Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
17. EXT. TEPI DANAU – SORE
Cast. IKRAM & LUNA
Ikram dan Luna duduk di tepi danau, menggunakan alas sandal masing-masing.
LUNA
Emang dulu mimpi Kak Iam apa?
Ikram merebahkan tubuhnya di atas rumput, menggunakan tangan sebagai bantalan kepalanya. Diikuti oleh Luna, hingga keduanya berbaring menatap langit.
IKRAM
Banyak, Ru. Kayak Iru nggak punya mimpi aja.
LUNA
Iru emang nggak punya mimpi selain mati. Mimpi Kak Iam apa?
IKRAM
(Menoleh kea rah Luna was-was)
Coba ubah pikiran kamu lagi. Catnya kemarin masih ada nggak?
LUNA
Iru mau jadi langit.
Ikram tidak menjawab, ia hanya tersenyum simpul, kemudian menatap langit.
LUNA (CONT’D)
Kenapa, Kak? Iru salah ngomong kah?
Luna bangkit, duduk. Menatap Ikram yang tidak membalasnya.
LUNA
Kenapa?
Ikram hanya menggeleng kecil. Saat akan menjawab pertanyaan Luna, panggilan dari ponselnya membuat Ikram bangkit. Telpon dari bapak. Ia pamit kepada Luna untuk menjawab panggilan dari sang ayah.
IKRAM
Bapak doain Ikram aja, ya! Ikram masih banyak urusan di sini, Sandi mau ngajak Ikram keluar nyari barang buat wisuda.
Kemudian langsung mematikan telponnya sungkan. Ia merasa bersalah karena sudah berbohong.
Setelah memastikan tidak ada pesan penting, Ikram menghampiri Luna yang tengah berkutat dengan kamera di ponselnya.
LUNA
Aku punya sesuatu buat Kak Iam, tapi nanti.
IKRAM
Nggak spesial dong kalau kamu bilang sekarang, Ru.
LUNA
Kan, aku enggak bilang hadiahnya apa. Aku cuma bilang nanti aku datang bawa hadiah, biar Kak Iam semangat sidangnya. Pas wisuda aku juga bakalan datang, nanti aku minta fotbar boleh?
IKRAM (CONT’D)
Kenapa enggak boleh? Boleh dong.
Keduanya mengambil foto bersama.
IKRAM
Aku pulang dulu, kamu nggak mau aku antar ke kosan?
LUNA
Duluan aja. Aku ada janji sama temen sekelas habis ini. Kak Iam pulang aja gapapa.
IKRAM
Aku tinggal nggak apa-apa?
LUNA
Iya, gih, pulang! Hati-hati, ya! Jangan lupa pulang ke kosan, jangan ke mana-mana, bahaya!
Ikram sempat mengusak rambut Luna hingga anak itu mencak-mencak karena rambutnya berantakan. Namun, Ikram melarikan diri lebih dulu. Meninggalkan Luna sendiri.
CUT TO
18. INT. KAMAR KOSAN SANDI – MALAM
Cast. IKRAM & SANDI
Ikram merebahkan diri di atas kasur Sandi yang tengah mengerjakan sesuatu.
IKRAM
Ngapain lo minta gue ke sini? Tumbenan.
SANDI
Pengin gue ajak keliling, sekalian mampir ke kantor.
IKRAM
Ngapain ke kantor?
SANDI
Mau nyari gebetan
Tas selempang Ikram dilempar ke arah Sandi.
IKRAM
Isi kantor orang-orang tua semua, astaga, Sandi.
SANDI
Siapa bilang?
IKRAM
Lagian abis Magrib kantor tutup, San.
SANDI
Gue udah janjian, Sat.
IKRAM
Sama siapa sih?
SANDI
Nana. Dia baru magang katanya.
IKRAM
Pantesan gue enggak tahu.
SANDI
Lo mau, ‘kan?
IKRAM
Enggak. Gue mau ke tempat print, sekalian warnet.
SANDI
Sekali doang, Sat.
IKRAM
Gue juga sekali doang, San.
SANDI
Sia-sia dong gue nyuruh lo ke kosan.
IKRAM
(Menggelengkan kepala)
Gue numpang makan.
SANDI
Temen gak tahu diri.
IKRAM
Lo juga. Gue jadi ninggalin Iru tadi gara-gara lo.
Perdebatan Ikram dan Sandi tidak ada ujungnya.
CUT TO
19. MONTAGE
a. Sandi dan Ikram berpisah di pertigaan jalan dengan perasaan kesal milik Sandi.
b. Ikram meneruskan langkahnya ke tempat print.
c. Sampai di depan tempat print, Ikram mencari flashdisk di tas selempangnya. Ia yakin bahwa tadi membawanya, tetapi tidak ditemukan.
d. Karena frsutrasi, ia mencari ke kosan Sandi, tetapi dikunci, dan yakin bahwa tidak ada di sana.
e. Ikram sempat ke kosannya sendiri pun tidak ada.
f. Karena putus asa, Ikram seketika ingat danau. Dia berlari ke danau dan mencarinya, tetapi tidak ditemukan juga. Akhirnya dia menyerah.
g. Sepanjang jalan, Ikram menggerutu, sesekali misuh. Dia melewati tempat pertama kali bertemu dengan Luna, sampai kemudian masuk gang sepi dan jarang dilewati orang.
h. Ikram menatap pos satpam yang gelap, hanya disinari oleh senter dari ponsel. Ikram dapat mendengar tawa sumbang milik seseorang ada di sana. Kemungkinan mereka adalah para pemabuk yang kerap meresahkan warga. Tapi, tempat ini sepi. Ikram tidak takut, ia merasakan gagal dalam satu waktu, dirinya berniat menerobos dan menyerahkan diri, bunuh diri.
END MONTAGE
20. EXT. JALAN – MALAM
Cast. IKRAM, LUNA, SANDI, & 3 PEMABUK
Ikram berjalan sembari menggerutu.
IKRAM
Sial, sial, sial. Seni paling abstrak yang nyata itu hidup, kalau gak ciptaan Tuhan, pasti berantakan gak karuan.
Ikram dapat melihat tiga orang tengah duduk melingkar bersama tumpukan kartu remi dan sekitar lima botol beling alcohol, serta tiga gelas kaca. Wajahnya pias, karena mereka mabuk.
Ikram abai dan meneruskan langkahnya. Namun, karena si pemabuk sadar ada yang lewat, Ikram pun menghentikan langkahnya.
PEMABUK 1
Sekolah tinggi-tinggi attitude-nya cuma segitu. Paling ijazahnya nganggur. Mending main sini kita, lima puluhan.
Ikram tentu tidak terima, kemudian menoleh. Menatap wajah ketiga lelaki itu menantang.
IKRAM
Mau apa lo?
Satu orang mendekati Ikram dengan sempoyongan, membuat Ikram hendak muntah karena bau alcohol yang begitu menyengat.
PEMABUK 1
Santai, Bro. Kita cuma mau ngajak taruhan.
PEMABUK 2
Yakin, Bos, ngajakin orang kayak dia? Dia mainnya orasi basi.
Satu pemabuk yang mencegat Ikram menarik kerah baju Ikram. Mendekatkan wajahnya hendak mengajak ribut.
PEMABUK 3
Lo buta arah?
Ikram tidak menyukai bau alcohol berusaha memberontak. Ia mendorong lelaki yang ada di depannya dan mengundang geger kawan lainnya. Sehingga terjadi sedikit keributan.
Tiga pemabuk itu mengambil gelas dan botol beling masing-masing, menjadi kesempatan untuk Ikram berlari, tetapi lelaki itu justru tersenyum meremehkan. Seolah menantang duel.
Saat salah satu dari pemabuk melempar botol mengarah ke Ikram, Ikram menutup wajahnya. Suara pecahan kaca menggema. Namun, Ikram tidak merasakan apa-apa. Justru ia merasa ada yang ambruk di depannya.
Luna tersenyum saat menjatuhkan tas yang digunakan untuk melindungi tubuhnya, sayang pemabuk itu tidak hanya melempar satu botol kaca. Tapi hampi semua barang kaca dilempar ke Ikram dan Luna yang tengah berdiri di sana.
Beruntung, Sandi memukul pemabuk itu dari belakang, membuat para pemabuk pingsan di tempat.
Tubuh Luna ambruk. Kepala gadis itu terluka, mengeluarkan banyak darah. Lengan kanannya pun sama.
LUNA (CONT’D)
Kak Iam gak apa-apa?
(Terbata)
Iru tadi nyariin ke kosan Kak Sandi, tapi Kak Sandinya udah pergi. Terus ke kosan Kak Iam, kata ibuk kosnya Kak Iam belum pulang. Iru cemas nyariin Kak Iam. Kak Iam gak apa-apa?
Tidak hanya bagian yang tidak terlindungi tas, banyak serpihan kaca menusuk tubuh Luna hingga darah merembes di mana-mana. Ikram merasakan perih di betisnya, mungkin pecahan kaca mengenai kakinya sebab ia mengenakan celana pendek. Namun, ia tidak bisa melihat Luna jatuh di pelukannya saat ini. Napasnya pendek, sayup matanya tak memiliki harapan hidup.
LUNA (CONT’D)
Kak Iam harus lulus, ya? Katanya mau gandengan tangan sama Iru, kenapa tadi Kak Iam lewat sini sendiri terus mau nyerahin diri ke pemabuk itu? Kak Iam udah ingkarin janji ke Iru." Bibir mungil gadis itu memucat seketika. Tangan kirinya merogoh saku kecil di dressnya. "Kak Iam nyari flashdisk ini, 'kan? Tadi jatuh pas lari-larian mau pulang. Aku ngejar Kak Iam, tapi cepet banget sampe aku kehilangan jejak. Terus akhirnya aku buka isi flashdisknya. Aku suka buku Kak Iam, kapan terbitnya, Kak?
Ikram membantu tangan Luna yang bergetar mengeluarkan flashdisknya dari saku gadis itu. Ikram menangis.
LUNA
Kak Iam ternyata ganteng kalau dari deket. Iru ngantuk, mau tidur.
Tubuh Luna sepenuhnya bertopan pada Ikram. Ia mengguncang beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan sama sekali. Ikram menatap Sandi yang tengah berusaha memberikan penolongan pertama pada pendarahan Luna.
Ikram terus mengguncang tubuh Luna.
IKRAM
Katanya mau gandengan tangan, Ru?
Tangis Ikram pecah, lelaki itu menjerit keras di tengah gelapnya malam dan temaramnya cahaya.
DISSOLVE TO