Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
3:17: Jangkar Terakhir
Suka
Favorit
Bagikan
1. Pintu yang Terbuka
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

OVER BLACK.

Suara gamelan mistis bergema dari kejauhan—semakin keras,

semakin mencekam.


FADE TO:

EXT. DESA DIENG - SENJA - 16 MARET 1923

Desa kecil di kaki Gunung Dieng. Rumah-rumah kayu sederhana

dengan atap ijuk. Asap dapur mengepul dari cerobong.

Anak-anak bermain congklak di halaman. Ibu-ibu mencuci di sungai

kecil. Ayah-ayah pulang dari ladang dengan cangkul di bahu.

Kehidupan desa yang damai, sederhana.


RADEN WIRYO SENTONO (47, mandor perkebunan Belanda, postur tegap, wajah skeptis) berjalan melewati desa dengan seragam

putih. Mandor yang dihormati tapi bukan dari kalangan ningrat lagi.

Penduduk desa membungkuk hormat—dia membungkuk balik. Tidak

sombong meski punya posisi.


NYI KENANGA (50-an, paranormal desa, wajah tegas) keluar dari

rumahnya—menatap Wiryo dengan tatapan aneh. Seperti melihat

mayat berjalan.


WIRYO

(berhenti, sopan)

Ada apa, Nyi? Kok menatap seperti itu?


Nyi Kenanga menggeleng—tidak berani bilang yang sebenarnya.


NYI KENANGA

Nanti malam... jangan ke candi sendirian.

WIRYO

(tersenyum skeptis)

Nyi tahu saya tidak percaya hal-hal mistis.


NYI KENANGA

Percaya atau tidak... kadang tidak mengubah takdir.


Dia masuk kembali ke rumah—menutup pintu dengan cepat.

Wiryo menatap pintu tertutup itu lama—merasa ada yang tidak beres.


INT. RUMAH WIRYO - MALAM

Rumah sederhana tapi rapi. Foto keluarga di dinding—Wiryo muda

dengan orang tua yang sudah meninggal.

Wiryo duduk di meja makan sendirian—makan nasi dengan lauk

sederhana. Istri dan anak sudah lama meninggal saat melahirkan.

Dia hidup sendirian sejak saat itu.

Ketukan pintu.

Wiryo membuka.


KYAI SADEWO (70-an, mata putih susu, kulit keriput seperti kulit

pohon) berdiri di ambang pintu dengan tongkat kayu. Aura kuat

tapi lelah.


KYAI SADEWO

Wiryo, Nak. Kita perlu bicara.


WIRYO

(membungkuk hormat)

Kyai, silakan masuk.


Mereka duduk di ruang tamu. Wiryo menyeduh teh—menaruh di depan

Kyai dengan sopan.

Kyai Sadewo menatap Wiryo lama—seperti sedang menimbang sesuatu

berat.


KYAI SADEWO

Ibumu... dulu punya kekuatan yang sama seperti saya.


Wiryo berhenti minum teh—menatap Kyai dengan mata lebar.


WIRYO

Ibu tidak pernah cerita apa-apa
soal—


KYAI SADEWO

(memotong)

Karena dia tidak mau kau tahu. Tidak mau kau terbebani.


Menyeruput teh dengan tangan gemetar.


KYAI SADEWO

Tapi darah tidak bisa dibohongi,
Nak. Kekuatan tidur dalam dirimu.
Mau atau tidak mau.


WIRYO

Kyai... saya cuma mandor. Saya tidak punya kekuatan apa-apa—


KYAI SADEWO

Besok malam... kau akan tahu.


Berdiri dengan susah payah—tubuh tua yang kelelahan.


KYAI SADEWO

Dan kau akan harus memilih—lari atau terima tanggung jawab yang seharusnya jadi milik keluarga Sentono sejak ratusan tahun lalu.


Wiryo menatap Kyai pergi—bingung dan takut.


EXT. CANDI DIENG - MALAM - 17 MARET 1923, 02:45

Kabut tebal merangkak di antara reruntuhan candi Hindu kuno.

Bulan purnama menerangi prasasti yang aus. Batu-batu tertutup

lumut berabad-abad.


SUPER: "DIENG PLATEAU, JAWA TENGAH - 17 MARET 1923,

02:45"

Wiryo berjalan menuju reruntuhan dengan lantera minyak.

Dipanggil oleh Kyai Sadewo lewat pesan yang dititipkan lewat

anak desa.


Tiga sosok berjubah putih sudah mengelilingi altar batu di

tengah reruntuhan.


KYAI SADEWO di tengah. NYI KENANGA di sebelah kanan. Seorang

BIKSU TUA di sebelah kiri.


Di pusat altar: JAM SAKU ANTIK terbuka—jarum detik bergerak

pelan. Bukan jam biasa. Ada aura gelap di sekitarnya.

Wiryo mendekat—lantera bergoyang di tangannya.


WIRYO

Kyai... apa yang terjadi? Kenapa harus tengah malam—


KYAI SADEWO

Duduk, Nak. Waktunya tidak banyak.


Wiryo duduk—masih memegang lantera erat.

Kyai Sadewo mengangkat jam saku itu dengan hati-hati—seperti

mengangkat bom yang bisa meledak kapan saja.


KYAI SADEWO

Jam ini dibuat tahun 1898 oleh tukang jam Belanda yang gila. Cornelius van der Berg.


Menatap Wiryo.


KYAI SADEWO

Dia mencoba membuat mesin yang bisa bekukan waktu. Eksperimen gagal... tapi jam ini jadi sesuatu yang lain.


NYI KENANGA

Pintu.

Wiryo menatap mereka bingung.


BIKSU TUA

(suara serak)

Jam ini secara tidak sengaja membuka pintu ke dimensi lain.
Dimensi antara hidup dan mati.


WIRYO

(skeptis tapi mulai

percaya)

Dimensi... apa maksudnya—


TIBA-TIBA suhu ANJLOK drastis.

Napas Wiryo mengembun tebal. Rerumutan di sekitar altar MEMBEKU

dalam sekejap.

Jam berbunyi—GEMA yang menyakiti tulang. Bukan bunyi normal.

Bunyi yang datang dari dimensi lain.


KYAI SADEWO

(berdiri, serius)

Dia datang.

Dari bayangan di antara reruntuhan: SESUATU muncul.

SANDE KALA—bentuk hitam amorphous dengan RIBUAN TANGAN meraih

keluar, ribuan mata berkedip-kedip, ribuan mulut terbuka dalam

jeritan tanpa suara.

Wiryo TERIAK—jatuh ke belakang. Lantera jatuh—mati.

Nyi Kenanga BERTERIAK. Biksu Tua mulai membaca mantra dengan

suara cepat.

Kyai Sadewo melangkah maju—tangan kanan BERSINAR CAHAYA EMAS

intens, menyilaukan seperti matahari kecil.

KYAI SADEWO

(berteriak dalam Jawa

kuno)

Kau tak bisa masuk! Aku JANGKAR! Aku pegang pintumu!


Dia menyentuh makhluk itu.

Cahaya meledak seperti bom.

Makhluk MERAUNG dalam frekuensi yang membuat batu retak.

Prasasti kuno hancur berkeping-keping. Tanah bergetar.

Tapi makhluk tidak mundur—malah semakin kuat.

Kyai Sadewo batuk darah—kekuatannya mulai habis.


KYAI SADEWO

(tersenyum pahit)

Aku terlalu tua... tubuh ini tidak kuat lagi...

Makhluk mendorong lebih keras. Kyai Sadewo terdorong mundur—

hampir kalah.

Tangan panjang makhluk itu—MENCAKAR wajah Wiryo dengan kuku

tajam seperti pisau.

Darah segar menetes ke permukaan jam antik.


CLOSE UP: DARAH MENYENTUH JAM—MEKANISME DI DALAM JAM BERPUTAR

SENDIRI, LEBIH CEPAT.

Cahaya emas MENTRANSFER—mengalir paksa dari tubuh Kyai Sadewo ke

tubuh Raden Wiryo seperti petir menyambar.

Wiryo BERTERIAK—tapi suaranya BERGANDA, seperti PULUHAN SUARA

sekaligus.

47 ARWAH yang selama ini dipegang Kyai—penduduk desa yang hilang

misterius seminggu lalu—kini dipaksa masuk ke dalam diri Wiryo.

FLASHBACK CEPAT:

- 47 penduduk desa berjalan ke candi seperti zombie

- Kyai Sadewo menutup pintu dengan kekuatan terakhir

- 47 jiwa terperangkap sebagai jangkar


KEMBALI KE MASA KINI:

Wiryo jatuh berlutut. Tubuhnya konvulsi. Muntah darah.


KYAI SADEWO

(sekarat, tersenyum

damai)

Maaf, Nak... tapi pintu harus dijaga... atau ribuan akan mati...

Kyai Sadewo runtuh ke tanah. Tubuhnya menjadi abu dalam sekejap—

terbang ditiup angin malam seperti debu.

Wiryo masih berlutut—BERTERIAK dengan puluhan suara arwah

sekaligus. Matanya bersinar cahaya emas untuk sedetik, lalu

redup menjadi hitam pekat.

Nyi Kenanga dan Biksu Tua mundur—takut.

Di balik pintu setengah tertutup: RIBUAN MATA menatap lapar dari

kegelapan. Menunggu. Sangat lapar.

Makhluk tersedot kembali ke bayangan—tapi tidak hilang.

Menunggu.


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)