Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Judul Halaman: “Kelas yang Dihapus dari Peta Pendidikan”
EXT. SEKOLAH DASAR NEGERI – SIANG
Bangunan tua. Cat mengelupas.
Spanduk program pemerintah tergantung miring di gerbang:
“Transformasi Digital Pendidikan Indonesia”Ironis, karena di dalam—tak ada WiFi, tak ada laptop, bahkan tak ada cukup kursi.
INT. RUANG KELAS – DALAM SEKOLAH – SIANG
Nurul berdiri di depan papan tulis.
Ia menunjuk gambar sederhana—peta Indonesia yang ia gambar sendiri dengan spidol kering.
Di depan kelas, hanya ada 9 murid.
Sebagian duduk di lantai.
Sebagian menulis di atas buku yang mereka gendong sendiri dari rumah.
NURUL (mengajar) Anak-anak, ini pulau Kalimantan. Tapi kalian tahu tidak? Di peta baru yang saya lihat, tempat kita tidak ada.Murid-murid diam.
Satu anak, Amin (10), mengangkat tangan.
AMIN Bu, kalau kampung kita nggak ada di peta… berarti kalau kita hilang, nggak akan dicari, ya?Nurul terdiam.
Fajar, yang duduk di pojok ruangan mengamati, berhenti mencatat.
Matanya berkaca. Nurul tak menjawab Amin dengan kata.
Ia hanya menggenggam tangan kecil itu.
NARASI FAJAR (V.O.) Di kelas ini, pelajaran terbesar bukan matematika. Tapi tentang bagaimana caranya menjadi manusia… meskipun negara lupa mencantumkan namamu di daftar hidup.EXT. HALAMAN SEKOLAH – SELESAI JAM BELAJAR
Murid-murid pulang beriringan.
Tas mereka hampir kosong. Tapi wajah mereka tetap bersinar.
Nurul dan Fajar duduk di bangku kayu yang mulai lapuk.
NURUL Saya sudah dapat surat pemecatan, Mas. Mereka bilang saya terlalu emosional di kelas.FAJAR Mereka takut pada guru yang mengajarkan keberanian. Bukan pada yang sekadar mengulang modul.Nurul tersenyum. Senyum wanita yang sudah terlalu sering dibungkam.
NURUL Boleh saya bantu Mas kumpulkan cerita lain? Masih banyak yang seperti saya. Hanya… belum tahu kepada siapa harus bicara.Fajar mengangguk.
FAJAR (pelan) Kalau kita bisa menulis, kita punya tanggung jawab. Karena yang tidak bisa… hanya punya harapan pada kita.FADE TO BLACK.
Judul Halaman: “Rapat-Rapat yang Tak Pernah Mengundang Rakyat”
INT. GEDUNG KANTOR PEMDA – SIANG
Ruangan ber-AC, terang, dan penuh meja rapat mengkilap.
Di dinding, foto-foto pejabat berjajar seperti deretan simbol lama yang tak pernah berganti wajah, hanya berganti jas.
RAPAT SEDANG BERLANGSUNG.
Beberapa pejabat pemerintah daerah, konsultan proyek, dan investor swasta sedang membicarakan “Revitalisasi Wilayah Kumuh”.
Slide presentasi di layar besar menunjukkan desain bangunan tinggi, taman tematik, dan mal baru.
KONSULTAN Kawasan Petamburan akan dibersihkan secara menyeluruh. Kita beri nama baru—“Eco Green District”. Branding-nya bisa dijual ke investor luar.PEJABAT 1 Bagaimana dengan warga yang masih tinggal di sana?PEJABAT 2 (tertawa) Sudah kita siapkan relokasi. Jauh dari kota, tapi… tetap Indonesia, kan?Ruang rapat tertawa.
Tidak satu pun suara warga hadir di ruangan itu.
NARASI FAJAR (V.O.) Di ruangan ini, tak ada suara tangis anak yang kehilangan rumah. Tak ada ibu yang menjerit saat atapnya dibongkar. Yang ada hanya grafik, presentasi, dan kopi mahal yang tak pernah dicicip rakyat.EXT. HALAMAN GEDUNG PEMDA – BEBERAPA SAAT KEMUDIAN
Fajar dan Nurul berdiri di luar. Mereka tak diundang, tapi mereka mendengar segalanya.
Fajar sedang mencatat. Nurul sedang memotret dokumen presentasi yang tertinggal di meja lobi.
NURUL (berbisik) Jadi ini caranya… Mereka ubah nama kampung kita… seolah-olah kita tak pernah ada.FAJAR Menghapus nama dari peta itu kejam. Tapi mengganti nama dengan yang lebih cantik untuk menutupi luka—itu lebih kejam lagi.INT. KANTOR REDAKSI ONLINE KECIL – MALAM
Fajar mengirim tulisan baru:
“Rapat Tanpa Undangan: Bagaimana Proyek Mengusir Tanpa Kata Maaf”Ia unggah ke blog independennya yang perlahan mulai dikenal publik.
Komentar masuk.
Banyak.
Rakyat berbagi kisah mereka di kolom komentar.
KOMENTAR PEMBACA: “Kampung kami juga diganti nama, Mas. Sekarang namanya 'River Side City'.” “Saya saksi penggusuran di Balikpapan. Berita ini mewakili kami.”NARASI FAJAR (V.O.) Ketika tak diberi kursi dalam rapat, rakyat menciptakan forum mereka sendiri. Di jalan. Di layar. Di tulisan. Di luka.FADE OUT.
Judul Halaman: “Tangan-Tangan yang Mulai Terbuka”
EXT. TAMAN KOTA – SENJA
Taman ini dulu kampung kecil dengan masjid dan lapangan voli.
Sekarang, dibalut rumput sintetis, air mancur buatan, dan speaker yang memutar lagu kebangsaan instrumental.
Namun Fajar tahu, tanah yang ia pijak dulunya tempat seorang ibu melahirkan di tikar bambu.
INT. TAMAN – AREA SUDUT SEPI
Fajar dan Nurul duduk di bangku.
Di depan mereka: empat anak muda dari berbagai kota—mereka adalah relawan media rakyat, pembaca tulisan Fajar yang kini ingin terlibat lebih jauh.
ARIF (22), mahasiswa dropout dari MakassarMIRA (19), mantan buruh pabrik garmen di BandungYOSEP (25), kurir freelance dari BekasiTIARA (23), aktivis lingkungan dari KalimantanMereka membawa dokumen, data, dan suara-suara lapangan.
ARIF Mas Fajar, tulisanmu bukan cuma dibaca… tapi membakar. Kami mau bantu.TIARA Kita butuh peta baru—bukan yang dibuat birokrasi, tapi peta luka, peta suara, peta kebenaran.FAJAR Aku tak punya organisasi, hanya kata. Tapi kalau kalian mau, kita bisa mulai dari cerita. Cerita yang tidak disponsori siapa-siapa.MIRA mengeluarkan peta alternatif.
Peta digital kawasan-kawasan yang telah digusur sejak 2018.
Ada tanda merah. Banyak. Terlalu banyak.
YOSEP Kita bisa sebar ini. Kita bisa bikin kanal sendiri. Kita tak perlu izin dari siapa pun untuk menyuarakan yang kita lihat.NURUL menatap mereka satu per satu.
Suara pelan tapi tegas:
NURUL Kalau kita tak punya kekuasaan… maka kita harus bersatu, agar suara kita tak bisa diabaikan.NARASI FAJAR (V.O.) Di antara rumput palsu dan air mancur buatan, kami membangun gerakan yang tumbuh dari tanah sesungguhnya: tanah yang pernah dihancurkan.EXT. TAMAN – SAAT MATAHARI TERBENAM
Kamera perlahan menjauh.
Enam orang di bangku taman,
menyusun strategi, bukan kekerasan—tapi kebenaran.
Angin berhembus pelan.
Membawa kertas-kertas kecil yang tertulis:
“Kami akan menulis negeri ini ulang.”FADE TO BLACK.
Judul Halaman: “Kota yang Menyimpan Dendam”
EXT. JAKARTA – MALAM
Kota menyala seperti sirkuit raksasa.
Lampu gedung, lampu mobil, lampu reklame—semuanya menyilaukan,
tapi tak satu pun menerangi hati yang terlanjur gelap.
NARASI FAJAR (V.O.)
Kota ini seperti makhluk hidup.
Ia makan pendatang, memuntahkan impian, dan menyimpan dendam
pada siapa pun yang mencoba mengubahnya.
EXT. JALANAN KOTA – LORONG-LORONG SEMPIT – MALAM
Fajar berjalan menyusuri lorong tempat ia dulu pernah tinggal.
Lorong itu kini menjadi tempat pembuangan sampah sementara.
Di salah satu dinding masih tergambar mural lama:
wajah orang-orang yang pernah menolak digusur.
CLOSE-UP – MURAL TERTUTUP GRAFITI BARU:
“Hidup Pembangunan.”Fajar berdiri di depan mural itu, lalu mengambil spidol hitam dari sakunya.
Ia menambahkan satu kalimat kecil di bawahnya:
“Yang hidup hanyalah yang berani bersuara.”INT. KAMAR KONTRAKAN – MALAM LARUT
Fajar duduk di depan laptop.
Di layar, artikel barunya terbuka.
Judul besar:
“Mereka Ingin Kota Tanpa Luka. Maka Mereka Singkirkan Korban.”Ia membaca ulang. Tak mengedit. Tak menghapus.
Lalu, dengan satu napas panjang… ia tekan tombol “Publikasikan.”
EXT. JAKARTA – JARINGAN INTERNET – VISUAL ABSTRAK
Animasi data bergerak cepat.
Artikel itu menyebar—menyusup ke media sosial, grup WA, Telegram komunitas, bahkan layar info di warung kopi.
MONTASE:
Seorang satpam membaca dari ponselnya.Seorang mahasiswa menempelkan cetakannya di papan kampus.Seorang ibu rumah tangga membacanya keras-keras di pos ronda.Seorang anak muda membacanya di atas motor, lalu menangis dalam diam.NARASI FAJAR (V.O.)
Kota ini tak butuh banyak suara.
Cukup satu… yang jujur.
Dan satu lagi… yang berani mendengarkan.
INT. KANTOR REDAKSI – MALAM
Pak Heru melihat artikel itu viral.
Wajahnya tegang. Ia menutup laptopnya dengan marah.
Tapi… ia tidak bisa menghentikannya.
EXT. LANGIT KOTA – DITINJAU DARI ATAS – MALAM
Suara-suara kecil mulai membentuk gaung.
Gaung itu bukan teriakan. Tapi gema kebenaran—yang tak bisa lagi diredam.
NARASI FAJAR (V.O.)
Kota ini menyimpan dendam.
Tapi kali ini… dendamnya berpihak pada mereka yang ditinggalkan.
FADE OUT.
TULISAN DI LAYAR:
Bab 1 Selesai.