Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
10. EXT. PINGGIR SUNGAI – SORE
Cast. IKRAM & LUNA
Luna menoleh, menemukan Ikram tengah berdiri dengan raut yang sulit dibaca.
IKRAM
Gue yang bakalan dateng ke pemakaman lo andai kata lo sampai loncat dan ditemuin tim SAR.
Luna mendecih singkat, menatap berang Ikram yang seperti tahu segalanya.
LUNA
Siapa juga yang mau loncat?
IKRAM
(Tertawa kecil)
Lo bilang siapa yang mau loncat? Itu kaki dari tadi maju mundur sambil jinjit gue perhatiin.
Yakin lo nggak mau loncat?
LUNA
(Mendengkus kesal)
Mau lo apa sih, Kak? Lo dendam sama gue karena tiap di perpus kita ketemuan terus?
IKRAM
Korelasinya apa?
LUNA
Lo ngurusin mulu tentang hidup gue.
Ikram melongo mendengar jawaban Luna, ia mundur tiga langkah menjauhi jangkauan sungai yang ada di depannya.
IKRAM
Siapa yang ngurusin? Pede banget lo. Gue cuma mau ngingetin, itu kaki dua langkah maju, lo pasti udah nggak ada di dunia. Nggak sayang lo sama orang tua lo?
LUNA (CONT’D)
Tau apa lo soal hidup gue?
Luna menarik napas panjang, memejamkan kedua mata, sebelum menghadiahi tatapan tajam ke Ikram.
LUNA
Tau apa lo soal mati, kasih sayang orang tua, dan seisi dunia? Tau apa lo, Kak?
FX. : Suara hujan mengguyur.
Ikram kesal, Luna tidak mengerti pembicaraannya.
IKRAM
Lo mau bareng, Ru? Ayo, kita loncat bareng!
Luna tertawa kecil, tanpa aba-aba Ikram memeluknya erat. Hujan kembali turun deras, keduanya jadi total basah.
Luna tertawa kecil, memukul pelan punggung Ikram, tetapi lelaki itu tidak merespon apa-apa.
Ikram merobek scarf kecil yang ada di saku jaketnya, mengangkat pergelangan tangan kiri milik Luna tanpa banyak bicara, tanpa melepas dekapannya. Ikram tahu, bahwa Luna sedang menangis saat ini.
Darah mengalir deras, membuat Ikram frustasi dan tidak tahu mengapa dirinya mendadak bodoh tentang penolongan pertama. Ia marah, marah mendapati lengan kiri milik Luna begitu banyak bekas sayatan-sayatan masih basah, merah, serta mengeluarkan darah yang tak kunjung berhenti.
INSERT : Luka sayatan di tangan Luna.
IKRAM
Lo ngapain, ha? Lo kalau mau bunuh diri, jangan di sini! Sana di gunung di mana nggak banyak orang jangkau. Di sini banyak orang, Ru. Banyak yang jalan, banyak yang bertaruh kehidupan, dan lo malah matahin semua afeksi orang-orang. Lo tau, kalau seandainya gue nggak ngomong dan biarin lo jatuh tadi, lo nambah beban mereka karena sungai ini lagi-lagi makan korban. Minimal, kalau emang nggak ada yang ngeharepin lo hidup, diri lo sendiri ada. Lo berharga buat diri lo sendiri, Iru!
Scarf robek dari saku Ikram sudah membebat sebagian luka Luna, tetapi darah terus merembes dari luka yang belum tertutup sehingga Ikram dilanda frustasi lagi. Kakinya sudah gemetar bukan karena kedinginan, melainkan trauma terhadap bau-bau kecelakaan selalu menghantuinya. Ikram tidak bisa mengontrol emosinya dan marah-marah sendiri.
LUNA
Kenapa lo peduli?
IKRAM (VO)
Pertanyaan sampah.
Ikram kembali merogoh saku untuk mencari sapu tangan yang kerap dibawa. Tetapi tidak menemukan apa-apa selain slayer memat bekas ospek adik tingkatnya. Ia segera melingkarkan kain itu di tangan Luna yang belum terbebat.
IKRAM
Kenapa? Lo tetep mau mati? Ayo! Kita mati berdua, bareng.
LUNA
Kenapa lo sepeduli ini, Kak?
IKRAM
(Mengangkat bahunya disertai gelengan kecil)
Lo tanya kenapa? Kenapa?
Luna mencengkeram erat pergelangan tangannya. Menatap sayu Ikram di depannya sendu.
IKRAM (CONT’D)
Gue tahu rasanya ketika dunia nggak berpihak, cuma ada satu yang ada di otak. Mati. Gue tahu rasanya ketika orang-orang ngerasa lo hidup, tapi nggak nyata, yang cuma ada di pikiran itu gimana caranya ngehilang dari dunia. Gue tahu rasanya ketika tanpa ada alasan jelas dan lo dihakimi tanpa bebas, yang ada di pikiran saat itu satu, bukan membalas, tapi seakan membangun dinding pembatas. Gue tahu, Ru. Gue tahu.
Ikram menatap Luna lekat.
IKRAM (CONT’D)
Gue suka lo, gue suka nama lo, gue suka Kaluna Sabiru. Lo tahu nama lo itu artinya bagus, nggak ada duanya dan lo itu cuma lo. Bayangin kalau seandainya lo tadi jatuh ke sungai dan kebawa arus. Dunia nggak akan punya seorang Kaluna Sabiru lagi selamanya. Dunia nggak akan ada Kaluna Sabiru. Nggak akan ada yang suka bangau kertas biru dari origami, nggak ada yang suka ke perpus bawa buku keramat lagi, lebih lagi nggak ada yang bikin gue semangat skripsi karena sibuk mikirin ke mana lo selama nggak ada di perpus.
Luna meluruhkan tubuhnya ke tanah lemas, menekuk kedua kakinya digunakan untuk bantalan menutup wajah. Menangis dalam diam, merasa tidak berdaya atas apa yang terjadi. Membiarkan tubuhnya menggigil kedinginan.
IKRAM
Lo tahu? Bagi orang-orang PTSD mungkin mendekati hal-hal yang ngebuat traumanya kambuh itu hampir sama kayak bunuh diri, tapi gue tahu kalau gue ngelakuin itu sama aja gue ngebiarin lo bunuh diri dan diri gue juga seorang pembunuh. Gue peduli bukan karena gue kasihan, gue yakin lo udah gede dan gak butuh rasa kasihan itu. Bisa kan lo bilang ke diri lo sendiri?
Luna menggelengkan kepala, tanpa beralih posisi.
LUNA (CONT’D)
Gue pengin pergi, gue gak pengin di sini, gue pengin pulang. Dunia terlalu ribut untuk kepala gue yang suka ketenangan. Gue gak punya rumah—
IKRAM
Gue bisa jadi rumah lo, Ru.
(Jongkok dan mengelus rambut Luna yang basah)
Luna medongak, menatap Ikram yang berjongkok di depannya.
IKRAM
Kita nggak pernah kenal, tapi gue yakin, lama-lama batu akan terkikis oleh air.
LUNA
Semua orang itu sama, kita bisa cerita ke semesta tanpa banyak tanya, tapi siapa? Gue sendiri, gue nggak punya siapa-siapa, Kak.
(Mengusap air matanya kasar)
Lo bilang gue nggak sayang orang tua? Mereka yang ngebuang gue setelah apa yang mereka lakuin dan setelah gue tahu segalanya. Gue gak pantas untuk hidup di dunia, Kak.
Ikram menunduk, menarik tangan Luna, tetapi ditepis kasar oleh gadis itu.
LUNA (CONT’D)
Jangan!
(Menatap putus asa)
Jangan deket-deket!
Ikram diam, mengerti.
LUNA (CONT’D)
Ini!
Luna membuka lengan kanannya, menunjukkan sebuah luka jahitan di sana.
LUNA
Bagus nggak?
IKRAM
(Menggeleng)
Kenapa?
LUNA (CONT’D)
Kata omku luka itu bagus, makanya dia sering banget kasih luka ke gue. Makin cantik kalau luka, sayangnya luka itu tembus ke mana-mana.
Ikram diam.
LUNA
Gue pernah dijual sama om ke temennya, gue ngadu ke ayah, tapi ayah percaya om daripada anaknya sendiri. Sampai kemudian, gue kabur dan ikut ibu panti. Sayangnya nggak sampai tiga tahun, om balik nemuin gue dan gue harus ikut dia. Gue kabur, tapi dia bakar tangan gue karena gue gagal jadi ponakan yang berbakti. Gue cuma anjing yang seharusnya nurut tuannya, biar bisa hidup enak, sayangnya gue milih kabur dan pergi ke mana aja asal gak ketemu dia.
IKRAM
Ibu?
LUNA
(Menggeleng)
IKRAM
Sekarang?
LUNA
Dari SMP gue kerja, ngikut nenek-nenek yang nemuin gue di pasar waktu gue kabur dari om. Gue ambil paket buat dapetin ijazah SMP, beruntung juga bisa lulus SMA pake paketan. Terus nggak ada niatan buat kuliah, tapi karena gue persis kayak buronan polisi, akhirnya gue beraniin buat pergi sejauh ini. Gue gak ngerti lagi tujuan gue selain mati itu apa, Kak.
IKRAM
Lo nggak mau jadi sarjana?
(Duduk di samping Luna berjarak tiga jengkal)
LUNA
Buat gue, semua udah cukup. Nenek yang ngasuh gue juga udah serahin semua hidupnya buat gue, pilihan gue. Siapa yang enggak pengin hidup bebas?
IKRAM
Mau gandengan tangan, Ru?
LUNA
(Menggeleng)
Lo persis banget, Kak, kayak nenek. Suka manggil gue Biru atau Iru, padahal cewek. Katanya, Sabiru udah mirip kayak seluas samudera atau seluas langit. Makanya ketika orang-orang manggil Luna, lo manggil gue Ru, langsung inget nenek.
IKRAM
Gue suka langit, gue suka laut, gue suka Biru, tapi gue gak suka lo yang kayak tadi. Gue beneran, kalau mau gandengan ayo! Kita gandengan sampai tugas masing-masing selesai. Tugas lo masih banyak, begitu juga tugas gue. Nggak apa-apa, semisal lo mau rehat sejenak, lo bisa tidur sesuka hati, lo bisa curi waktu sebanyak mungkin, tapi jangan lo curi start duluan sebelum Tuhan sendiri yang memutuskan. Lo itu berharga! Berharga!
(Menekankan pada kalimat lo itu berharga)
Lo belum tahu nama gue.
LUNA
Mas Iam?
Ikram diam, menatap Luna. Kemudian saling melepas kontak mata. Namun, perhatian Ikram tertuju pada luka milik Luna yang masih merembes darahnya.
LUNA
Darahnya sulit berhenti. Aku hemofilia.
CUT TO
11. INT. RUANG DOSEN – SIANG
Cast. IKRAM & PAK ADAM
Pak Adam dan Ikram tengah duduk bersama.
PAK ADAM (CONT’D)
Kayaknya udah ada yang ditungguin nih di depan.
Fokus Ikram buyar, mendadak dirinya malu.
PAK ADAM
Udah tua, Ta! Jangan mainin anak orang sembarangan.
Ikram mengangguk, menutup layar laptopnya, dan mengemasi barang-barangnya.
IKRAM
Saya memang tua, Pak. Nggak mau cinta-cintaan begituan, nanti Pak Adam kalau saya kasih undangan harus hadir di Solo, loh.
PAK ADAM
Ya, sudah. Saya masih ada kelas setelah ini, kamu hati-hati di jalan. Lebih fokus lagi ketika mengolah datanya, Ta!
Ikram berpamitan dari ruang dosen, menutup pintu pelan, dan menemukan Luna yang tengah duduk di kursi yang ada di koridor sembari membaca buku.
CUT TO
12. EXT. KORIDOR – SIANG
Cast. IKRAM & LUNA
IKRAM
Udah lama, Ru?
LUNA
(Menggeleng)
Kelasku baru selesai lima menit. Nggak lama, kenapa?
IKRAM
Kirain dah nungguin lama. Maaf, ya?
LUNA
Ngapain minta maaf? Udah, keburu sore nanti.
Keduanya pergi bersama dari koridor.
CUT TO