Cuplikan Chapter ini
Roda-roda besi puluhan ton itu melipat masuk ke dalam perut Boeing 737 dengan suara dentuman hidrolik yang berat Guncangan turbulensi ringan sisa badai senja perlahan stabil saat moncong pesawat menembus ketinggian lima belas ribu kaki meninggalkan kerlip lampu Ibu Kota Kabupaten yang kian mengecil di bawah sana Di dalam kokpit yang remang oleh pendar lampu indikator Co-pilot bernama Aji menoleh ke arah sang kapten penerbang Laki-laki 35 tahun itu baru saja menyadari sesuatu yang keliru