Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
SANG PUTRI BANGKIT (2026)
INT. RUMAH REZA – PONDOK INDAH – PAGI (2026)
SUPER: “JAKARTA – 28 JANUARI 2026”
Rumah yang bagus. Bukan rumah mewah. Kesuksesan kelas menengah atas. Dua lantai. Taman kecil dengan pohon kamboja yang berbunga putih. Hasil dari delapan belas tahun meniti karier di perusahaan.
Ruang keluarga bergaya Indonesia modern. Nyaman. Foto keluarga di dinding. (Foto-foto ini akan menjadi penting nanti — foto-foto yang akan memiliki ruang kosong yang aneh.)
REZA (48, beruban di pelipis, sukses tetapi hampa, mengenakan pakaian kasual bisnis untuk di rumah) duduk di meja sarapan, membaca berita di tablet.
DINA (47, masih praktis tetapi kini lebih protektif, kerutan di sekitar mata semakin dalam, mengenakan pakaian rumah yang nyaman) memasak di dapur. Aroma nasi goreng dan kopi segar.
KIARA (21, mahasiswi tingkat akhir jurusan Ilmu Data, semangat Rani dalam tubuh baru yang lebih melek teknologi, hoodie universitas yang sudah usang) membungkuk di depan laptop. Sudah di sana sepanjang malam. Kantung mata. Koleksi cangkir kopi kosong.
DINA
(membawakan kopi segar, perhatian seorang ibu)
Kiara, kamu harus sarapan. Kamu sudah di depan layar sejak semalam.
KIARA
(tidak mendongak, jari-jarinya bergerak cepat di keyboard)
Belum lapar, Bu. Query ini hampir selesai.
DINA
Matamu bisa rusak. Istirahatlah. Makan sesuatu. Tolong.
KIARA
Lima menit lagi.
REZA
(melirik, alarm mulai berbunyi di kepalanya)
Kamu sedang mengerjakan apa?
KIARA
(akhirnya mendongak, gembira dengan temuannya)
Proyek akhir. Analisis basis data. Aku menemukan beberapa anomali yang sangat menarik di catatan nasional.
Darah Reza membeku. Ia mengenal pola ini. Ia pernah melihatnya — dalam dokumen perusahaan yang seharusnya tidak ia lihat.
REZA
(hati-hati, suaranya terkontrol)
Anomali seperti apa?
KIARA
Data hilang. Ada celah pada nomor ID yang berurutan. Polanya terlalu konsisten untuk disebut kesalahan acak atau gangguan sistem.
Ia memutar laptopnya. Layar menampilkan visualisasi: titik-titik merah tersebar di peta Indonesia. Setiap titik: seorang yang hilang. Seorang yang dihapus.
KIARA
Kucocokkan dengan catatan pekerjaan, pendidikan, dan medis. Ada 47.283 celah. Orang-orang yang menurut satu basis data ada, tetapi tidak ada di basis data lainnya.
DINA
(dari dapur, nada waspada)
Kiara, itu kedengarannya data pribadi. Kamu tidak seharusnya mengakses basis data pemerintah.
KIARA
Ini data publik, Bu. Hanya dikompilasi dengan cara berbeda. Dirujuk silang dengan cara baru. Itulah inti ilmu data: menemukan pola yang dilewatkan orang lain.
REZA
(berdiri tegak, dengan nada kasar yang tak pernah ia pakai)
Hapus.
Hening. Kedua perempuan itu menatapnya, terkejut oleh nada bicaranya. Ia tidak pernah berteriak. Tidak pernah memerintah. Selalu lembut.
KIARA
APA?
REZA
Proyekmu. Hapus semuanya. Sekarang juga.
KIARA
(defensif, bingung)
Kenapa? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Ini riset yang sah.
REZA
(lebih keras, rasa takut berubah menjadi amarah)
Ini penelitian yang berbahaya!
DINA
(bergegas keluar dari dapur, panik)
Reza, ada apa? Kenapa kamu berteriak?
Kiara menatap ayahnya. Belum pernah melihatnya seperti ini. Belum pernah mendengarnya berteriak. Belum pernah merasakan ketakutannya.
KIARA
(pelan, kesadaran mulai muncul)
Ayah tahu sesuatu. Tentang orang-orang yang hilang. Tentang celah-celah itu.
Ia berdiri, menghadapinya.
KIARA
Ayah selalu tahu. Bukan begitu?
REZA
(duduk berat, mengempis)
Ayah tidak tahu apa-apa.
KIARA
(menutup laptop perlahan, mengamatinya)
Ayah takut. Aku belum pernah melihat Ayah takut. Tidak setakut ini.
Jeda.
KIARA
Apa yang tidak Ayah ceritakan kepadaku?
Sebelum Reza sempat menjawab:
BEL PINTU.
Tajam. Tegas. Mendesak. Ketiganya membeku.
DINA
(berbisik)
Siapa yang datang sepagi ini? Baru jam tujuh.
Reza berdiri. Berjalan ke pintu seperti berjalan menuju tiang eksekusi. Mengintip lewat lubang pintu.
ARYA. Tiga puluh dua tahun lebih tua. Lebih keras. Dihantui. Tetapi tetap bisa dikenali. Mata yang sama. Intensitas yang sama. Obsesi yang sama.
Tangan Reza gemetar di gagang pintu.
DINA
(di belakangnya, merasakan ketakutannya)
Siapa dia?
REZA
(hampir tak terdengar, suaranya bergetar)
Seseorang yang sudah tiga puluh dua tahun tidak kutemui.
Ia membuka pintu perlahan. ARYA (48, kurus, obsesif, energinya meluap-luap, pakaiannya lusuh tetapi tas laptopnya mahal, matanya seperti tak pernah tidur nyenyak selama bertahun-tahun) berdiri di sana.
Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap. Puluhan tahun rasa bersalah dan obsesi bertemu di ambang pintu.
ARYA
(tenang, intens)
Kita perlu bicara. Tentang Rani. Tentang protokolnya. Tentang putrimu.
REZA
(melirik ke Kiara, lalu ke Arya)
Bagaimana kau menemukanku?
ARYA
Dengan cara yang sama mereka menemukannya. Lewat query basis data. Putrimu memicu semua alarm di sistem mereka.
Ia melewati Reza dan masuk ke dalam rumah.
ARYA
Dia mungkin hanya punya waktu tujuh puluh dua jam. Kecuali kita menghentikan mereka.
Dina tersentak. Kiara berdiri. Bingung. Marah. Menuntut jawaban.
KIARA
Anda siapa sebenarnya? Dan apa yang Anda tahu tentang riset saya?
Arya menatapnya. Melihat Rani. Suaranya tercekat.
ARYA
Kamu benar-benar mirip dengannya. Semangat yang sama. Keberanian yang sama. Bahaya yang sama.
KIARA
Mirip siapa?
REZA
(menutup pintu, pasrah)
Seperti gadis yang lenyap karena Ayah memilih diam.
INT. RUANG TAMU – TERUSAN
Mereka duduk. Tegang. Menunggu.
Arya membuka laptopnya. Menunjukkan berkas-berkas. Foto-foto. Bukti yang dikumpulkan selama puluhan tahun.
ARYA
Tahun 1994. SMA Negeri Satya Negara. Seorang siswi bernama Rani Kusuma menulis esai yang mengkritik sistem pendidikan.
Ia membuka hasil pindaian. Foto kusam. RANI — mata muda yang penuh tekad.
ARYA
Dia dipermalukan di depan umum oleh gurunya. Kemudian dia menghilang.
KIARA
Menghilang bagaimana?
ARYA
Sepenuhnya. Dari catatan sekolah. Dari arsip pemerintah. Dari keluarganya. Dari ingatan orang-orang.
Ia membuka lebih banyak berkas. Penelitian puluhan tahun.
ARYA
Bukan hanya dia. Selama tiga puluh tahun terakhir: empat puluh tujuh ribu orang. Aktivis. Jurnalis. Pelapor pelanggaran. Guru. Pelajar. Siapa pun yang bertanya. Siapa pun yang menolak.
LAYAR KIARA. BERKAS ARYA. ANGKA YANG SAMA. POLA YANG SAMA.
ARYA
Mereka menyebutnya Protokol Penghapusan. Perusahaan tempat ayahmu bekerja yang menciptakannya.
Kiara menoleh ke arah Reza. Pengkhianatan menyala di matanya.
KIARA
Ayah bekerja untuk mereka?
REZA
(defensif, malu)
Ayah tidak tahu. Tidak pada awalnya. Saat Ayah tahu, Ayah sudah punya keluarga. Cicilan rumah. Tanggung jawab.
KIARA
Jadi Ayah diam saja? Tetap bekerja? Tetap membantu mereka melenyapkan orang-orang?
REZA
(berdiri, putus asa)
Ayah menjagamu tetap AMAN!
Keheningan. Berat. Menekan.
ARYA
Sampai sekarang. Risetmu memicu algoritma mereka. Kamu sudah ditandai. Mereka akan menghapusmu dalam tujuh puluh dua jam, kecuali kita bertindak.
DINA
(berdiri, melindungi)
Apa yang harus kita lakukan?
ARYA
Kita bongkar semuanya. Unggah basis datanya ke server internasional. Jurnalis. Aktivis. Organisasi hak asasi manusia. Banjiri dunia dengan bukti sebelum mereka sempat menghentikan kita.
KIARA
Bagaimana caranya?
ARYA
(menatap Reza)
Ayahmu punya akses ke server mereka. Izin pengawas senior.
Reza menggelengkan kepalanya.
REZA
Aku mengundurkan diri kemarin. Aksesku dicabut hari Jumat, tengah malam.
ARYA
Jumat. Berarti kita punya waktu dua hari.
Reza berdiri. Berjalan ke jendela. Menatap taman. Pohon kamboja. Cahaya pagi. Dunia yang normal terus berlanjut. Burung-burung bernyanyi. Kehidupan terus berjalan.
REZA
Kalau aku melakukan ini, kita semua akan ditandai. Semua terhapus. Dina akan kehilangan segalanya. Hidup kita. Rumah kita. Tabungan kita.
Dina berjalan menghampirinya, menggenggam tangannya.
DINA
Aku memilihmu karena kamu aman. Hati-hati. Terkendali. Tapi sebenarnya itu bukan dirimu yang sesungguhnya, kan?
Ia menyentuh wajah suaminya dengan lembut.
DINA
Kamu sudah bersembunyi. Berlari. Ketakutan. Selama tiga puluh dua tahun.
Air mata menggenang di matanya.
DINA
Aku lebih takut kehilangan kalian berdua daripada kehilangan kehidupan nyaman kita.
Ia menatap Kiara.
DINA
Lakukan apa yang harus kalian lakukan. Kalian berdua. Aku tidak akan menghentikan kalian.
Ia mencium Reza. Dengan keras. Putus asa. Seperti untuk terakhir kalinya.
DINA
Pulanglah kepadaku. Berjanjilah kamu akan berusaha.
REZA
Aku janji akan berusaha.
Reza menoleh ke Kiara.
REZA
Kamu mengerti artinya? Kalau kita gagal, kita akan lenyap. Sepenuhnya. Dari segalanya. Dari ingatan semua orang.
KIARA
Kalau kita tidak berusaha, aku juga akan lenyap. Setidaknya dengan cara ini, kita melawan.
Reza menatap mereka. Keluarganya. Hidupnya. Pilihannya.
Tiga puluh dua tahun yang lalu, ia memilih diam.
Tidak kali ini.
REZA
(kepada Arya)
Apa rencananya?