Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
3:17: Jangkar Terakhir
Suka
Favorit
Bagikan
3. Tujuh Tahun Sendirian
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Tangannya menembus arwah—seperti kabut. Tidak ada yang bisa

dipegang. Tidak ada yang solid.


RAKA

(berbisik)

Ibu... jangan pergi...


Arwah Sari tersenyum—bibir bergerak tanpa suara: "Maaf."

Lalu memudar—menghilang seperti asap.

Raka jatuh berlutut di depan peti mati—akhirnya menangis.


B) Sekolah SMP - 2020:

Kelas matematika. Guru menulis di papan.

Raka (14) duduk di pojok belakang—sendirian. Murid lain menjaga

jarak—seperti dia penyakit menular.


Jam dinding menunjuk 03:16.


Raka mulai berkeringat. Napas cepat. Tangan gemetar. Tahu apa

yang akan datang.


Mencoba bernapas dalam—tenangkan diri.

03:17—suhu kelas ANJLOK drastis.

Napas semua orang mengembun. AC tidak nyala tapi ruangan seperti

freezer.

47 ARWAH muncul di sekitar Raka—memenuhi ruang kelas seperti

kabut tebal, seperti asap, seperti hantu perang.


Raka BERTERIAK—menutup mata, menutup telinga.


RAKA

(berteriak)

PERGI! PERGI! JANGAN MUNCUL LAGI!

Murid-murid lain tidak melihat apa-apa—hanya melihat Raka

berteriak sendiri.

Mereka mundur dari Raka—takut, jijik.


GURU (30-an, wajah bingung) mendekat.


GURU

Raka, kamu kenapa? Ada apa?


03:18—arwah menghilang tiba-tiba.

Suhu normal lagi.

Raka menatap sekeliling—napas tersengal. Semua menatapnya dengan

tatapan TAKUT.

MURID 1 (cewek, 14) berbisik ke MURID 2:

MURID 1

(berbisik)

Dia gila. Ayah ibunya mati, dia jadi gila.


Sejak saat itu—Raka jadi OUTSIDER total.


C) Terapi Psikolog - 2021:

MONTASE CEPAT—LIMA KANTOR PSIKOLOG BERBEDA:

1. Psikolog 1 (50-an, wanita, kacamata): "Halusinasi post-

traumatic stress. Wajar setelah kecelakaan."

2. Psikolog 2 (40-an, pria, janggut): "Otak menciptakan

mekanisme coping. Arwah adalah proyeksi rasa bersalah."

3. Psikolog 3 (35, wanita, hijab): "Kamu perlu terapi CBT. Ini

bisa disembuhkan."

4. Psikolog 4 (60-an, pria, profesor): "Skizofrenia dini. Perlu

medikasi."

5. Psikolog 5 (30-an, wanita, muda): "Kamu tidak gila. Tapi kamu

perlu terima kenyataan—tidak ada arwah."


CLOSE UP: LIMA BOTOL OBAT BERBEDA DI MEJA RAKA.


Semua PENUH—tidak pernah diminum. Tidak bekerja. Karena ini

bukan sakit jiwa.


D) Bullying Sekolah - 2022:

Koridor SMP. Jam istirahat.

Tiga ANAK NAKAL (15, lebih besar dari Raka) menghadang Raka di

sudut koridor.


ANAK NAKAL 1

(mengejek)

Eh Bocah Arwah! Udah ngobrol sama hantu hari ini belum?


Mendorong Raka—tas jatuh.


ANAK NAKAL 2

(tertawa)

Minta tolong dong ke arwah ibunya beliin kita jajan!


Raka diam—tidak melawan. Tidak bisa melawan.


ANAK NAKAL 3

(jahat)

Orangtuanya mati, dia ikutan gila. Kasian amat.


Mereka tertawa—pergi.

Raka mengambil tasnya—tangan gemetar. Menahan air mata.


KANTIN - SIANG:

Raka duduk sendirian di meja pojok. Makan nasi kotak sendirian.

Di sekitarnya—semua meja penuh dengan murid ngobrol, tertawa.

Tapi meja Raka KOSONG radius 3 meter—seperti zona karantina.

Tidak ada yang mau dekat.

Raka makan sambil menatap piring—sendiri di keramaian.


E) Rumah Tante Rina - 2023:

Rumah sederhana. Dua kamar.


TANTE RINA (45, perawat, wajah lelah) jarang di rumah—kerja

shift pagi, siang, malam.


CLOSE UP: JAM DINDING—23:00.

Raka sendirian di meja makan—makan mie instan dengan lauk tahu

goreng dingin.


TV nyala tapi tidak ditonton—hanya bunyi latar agar tidak

terlalu sepi.

Mengerjakan PR Matematika sendirian—tidak ada yang bantu.

Salah satu soal sulit—tidak mengerti. Biasanya Ayah yang bantu.

Menatap soal itu lama—air mata jatuh ke buku tulis.

Menangis sendirian di meja makan—tidak bersuara.


F) Pemudaran Dimulai - 2024:

Kamar mandi. Raka (18, sudah SMA) berdiri di depan cermin—

telanjang dada.

Menatap tangan kanan—ada yang aneh.


CLOSE UP: TANGAN 5% TRANSPARAN—BISA MELIHAT TULANG SAMAR DI BALIK

KULIT SEPERTI X-RAY SAMAR.

Raka menatap dengan mata melebar—PANIK.


RAKA

(berbisik shock)

Apa... apa yang terjadi...


Meraba tangan—masih solid tapi... berbeda.

Berlari ke kamar—mencari informasi di internet. Tidak ada yang

cocok.

"Transparansi tubuh"—tidak ada hasil medis.


G) Dokter - 2025:

Ruang dokter. Hasil rontgen di layar komputer.


DOKTER (50-an, bingung) menatap hasil dengan dahi berkerut.

Raka duduk di kursi pasien—10% transparan sekarang. Tangan,

kaki, sebagian dada.


DOKTER

(menggeleng pelan)

Raka... tidak ada penjelasan medis untuk ini.


Menatap layar lagi.


DOKTER

Struktur molekuler tubuhmu
seperti... memudar. Seperti
hologram yang kehilangan power.


Menatap Raka.


DOKTER

Aku belum pernah lihat kasus
seperti ini dalam 30 tahun
praktik.


Raka menatap tangannya—takut.


RAKA

Apa... apa aku akan mati?


Dokter diam—tidak tahu harus jawab apa.


H) Sendirian - 2026:

Kamar kos Raka. Gelap—hanya lampu belajar menyala.

Raka (20, kuliah tahun 2, 30% transparan) duduk di meja—buku

catatan terbuka.

Menulis dengan tulisan tangan gemetar:


"PERHITUNGAN PEMUDARAN"

- 2024: 5% (Januari)

- 2025: 15% (rata-rata 10% per tahun)

- 2026: 30% (progres lebih cepat)

- Prediksi: 100% transparan = MATI (Agustus 2027)

Menulis di bawahnya:

"MANIFESTASI 03:17"

- Total: 5.110 kali dalam 7 tahun

- Rata-rata: 2 kali per hari

- Arwah: 47 setiap manifestasi

- Total paparan: 239.170 arwah-encounter


Di bawah lagi:

"KESIMPULAN: ENAM BULAN LAGI AKAN MATI."

Raka menatap tulisan itu lama.

Menutup buku—menatap cermin.

Refleksi dirinya 30% transparan—seperti hantu, seperti arwah

yang dia lihat.


Air mata jatuh—tapi sudah kehabisan air mata untuk ditangisi.

Hanya duduk dalam kegelapan—menerima takdir.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)