Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
3:17: Jangkar Terakhir
Suka
Favorit
Bagikan
7. Tidak Ada Jalan Keluar
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Kafe kecil dekat kampus. Cozy. Musik indie pelan.

Raka dan Lily duduk di meja pojok—dua cappuccino di meja.

Sudah 3 minggu sejak pertemuan. Semakin dekat. Tapi juga semakin

banyak perbedaan pendapat.

Lily membuka laptop—menunjukkan research terbaru.

LILY

(optimis)

Aku menemukan referensi tentang ritual pembebasan arwah di manuskrip Bali.

Memutar layar ke Raka.

LILY

Kalau kita bisa adaptasi ritual ini—
mungkin bisa lepaskan beberapa arwah tanpa buka pintu.

Raka menatap layar—membaca.

RAKA

(skeptis, lelah)

Lily... kita sudah coba 7 ritual berbeda. Tidak ada yang berhasil.

LILY

(tidak menyerah)

Karena kita belum temukan yang tepat. Tapi ini berbeda—

RAKA

(memotong, pasrah)

Atau mungkin memang tidak ada jalan keluar.

Lily menatapnya—frustrated.


LILY

Kenapa kamu selalu pesimis?

RAKA

(tenang tapi lelah)

Bukan pesimis. Realistis.

Menatap tangannya yang 35% transparan sekarang.

RAKA

Aku sudah hidup tujuh tahun dengan ini. Sudah coba semua cara.
Dokter, dukun, psikolog, paranormal.

Menatap Lily.

RAKA

Tidak ada yang berhasil. Karena ini memang tidak bisa diselesaikan.

LILY

(tegas)

Kamu menyerah terlalu cepat.

RAKA

(defensif)

Aku tidak menyerah. Aku hanya... lelah berharap.

Mereka terdiam—tension.

Cappuccino dingin—tidak diminum.

LILY

(pelan)

Raka... kalau kamu menyerah sekarang, untuk apa aku di sini?

Raka menatapnya—tidak ada jawaban.

LILY

(melanjutkan)

Untuk apa aku habiskan 3 minggu research? Untuk apa aku pedulikan kamu kalau kamu dari awal sudah decide mau menyerah?

RAKA

(frustrated)

Aku tidak minta kamu pedulikan aku!

Suara sedikit keras—beberapa orang di kafe menoleh.

Raka menyadari—menurunkan suara.

RAKA

(lebih pelan, tapi

emosional)

Aku tidak minta kamu datang dan beri aku harapan. Aku sudah puas dengan... pasrah.

LILY

(marah sekarang)

Pasrah itu bukan solusi. Pasrah itu pelarian.

RAKA

(berdiri)

Dan optimis tanpa dasar itu bodoh.

Mengambil tas—mau pergi.

Lily menarik tangannya—menahan.

LILY

(pelan tapi tegas)

Duduk.

Mereka menatap satu sama lain.

Raka duduk lagi—lelah.

Diam panjang.

LILY

(lebih tenang sekarang)

Aku tahu kamu lelah. Aku tahu kamu sudah menderita lama.

Menatap Raka.

LILY

Tapi kalau kamu menyerah sekarang,
artinya tujuh tahun penderitaan itu sia-sia.

Pause.

LILY

Dan aku tidak percaya itu. Aku tidak percaya Ibumu selamatkan kamu cuma buat kamu menyerah.

Raka menatap Lily lama.

Menghela napas panjang.

RAKA

(pelan)

Maaf. Aku cuma... takut berharap terlalu banyak.

LILY

Berharap itu tidak salah. Yang salah itu berhenti mencoba.

Menggenggam tangan Raka.

LILY

Kita masih punya tiga bulan. Tiga bulan untuk cari solusi.

Raka mengangguk—masih lelah tapi tidak menyerah lagi.

MONTASE - BERBAGAI LOKASI - 3 BULAN KEMUDIAN (JANUARI

2027)

A) Museum Nasional Jakarta - Pagi:

Ruang arsip dingin dengan AC yang terlalu kencang. Dokumen lama

tersimpan dalam box karton berlabel tahun.

Raka dan Lily meneliti arsip Kyai Sadewo di meja panjang kayu.

Sarung tangan putih wajib untuk menyentuh dokumen.

Foto hitam-putih tahun 1920-an tersebar di meja. Wajah-wajah

orang yang sudah lama mati menatap kosong dari foto.

Artikel koran kuno dengan huruf Belanda—kertas rapuh, kuning:

"Kejadian Aneh di Dieng - 47 Orang Hilang Misterius Semalam.

Polisi Bingung."

LILY

(membaca dengan suara

pelan)

"Keempat puluh tujuh penduduk desa menghilang tanpa jejak. Tidak ada tanda perjuangan. Tidak ada darah."

Menatap Raka.

LILY

47 orang. Jumlah yang sama dengan arwah yang kamu pegang.

Raka menatap foto Kyai Sadewo—mata putih susu menatap kamera

dengan tatapan yang tahu sesuatu.

RAKA

Mereka jadi arwah pertama. Mereka
jadi... jangkar.

Lily memfoto halaman dengan handphone—flash tidak boleh, jadi

foto gelap.

PETUGAS ARSIP (60-an, kacamata tebal) mendekat.

PETUGAS ARSIP

Maaf, Dek. Jam 12 kita tutup untuk makan siang.

Lily menatap jam—11:58. Masih banyak dokumen yang belum dilihat.

B) Perpustakaan UI - Depok - Sore:

Perpustakaan besar dengan lantai marmer. Mahasiswa belajar di

meja-meja panjang.

Raka dan Lily di pojok—dikelilingi tumpukan buku kuno setinggi

satu meter.

Manuskrip kuno paranormal Jawa. Tulisan tangan dengan tinta

pudar—sulit dibaca.

LILY

(menyipitkan mata,

membaca)

"Jangkar adalah kutukan turun-temurun. Darah memanggil darah."

Menoleh ke Raka.

LILY

Ibumu punya kekuatan ini dari siapa?

RAKA

(mengangkat bahu)

Ibu tidak pernah cerita. Nenek aku sudah meninggal sebelum aku lahir.

Lily memfoto halaman-halaman dengan handphone—ratusan foto.

Tangan mulai pegal.

Raka membaca buku lain dengan frustrasi—garis demi garis

mengatakan hal yang sama:

"Pintu harus dijaga. Tidak ada jalan lain. Pengorbanan adalah

keharusan."

Dia membanting buku—terlalu keras. Mahasiswa lain menatap

sebentar, lalu kembali ke buku masing-masing.

RAKA

(berbisik frustrasi)

Semua buku ini bilang hal yang sama. Tidak ada jalan keluar.

Lily memegang tangannya—tangan Raka 45% transparan sekarang,

tapi masih bisa dirasakan.

LILY

Kita akan temukan cara. Aku janji.

Tapi matanya tidak yakin.

C) Rumah Dukun - Gunung Lawu - Malam:

Rumah kayu tua di lereng gunung. Kabut tebal. Anjing

menggonggong dari kejauhan.

MBAH KARSO (80-an, dukun tua dengan mata katarak putih, tapi

aura sangat kuat) duduk bersila di tikar.

Raka dan Lily duduk berhadapan—candle light satu-satunya

penerangan.

Mbah Karso memegang tangan Raka lama—mata tertutup, merasakan

energi.

Tubuhnya tiba-tiba KAKU—seperti tersengat listrik.

MBAH KARSO

(suara bergetar)

Le... di dalam dirimu ada 47 jiwa.

Membuka mata—menatap Raka dengan tatapan yang bisa melihat lebih

dari fisik.


MBAH KARSO

Dan sesuatu yang lebih tua.
Sesuatu yang menunggu kamu mati.

Raka menarik napas cepat—merinding.

RAKA

Apa Mbah bisa membantu lepaskan mereka?

Mbah Karso menggeleng sedih—melepas tangan Raka.

MBAH KARSO

Pintu ini berbeda, Le. Tidak bisa ditutup dari luar.

Mengambil dupa—menyalakannya. Asap tipis mengepul.

MBAH KARSO

Pintu ini dibuka dari dimensi lain. Hanya bisa dikunci dari dalam.

Menatap Raka tajam.

MBAH KARSO

Harus ada yang masuk, pegang pintu dari dalam, dan rela tinggal selamanya. Tidak ada cara lain.

Lily menatap lantai—tangan terkepal.

LILY

Pasti ada cara lain. Pasti—

MBAH KARSO

(memotong, tegas)

Tidak ada, Nak. Mbah sudah hidup 80 tahun. Sudah bertemu 7 jangkar sebelum bocah ini.


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)