Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
[FADE IN]
Pemandangan dari lantai 7 memanjakan mata. Terlihat suasana panas menyengat padahal jarum jam masih menunjukkan pukul 10 siang. Biru langit khas, serta awan putih bergerumbul di segala arah.
DISSOLVE TO
1. INT. PERPUSTAKAAN UTAMA – PUKUL 10 PAGI – DAY
Cast. IKRAM, LUNA, SANDI, & PAK ADAM
Ikram (21) menggerutu di tempat duduknya, sembari menatap beberapa tumpukan buku di depannya. Laptopnya menyala, sedangkan tangan kanan sibuk menscroll sosial media. Berusaha menghubungi Sandi (22)—temannya—yang berjanji akan datang pukul 9 pagi untuk bimbingan bersama. Sambungan telponnya pun berdering.
IKRAM
Jadi bimbingan gak sih? Gue sendirian udah nungguin dari dua jam yang lalu kalau mau tau.
(Semburnya dengan nada marah, sembari membolak-balikkan buku yang ada di depannya)
Lo kapan ke sini, Bambang? Capek gue lama-lama.
SANDI (O.S.)
(Tertawa kecil, kemudian berdecak pelan)
Sabar ngapa. Ban gue bocor tadi. Bentar lagi gue ke sana Lima belas menit lagi deh. Gue yakin Pak Adam juga belum selesai ngajarnya.
IKRAM
(Menghela napas panjang)
Nitip es biasa!
(Menutup sambungan telpon, sedikit membanting ponselnya ke meja)
Ikram mengembuskan napas panjang, marah-marah memang menguras emosi.
Pandangannya beralih ke layar laptopnya yang dibiarkan menyala, kemudian ia membuka tab baru pada layar chrome menuju situs webtoon, dan menemukan episode baru dari salah satu manga kesukaannya.
Tuntas dengan bacaan manganya, Ikram menoleh ke jam dinding yang terpasang di sana.
Sepuluh menit berjalan, pandangannya dibuat teralih karena kedatangan Luna (17)—mahasiswa baru, terlihat dari ssetelannya rok hitam dan kemeja putih serta dasi hitamnya, masih sangat klinyis. Serta, tatanan rambutnya rapi—mengambil tempat duduk di seberang. Tangannya membawa buku yang menurut Ikram unik, hanya saja tatapan gadis itu sangat datar.
IKRAM (VO)
Dasar gadis sombong. Mahasiswa baru jaman sekarang memang tidak tahu aturan kesopanan.
Tidak mau ambil pusing dengan gadis yang tidak Ikram kenal, ia kembali fokus pada layar laptopnya. Menunggu kedatangan Sandi dengan menyibukkan membaca manganya. Dua menit kemudian, Sandi datang membawa es pesan Ikram dan map hijau di tangannya.
IKRAM
Lama!
SANDI
(Memukul Ikram menggunakan map hijau yang dia bawa, kemudian menarik kursi duduk di sebelah Ikram dan mendudukkan diri)
Ban gue bocor, Sul. Lo mau nyusulin gue, hah?
IKRAM
Ojol, kan, ada.
SANDI
Lo mau bayarin gue?
IKRAM
Ogahlah. Ngapain juga bayarin lo? Lo udah konglomerat gitu.
Meminum es yang dibawa oleh Sandi)
SANDI
Makanya. Orang telat Cuma lima belas menit doang.
IKRAM
(Merotasikan matanya berang)
Lima belas menit matamu. Empat kalinya, Bambang. Janjian jam Sembilan lo dateng jam sepuluh lebih dua puluh menit, noh, lihat jam!
(Menunjuk ke jam dinding)
SANDI
Ya, sorry. Gak tahu jam.
IKRAM
Sorry, Sorry.
(Menirukan kata-kata Sandi setengah mengejek)
Cepetan, mana buku gue!
SANDI
Sabar ngapa, Nyet!
(Mengeluarkan buku dari tasnya, kemudian memberikan bukunya kepada Ikram)
IKRAM
(Menerima dengan sewot)
Lo kapan sidang, San?
(Membuka buku yang diberikan oleh Sandi)
SANDI
(Menatap map hijaunya sedih)
Kapan-kapan.
IKRAM
(Menggeplak kepala Sandi menggunakan bukunya)
SANDI
Kalau gegar otak gue gak jadi siding, Sul.
(Mengelus kepalanya lembut)
Keduanya saling melempar tatapan tajam, hendak gelut. Namun, tidak lama kemudian kehadiran Pak Adam (45) membuat Ikram dan Sandi memasang raut sesopan mungkin. Bersamaan itu, Luna keluar ruangan.
PAK ADAM
Kirain bakalan datang jam sebelas, Ta.
IKRAM
Janjian sama Sandi jam Sembilan, Pak, sekalian mau ngerjain laporan. Malah dianya yang ngaret sejam lebih.
(Mempersilakan Pak Adam untuk duduk di sampingnya)
PAK ADAM
(Membungkuk, kemudian duduk disertai tawa kecilnya)
Namanya juga Indonesia, ya, apa, San?
SANDI
(Mengangguk percaya diri)
Gak ada jam gak karet
PAK ADAM
Emang udah sampai mana aja, Ta? Udah kamu olah datanya?
IKRAM
(Mengusap tengkuknya sembari menyengir)
Masih di Surabaya aja, Pak.
PAK ADAM
Kalau dari Semarang mah Sandi, kamu mah dari Solo, apa, ya? Saya lupa.
(Tertawa kecil setelah menatap Sandi mengangguk)
Kenapa nggak ke UNS aja, Ta? Biar enggak jauh-jauh ngekos.
SANDI
Diusir sama ibu bapaknya, Pak. Anaknya bandel soalnya.
(Sembari tertawa mengejek)
IKRAM
(Menyikut perut Sandi dan menginjak sepatu lelaki itu kuat sampai meringis di tempat)
Pengen mandiri aja, Pak. Sesekali merantau apa salahnya? Lagipula ini juga impian saya dari jauh hari, supaya bisa pergi ke luar kota sendiri.
Pak Adam tersenyum simpul, kemudian mengambil lembaran kertas milik Ikram, mencoret-coret, serta mengarahkan sedikit. Menggambar sebuah emoji yang mewakili perasaan Ikram saat ini.
INSERT : Kertas berisi gambar empji dan tulisan “Pelan-pelan, Pak Supir” buatan Pak Adam.
Sandi cekikikan sendiri di tempat, kemudian menepuk pundak Ikram pelan.
PAK ADAM
Masih banyak yang belum jelas. Kamu coba pelajari lagi yang kemarin saya jelaskan. Habis ini Zuhur, saya mau Zuhuran dulu.
Pak Adam berkemas setelahnya, berpamitan kepada dua anak didiknya dan pergi dari perpustakaan. Bersamaan dengan ponsel Ikram bergetar. Notifikasi muncul di layar kuncinya, kemudian Ikram membukanya.
BAPAK (Chat)
Kapan kamu selesai skripsi, Res? Bapak dapat panggilan dari Pakdhemu, kamu disuruh ngajar di tempatnya Pakdhe. Kamu cepet-cepet wisuda, Le.
Bahu Ikram merosot di tempat duduk, menatap kosong ke depan, sadar bahwa Luna sudah pergi dari sana. Meninggalkan secarik kertas berisi tulisan dengan pulpen biru.
SANDI
Maba sekarang cakep-cakep, Sat. Kayak yang di depan tadi.
Ikram menoleh, ternyata Sandi memerhatikan gerak-geriknya sejak tadi.
CUT TO
2. EXT. KORIDOR – DEPAN RUANG BACA – PAGI - DAY
Cast. IKRAM & SANDI
Ikram menatap Sandi yang ada di depan ruang baca, menunggu kedatangan Ikram, seperti sudah tahu sebelumnya bahwa dia akan datang. Ikram menatap Sandi penuh kebingungan.
Ikram menepuk bahu Sandi keras sebagai sapaan.
SANDI
Dua minggu lagi gue siding, lo harus dateng.
IKRAM
Oke, Bro. Bawain apa?
SANDI
Bawain selembar puisi perpisahan lo.
(Kemudian tertawa tidak jelas)
IKRAM
Gue beneran, bangsul. Nih, anak mau lulus masih aja konslet otaknya.
SANDI
Apa aja, deh. Asal bukan kenangan mantan.
IKRAM
Lama-lama gue geprek lo, San!
Saat hendak memukul sahabatnya, Sandi sudah berlari menghindar lebih dulu, sembari melambaikan tangan pergi.
Ikram hanya menggelengkan kepala, sedikit sedih. Sandi mungkin mengambil start untuk lulus lebih awal dari dirinya. Namun, dengan cepat perasaan itu dia tepis. Ikram lantas masuk ke ruang baca yang sepi.
CUT TO
3. INT. RUANG BACA – PAGI
Cast. IKRAM & LUNA
Ikram masuk ke ruang baca, mencari spot kosong favoritnya. Tidak seperti hari Senin-Kamis yang selalu ramai, hari ini sepi.
Pandangan Ikram tertuju pada tempat favoritnya, terdapat setumpuk buku persis seperti ketika di perpustakaan utama kampusnya. Ikram bertanya-tanya, apakah gadis itu ada di sini juga? Pandangan Ikram beralih ke pintu, sudah dipastikan bahwa dirinya sendirian datang ke sini, atau memang ia tidak melihat ada orang masuk ke sini?
Ikram mengangkat bahu tidak peduli, menghempas ke pojok ruang lainnya, kemudian menjatuhkan badannya lesehan. Segera membuka laptopnya dan sesekali membuka buku yang ada dia bawa tadi.
Keheningan ruang baca membuat Ikram terpaku dengan pekerjaannya, sampai suara buku jatuh berhasil mengalihkan perhatiannya.
IKRAM
Lo!
(Sedikit terkejut)
Luna berdiri, menatap Ikram datar tanpa minat.
Sedang Ikram, memerhatikan serius dari ujung rambut hingga bawah kaki tampilan Luna. Blouse lengan panjang serta setelann kulotnya, rambutnya pun dibiarkan tergerai asal, mendukung tampilannya yang terkesan datar, dingin, kaku, dan cuek jadi satu.
Ikram segera mengembalikan buku milik Luna yang terjatuh tadi, kemudian kembali ke tempat duduknya.
IKRAM (VO)
Bisa ada cewek sedatar itu, dikasih makan triplek kali sama emaknya.
(Monolognya)
Ikram menggelengkan kepalanya, mengenyahkan ungkapan buruk yang menurutnya tidak penting. Ikram kembali fokus ke layar laptop, merasakan aura canggung semakin menguat. Saat melirik ke arah Luna, gadis itu sibuk membolak-balikkan bukunya. Merasa gemas, Ikram pun berdiri dan mendekat. Meraih sebuah buku bersampul hijau dominan putih dan mengerutkan alisnya. Sebuah buku psikologi yang menurutnya mencekik kenyataan.
Saat akan mengucapkan sepatah kata, Luna justru pergi dari ruang baca, meninggalkan Ikram sendiri. Tepat saat hendak memanggil, ponsel di sakunya bergetar. Sebuah pesan yang sama dari bapak masuk. Ikram fokus pada buku yang ada di tangannya.
INSERT : Buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?
Tubuh Ikram merosot ke lantai.
CUT TO
4. EXT. TROTOAR – SORE
Cast. IKRAM & ORANG
BAPAK (O.S.)
Pakdhe udah nungguin kamu, loh, Res.
Ikram mengembuskan napas, menatap jalanan Surabaya yang ramai lancar. Ia berjalan di sepanjang trotoar dengan perasaan kesal. Langit mendung, semakin membuat Ikram menggerutu.
IKRAM
Tapi, Iam belum bisa, Pak. Kenapa enggak Mbak Nada aja? Mbak Nada juga lulusan guru malah, kenapa harus Iam?
BAPAK (O.S.)
Mbakmu, kan, udah ngajar di Bantul, Nak. Masa disuruh balik ke Solo?
Ikram berdecak sebal, kakinya menendang batu hingga mengenai seseorang ttak dikenal di depannya. Orang tersebut menoleh.
Ikram membungkuk sopan, sembari menurunkan ponsel dan menutup agar suaranya tidak masuk.
IKRAM
Punten, nggak sengaja!
Orang itu pergi, barulah Ikram kembali mengangkat telponnya.
IKRAM
Pak, kemarin Iam abis gajian. Bapak cek rekening, ya. Rengganis sama Fathiya kemarin minta Iam beliin sepatu. Bapak kasih aja uangnya ke mereka.
Setelah itu, Ikram segera menutup telponnya. Meneruskan langkahnya sembari mengingat perkataan sang ayah saat dirinya mengutarakan mimpi masa depannya.
BAPAK (O.S.)
Mbak Nada aja jadi guru bisa sukses kok. Bapak sekolahin kamu biar kamu jadi anak berguna nantinya dan kasih amal jariyah seandainya Bapak nggak ada nanti. Iam tahu, kan, Bapak udah tua, Ibu juga. Kamu satu-satunya anak laki-laki Bapak.
Pak, kerja di rumah sakit juga berguna untuk banyak orang. Iam pengin nyelametin banyak orang.
Kamu manut Bapak atau keluar dari rumah?
JUMP CUT TO:
Ikram berhenti di pinggir jalan, ada penjual cakue. Ia membelinya dua biji, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya lagi.
LATER
Kaki Ikram kembali melangkah sembari menenteng bungkusan cakuenya. Suara Bapak terngiang-ngiang di kepala.
BAPAK (O.S.)
Bapak nuntut kamu lebih keras daripada Mbak Nada, Rengganis, atau Fathiya karena kamu laki-laki, Nak. Laki-laki punya tanggung jawab besar, ada Ibu, Mbak, sama adik-adik kamu yang butuh sosok kepala. Atau nanti kalau kamu sudah berkeluarga, ada anak istrimu yang butuh kamu sepanjang waktu. Bapak nggak mau kamu gagal kayak Bapak dan berakhir kayak gini. Bapak mau kamu nanti dikenal sama anak kamu sebagai ayah yang paling hebat karena perjuangan kamu.
Bapak nggak mau kamu jadi laki-laki nggak becus. Bapak nggak mau kamu jadi laki-laki nggak berguna nggak bisa apa-apa tanpa wanita. Bapak mau kamu jadi laki-laki yang nggak dipandang sebelah mata karena wanita.
Bapak cuma mau yang terbaik buat laki-laki satu-satunya penerus Bapak, tapi Bapak mau memastikan kalau enggak ada orang macam Bapak apalagi anak Bapak sendiri.
Sesekali tangan Ikram mengepal kuat, merasakan sesak luar biasa saat mengingat semua perkataan sang ayah.
CUT TO FLASHBACK
5. EXT. TAMAN ALUN-ALUN – MALAM
Cast. IKRAM & BAPAK
Ikram duduk berdua bersama Bapak (55) di sudut taman alun-alun. Menatap anak kecil yang tengah bermain.
IKRAM
Kenapa, Pak? Kenapa harus Ikram yang melihat semuanya? Kenapa harus Ikram yang nggak berdaya ketika Ibu sama Fathiya nangis di depan Ikram? Kenapa harus Ikram yang menanggung kesedihan Mbak Nada saat hampir kehilangan penyemangatnya? Kenapa harus Ikram yang gantiin posisi Bapak untuk jadi kepala kelarga saat Rengganis benci sama laki-laki? Kenapa harus Ikram yang membenci laki-laki, padahal Ikram juga terlahir sebagai seorang laki-laki? Kenapa harus Ikram yang menahan ini semua sendirian, Pak?
Bapak diam, mendengarkan keluh kesah anaknya.
BAPAK
Bapak jahat, ya, Yam?
Ikram menangis, menatap tajam Bapak, dan sendu yang menjadi satu.
IKRAM
Sejak Ikram tahu Bapak punya wanita lain selain ibuk, Bapak nggak cuma jadi penjahat. Bapak udah bunuh kita berlima barengan dan ngehancurin seisi dunia yang kita punya. Kenapa Bapak ngelakuin itu? Bapak punya kuasa apa di sana sampai seberani itu ngelakuin ini ke kita?
FLASHBACK CUT TO