Cuplikan Chapter ini
Di dalam ruang tunggu yang didominasi warna putih pucat itu keheningan terasa begitu pekat hingga seolah memekakkan telingaFraya duduk dengan punggung tegak namun kedua kakinya tak bisa berhenti bergerak gelisahsebuah ritme mekanis yang ia lakukan untuk menahan rasa sesak yang kian membuncah di dadanyaPerasaan dalam hatinya bercampur aduk antara cemas takut dan rasa tidak enak yang terus bergumul menjadi satuDi sebelahnya Papa mengulurkan tangan menyentuh ujung lutut Fraya dengan l