Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
BLACK SCREEN
Suara hujan pelan. Denting jam berdetak… lambat… lalu cepat.
NARATOR (V.O.)
Negeri ini… bukan tanah. Ia luka yang dibentuk menjadi batas. Bukan udara. Ia napas yang dipinjam dari generasi yang kecewa.Negeri ini… tidak lahir dari cinta. Ia terbentuk dari kata-kata yang dibungkam, satu per satu… oleh tangan yang memegang pena dan tongkat kuasa.
FADE IN:
EXT. JAKARTA – MALAM – HUJAN RINTIK
Lampu merah. Jalanan basah.
Seorang pemuda berdiri di trotoar, hoodie hitam, wajah tak terlihat.
Ia menyalakan ponsel.
INSERT SHOT – LAYAR PONSEL
“Upload Video: Negeri Ini Tidak Baik-Baik Saja”
NARATOR (V.O.)
Mereka bilang diam adalah emas. Tapi kenapa yang bersuara justru ditanam sebelum waktunya?
CUT TO:
EXT. PASAR TANAH ABANG – SUBUH
Wajah seorang ibu pedagang. Letih.
Ia menarik gerobak penuh sisa sayur yang layu sebelum dijual.
EXT. SEKOLAH NEGERI SURABAYA – PAGI
Seorang guru honorer (NURUL) menatap papan tulis kosong.
Ia mencoret-coret kata: “Merdeka”.
NARATOR (V.O.) “Merdeka” tak lagi kata, tapi ilusi yang diajarkan… tanpa bisa dijelaskan.
EXT. MEDAN – KAMAR GELAP – MALAM
Arga, di depan kamera. Matanya lelah. Video satirnya sedang diedit.
ARGA (dalam video) “Kebijakan itu seperti rambu-rambu… tapi dibuat untuk dilanggar oleh pembuatnya sendiri.”
EXT. BANDUNG – KOLONG JEMBATAN – PETANG
Pak Joyo, tua dan pelan, membuka koper berisi medali.
Ia menatap langit, yang tak lagi biru.
PAK JOYO (lirih)
“Dulu kupikir negara ini ibu. Ternyata cuma tumpukan arsip yang tak mengenalku.”
FADE OUT TO BLACK.
NARATOR (V.O.)
Dan ketika semuanya terasa biasa… Di situlah kita benar-benar sedang mati. Perlahan. Dalam diam.Tapi suara— selalu mencari celah. Untuk hidup kembali.Selamat datang... di negeri yang tak pernah selesai.
TITLE ON SCREEN:
"NEGERI YANG TAK PERNAH SELESAI"
Suara Rakyat yang Tak Bisa Dibungkam