Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
DUA HARI KEMUDIAN – JUMAT, 30 JANUARI 2026
INT. CNA CORP – KANTOR REZA – SIANG
Reza di meja kerjanya. Berusaha bekerja. Gagal. Pikirannya berkecamuk.
Kiara berada di apartemen Arya. Bahaya semakin dekat.
PING. Notifikasi email di komputernya.
Ia membukanya. Darah surut dari wajahnya.
DARI: Kantor CEO
SUBJEK: Rapat Wajib – Ruang Eksekutif
WAKTU: Hari ini, pukul 15.00 – JANGAN TERLAMBAT
Reza menatap layar. CEO tidak pernah memanggil supervisor tingkat menengah. Tidak pernah. Kecuali...
Ia bahkan belum pernah menginjakkan kaki di lantai eksekutif. Lantai 40. Tempat keputusan dibuat. Tempat rahasia disimpan.
Inilah saatnya. Mereka tahu. Mereka akan menghapus Kiara. Dan mungkin dia juga.
INT. CNA CORP – LANTAI EKSEKUTIF (LANTAI 40) – SIANG
Lift berbunyi TING. Pintu terbuka. Dunia yang berbeda.
Kantor mewah. Jendela dari lantai hingga langit-langit. Jakarta terbentang di bawahnya seperti kota mainan. Koleksi seni: karya-karya modern Indonesia. Raden Saleh. Affandi. Bernilai miliaran.
SEORANG RESEPSIONIS (25, rapi, efisien, dingin) tidak tersenyum.
REZA
Reza Mahendra. Saya ada janji temu.
RESEPSIONIS
(memeriksa komputer)
Silakan masuk. Beliau sudah menunggu Anda.
Ia menunjuk pintu besar. Kayu gelap. Mengintimidasi. Pintu menuju kekuasaan.
Reza berjalan. Setiap langkah terasa semakin berat. Jantung berdebar kencang. Mulut terasa kering.
Ia mengetuk.
SURYA (V.O.)
Masuk.
Reza membuka pintu.
INT. KANTOR SURYA – TERUSAN
Luas sekali. Kantor sudut. Dua dindingnya seluruhnya jendela. Pemandangan menakjubkan yang membuat manusia merasa kecil di dalamnya.
SURYA WIJAYA (55, rambut perak sempurna, setelan Italia yang lebih mahal daripada mobil Reza, jam tangan Patek Philippe berkilau, mata seperti pemangsa) duduk di balik meja besar. Meninjau sesuatu di tablet. Tidak menoleh saat Reza masuk.
Permainan kuasa yang sama: membuat orang menunggu. Menunjukkan dominasi sebelum kata pertama.
Reza berdiri. Menunggu. Jantungnya berdebar. Telapak tangannya berkeringat. Tiga puluh detik berlalu, terasa seperti selamanya.
Akhirnya:
SURYA
(masih menatap tablet, nada santai)
Duduk.
Reza duduk di tepi kursi kulit yang mahal. Tidak nyaman meski mewah.
SURYA
(akhirnya mendongak, matanya menusuk ke arah Reza)
Anda sudah delapan belas tahun bekerja di sini. Mulai tahun 2008, saat Anda berusia tiga puluh. Posisi analis tingkat menengah. Waktu itu kami sedang berekspansi, masih haus pertumbuhan.
REZA
(hampir tak terdengar)
Baik, Pak.
SURYA
Mulai sebagai analis junior. Sekarang supervisor senior. Pendakian yang mengesankan. Kinerja konsisten. Tidak pernah menimbulkan masalah. Tidak pernah mempertanyakan arahan. Tidak pernah membuat keributan.
Ia mencondongkan tubuh ke depan. Pemangsa mendekat.
SURYA
Karyawan teladan. Sampai hari ini.
Ia memutar tablet ke arah Reza. Layar menampilkan riset Kiara. Fotonya. Kartu mahasiswanya. Query basis datanya.
SURYA
Kiara Mahendra. Dua puluh satu tahun. Mahasiswa ilmu data tingkat akhir. Pikiran yang brilian. Sayangnya, pikiran yang penuh rasa ingin tahu.
Ia mengetuk layar.
SURYA
Daftar yang dia susun berisi 47.283 “orang hilang” dari basis data kami. Dicocokkan dengan catatan nasional. Menemukan pola. Menemukan celah. Menemukan kebenaran.
Ia berdiri. Berjalan ke jendela. Menatap Jakarta di bawah.
SURYA
Gadis yang manis. Pintar. Gigih. Mengingatkan saya pada seseorang... siapa namanya?
Ia berbalik, matanya dingin.
SURYA
Rani. Rani Kusuma. 1994. SMA Negeri Satya Negara. Anda ingat?
Wajah Reza memucat sepenuhnya.
SURYA
Oh ya. Saya tahu tentang Rani. Saya tahu tentang segalanya. Setiap penghapusan. Setiap pemusnahan. Setiap penghilangan yang diperlukan.
REZA
(suaranya bergetar)
Bagaimana Bapak bisa tahu? Bapak bahkan tidak ada di sana.
SURYA
(berjalan mendekat, kini penuh semangat)
Saya memang tidak berada di sana secara fisik. Tetapi saya mempelajari kasus itu. Secara mendalam. Saat menyusun protokol saya.
Ia duduk di tepi meja, lebih dekat ke Reza.
SURYA
Rani Kusuma. Enam belas tahun. Menulis esai yang mengkritik sistem pendidikan nasional. Dipermalukan di depan umum oleh gurunya. Lalu dihapus. Sepenuhnya. Dari catatan sekolah. Dari arsip pemerintah. Dari ingatan orang-orang.
REZA
Bapak... Bapak yang membuat protokolnya?
SURYA
(dengan bangga)
Bukan konsepnya. Sistem lama — pemerintah, militer — mereka sudah melakukan penghapusan manual selama beberapa dekade. Kasar. Lambat. Berantakan. Memusnahkan catatan fisik. Mengancam saksi. Butuh berminggu-minggu.
Ia berdiri, bersemangat.
SURYA
Saya mendigitalkannya. Mengotomatiskannya. Menyempurnakannya. Yang dulu butuh berminggu-minggu, sekarang hanya beberapa jam. Yang dulu mereka lakukan pada ratusan orang, saya skalakan menjadi ribuan.
Ia berjalan kembali ke jendela. Menatap kota seperti raja yang mengamati kerajaannya.
SURYA
Rani adalah bukti konsep. Dia membuktikan bahwa manusia BISA dihapus sepenuhnya jika kita cukup teliti. Saya hanya membuatnya lebih sistematis.
REZA
(ngeri)
Bapak pikir Bapak sedang menyelamatkan Indonesia. Sebenarnya Bapak sedang menghancurkannya.
SURYA
(berbalik tajam, kini marah)
Menghancurkan? Saya MELINDUNGI! Anda ingat tahun 1998?
Kekacauan? Kerusuhan? Gedung-gedung terbakar? Orang-orang tewas di jalanan?
Ia melangkah maju dengan agresif. Reza menyusut di kursinya.
SURYA
Saya ada di sana. Saya aktivis mahasiswa. Dua puluh tujuh tahun. Berjuang untuk... “demokrasi”. Untuk “kebebasan”. Untuk “keadilan”.
Ia tertawa getir.
SURYA
Mereka menangkap saya. Menyiksa saya. Waterboarding di ruang bawah tanah selama tiga hari. Tiga tulang rusuk saya patah. Disetrum. Semua itu hanya karena saya bersuara. Hanya karena saya menuntut kebenaran.
Kini ia sangat dekat. Ruang pribadi Reza diserbu.
SURYA
Dan tahukah Anda apa yang saya pelajari? Sistem tidak peduli pada keadilan. Sistem peduli pada stabilitas. Dan orang-orang — orang-orang TIDAK MENGINGINKAN kebebasan. Mereka menginginkan keamanan. Kepastian. Kenyamanan.
REZA
Itu tidak benar.
SURYA
(menunjuk ke arah Reza)
Bukankah begitu? Lihat dirimu. Lihat seluruh hidupmu. Delapan belas tahun bekerja di sini. Tidak pernah mempertanyakan. Tidak pernah melawan. Selalu patuh. Kamulah bukti bahwa saya benar.
Ia mencondongkan tubuh, berbisik.
SURYA
Dan sebelum itu? 1994. Kamu menyaksikan Rani dihancurkan. Kamu hampir bicara. Hampir membelanya. Tapi kamu tidak melakukannya. Kamu memilih diam. Kamu memilih keselamatan. Kamu memilih bertahan hidup.
Kena telak. Reza tersentak seperti dipukul.
SURYA
(berdiri, kembali profesional)
Putrimu berbeda. Seperti Rani dulu. Berbahaya. Mengganggu stabilitas. Mengancam semua yang telah kita bangun. Harus disingkirkan.
REZA
(berdiri dengan goyah)
Tidak. Saya tidak akan membiarkan Bapak menyentuhnya.
SURYA
Kamu tidak punya pilihan, Reza. Dia sudah ditandai. Protokol berjalan otomatis. Tidak dapat dibatalkan. Jamnya sudah berdetak.
Ia berjalan ke pintu. Membukanya. Isyarat bahwa pertemuan telah selesai.
Tetapi kemudian:
SURYA
Kecuali...
Ia berhenti. Dramatis. Terencana.
REZA
Kecuali apa?
SURYA
Kecuali kamu berhasil meyakinkannya untuk berhenti. Hapus semuanya. Lupakan saja. Kembali menjadi siswa yang baik. Maka dia akan baik-baik saja. Kamu tetap bekerja. Keluarga tetap utuh. Semua orang menang.
Senyum dingin.
SURYA
Itu pilihanmu. Pilihan yang sama dengan yang kamu buat pada tahun 1994. Keselamatan atau kebenaran. Diam atau bicara. Bertahan hidup atau... prinsip.
REZA
Dan kalau saya menolak?
SURYA
(lugas, tanpa niat jahat, hanya fakta)
Maka dalam seminggu, kamu akan bangun dan bertanya-tanya mengapa rumahmu terasa kosong. Mengapa ada kamar tidur tambahan yang tidak pernah dipakai. Mengapa foto-foto keluarga punya celah yang aneh. Mengapa dadamu sakit tanpa sebab.
Jeda.
SURYA
Kamu akan menatap foto pernikahanmu. Melihat dirimu sendiri. Melihat istrimu. Tapi akan ada jarak di antara kalian. Ruang kosong. Dan kamu tidak akan mengerti mengapa itu menyakitkan.
Ia berjalan kembali ke meja. Duduk. Kembali ke tabletnya. Reza dipecat. Tidak penting.
SURYA
Jamnya sudah berjalan. Pilihlah dengan bijak. Keamanan atau kebenaran. Kamu tidak bisa memiliki keduanya.
Reza pergi. Kakinya gemetar. Pikirannya kacau.
Namun juga: sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam tiga puluh dua tahun.
Kemarahan. Kemarahan yang sesungguhnya. Akhirnya.