Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
24/7
Suka
Favorit
Bagikan
5. Puncak Kejayaan

17. EXT. TEPI DANAU – SORE

Cast. IKRAM & LUNA


Ikram dan Luna duduk di tepi danau, menggunakan alas sandal masing-masing.


LUNA

Emang dulu mimpi Kak Iam apa?

 

Ikram merebahkan tubuhnya di atas rumput, menggunakan tangan sebagai bantalan kepalanya. Diikuti oleh Luna, hingga keduanya berbaring menatap langit.


IKRAM

Banyak, Ru. Kayak Iru nggak punya mimpi aja.

LUNA

Iru emang nggak punya mimpi selain mati. Mimpi Kak Iam apa?

IKRAM

(Menoleh kea rah Luna was-was)

Coba ubah pikiran kamu lagi. Catnya kemarin masih ada nggak?

LUNA

Iru mau jadi langit.

 

Ikram tidak menjawab, ia hanya tersenyum simpul, kemudian menatap langit.

 

LUNA (CONT’D)

Kenapa, Kak? Iru salah ngomong kah?

 

Luna bangkit, duduk. Menatap Ikram yang tidak membalasnya.

 

LUNA

Kenapa?

 

Ikram hanya menggeleng kecil. Saat akan menjawab pertanyaan Luna, panggilan dari ponselnya membuat Ikram bangkit. Telpon dari bapak. Ia pamit kepada Luna untuk menjawab panggilan dari sang ayah.

 

IKRAM

Bapak doain Ikram aja, ya! Ikram masih banyak urusan di sini, Sandi mau ngajak Ikram keluar nyari barang buat wisuda.


Kemudian langsung mematikan telponnya sungkan. Ia merasa bersalah karena sudah berbohong.


Setelah memastikan tidak ada pesan penting, Ikram menghampiri Luna yang tengah berkutat dengan kamera di ponselnya.


LUNA

Aku punya sesuatu buat Kak Iam, tapi nanti.

IKRAM

Nggak spesial dong kalau kamu bilang sekarang, Ru.

LUNA

Kan, aku enggak bilang hadiahnya apa. Aku cuma bilang nanti aku datang bawa hadiah, biar Kak Iam semangat sidangnya. Pas wisuda aku juga bakalan datang, nanti aku minta fotbar boleh?

IKRAM (CONT’D)

Kenapa enggak boleh? Boleh dong.

 

Keduanya mengambil foto bersama. 

 

IKRAM

Aku pulang dulu, kamu nggak mau aku antar ke kosan?

LUNA

Duluan aja. Aku ada janji sama temen sekelas habis ini. Kak Iam pulang aja gapapa.

IKRAM

Aku tinggal nggak apa-apa?

LUNA

Iya, gih, pulang! Hati-hati, ya! Jangan lupa pulang ke kosan, jangan ke mana-mana, bahaya!

 

Ikram sempat mengusak rambut Luna hingga anak itu mencak-mencak karena rambutnya berantakan. Namun, Ikram melarikan diri lebih dulu. Meninggalkan Luna sendiri.

CUT TO


18. INT. KAMAR KOSAN SANDI – MALAM

Cast. IKRAM & SANDI


Ikram merebahkan diri di atas kasur Sandi yang tengah mengerjakan sesuatu.


IKRAM

Ngapain lo minta gue ke sini? Tumbenan.

SANDI

Pengin gue ajak keliling, sekalian mampir ke kantor.

IKRAM

Ngapain ke kantor?

SANDI

Mau nyari gebetan

 

Tas selempang Ikram dilempar ke arah Sandi.

IKRAM

Isi kantor orang-orang tua semua, astaga, Sandi.

SANDI

Siapa bilang?

IKRAM

Lagian abis Magrib kantor tutup, San.

SANDI

Gue udah janjian, Sat.

IKRAM

Sama siapa sih?

SANDI

Nana. Dia baru magang katanya.

IKRAM

Pantesan gue enggak tahu.

SANDI

Lo mau, ‘kan?

IKRAM

Enggak. Gue mau ke tempat print, sekalian warnet.

SANDI

Sekali doang, Sat.

IKRAM

Gue juga sekali doang, San.

SANDI

Sia-sia dong gue nyuruh lo ke kosan.

IKRAM

(Menggelengkan kepala)

Gue numpang makan.

SANDI

Temen gak tahu diri.

IKRAM

Lo juga. Gue jadi ninggalin Iru tadi gara-gara lo.

 

Perdebatan Ikram dan Sandi tidak ada ujungnya.

 

CUT TO


19. MONTAGE

a. Sandi dan Ikram berpisah di pertigaan jalan dengan perasaan kesal milik Sandi.

b. Ikram meneruskan langkahnya ke tempat print.

c. Sampai di depan tempat print, Ikram mencari flashdisk di tas selempangnya. Ia yakin bahwa tadi membawanya, tetapi tidak ditemukan.

d. Karena frsutrasi, ia mencari ke kosan Sandi, tetapi dikunci, dan yakin bahwa tidak ada di sana.

e. Ikram sempat ke kosannya sendiri pun tidak ada.

f. Karena putus asa, Ikram seketika ingat danau. Dia berlari ke danau dan mencarinya, tetapi tidak ditemukan juga. Akhirnya dia menyerah.

g. Sepanjang jalan, Ikram menggerutu, sesekali misuh. Dia melewati tempat pertama kali bertemu dengan Luna, sampai kemudian masuk gang sepi dan jarang dilewati orang.

h. Ikram menatap pos satpam yang gelap, hanya disinari oleh senter dari ponsel. Ikram dapat mendengar tawa sumbang milik seseorang ada di sana. Kemungkinan mereka adalah para pemabuk yang kerap meresahkan warga. Tapi, tempat ini sepi. Ikram tidak takut, ia merasakan gagal dalam satu waktu, dirinya berniat menerobos dan menyerahkan diri, bunuh diri.

END MONTAGE

 

20. EXT. JALAN – MALAM

Cast. IKRAM, LUNA, SANDI, & 3 PEMABUK


Ikram berjalan sembari menggerutu.


IKRAM

Sial, sial, sial. Seni paling abstrak yang nyata itu hidup, kalau gak ciptaan Tuhan, pasti berantakan gak karuan.

 

Ikram dapat melihat tiga orang tengah duduk melingkar bersama tumpukan kartu remi dan sekitar lima botol beling alcohol, serta tiga gelas kaca. Wajahnya pias, karena mereka mabuk.

 

Ikram abai dan meneruskan langkahnya. Namun, karena si pemabuk sadar ada yang lewat, Ikram pun menghentikan langkahnya.

 

PEMABUK 1

Sekolah tinggi-tinggi attitude-nya cuma segitu. Paling ijazahnya nganggur. Mending main sini kita, lima puluhan.


Ikram tentu tidak terima, kemudian menoleh. Menatap wajah ketiga lelaki itu menantang.


IKRAM

Mau apa lo?

 

Satu orang mendekati Ikram dengan sempoyongan, membuat Ikram hendak muntah karena bau alcohol yang begitu menyengat.

 

PEMABUK 1

Santai, Bro. Kita cuma mau ngajak taruhan.

PEMABUK 2

Yakin, Bos, ngajakin orang kayak dia? Dia mainnya orasi basi.

 

Satu pemabuk yang mencegat Ikram menarik kerah baju Ikram. Mendekatkan wajahnya hendak mengajak ribut.

 

PEMABUK 3

Lo buta arah?

 

Ikram tidak menyukai bau alcohol berusaha memberontak. Ia mendorong lelaki yang ada di depannya dan mengundang geger kawan lainnya. Sehingga terjadi sedikit keributan.

 

Tiga pemabuk itu mengambil gelas dan botol beling masing-masing, menjadi kesempatan untuk Ikram berlari, tetapi lelaki itu justru tersenyum meremehkan. Seolah menantang duel.

 

Saat salah satu dari pemabuk melempar botol mengarah ke Ikram, Ikram menutup wajahnya. Suara pecahan kaca menggema. Namun, Ikram tidak merasakan apa-apa. Justru ia merasa ada yang ambruk di depannya.

 

Luna tersenyum saat menjatuhkan tas yang digunakan untuk melindungi tubuhnya, sayang pemabuk itu tidak hanya melempar satu botol kaca. Tapi hampi semua barang kaca dilempar ke Ikram dan Luna yang tengah berdiri di sana.

 

Beruntung, Sandi memukul pemabuk itu dari belakang, membuat para pemabuk pingsan di tempat.

 

Tubuh Luna ambruk. Kepala gadis itu terluka, mengeluarkan banyak darah. Lengan kanannya pun sama.

 

LUNA (CONT’D)

Kak Iam gak apa-apa?

(Terbata)

Iru tadi nyariin ke kosan Kak Sandi, tapi Kak Sandinya udah pergi. Terus ke kosan Kak Iam, kata ibuk kosnya Kak Iam belum pulang. Iru cemas nyariin Kak Iam. Kak Iam gak apa-apa?


Tidak hanya bagian yang tidak terlindungi tas, banyak serpihan kaca menusuk tubuh Luna hingga darah merembes di mana-mana. Ikram merasakan perih di betisnya, mungkin pecahan kaca mengenai kakinya sebab ia mengenakan celana pendek. Namun, ia tidak bisa melihat Luna jatuh di pelukannya saat ini. Napasnya pendek, sayup matanya tak memiliki harapan hidup.

 

LUNA (CONT’D)

Kak Iam harus lulus, ya? Katanya mau gandengan tangan sama Iru, kenapa tadi Kak Iam lewat sini sendiri terus mau nyerahin diri ke pemabuk itu? Kak Iam udah ingkarin janji ke Iru." Bibir mungil gadis itu memucat seketika. Tangan kirinya merogoh saku kecil di dressnya. "Kak Iam nyari flashdisk ini, 'kan? Tadi jatuh pas lari-larian mau pulang. Aku ngejar Kak Iam, tapi cepet banget sampe aku kehilangan jejak. Terus akhirnya aku buka isi flashdisknya. Aku suka buku Kak Iam, kapan terbitnya, Kak?

 

Ikram membantu tangan Luna yang bergetar mengeluarkan flashdisknya dari saku gadis itu. Ikram menangis.

 

LUNA

Kak Iam ternyata ganteng kalau dari deket. Iru ngantuk, mau tidur.

 

Tubuh Luna sepenuhnya bertopan pada Ikram. Ia mengguncang beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan sama sekali. Ikram menatap Sandi yang tengah berusaha memberikan penolongan pertama pada pendarahan Luna.

 

Ikram terus mengguncang tubuh Luna.

 

IKRAM

Katanya mau gandengan tangan, Ru?

 

Tangis Ikram pecah, lelaki itu menjerit keras di tengah gelapnya malam dan temaramnya cahaya.

DISSOLVE TO


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)