Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
ENAM TAHUN KEMUDIAN
EXT. UNIVERSITAS INDONESIA GEMILANG (UIG) – SIANG (2000)
SUPER: “JAKARTA – 2000”
Indonesia pasca-Reformasi. Demokrasi tumbuh dengan hati-hati. Warung internet bermunculan di setiap sudut jalan. Harapan ada, tetapi rapuh.
Kampus modern, tidak mewah. Aspirasi kelas menengah yang nyata. Mahasiswa berkelompok, membicarakan politik secara terbuka — sesuatu yang mustahil dua tahun lalu, di bawah pemerintahan Soeharto.
REZA MAHENDRA (22) — masih hati-hati, masih waspada, rambut sedikit lebih panjang tetapi mata masih berjaga — berjalan melintasi kampus membawa buku teks.
INT. UIG – RUANG KULIAH – SIANG
Kuliah ekonomi. Dua ratus mahasiswa. Setengahnya memperhatikan. Setengah lainnya berbisik dan saling mengirim catatan.
PROFESOR HARTONO (50-an, berjiwa reformis, antusias terhadap Indonesia baru) membahas pemulihan dari krisis moneter.
PROF. HARTONO
Program penyesuaian struktural IMF menuntut Indonesia membongkar monopoli, mengurangi korupsi, dan meningkatkan transparansi. Sebagian orang menyebutnya imperialisme. Sebagian lain menyebutnya obat yang diperlukan.
Ia berhenti. Menatap para mahasiswa.
PROF. HARTONO
Bagaimana menurut kalian? Ada yang mau berpendapat?
Hening. Para mahasiswa menghindari kontak mata. Kebiasaan lama sulit hilang. Bahkan di Indonesia pasca-Reformasi, mempertanyakan otoritas masih terasa berbahaya.
Reza mencatat. Semuanya. Menghafal, bukan bertanya. Pola yang sama seperti di SMA. Naluri bertahan hidup yang sama.
Profesor Hartono menghela napas. Kecewa, tetapi tidak terkejut.
INT. PERPUSTAKAAN KAMPUS – MALAM
Reza belajar sendirian. Buku teks Ekonomi Konstitusi. Stabilo aktif. Sistem kode warna. Teliti. Terkendali.
DINA SANTOSO (21, mahasiswi sekolah bisnis, praktis tetapi ramah, belum dikeraskan oleh rasa takut, berpakaian sederhana namun rapi) mendekat membawa dua cangkir kopi.
DINA
Kamu sudah tujuh jam di sini. Bahkan pustakawannya sudah pulang.
REZA
(mendongak, tersenyum lelah)
Ujian akhir semester. Aku butuh nilai sempurna untuk memperpanjang beasiswa.
DINA
Boleh aku belajar di sini? Asramaku terlalu berisik. Ada yang memutar dangdut dengan volume penuh.
REZA
(menunjuk kursi kosong)
Tentu. Selamat datang di zona tenang.
Dina duduk di hadapannya dan membuka buku catatannya sendiri: Akuntansi Keuangan. Angka-angka di mana-mana. Mereka bekerja dalam keheningan yang nyaman.
Beginilah hubungan bermula di Indonesia. Tenang. Praktis. Berbagi ruang sebelum berbagi kata. Dekat sebelum akrab.
Setelah dua puluh menit belajar berdampingan:
DINA
Kamu Reza, kan? Profesor Hartono pernah menyebut namamu di kelas. Mahasiswa terbaiknya.
REZA
Hanya mahasiswa yang teliti. Melakukan apa yang diminta. Mendapat nilai bagus. Tidak ada yang istimewa.
DINA
Bukankah memang itu tujuan kuliah? Melewati rintangan. Mendapat ijazah. Mendapat pekerjaan. Membalas investasi orang tua.
REZA
(menatapnya, terkejut oleh sinismenya)
Kamu tidak berpikir pendidikan seharusnya lebih baik dari itu?
DINA
Aku pikir pendidikan seharusnya mengarah ke lapangan kerja. Selebihnya kemewahan yang tak sanggup kita beli.
Reza mengamatinya. Praktis. Berpijak pada kenyataan. Realistis. Aman.
REZA
Siapa namamu?
DINA
Dina. Akuntansi. Tahun ketiga. Kamu?
REZA
Ekonomi. Tahun ketiga juga. Reza.
DINA
Aku tahu. Kamu punya reputasi. Tak pernah terlambat. Tak pernah bolos. Tak pernah membantah dosen. Mahasiswa teladan.
REZA
(agak defensif)
Memangnya kenapa?
DINA
Tidak ada yang salah. Itu cerdas. Itu aman. Aku juga begitu. Mungkin itu sebabnya kita ada di sini pada Jumat malam. Perpustakaan. Buku. Keamanan.
Mereka saling tersenyum. Pengakuan. Dua orang yang memilih bertahan hidup daripada memberontak. Dua orang yang sama-sama tumbuh menyaksikan apa yang terjadi pada para penanya.
Pasangan yang sempurna. Atau jebakan yang sempurna.
REZA
Mau belajar bareng? Maksudku, secara rutin. Kamu satu kelas dengan Hartono. Jadwal kita sama.
DINA
Asal kamu tidak mengganggu. Aku butuh IPK minimal 3,5 untuk rekrutmen kantor akuntan publik.
REZA
Oke. Aku butuh 3,8 untuk beasiswa.
Mereka berjabat tangan. Formal. Awal dari sesuatu.
RANGKAIAN ADEGAN – REZA DAN DINA (2000–2004)
MUSIK: instrumental kontemporer Indonesia yang lembut dan penuh harapan.
PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS (2000–2001): Dikelilingi buku-buku pelajaran, Reza dan Dina belajar dalam diam, tetapi kursi mereka kini saling bersentuhan.
KAFE: Mereka tertawa sambil membuka catatan. Fokus bergeser dari persamaan ke satu sama lain.
JALAN KAMPUS: Mereka berjalan bersama, buku pelajaran di satu tangan, tangan lainnya saling bertaut.
RUMAH KELUARGA DINA (2002): Reza duduk dengan sopan di hadapan orang tua Dina — seorang AYAH yang tegas (pegawai negeri) dan IBU yang lembut (guru). Ia menyerahkan berkas beasiswanya. Sang ayah mengangguk setuju.
APARTEMEN REZA: Dina membantu IBU REZA (60-an) menyiapkan makanan sederhana. Tatapan saling menghormati terlihat di antara kedua perempuan itu.
HARI WISUDA (2004): Berjubah dan bertopi toga, Dina dan Reza memegang ijazah mereka. Fotografer mengabadikan momen itu bersama keluarga. Gambaran kestabilan.
RESTORAN SEDERHANA (2004): Reza menggeser kotak cincin kecil dan sederhana ke seberang meja.
REZA
(pelan, tulus)
Membangun hidup bersamaku? Hidup yang aman?
Dina mengangguk, air matanya memantulkan cahaya. Ia tersenyum.
BALLROOM HOTEL (AKHIR 2004): Resepsi pernikahan. Seratus tamu. Reza dalam setelan hitam yang rapi; Dina dalam kebaya putih yang rumit. Mereka berseri-seri, perwujudan dari “pasangan yang sempurna”.
CLOSE UP: FOTO PERNIKAHAN. Sang fotografer bersiap. Lengan Reza melingkari Dina dengan erat. Mereka menatap masa depan yang terasa terjamin.
KILATAN!
Gambar itu membeku. Sebuah potret harapan yang murni dan polos.
SATU TAHUN KEMUDIAN
INT. APARTEMEN – BEKASI – MALAM (2005)
SUPER: “2005”
Apartemen sewaan kecil. Terjangkau. Dua kamar tidur. Perabot sederhana. Rumah pertama pasangan muda.
REZA (27) dan DINA (26, hamil besar, sebentar lagi melahirkan) duduk di sofa usang. Tangan Dina di perutnya, merasakan tendangan janin.
DINA
(tangan di perut, merasakan gerakan)
Menurutmu kita sudah siap untuk ini?
REZA
(menyentuh perutnya dengan lembut)
Tak ada orang yang benar-benar siap menjadi orang tua. Kita belajar sambil jalan.
DINA
Ibumu menelepon terus. Tiga kali hari ini. Menanyakan kapan aku memberinya cucu. Seolah-olah aku yang mengatur waktunya.
REZA
(tersenyum)
Dia hanya ingin jadi nenek. Ingin keluarga yang lebih ramai. Sejak Papa meninggal, dia kesepian.
DINA
Kita tidak menggantikan siapa pun. Kita menciptakan seseorang yang baru. Seseorang yang akan punya hidup lebih baik daripada kita.
REZA
(mencium keningnya)
Seseorang yang tidak akan takut. Yang tidak perlu memilih untuk diam.
DINA
(menatapnya serius)
Tapi kita tetap akan mengajarinya berhati-hati. Kan? Memilih pertempuran dengan bijak?
REZA
(jeda, bergulat dalam hati)
Ya. Hati-hati. Selalu hati-hati.
Mereka berciuman. Lembut. Penuh kasih sayang. Kebahagiaan rumah tangga yang sederhana. Inilah yang ia pilih daripada keberanian: kehangatan ini, kedamaian ini, rasa aman ini.
Sepadankah? Selama dua puluh satu tahun ke depan, ia akan meyakinkan dirinya: ya.