Mi, tinggal eksekusi. Semoga masuk perangkap.

 

Atiya mengacungkan dua jempol tangan untuk suaminya dengan senyuman lebar.

 

ATIYA

Abi memang yang terbaik.

 

Dengan candaan Irfan menyentuh hidungnya, memperagakan seperti sosok yang bisa diandalkan.

 

IRFAN

Abii gituuu… haha

 

ATIYA

Huuuuuuu

 

IRFAN

Kok malah disorakin sih mi?

ATIYA

Nggak nyorakin bi, tapi bikin backsoundnya gitu.

 

IRFAN

Umi ah ada-ada aja. Ya sudah Umi istirahat aja dulu.

 

ATIYA

Ya, Bi.

 

Atiya pun kembali berbaring.


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)