Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
24/7
Suka
Favorit
Bagikan
2. Air Terjun Alami

6. EXT. DANAU – MALAM

Cast. IKRAM & LUNA


Di sini Ikram berada, setelah berjalan panjang di sepanjang trotoar. Malam berganti. Dirinya menatap pantulan bulan yang terdapat di aliran danau tenang tersebut. Menatap sendu, menikmati angin malam seorang diri.


Sepasang sandalnya digunakan alas duduk, pikirannya berkelana jauh entah ke mana.


LUNA

Ada yang lebih jatuh daripada sepucuk origami bangau berjumlah seribu, maka itu aku dan lukaku. Ada yang lebih indah daripada puncak Mahameru dan pesona Ranu Kumbolo, maka itu adalah perbaikan dan perdamaian dari kehidupan. Ada yang lebih bengis daripada hujan badai di musim dingin, maka itu air mata tanpa pamit dia terus menghujat kebersamaannya.

 

Ikram menoleh, baru sadar jika dirinya tidak sendiri di sini. Luna tengah menatap danau yang sama, sembari membawa buku putih di tangannya.


Angin berembus kencang.

CUT TO

 

7. INT. PERPUSTAKAAN – PAGI

Cast. IKRAM, LUNA, SANDI, & PAK ADAM


Di perpustakaan seperti biasanya, Ikram tengah melakukan bimbingan bersama Pak Adam.


PAK ADAM

Pelan-pelan aja, Ta! Mungkin bulan depan kali kamu bisa daftar sidang. Saya yakin pasti akan selesai dengan sendirinya.

 

Pak Adam menutup lembaran terakhir milik Ikram, kemudian melepas kacamatanya.

 

PAK ADAM

Id itu berhubungan dengan keinginan dirinya, Ego berhubungan dengan titik tengahnya, sedangkan Superego tembok yang paling waras.


Pak Adam kembali membolak-balikkan kertas milik anak didiknya, melihat Ikram tersenyum kecil, senyum di bibirnya turut mengembang. Lantas, membereskan perlengkapan yang berserakan di meja.


PAK ADAM

Kamu bisa mengolah data sisanya lagi, Ta! Besok saya tunggu ba'da Zuhur di sini. Mumpung sore saya kosong

IKRAM

Baik, Pak. Terima kasih banyak.


Keduanya berberes masing-masing, sampai kedatangan seseorang mengalihkan atensi keduanya. Luna membungkuk sopan ke arah Pak Adam sejenak, lantas melanjutkan langkah menuju rak paling pojok untuk mencari sebuah buku.


Ikram tidak berhenti menatap langkah Luna yang tengah menuju rak paling belakang, sampai kemudian suara Pak Adam berhasil mengalihkan fokusnya.


PAK ADAM”

Sabiru


Ikram menoleh, menatap Pak Adam.


PAK ADAM

Anak Sasindo kelas A angkatan baru. Namanya Sabiru. Kalau di kelas suka banget bikin origami kertas, warna biru. Tiap kelas, ketika saya menerangkan dan anak-anak lain akan memilih tidur, dia bermain sama hasil origaminya. Pendiam, tapi sekalinya ngomong itu artinya kamu adalah orang yang tepat di mata dia. Itu, kan, kepribadian orang-orang introver.


Fokus Ikram beralih, melihat Luna tengah mencari buku.


PAK ADAM

Tapi, anak-anak di kelas manggilnya Luna sih. Saya doang kayaknya yang suka manggil dia Sabiru, biarpun kesannya seperti anak lelaki

IKRAM

(Menoleh kea rah Pak Adam lagi)

Memang nama lengkapnya siapa, Pak?


Pak Adam berpikir sejenak, diam beberapa sekon.


PAK ADAM

Nandira Kaluna Sabiru

IKRAM

Cantik

(Nadanya lirih, tetapi Pak Adam mendengarnya)

PAK ADAM

Mau PDKT nih bau-baunya. Kejar sidangmu dulu, Ta, baru gebet anak orang. Lebih kasihan skripsimu saya.


Ikram tertawa kecil, sembari menunduk. Kemudian berdiri dan mengantarkan dosennya sampai pintu perpustakaan. Begitu dia kembali ke tempat duduknya, Luna sudah duduk di seberang bersama buku di atas meja.


Perhatian Ikram tertuju pada buku yang dibaca oleh Luna.


INSERT : Buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?


IKRAM

Dari dua mingguan kayaknya nggak selesai-selesai mulu itu buku?


Luna diam. Tidak ada jawaban.


IKRAM (CONT’D)

Kayaknya gue salah ngomong sama orang budeg, bisu

LUNA

Mulut yang gak punya sopan santun itu perlu disekolahin sampe sarjana pun nggak ada gunanya kalau emang kebiasaan dipake buat ngoreksi orang mulu.

IKRAM

Akhirnya ngomong juga.

Gue lihat lo selalu ke sini, enggak ada kelas emang?


Diam. Tidak ada jawaban lagi. Kesabaran Ikram habis, lantas melempar bola kecil hasil sobekan kertas yang dia remat.


Luna menurunkan buku yang di abaca, menatap datar Ikram tanpa minat.


LUNA

Kalau lagi di sini berarti ada kelas apa enggak?


Ikram menggelengkan kepala.


Buku hijau dominan putih tersebut kembali menjadi fokus Luna. Mengangkat sehingga Ikram tidak bisa melihat wajahnya lagi. Ikram tentu saja kesal.


LUNA

Pantes nggak lulus-lulus.


Kalimat Luna sukses membuat Ikram naik pitam.


IKRAM

Gue berjuang lulus, ya!

LUNA

Sorry, Kak, tapi gue nggak nanya.

(Bangkit, membawa bukunya untuk dikembalikan di rak semula, lantas pergi dari sana)


Setelah kepergian Luna, Ikram uring-uringan.


Sandi datang semakin membuat naik darah, tangan ringannya menghadiahi Sandi menggunakan lembaran kertas yang Pak Adam coret tadi. Membuat temannya itu mengaduh, melindungi muka paripurnanya menggunakan kedua tangan, sembari takut untuk duduk.


SANDI

Gue ke sini baik-baik loh, Sat, malah lo gebukin. Salah apa gue punya temen setengah sinting gini. Kayaknya selain akhlakless, lo juga pengen gue banting beneran, asli.

IKRAM

Cewek kenapa sih jual mahal banget? Biar apa gitu? Biar dipuja-puja sama cowok. Cih.

SANDI

Gue cowok, Sat!

IKRAM

(Menatap Sandi Malas)

Katanya mau lulus, masih aja dongo.

SANDI

Ngeulti mulu jadi hobi.

IKRAM

Lagian siapa juga yang bilang lo cewek, ha? Gue cuma nanya, kenapa cewek kebanyakan pada jual mahal? Gak ada gue bilang lo cewek, Bangsul.

SANDI

Ya, mana gue tahu. Gue cowok kok.

IKRAM

Mbuh, San, mbuh. Sak karepmu.


Ikram lantas bangkit menyambar es teh milik lelaki itu tanpa pamit. Pandangannya tertuju pada kursi yang diduduki oleh Luna. Menemukan sebuah kertas terjatuh di bawah sana saat hendak pergi. Ikram memungutnya.


INSERT : Bangau origami, biru.


PAK ADAM (O.S.)

Anak Sasindo kelas A angkatan baru. Namanya Sabiru. Kalau di kelas suka banget bikin origami kertas, warna biru. Tiap kelas, ketika saya menerangkan dan anak-anak lain akan memilih tidur, dia bermain sama hasil origaminya. Pendiam, tapi sekalinya ngomong itu artinya kamu adalah orang yang tepat di mata dia. Itu, kan, kepribadian orang-orang introver.


Ikram benar-benar pergi dari perpustakaan. Mengantongi bangau origami tersebut sembari tersenyum kecil.

DISSOLVE TO

 

8. EXT. RUKO PINGGIR JALAN – SIANG

Cast. IKRAM & SANDI

FX : Riuh hujan, orang berlarian, dan menepi di pinggir jalan.


Hujan mengguyur ketika Ikram dan Sandi menepi di sebuah ruko pinggir jalan.


SANDI

Apes, apes!


Sandi mengibaskan rambut yang setengah basah karena lupa mengenakan helm dari kosan. Di lain sisi, Ikram turun dari boncengan motor Sandi disertai gerutuan yang sama. Keduanya pun menepi di pinggir ruko tersebut sembari menatap hujan.


Lima belas menit kemudian, hujan pun berhenti. Lantas Sandi melempar kunci motornya ke Ikram, kemudian naik di boncengan.


SANDI

Cepetan, Sat! Gue belum masak nih.


Ikram menerima kunci motor tersebut ogah-ogahan.


IKRAM

Ya, duluan aja sih. Gue mau belanja dulu.

SANDI

Yakin gak bareng?

IKRAM

Iya. Gue mau ke tukang print dulu ambil revisian kemarin. Lo buruan pulang, keburu ujan lagi!

(Seraya mengibaskan celananya yang sedikit basah)

SANDI

Beneran nih gak mau bareng? Gue lagi mager nyetir masa.

IKRAM

Gue juga males nyetir.

 

Sandi menstater motornya, kemudian pergi.


IKRAM

Emang bocah.

CUT TO


9. MONTAGE

a. Gerimis masih membasahi bumi. Ikram berjalan santai melewati perkampungan, kemudian berbelok menuju pinggiran sungai.

b. Ikram menatap pinggiran sungai yang pembatasnya reyot. Di sana ada Luna tengah berdiri berjinjit.

c. Luna membawa buku favoritn Siapa yang Datang Ke Pemakamanku Saat Aku Mati nanti, tengah mencoba untuk menatap sekitar. Aksi bunuh diri yang dia lakukan ternyata diketahui oleh Ikram.

d. Ikram menghentikan langkahnya, menatap Luna dari kejauhan. Tangannya gemetar dan dirinya diserbu perasaan ketakutan berlebihan. Traumanya kambuh di saat tidak tepat.

e. Saat hendak meluncur ke sungai, Ikram menarik baju Luna ke belakang dan menjauh dari sisi curam ke sungai tersebut.

END MONTAGE

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)