Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
13. INT. KAMAR AJENG – SORE HARI
Ajeng masih terbaring di tempat tidur. Haris dan istrinya, Lina sudah satu pekan ini tinggal di rumah Ajeng untuk merawat Ajeng setelah pekan lalu jatuh pingsan dan sempat dirawat di rumah sakit.
Haris duduk di samping Ajeng, menemani sang ibu mengobrol ringan.
AJENG
Selama satu pekan ini ibu sudah mempertimbangkannya dengan matang dan pelan-pelan. Ibu sadar di usia delapan puluh lima tahun ini waktunya ibu benar-benar istirahat dan menikmati hari tua. Ibu berharap, kamu bisa membujuk Aruna untuk menjadi penerus ibu dalam mengelola yayasan yang sudah ibu dan ayahmu dirikan selama ini.
HARIS
Kenapa Aruna bu? Cucu ibu yang lain juga banyak, kan?
AJENG
Cucu ibu Cuma ada tiga, perempuan semua. Dua diumur yang dewasa, Aruna dan Ratna, yang termuda Safrina, tapi nggak mungkinkan ibu menyerahkan kedudukan ini ke Safrina yang masih lina tahun.
Haris mengangguk dan menyimak pembicaraan Ajeng.
AJENG
Di antara Aruna dan Ratna, Arunalah yang memenuhi sfesifikasi. Ulet, cerdas dan penuh tanggungjawab setiap tugas-tugas yang aku kasih ke dia. Aku sudah menguji mereka berdua, dari kecil, dan hasilnya memang Aruna.
HARIS
Tapi bu, saya nggak berani menjamin Aruna akan menuruti keinginan itu.
AJENG
Kamu harus mengusahakan, gimana pun caranya. Ibu masih belum bisa memberitahukan alasanya kenapa yayasan ini harus terus dikelola, tapi ibu benar-benar memohon sama kamu, ya, bantu ibu.
HARIS
Saya usahakan bu, yang terbaik.
Ajeng meraih tangan anaknya dan mengenggamnya lembut dan menatap Haris penuh harap.
AJENG
Terima kasih ya.
Haris mengangguk dan membalas tepukan tangan Ibunya lembut.
FADE IN
Satu minggu telah berlalu. Suasana pekerja PH Dream digemparkan dengan suasana persaingan baru.
3. INT. LOBI PH – PAGI HARI
Kesibukan karyawan berlalu lalang dengan berbagai aktivitas, seperti menunggu dan melihat jam tangan, sibuk jalan sampil cek berkas, sibuk ngobrol, dan lain-lain.
14. INT. ELEVATOR PH – PAGI HARI
Kesibukkan karyawan memasuki elevator. Di dalam sudah ada Rosa berdiri siap untuk menuju ke ruangannya. Seperti biasa dari kejauhan di lobi, Aruna berlari agak terburu-buru mengejar elevator sebelum tertutup.
Ketika Aruna berhasil masuk dan berdiri di samping Rosa. Aruna mengatur napas dan melakukan percakapan kecil dengan Rosa.
ARUNA
Selamat pagi Mbak Rosa cantik.
ROSA
Pagi, buru-buru banget dah Run.
Aruna mendekat disamping Rosa, kemudian berbisik ke teling sebelah kanan Rosa.
ARUNA
Ya, mbak, banget. Saking buru-burunya cuma sempat sikat gigi dan cuci muka doang.
Rosa langsung menjauh dan mencela Aruna dengan suara agak nyaringnya.
ROSA
Ihh, jorok!!
Pintu elevator terbuka, Aruna langsung buru-buru menarik Rosa malu karena teriakannya menarik perhatian beberapa karyawan lain yang ada di sana.
Baru saja mereka keluar. Rosa langsung menarik tanggannya yang dipegang Aruna dan berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Aruna mengejar Rosa.
2. INT. RUANG TIM PRODUKSI DAN TIM STRATEGI – PAGI HARI
Aruna dan Rosa tiba dan menuju tempat presensi elektronik.
ARUNA
Ish! Mbak malu-malu tau, teriak seperti itu di elevator. Dilihatin tau.
ROSA
Mau bagaimana lagi, orang kaget.
Aruna dan Rosa menempati kursi kerjanya masing-masing. Tyas menyepa mereka berdua dengan semangat.
TYAS
Pagi guys! Kenapa nih, yang satu mukanya cemberut, yang satu mekanya masam. Ada berita bagus ya?
Tyas menaik turunkan alisnya penasaran. Aruna semakin cemberut, muka Rosa yang masam dipalingkan ke arah Tyas.
ROSA
Saking bagusnya, sampe bikin malu.
Tyas menampilkan mimik bingungnya dengan perkataan Rosa.
TYAS
Apaan tuh?
Sebelum Rosa menjawab pertanyaan Tyas, Aruna menyela percakapan rekannya itu.
ARUNA
Mbak Tyas kepo banget. Sudah, fokus kerja aja.
TYAS
Biarin aja kali. Info itu bisa jadi penyemangat pagi buat kerja tau.
Rosa mendekat ke arah Tyas dan berbisik.
ROSA
Itu orang yang mukanya cemberut, nggak mandi.
TYAS
Haha… Ih, jorok banget asli dah Run.
ARUNA
Baru satu kali ini ya mbak. Gegara begadang ngerjain laporan, tau-tau kebangun sudah dekat masuk jam kerja aja.
ROSA
Hemm, ya deh ya ibu penulis.
ARUNA
Apaan sih Mbak.
TYAS
Sudah ah, kerja kerja kerja.
Tidak lama dari percakapan singkat itu berakhir. Pertanda jam masuk kantor berbunyi.
Fathan datang dengan tampilan rapinya dan membawa selebaran. Dia berdiri tegak dan memperhatikan kesibukan tim produksi dan tim strategi. Fathan bertepuk tangannya beberapa kali untuk meminta perhatian penuh.
FATHAN
Selamat pagi semua.
SELURUH KARYAWAN PRODUKSI DAN STRATEGI
Pagi pak.
FATHAN
Saya membawa berita gembira terkhusus untuk pekerja kontrak para scriptwriter di PH ini. Tahun ini kita akan open recruitment penulis skrenario utama untuk film panjang tema drama keluarga, yang mana film ini nanti akan diikutkan dalam ajang Festival Film Indonesia diakhir bulan untuk tahun depan. Untuk produksinya kita mulai ditahun depan. Sistem pemilihannya kita akan pilih dua penulis terbaik, di mana yang satunya sebagai cadangan jika penulis pertama nggak menyepakati persyaratan yang telah ditentukan. Untuk waktu persiapannya selama satu bulan, dan para scriptwriter yang mengikuti ajang ini, akan dibebaskan untuk bekerja di mana aja, jadi nanti presensi sistem online. Selebihnya untuk persyaratan-persyaratan lainnya ada tertera di lembar formulir ini dan jika ada yang belum jelas atau mau ditanyakan lebih lanjut silakan hubungi saya. Untuk lembarnya saya minta tolong Tyas pegangkan ya, nanti ambil aja ke tempat Tyas. Terima kasih Tyas.
TYAS
Siap pak.
PARA SCRIPTWRITER
Baik pak, terima kasih.
Fathan mengangguk dan kembali menuju ruangannya. Setelah peninggalan Fathan, ruangan itu menjadi gaduh, beberapa scriptwriter kontrak sudah mengambil formulir ditempat Tyas.
Tyas mengangkat kertas Formulir ditangannya ke arah Aruna.
TYAS
Nggak mau lu, Run?
ARUNA
Mau dong Mbak.
ROSA
Mana mungkin nolak si Aruna mah, kalau itu mendekatkan sama impiannya buat masuk nominasi penulis scenario terbaik di ajang Festival Film Indonesia.
ARUNA
Ah, suka deh sama Mbak Rosa, tau banget sih tentang aku.
ROSA
Ish! Masih normal ya gue Run.
ARUNA
Aih, bukan suka kea rah sana juga kali Mbak.
ROSA
Kirain, kan.
TYAS
Buruan dah ambil, daripada kehabisan.
Aruna mendekati Tyas untuk mengambil kertas pendaftaran dan membaca setiap persyaratan, saat sampai dipoin wajib memiliki pembimbinga dari staff produksi, dia langsung mendekat Rosa.
ARUNA
Mbak Rosa, mau nggak jadi pembimbing aku buat ikuti ajang kompetisi ini?
ROSA (Bahasa Jawa)
Berani berapa?
Saat Rosa mengatakan itu, muka Aruna menjadi cemberut dan kemudian Aruna menjawab perkataan Rosa dengan ketus.
ARUNA (Bahas Jawa)
Seribu!
Rosa tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan Aruna. Sampai dia puas tertawa kemudian menjawab.
ROSA
Ya deh iya, apa sih yang nggak buat Aruna cantik.
TYAS
Lu itu ya Ros, suka banget godain si Aruna. Dibawa kabur skriptnya, kerjaanmu bakal kocar-kacir lagi.
ARUNA
Wah noted! Saya simpan jadi stok ancaman buat Mbak Rosa.
Mendengar perkataan Aruna itu membuat Rosa memelototkan matanya ke arah Aruna.
ROSA
Berani ngancam, siap-siap gue porotin lu pas konsul, mau?!
ARUNA
Jangan gitulah Mbak, ini masih anak kos-kosan, gaji pas-pasan.
TYAS
Sudah ah, ngobrol terus nggak ada habisnya, buruan kerjain tugas masing-masing.
Mereka kerja sampai waktu istirahat siang tiba. Tyas meregangkan tangannya.
TYAS
Eugh! Pegal juga badan, seperti enak nih akhir pekan urut.
ROSA
Aduh Mbak, nggak bagus urut dibiasain, mending olahraga aja.
TYAS
Nanti deh dijadwalin. By the way, ayo ke kantin, lapar.
Rosa refleks melihat ke arah Aruna.
ROSA
Ayo. Run, sudah belum kerjaan lu?
ARUNA
Masih ada yang dikerjain ini Mbak, sepertinya saya nggak ikut makan siang deh.
TYAS
Nitip bungkusing nggak Run?
ARUNA
Nggak usah Mbak, nanti aja saya makannya.
TYAS
Oke deh duluan ya.
Arunan mengangguk dan segera fokus kembali dengan pekerjaannya. Tyas dan Rosa pergi menuju kantin.
FADE OUT