Cuplikan Chapter ini
Hitung mundur itu akhirnya mencapai angka nol Di Dumai udara terasa lebih berat dan pekat dari biasanya seolah-olah awan jelaga yang menggantung tebal di atas kilang sedang bersiap untuk meluruhkan beban hitamnya ke bumi Ranti berdiri di tengah apartemennya menatap sebuah koper kecil yang tergeletak di atas sofa Koper itu kosong sekadar properti sandiwara yang ia siapkan untuk memperkuat ilusi bahwa ia siap pergi ke mana saja bersama Gilang Namun di dalam kepalanya suara bariton Gila