Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
3:17: Jangkar Terakhir
Suka
Favorit
Bagikan
2. 47 Jiwa
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

CLOSE UP:

JAM SAKU BERHENTI DI 03:17. JARUM DETIK TIDAK BERGERAK

LAGI—MEMBEKU DI MOMEN ITU SELAMANYA.

Wiryo menatap tangannya—BERSINAR EMAS SAMAR untuk sedetik, lalu

padam.


WIRYO

(suara serak, asing di

telinganya sendiri)

Apa yang... apa yang terjadi pada diriku...


CUT TO BLACK.

SUARA 47 ARWAH bergema dalam kegelapan—menangis, memohon,

menderita.


TITLE CARD: "103 TAHUN KEMUDIAN"

EXT. CIWIDEY, JAWA BARAT - JALAN RAYA - PAGI (2019)

Perkebunan teh hijau yang indah diselimuti kabut tipis. Damai,

namun sunyi yang menekan.

Toyota Avanza silver melaju pelan.

SUPER: "47 MENIT SEBELUM KEMATIAN"

INT. AVANZA - CONTINUOUS

Radio memutar lagu "PURA-PURA LUPA" - MAHEN. Liriknya yang

melankolis memenuhi kabun.

BUDI SANTOSO (40, wajah lembut) sedang menandai novel Pramoedya.

Ia sesekali menatap SARI NASTITI (38) yang menyetir dengan

cengkeraman tangan yang memutih pada setir. Sari terlihat

seperti orang yang tidak tidur tiga hari.

Di kursi belakang, RAKA (13) memakai earphone besar. Wajahnya

diterangi cahaya ponsel.

SFX (HP RAKA): Suara rentetan tembakan AK-47 yang diredam

earphone.

RAKA (Meringkuk, bicara ke mic HP)

"Satu squad di depan! Revive gue, cepet! Jangan sampai too

soon!"

Budi menutup bukunya, menatap Sari dengan cemas.

BUDI

Sayang, gantian aku yang bawa ya? Kamu sudah gemetar begitu

sejak masuk jalur Ciwidey.

Sari tidak menjawab. Matanya terus melirik jam di dashboard:

03:10.


SARI (Suara parau)

Tidak. Aku sudah hitung. Kalau aku yang bawa, aku bisa kontrol kecepatannya. Kita harus lewat menit ke-17 sebelum jembatan.


BUDI

(Mendesah pelan)

Sari... penglihatan itu hanya kemungkinan. Jangan biarkan "bakat" itu menyiksa keluargamu sendiri.


RAKA (Tiba-tiba berteriak)

"YES! Headshot! Mati lo!"

Raka tertawa puas, sama sekali tidak sadar akan ketegangan di

kursi depan.


FLASHBACK - INT. RUMAH SARI - MALAM (SEMINGGU LALU)

Sari memegang tangan seorang klien tua. Tiba-tiba tubuh Sari

menegang. CAHAYA EMAS SAMAR muncul di ujung jarinya, tapi

berubah menjadi ASAP HITAM.

VISI FLASH (STITCH CUT):

Indikator bensin yang mati.

Suara klakson truk yang melengking.

Jam digital mobil menunjukkan 03:17.

Darah yang mengalir di atas layar HP yang retak.

Sari tersentak bangun dari transnya, MUNTAH di lantai.


KEMBALI KE MASA KINI:

INT. AVANZA - CONTINUOUS

Jam dashboard: 03:14.

Musik di radio kini masuk ke bagian chorus yang tinggi. Suasana

terasa sangat emosional namun mencekam.

Sari mulai panik. Ia menginjak gas lebih dalam.


SARI

Kenapa jalannya jadi lambat?! Harusnya kita sudah lewat tikungan itu!

BUDI

Sari, pelan-pelan! Kamu malah bahayain kita!


RAKA (Melepas satu earphone)

Bu? Kita balapan sama siapa?

Sari melihat spion tengah. Ia melihat bayangan SOSOK HITAM

BERJUBAH duduk di kursi kosong sebelah Raka. Sari berkedip,

bayangan itu hilang.

Jam dashboard: 03:16.

SARI (Menangis)

Tidak bisa... waktunya tidak mau berubah...

RAKA (Kembali fokus ke HP)

"Dikit lagi... satu orang lagi... Chicken Dinner!"

Di depan mereka, sebuah tikungan buta (blind spot).

TRUK MITSUBISHI MERAH muncul dari balik kabut. Oleng. Supirnya,

PAK JOKO, terkulai pingsan di setir karena kelelahan kronis.


BUDI (Berteriak)

SARI! AWAS!

RAKA (Di HP-nya)

"Winner Winner Chicken Dinner—"

SFX: Suara kemenangan dari game PUBG berbunyi nyaring, tepat

saat klakson truk menggelegar panjang.


SARI (Maksimal, pasrah)

TUHAAAAN!

JAM DASHBOARD: 03:17.

TABRAKAN.

SLOW MOTION:

Layar HP Raka melayang ke udara. Tulisan "WINNER WINNER"

memantulkan cahaya ledakan kaca yang pecah seperti berlian.

Budi terlempar ke arah Sari, mencoba melindungi istrinya. Lagu

di radio berubah menjadi suara statis yang menyakitkan telinga.

Mobil Avanza itu terpelintir, hancur berkeping-keping, sebelum

akhirnya terlempar jatuh ke dalam jurang perkebunan yang gelap.


FADE TO BLACK.

SUARA SANDE KALA (V.O - BERBISIK):

"Hutang... dimulai..."

INT. MOBIL TERBALIK - SUNGAI - UNDERWATER

Air sungai membanjiri jendela yang hancur—dingin, keruh, cepat.

Avanza tenggelam cepat—ditarik gravitasi ke dasar sungai yang

dalam.

CLOSE UP: BUDI—LEHER PATAH DI POSISI TIDAK WAJAR. MATA TERBUKA TAPI

TIDAK MELIHAT. DARAH MENGALIR DARI MULUT—TERCAMPUR AIR SUNGAI.

MATI SEKETIKA.

CLOSE UP: SARI—DADA TERTUSUK KOLOM KEMUDI YANG PATAH. DARAH

MEMENUHI MULUTNYA—GELEMBUNG UDARA KELUAR DARI BIBIR. SEKARAT.

NAPAS TERAKHIR.

CLOSE UP: RAKA—TERJEBAK DI KURSI BELAKANG. SABUK PENGAMAN MENEKAN

DADA. TENGGELAM. MATA TERBUKA TAPI TIDAK BERNAPAS. TIDAK BERGERAK.

Mati.

Underwater—senyap. Hanya bunyi gelembung udara naik ke

permukaan.

Tangan Sari—dengan sisa kekuatan terakhir—BERSINAR CAHAYA EMAS

sangat terang. Lebih terang dari biasanya. Lebih terang dari

yang pernah dia keluarkan.

Seluruh tubuhnya bersinar—seperti malaikat underwater.

Dia meraih Raka yang sudah mati dengan tangan gemetar. Menyentuh

dahinya dengan jari yang hampir tidak bisa bergerak.


CLOSE UP: CAHAYA EMAS MENGALIR DARI TANGAN SARI KE DAHI RAKA—

SEPERTI LISTRIK, SEPERTI ALIRAN DARAH, SEPERTI KEHIDUPAN

BERPINDAH.

TRANSFER DIMULAI.

Bukan hanya karunia penyembuhan.

Bukan hanya kemampuan mediumship.

Bukan hanya mata ketiga.

47 ARWAH yang selama ini dipegang Sari—termasuk RADEN WIRYO

SENTONO—ikut berpindah secara paksa ke tubuh Raka yang sudah

mati.


MONTASE CEPAT—VISUAL:

- Arwah WIRYO memasuki tubuh Raka

- 46 arwah lain mengikuti seperti awan masuk

- Tubuh Raka TERANG BENDERANG

- Jantung yang sudah mati BERDETAK lagi

- Paru-paru yang sudah berhenti MENGEMBANG lagi


CLOSE UP: MATA RAKA YANG TADINYA KOSONG—TERBUKA LEBAR.

Pupil melebar. Napas pertama underwater—tidak wajar, tidak

mungkin, SIHIR.

Raka TERENGAH—hidup kembali secara MUSTAHIL. Bernapas meskipun

underwater—paru-paru seharusnya penuh air tapi tidak.

Sihir. Kutukan. Berkah sekaligus.


SARI

(berbisik sekarat, darah

di bibir, suara nyaris

tidak terdengar)

Maafin Ibu, Nak... tapi Ibu tidak bisa kehilangan kamu...


Air mata bercampur darah dan air sungai.


SARI

(semakin pelan)

Hidup, Nak... hidup untuk Ibu... untuk Ayah... maafkan Ibu...


Sari tersenyum damai—mata perlahan menutup.

Cahaya emas padam sepenuhnya—seperti lampu mati.

Tubuhnya lemas. Tangan jatuh—tidak bergerak lagi.


CLOSE UP: RAKA MENATAP IBUNYA UNDERWATER—MENGERTI APA YANG TERJADI

TAPI TIDAK BISA BERBUAT APA-APA.

RAKA mencoba berteriak—air masuk ke mulut tapi dia tidak

tenggelam. Tidak mati. Kutukan membuatnya hidup.


FADE TO BLINDING WHITE :


TITLE CARD: "7 TAHUN KEMUDIAN - 2026"

MONTASE - KEHIDUPAN RAKA (13-20 TAHUN):

A) Pemakaman - 2019:

Langit mendung. Hujan turun tipis—dingin.


Raka (13, baju hitam terlalu besar, mata kosong) berdiri di

depan dua peti mati kayu sederhana.

Keluarga dan teman berkumpul—menangis, berdoa.

Raka tidak menangis. Shock. Tidak bisa percaya.

Dia melihat ARWAH SARI berdiri di samping peti matinya sendiri—

menatap Raka dengan sedih, menyesal, mencintai.

Arwah Budi berdiri di samping istrinya Sari—memegang tangan ibu

Raka. Tersenyum sedih.

Hanya Raka yang bisa melihat mereka.

Raka mengulurkan tangan—mencoba menyentuh ibunya.


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)