Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
HOPE AND DREAM
Suka
Favorit
Bagikan
1. #1
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

FADE IN :

 

1. EXT. HALAMAN DREAM PRODUCTION HOUSE (PH) – PAGI HARI

 

Memperlihatkan aktivitas pagi di hari senin. Orang-orang sibuk berlalu lalang dan kebisingan lalu lintas.

 

2. INT. RUANG TIM PRODUKSI DAN TIM STRATEGI – PAGI HARI

 

Pukul delapan lewat empat puluh lima menit AM, Fathan tiba di kantor dengan setelan rapi. Langkahnya tegap menghampiri ruang tim produksi dan tim strategi sebelum masuk ke ruangan khususnya sebagai manajer strategi.

Dari jauh dia melihat kehadiran tim rapat paginya, Rosa dan Tyas.

Dengan mimik datar dia bertanya kepada Tyas yang meja kerjanya dekat dengannya.

 

FATHAN

Aruna mana?

 

TYAS

Masih belum datang pak. Mungkin masih dijalan pak.

FATHAN

Oke. Nanti, Aruna, Rosa dan Tyas, pukul sembilan AM langsung ke ruang rapat ya, kita final meeting dulu sebelum ngerjain produk iklan kosmetik dari client. Tolong sampaikan ke Aruna juga dan jangan lupa bawa bahan masing-masing yang sudah ditugaskan.

 

TYAS

Baik pak, nanti akan saya sampaikan.

 

FATHAN

Terima kasih ya.

 

TYAS

Sama-sama pak.

 

Fathan segera pergi ke ruangan kerjanya dan segera mempersiapkan rapat pagi.

  

3. INT. LOBI PH – PAGI HARI

 

Aruna berlari dengan terburu-buru. Dia sambil melihat sekilas jam yang ada dipergelangan. Mengetahui semakin mepet waktu kerjanya akan dimulai, dia menambah kecepatan berlarinya.

 

4. INT. TANGGA DARURAT – PAGI HARI

 

Aruna menaiki tangga tanpa berhenti.

 

2. INT. RUANG TIM PRODUKSI DAN TIM STRATEGI – PAGI HARI

 

Tidak lama dari sosok Fathan hilang dari ruangan tim produksi dan tim strategi, suara lari nyaring terdengar di ruangan yang masih sepi itu.

Dengan segera Tyas melirik Rosa yang ternyata juga melihatnya lekat dengan senyuman merekah.

 

TYAS

Ros, satu dua tiga…

 

Aruna tiba di ruangannya dengan napas yang ngos-ngosan, dengan tampilan berantakannya, dia langsung menuju tempat presensi.

 

ROSA

Arunaaaaa… Telat lagi ya lu

 

ARUNA

Nggak ya mbak, hampir. Lihat, lima menit lagi.

 

Aruna memperlihatkan waktu yang tertera di alat fingerprint sambil mengatur napas. Aruna segera duduk di meja kerjanya dan membongkar alat make upnya. Baru saja Aruna selesai membuat satu alis dengan rapi, tiba-tiba suara Rosa membuatnya kaget.

Rosa menepuk jidatnya dengan keras.

 

ROSA

Ya ampun! Lupa, satu menit lagi kita harus keruang rapat. Pak Fathan nunggu kita.

 

TYAS

Oh ya benar, jangan lupa bawa materinya.

 

ARUNA

Ya Allah mbakkk!! Kok baru bilang sih, ini alis baru sebelah jadinya.

 

TYAS

Nggak usah pakai alis-alisan. Buruan, mau di marahin sama Pak Fathan?

 

Tyas dan Rosa siap menuju ruang rapat dan menunggu Aruna yang masih kalang kabut, membereskan make upnya yang setengah jadi dan sibuk menyiapkan materi rapatnya.

Setelah materi rapat sudah siap, Aruna masih sibuk menggeledah meja kerjanya. Tyas dan Rosa mulai gelisah karena sudah pukul 09.00 WIB.

Tyas menatap Aruna heran dan mendesak Aruna.

 

TYAS

Buruan Run, ngapain lagi sih?

 

Aruna masih sibuk menggeledah meja kerjanya.

 

ARUNA

Bentar mbak, nyari kacamataku.

 

TYAS

Ngak usah pakai kacamata, lu kan nggak minus juga.

 

ARUNA

Memang nggak minus mbak, tapi buat nutupin alis setengah jadi ini.

 

Aruna menjawab dengan panik dan frustasi karena keadaannya belum siap untuk berhadapan dengan Pak Fathan.

Rosa jalan menghampiri luna dan memberikan kaca kecil punyanya, Aruna terdiam, dengan menampilkan mimik muka bingung akan tindakan Rosa.

 

ROSA

Ini buat benerin kerudung lu aja.

 

ARUNA

Maksudnya gimana mbak?

 

Aruna masih bingung dengan tindakan Rosa.

 

TYAS

Eh, gila ya lu Ros, nggak nyambung tau antara kacamata dengan kerudung.

 

Tanpa permisi dari Aruna, Rosa langsung membuat lipatan baru dari kerudung yang Aruna kenakan.

Tyas tertawa terbahak-bahak, setelah melihat kerjaan Rosa yang membuat mereka bisa bergegas menuju ruang rapat.

 

ARUNA

Mbaakkk! Nggak gini juga. Jadul banget dah, aneh juga. Malu tau.

 

ROSA

Bodo amat, lebih mending gini daripada kamu kasih lihat penampakan Hudson ala kamu pagi-pagi. Kalau Pak Fathan kaget gimana?

 

ARUNA

Ya Allah mbak, malu.

 

Tyas segera mengambil bahan rapat dan tas make up punya Aruna dan menarik tangannya.

 

TYAS

Thanks Ros, kerja bagus. Dan Run, nggak ada rengekan lagi. Terima nasib apesmu itu.

 

ROSA

Sama-sama Yas.

 

Mereka pergi menuju ruang rapat.

 

CUT TO


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)