Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
13. MONTAGE
a. Luna dan Ikram menyusuri jalan bersama untuk menuju taman.
b. Luna sempat mengabari temannya untuk meninggalkan kunci di kamar kosannya lebih dahulu melalui ponsel.
c. Ikram berhenti di tempat penjual jajanan serta minuman dan membeli beberapa untuk keduanya.
d. Sampai di taman, keduanya langsung menuju gazebo kecil.
END MONTAGE
14. EXT. GAZZEBO TAMAN – SIANG
Cast. IKRAM & LUNA
IKRAM
Suka es nggak? Tapi kayaknya mau hujan lagi deh. Jadi belinya yang anget sih.
LUNA
Suka-sukamu, Kak.
Luna mengeluarkan cat, kuas, beserta palet dari tasnya. Mengeluarkan peralatan melukis lainnya. Ikram pun sama, mengeluarkan canvas berukuran sedang dan dia letakkan di atas lantai gazebo. Membiarkan Ikram mulai membuat sketsa.
LUNA
Kenapa disuruh beli ginian sih? Aku enggak suka ngelukis, Kak.
Ikram
Iya, nggak suka ngelukis di kanvas, wong ngelukis di lengan. Nggak bisa ngelukis, tapi suka ngeabstrakin tangan. Coba kemarin habis berapa kantong?
LUNA
Dua.
IKRAM
Besok kalau gambar pake buku gambar sama pensil warna, jangan pakai silet dan media tangan. Bisa fatal dan—
LUNA
Mati.
Luna tersenyum tipis setelah melihat wajah kesal Ikram atas jawabannya, tetapi laki-laki itu tidak membalas dan memilih untuk melanjutkan sketsanya.
Setelah selesai dengan sketsa, Ikram kembali memberikan canvasnya ke Luna, meminta gadis itu mewarnai sesuai dengan contoh yang dia cari di internet.
Sampai di tengah kegiatan, hujan datang. Buru-buru Ikram membereskan sepatu keduanya, meletakkan di tempat yang tidak terjangkau oleh hujan. Kemudian mengeluarkan jaket dari tasnya dan memakaikan di punggung Luna, membuat Luna kaget.
IKRAM
Dingin, kalau sakit gak ada yang tempelengan lagi.
Luna hanya tertawa kecil tanpa membalas. Dia fokus kembali pada pewarnaan lukisannya, membiarkan Ikram memutar playlist galau dari Spotify.
FX. : Lagu galau dan suara hujan.
MATCH TO JUMP
Luna melukis tanpa gangguan, ia benar-benar fokus, tanpa sepengetahuan dirinya, Ikram memerhatikan sembari tersenyum simpul.
LATER
Tidak terasa bahwa hampir satu jam Luna fokus pada lukisannya.
LUNA
Bagus nggak, Kak?
Senyum Ikram mengembang, merasa puas dengan hasil tangan Luna.
IKRAM
Nanti dipajang di kosan, atau mau dikirim ke rumah nenek lo, biar di kamar bisa dilihatin.
LUNA
(Menggeleng)
Buat Kak Iam aja, biar ingat kalau ada cewek nyebelin namanya Iru yang ngabisin emosi Kak Iam tiga hari lalu. Biar Kak Iam ingat ada cewek yang bikin trauma Kak Iam balik. Dan, biar Kak Iam ingat kalau Kak Iam pernah gagalin aksi bunuh diri adik tingkat Kak Iam.
IKRAM (CONT’D)
Udah janji buat gandengan tangan loh, ya?
Luna acuh, lalu menyeruput teh hangatnya.
IKRAM
Janji harus ditepati, Ru.
LUNA
Siapa juga yang mau ngingkarin janji, Kak? Kan, kita gak akan tahu ke depannya kayak gimana. Nanti kalau Kak Iam ketemu jodoh Kak Iam, masa gandengan tangannya sama Iru? Yang ada Iru ditempeleng bojo Kak Iam.
IKRAM
Ada-ada saja anak muda satu ini.
LUNA
Makasih, Kak.
Ikram diam, merasakan sendu yang tiba-tiba hadir.
IKRAM
Jangan ke mana-mana, ya, Ru?
Hanya terdengar suara air hujan tanpa suara manusia yang memberikan jawaban.
CUT TO
15. MONTAGE
a. Luna kesal karena kelasnya ditunda sampai ba’da Zuhur, akhirnya dirinya berkeliling fakultas.
b. Luna berjalan menuju perpustakaan, naasnya ketika membuka pintu ia melihat Pak Adam dan Ikram tengah bercengkerama di sudut perpustakaan.
c. Luna menunggu Pak Adam keluar, ia membungkuk sopan, baru menyapa Ikram. Menarik kursi duduk di samping lelaki itu. Mendengarkan apa saja cerita milik Ikram, tapi fokusnya pada buku bacaan yang ada di tangannya.
END MONTAGE
16. INT. PERPUSTAKAAN – PAGI
Cast. IKRAM, LUNA, & SANDI
LUNA
Kak Iam udah beres sama Pak Adam emang?
IKRAM
(Mengangguk)
Sepuluh hari lagi aku siding. Kamu boleh datang, Ru. Aku yang undang.
LUNA
Kalau enggak datan gimana?
IKRAM
Ya, enggak apa-apa.
(Nadanya sedih)
LUNA
(Tertawa kecil)
Aku pasti datang.
Luna pergi dari perpustakaan, membuat Ikram menggelengkan kepala bersamaan dengan kedatangan Sandi yang menyerahkan sebuah buku keluaran terbaru.
SANDI (CONT’D)
Seri baru, Sat. Pasti suka. Gue udah baca sih, tiga hari yang lalu. Cuma lupa mau bilang ke lo, takut lo masih sibuk skripsiannya.
Ikram menganggukkan kepala, menerima buku Sandi, kemudian memasukkan ke tasnya. Kemudian menarik satu lembar kertas origami dari saku tasnya.
SANDI
Sejak kapan lo koleksi origami?
IKRAM
Sejak kertas-kertas berharga gue dicoret-coret tiap hari, terus ganti revisi. Sayang, dibuang-buang. Gue cat sekalian, terus gue jadiin mahakarya. Lo kalau main ke kosan gue, jangan heran banyak sampah di mana-mana.
SANDI
Kapan sidang? Mumpung gue belum ada niatan balik ke Semarang dulu sebelum wisuda.
IKRAM
Sepuluh hari lagi.
Fokus Ikram pada origaminya, ia membentuk bangau.
SANDI
Oke. Gue dateng nanti.
IKRAM
(Mengangguk)
Lo tahu filosofinya bangau kertas dari Jepang itu nggak?
SANDI (CONT’D)
Lagi kasmaran sama siapa lo?
Sandi menatap Ikram penuh tanya.
SANDI (CONT’D)
Tapi, kayaknya gue pernah baca itu sebagai permohonan, satunya lagi kayak harapan gitu. Kayak mau mati aja sih.
(Merinding kaget, menggelengkan kepala menghalau pikiran buruk)
Lo masih belum kawin, Sat! Jangan mati dulu!
Ikram menghadiahi bogeman mentah pada Sandi. Membuat lelaki itu mengelus kepalanya.
SANDI
Lo kayaknya nggak nonjok gue, nggak hidup, ya, Sat?
(Mengelus kepalanya)
IKRAM
Muka lo tonjokable, bullyable. Pokok pengen gue geprek kalau ngelihatnya.
Ikram kemudian melanjutkan sisa melipat kertasnya.
SANDI
Lo buatin siapa emang?
IKRAM
Iru.
SANDI
Siapa Iru? Waifu lo?
Ikram kembali menonjok kepala Sandi. Namun, Sandi membalas menginjak Ikram kuat.
IKRAM
Iru nyata.
SANDI
Alhamdulillah, sohib gue waras.
IKRAM (CONT’D)
Soalnya lo yang nggak waras.
Ikram kembali menarik sisa kertas origami yang ada di saku tasnya, membuat karya baru lagi.
IKRAM
Nandira Kaluna Sabiru. Anak Sasindo angkatan tahun ini.
SANDI
MABA?
IKRAM
(Mengangguk)
Pas gue minta lo pulang duluan itu, gue ketemu dia di jalan pulang. Anaknya mau loncat dari jembatan, tapi sebelum itu tangannya udah dia sayat sebelum terjun. Awalnya gue cuma diem di belakang dia, mastiin kalau dia nggak bakalan loncat, tapi setelah dia jinjit mulu. Gue gemes akhirnya gue tegur.
SANDI
Buset, ngeri banget.
(Terkejut)
Dia sekarang gimana?
IKRAM
Aman. Cuma akhir-akhir ini kelihatan beda banget. Dia kayak punya semangat baru, padahal waktu itu udah kayak orang beneran mau mati, San. Gue heran, tapi gimana, ya?
Giliran Sandi yang menempeleng kepala Ikram.
SANDI
Itu artinya dia udah sadar, bego! Dia sadar kalau hidup dia berarti dangak harus mati.
IKRAM
(Menganggukkan kepala)
Gue bikin origami gini, biar dia lebih semangat. Kemarin gue beliin kanvas sama catnya, dia seneng banget. Gambarannya juga bagus. Ada di kosan gue. Cuma, gue agak janggal aja. Semoga gak apa-apa deh. Gue beneran overthingking, Bangsul.
Sandi menghela napas, mengelus dadanya sabar.
SANDI
Jaga dia, mungkin emang baru kenal, tapi gue yakin dia butuh lo. Lo juga butuh dia. Gue yakin, Luna pasti bisa hidup lebih lama, terlepas apapun yang sedang dia hadapi.
IKRAM
Kenapa lo seyakin itu?
SANDI
Kalau lo yang nemuin, gue tahu apa kata-kata yang lo ucapin sampe orang bakalan mikir dua kali buat ambil epilognya sendiri. Gue gak tahu seberat apa hidup orang, tapi dengan denger cerita gimana Luna mau ngakhiri hidupnya sendiri, gue yakin bahwa itu titik beratnya dia. Di satu sisi gue nggak membenarkan, di sisi lain gue juga nggak menyalahkan. Intinya dia butuh support system kayak lo. Lo jagain dia, lo juga jangan nyerah.
IKRAM
Tapi, San.
SANDI (CONT’D)
Kenapa?
Ikram mendadak takut.
SANDI
Kenapa emangnya?
IKRAM
Dia korban pelecehan omnya.
SANDI
Makanya gue bilang apa? Kalian sesama punya luka dalam keluarga, seenggaknya saling rangkul untuk sembuh bareng-bareng.
IKRAM
Lo yakin Iru bisa sembuh?
SANDI
(Menatap Ikram lekat)
Kenapa lo nggak percaya?
IKRAM (CONT’D)
Tau hemofilia?
Sandi mengangguk.
IKRAM
Iru ... hemofilia juga.
CUT TO