Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Negeri yang Tak Pernah Selesai
Suka
Favorit
Bagikan
5. BAB 2 - “Nurul: Kelas yang Tak Pernah Dicatat Negara”
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator



Judul Halaman: “Aksi yang Tak Bisa Diredam Karena Tak Pernah Berteriak”

EXT. ALUN-ALUN KOTA – PAGI

Langit kelabu. Udara dingin menusuk.

Di tengah lapangan terbuka, belasan orang berdiri berjajar.

Laki-laki, perempuan, tua, muda.

Mereka tidak membawa spanduk. Tidak bersorak. Tidak menggenggam apa pun.

Setiap orang menempelkan satu kertas di dada mereka.

Kertas itu bertuliskan tangan:

“Saya belajar dari yang dilarang.” “Saya diajari oleh yang dianggap membahayakan.” “Saya tidak akan diam.”

Di antara mereka: BU NURUL, DWI, seorang JURNALIS, dan bahkan seorang IBU RUMAH TANGGA dengan bayinya.

Aksi diam. Tapi tajam.

INT. KANTOR DINAS – PAGI YANG SAMA

PEJABAT berdiri di depan jendela, melihat ke arah alun-alun.

Wajahnya tegang.

PEJABAT Ini bukan demo… tapi bisa lebih bahaya dari demo.STAF Mereka tidak teriak. Tidak melanggar hukum. Kita tak bisa usir tanpa alasan.PEJABAT (kesal) Mereka tahu… dan itu yang menakutkan. Mereka tahu cara melawan tanpa melanggar.

EXT. ALUN-ALUN – LANJUTAN

Satu per satu, anak-anak muncul dari arah gang kecil.

Mereka juga berdiri. Membentuk lingkaran.

Beberapa hanya berdiri dengan papan tulis kecil di tangan.

Tertulis:

“Saya hanya ingin belajar.” “Saya hanya ingin tahu apa itu adil.”

Orang-orang yang lewat berhenti. Menonton. Tak satu pun berani mengusik.

INT. RUANG INTEROGASI – SIANG

FAJAR masih ditahan. Tapi di tangannya kini ada foto yang dikirim lewat seorang simpatisan.

Foto itu: aksi sunyi di alun-alun.

Fajar tersenyum. Air matanya jatuh diam-diam.

FAJAR (bisik pelan) Mereka mengerti… Bahwa suara tak hanya keluar dari mulut.

EXT. MEDIA SOSIAL – MONTAGE

Seorang selebgram memposting foto aksi diam. Caption:“Ini lebih jujur dari semua berita hari ini.”Akun jurnalis independen me-retweet:“Kalau ini dilarang, berarti kebenaran benar-benar jadi musuh.”Trending tag muncul:#AksiTanpaTeriak #KamiTidakDiam #BelajarBukanMakar

INT. KAMAR BU NURUL – MALAM

Ia membuka akun media sosial lewat ponsel jadul.

Layar kecil itu menampilkan ribuan komentar, ribuan dukungan.

BU NURUL (lirih) Mereka melihat. Dan kalau mereka melihat… cepat atau lambat mereka akan bertanya. Dan kalau mereka bertanya… kebenaran akan hidup.




Judul Halaman: “Jika Tak Bisa Membungkam, Maka Putar Balik Cerita”

INT. STUDIO TV NASIONAL – PAGI

Layar kaca. Sorotan kamera.

SEORANG PEMBACA BERITA tersenyum lebar di balik meja kaca.

PEMBACA BERITA Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh kelompok tak dikenal yang menggunakan kedok pendidikan untuk menyebarkan pengaruh yang tidak bertanggung jawab.

VIDEO B-ROLL:

Gambar aktivitas anak-anak belajar—direkam dari jauh—diwarnai efek abu-abu.

Lalu disisipkan cuplikan demonstrasi kerusuhan tahun lalu.

PEMBACA BERITA (lanjut) Pemerintah berkomitmen menyediakan pendidikan yang berkualitas… dan semua kegiatan di luar sistem resmi akan ditertibkan demi stabilitas.

INT. RUMAH WARGA SEDERHANA – PAGI

Seorang ibu menonton berita dengan ekspresi bingung.

Anaknya duduk di lantai sambil memegang fotokopian tugas dari kelas Bu Nurul.

ANAK (jujur) Tapi Bu Nurul nggak ngajarin apa-apa yang aneh. Dia cuma ngajarin aku nulis surat buat Ayah di luar kota.

Ibu itu termenung.

Lalu mematikan televisi.

Ia meraih ponsel, membuka grup WhatsApp tetangga, dan mulai mengetik:

“Yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya. Saya titip tulisan anak saya, kalian nilai sendiri. Ini dari Bu Nurul.”

EXT. PASAR TRADISIONAL – SIANG

Pedagang kaki lima menyebarkan selebaran dengan cara diam-diam.

Di atas nampan bakso, tertempel stiker kecil bertuliskan:

“Mereka membodohi dengan berita. Kita belajar dengan hati.”

INT. RUANG RAPAT DINAS – SIANG

PEJABAT terlihat gusar.

Layar presentasi menunjukkan grafik: dukungan publik terhadap aksi sunyi meningkat drastis.

PEJABAT Hentikan semua. Sensor semua podcast, akun, bahkan yang repost.STAFF Sudah dilakukan. Tapi makin dilarang, makin dicari.PEJABAT (geram) Kalau kebenaran jadi viral, kita habis. Buat narasi baru. Kemas mereka sebagai korban provokasi.STAFF Tapi siapa yang dipercaya sekarang?PEJABAT (dingin) Bikin orang lelah. Ulangi kebohongan cukup sering, dan mereka akan percaya.

EXT. JALAN RAYA – MALAM

Remang lampu jalan. Di trotoar, orang-orang mulai berdiri satu-satu lagi.

Kali ini dengan tulisan:

“Kami bukan korban. Kami adalah saksi.”

Sebuah mobil polisi melintas pelan. Tapi tidak berhenti.

Mereka tahu: menyentuh satu orang kini, bisa menyalakan ribuan.

INT. RUANG TAHANAN – FAJAR

Fajar menatap langit-langit gelap.

FAJAR (monolog) Dulu, ketidakadilan datang dengan sepatu bot. Sekarang, datang dengan senyum di layar TV. Tapi tetap, yang bisa melawan… adalah mereka yang berani percaya.



Judul Halaman: “Yang Dulu Sendiri, Kini Tidak Lagi”

INT. RUANG TAMU RUMAH DWI – MALAM

Ruang sempit. Dinding penuh tempelan berita koran, kutipan puisi, dan foto aksi sunyi.

BU NURUL duduk di tengah.

DWI, AKTIVIS MUDA, dan JURNALIS INDEPENDEN ada bersamanya.

Mereka saling menatap.

Tak ada pemimpin. Tapi semua tahu: ini bukan pertemuan biasa.

AKTIVIS MUDA Kita tidak butuh massa. Kita butuh arah.JURNALIS Kita tidak butuh berita. Kita butuh kebenaran yang tidak bisa dipelintir.DWI Kalau mereka kuat karena punya sistem, maka kita harus lebih kuat karena punya keyakinan.

Semua mata mengarah ke BU NURUL.

BU NURUL Kita bukan organisasi. Kita bukan kelompok. Kita hanyalah… mereka yang tahu bahwa diam itu tidak lagi bisa dibenarkan.

Diam. Tapi penuh tekad.

INT. SEL TAHANAN FAJAR – MALAM

Fajar duduk bersila. Terdengar suara-suara langkah petugas dari luar.

Ia menulis di balik sobekan kertas makanan.

Tulisannya ringkas:

“Jangan bebaskan aku. Bebaskan pikiran anak-anak yang masih dikurung ketidaktahuan.”

EXT. JALAN KOTA BESAR – PAGI

Sebuah gerakan tanpa nama mulai terlihat.

Orang-orang dari berbagai latar mulai menggambar simbol lilin kecil di tembok-tembok kota, halte, dinding belakang sekolah.

Tidak ada kata-kata provokatif. Hanya gambar.

Dan di bawahnya, satu kalimat:

“Kami belajar dari mereka yang ingin dibungkam.”

INT. STUDIO SIARAN RADIO – SIANG

SEORANG PENYIAR VETERAN yang pernah diberhentikan karena siaran independen, kembali siaran secara streaming.

PENYIAR (suara tenang tapi tajam) Di negeri ini, belajar butuh izin. Tapi melupakan diperbolehkan. Di negeri ini, kebenaran dianggap subversif. Tapi ketakutan? Diizinkan dan disubsidi.

EXT. HALAMAN RUMAH RAKYAT BIASA – SORE

Seorang ayah mengajar anaknya menulis.

Ia bukan guru. Tapi ia tahu bahwa diam tak lagi aman.

Di pagar rumah mereka tertulis:

“Sekolah kami digusur. Tapi tidak hati kami.”

INT. RUANG RAPAT NEGARA – MALAM

PEJABAT melihat peta digital.

Titik-titik kecil menyebar di seluruh negeri.

STAFF (gemetar) Mereka tidak punya markas, tidak punya struktur. Tapi pergerakan mereka makin besar.PEJABAT Karena kita hanya melawan orang. Tapi mereka… membawa harapan.

EXT. LANGIT MALAM – WIDE SHOT

Dari atas kota, tampak puluhan cahaya kecil menyala di berbagai sudut.

Bukan lilin, bukan api. Tapi kesadaran yang tak bisa padam.



Judul Halaman: “Kita Tidak Teriak, Tapi Kita Ada”

INT. RUANG RUMAH DWI – MALAM

Peta kota terbuka di atas meja.

Lilin menyala. Roti tawar dan teh basi jadi bekal.

BU NURUL, DWI, AKTIVIS MUDA, JURNALIS, dan dua warga dari luar kota duduk melingkar.

AKTIVIS MUDA Mereka menunggu kita marah, supaya bisa dilabeli anarkis. Tapi bagaimana kalau kita justru… tenang?DWI Sepi… tapi menyentuh. Satu hari, semua yang tahu diam. Semua yang sadar… tidak masuk kantor, tidak nyalakan TV, tidak belanja, tidak buka toko.JURNALIS Aksi sunyi serentak?BU NURUL Bukan sunyi. Tapi sabda yang sedang bersiap menggelegar.

Mereka saling menatap.

Semua sadar: risikonya besar. Tapi maknanya jauh lebih besar.

INT. RUANG RAPAT ISTANA – SIANG

PEJABAT lebih tua, berwajah keras, menatap laporan intelijen.

PEJABAT TUA Mereka tak punya senjata. Tapi punya simpati. Dan itu lebih berbahaya.PEJABAT MUDA Kami usulkan pemadaman akses media selama 24 jam saat hari aksi.PEJABAT TUA (berdiri) Kalau kalian padamkan cahaya… mereka akan nyalakan lebih banyak.

EXT. WARUNG KECIL – PAGI

Pemilik warung menempelkan secarik kertas:

“Warung tutup untuk belajar diam.”

INT. KAMAR REMAJA – MALAM SEBELUM AKSI

Seorang remaja menulis di jurnal pribadinya:

“Aku tak bisa pidato. Aku tak bisa orasi. Tapi besok… aku takkan bicara. Dan semoga itu cukup keras untuk didengar.”

EXT. GEDUNG KANTOR, SEKOLAH, PASAR, PERTOKOAN – MONTAGE

Pintu kantor ditutup, tanpa pengumuman.Sekolah negeri sepi, tapi suara belajar terdengar dari rumah.Pedagang membagikan makanan gratis sambil menunduk.Sopir ojek online hanya kirim pesan teks:“Hari ini saya tidak terima order. Hari ini saya belajar diam.”

INT. RUANG SEL FAJAR – HARI YANG SAMA

Fajar duduk. Sunyi.

Tapi lewat celah dinding, terdengar kota yang tidak bergerak.

FAJAR (bisik pelan) Kadang… yang paling nyaring adalah yang tidak pernah terucap.

EXT. KOTA BESAR – HARI ITU

Droneshot: Kota tidak rusuh. Tidak gaduh.

Tapi tidak ada yang berjalan seperti biasa.

Dan dalam keheningan itu — ada dentuman kesadaran yang tak bisa dihapus.



Judul Halaman: “Ketika Sunyi Lebih Menggema dari Peluru”

EXT. JALANAN PUSAT KOTA – PAGI

Hari itu, tidak ada klakson. Tidak ada siaran langsung.

Jalan-jalan besar tak macet, tapi tak juga lengang.

Mereka penuh oleh orang-orang yang hanya berdiri.

Berjejer.

Tidak berkata. Tidak membawa apa pun.

Hanya berdiri.

Mata mereka tertuju ke satu arah: ke gedung pemerintahan.

INT. STUDIO BERITA NASIONAL – PAGI YANG SAMA

Penyiar kehilangan naskah. Produser bingung.

PRODUSER

(terbata)

Semua siaran offline. Live feed terputus. Semua akun medsos tidak aktif.

PENYIAR

(berbisik)

Kenapa sunyi… terasa lebih bising dari biasa?

EXT. DEPAN GEDUNG PEMERINTAH – PAGI

Ribuan orang berdiri.

Satu anak kecil maju. Berdiri di tengah.

Ia meletakkan buku tulis kecil di lantai marmer.

Lembaran pertama terbuka ditiup angin.

Tertulis dengan huruf tak rapi:

"Aku hanya ingin sekolah. Tapi kalian bilang itu ancaman."

Petugas keamanan mendekat. Tapi tak satu pun peserta aksi bergerak.

Mereka diam, tapi kokoh.

INT. RUANG TAHANAN – FAJAR

Fajar memejamkan mata.

Dari luar, terdengar gema keheningan.

Tak ada sorak. Tak ada teriakan.

Tapi udara terasa berat, seolah seluruh negeri sedang menahan napas.

FAJAR

(monolog lirih)

Kalau ini sunyi… maka aku ingin tinggal di dalamnya.

Karena di sini, akhirnya… aku tahu aku tidak sendirian.

EXT. LANGIT KOTA – SIANG

Kamera mengudara.

Dari atas, tampak barisan manusia membentuk bentuk lilin menyala.

Satu titik pusatnya: rumah kontrakan lama Bu Nurul.

Bekas tempat belajar yang kini kosong, tapi jadi simbol harapan.

INT. KAMAR BU NURUL – SIANG YANG SAMA

Ia menatap layar ponsel kecilnya.

Puluhan pesan masuk:

"Kami ikut berdiri di Palembang.""Saya guru honorer, dan hari ini saya berhenti pura-pura setuju.""Saya tidak tahu harus apa… tapi hari ini, saya ikut diam."

BU NURUL tersenyum.

Ia tak menangis.

Karena hari itu, tangis telah digantikan oleh kebangkitan.

EXT. KOTA-KOTA DI INDONESIA – MONTAGE

Bandung: mahasiswa memenuhi jalan, diam.Surabaya: anak-anak berdiri di depan balai kota.Makassar: ibu-ibu berdiri di pasar, tidak membuka dagangan.Yogyakarta: pendongeng jalanan hanya memainkan boneka… tanpa suara.

FADE OUT.

GELAP.

NARASI (V.O.) — suara BU NURUL

“Jika kami gagal bicara dengan suara, maka kami bicara dengan keheningan. Jika keheningan kami tak didengar, maka kami tinggalkan jejak di tanah. Dan siapa pun yang menyentuh tanah ini… akan tahu: kami pernah berdiri.”


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)