Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Negeri yang Tak Pernah Selesai
Suka
Favorit
Bagikan
4. BAB 2 - “Nurul: Kelas yang Tak Pernah Dicatat Negara”
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

EXT. SURABAYA – PAGI – SEKOLAH TUA DI TENGAH PERKOTAAN

Langit cerah. Tapi bangunan sekolah tampak sekarat.

Atapnya bocor, dinding mengelupas, cat sekolah luntur seperti idealisme yang direndam diam.

INT. RUANG KELAS – PAGI

NURUL (28) berdiri di depan papan tulis.

Tapi bukan sedang mengajar. Ia menatap bangku-bangku kosong.

Hanya 4 anak yang hadir dari 32 murid.

Sisanya entah di mana—ada yang berhenti sekolah karena orang tuanya digusur, ada yang menikah dini, ada yang sekadar tak percaya pada masa depan.

NARASI NURUL (V.O.) Katanya, pendidikan adalah kunci… Tapi pintunya sudah hilang.Dan guru seperti aku… tinggal mengetuk dinding.

Ia menulis di papan tulis:

“Apa itu keadilan?”

Anak-anak memandangi kata itu seperti kata asing dari dunia lain.

NURUL (lembut) Siapa yang tahu artinya?

Tak ada yang menjawab.

NURUL (lanjut) Kalau kalian tidak tahu… bukan salah kalian. Karena mungkin kita belum pernah betul-betul melihatnya.

INT. RUANG GURU – SIANG

Nurul duduk sendiri. Di tangannya: amplop surat pemberhentian.

Isinya halus, tapi pesannya tegas:

“Ibu terlalu emosional, tidak sesuai dengan semangat pendidikan nasional.”

Ia menghela napas panjang.

Kepala sekolah lewat di belakangnya.

KEPALA SEKOLAH Maaf, Bu Nurul. Ini bukan keputusan saya. Tapi… Ibu terlalu kritis. Dan terlalu sayang pada murid. Itu menyulitkan birokrasi.

Nurul tersenyum samar, pahit.

Ia melipat surat itu, memasukkannya ke dalam tas bersama buku pelajaran dan spidol yang sudah kering.

NARASI NURUL (V.O.) Aku tak pernah minta panggung. Aku hanya ingin murid-muridku tumbuh dengan kepala tegak. Tapi sepertinya… itu terlalu berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi empuk.

EXT. HALAMAN SEKOLAH – SORE

Nurul berjalan meninggalkan sekolah.

Tak ada yang melepasnya.

Tapi di pintu gerbang, Amin, murid kecilnya, berdiri diam.

Menatap dengan mata yang tidak ingin ditinggal.

Nurul mendekat. Menunduk.

NURUL Bu bukan pergi. Bu cuma akan bicara lebih keras… di tempat yang bisa didengar.

Amin mengangguk. Tak berkata. Tapi ia menggenggam tangan Nurul erat.

FADE OUT.



Judul Halaman: “Pelajaran yang Tak Ada di Kurikulum”

INT. RUANG KEPALA SEKOLAH – SIANG

Ruangan kaku, terlalu rapi untuk sekolah yang bangunannya hampir ambruk.

NURUL (28) duduk tegak. Matanya tajam tapi tetap tenang.

Di depannya, PAK USMAN (50-an), Kepala Sekolah, menatap Nurul seolah ia masalah yang tak bisa diselesaikan dengan surat edaran.

PAK USMAN Saya dipanggil Dinas, Bu Nurul. Ada yang lapor Ibu mengajarkan soal “ketimpangan sosial” di kelas 4. Itu tidak sesuai kurikulum.NURUL Yang saya ajarkan adalah kenyataan, Pak. Anak-anak itu datang ke sekolah dengan perut kosong. Haruskah saya ajarkan bahwa mereka sedang “berproses” menjadi mandiri?

Pak Usman menarik napas. Matanya tak lepas dari Nurul.

PAK USMAN Ibu terlalu keras. Dunia tidak bisa diubah hanya dengan semangat.NURUL Tapi saya harus mencoba, sebelum mereka tumbuh dan percaya bahwa ketidakadilan adalah bagian dari hidup yang harus diterima.

PAUSE.

Pak Usman membuka map merah bertuliskan "REKOMENDASI KHUSUS".

PAK USMAN Ibu sudah tahu ada rencana renovasi. Sekolah ini akan jadi sekolah percontohan program digitalisasi. Dan untuk itu, kami butuh guru yang… selaras.NURUL (curiga) Selaras, atau diam?

Pak Usman tidak menjawab.

Ia justru menyodorkan map itu.

PAK USMAN Ini belum resmi. Tapi Dinas ingin Ibu dipindahkan.NURUL Dipindahkan… ke mana?PAK USMAN Ke unit pendidikan kawasan “Pendidikan Terpadu Citra Mandiri”. Di pinggiran kota. Proyek kerja sama swasta.NURUL (mencibir pelan) Sekolah baru, gedung mewah, siswa dari keluarga investor? Bukan tempat untuk anak-anak yang saya perjuangkan.PAK USMAN (dingin) Mungkin Ibu salah tempat dari awal.

Nurul berdiri.

NURUL Mungkin sistem ini memang tak pernah disiapkan untuk guru seperti saya.

TWIST HALUS MULAI MASUK

Saat Nurul keluar, dia melihat dua orang berbaju rapi di lorong—pegawai Dinas Pendidikan, salah satunya diam-diam mengambil foto dirinya.

EXT. HALAMAN SEKOLAH – SIANG

Nurul berhenti di dekat taman kecil.

Ia menatap para murid dari kejauhan.

Namun matanya tidak hanya mengamati. Ia menyusun keputusan.

NARASI NURUL (V.O.) Kalau mereka bisa membangun sistem untuk melupakan kita, maka kita harus membangun ingatan yang tak bisa mereka hilangkan.

FADE OUT.



Judul Halaman: “Kelas Kosong, Hati Penuh”

INT. RUANG GURU – SIANG

Ruang guru dipenuhi tumpukan kertas ujian dan lemari besi yang tak pernah dikunci.

Nurul duduk sendiri, membuka tas kecil berisi buku catatan pribadi—di dalamnya terselip foto lama murid-muridnya: tersenyum, berlari, belajar sambil duduk di lantai.

Suara langkah mendekat.

BU RAHMA (40-an), guru matematika senior, masuk dan duduk di sebelah Nurul.

BU RAHMA Sudah dengar kabar Ibu mau dipindah?NURUL Belum resmi. Tapi saya sudah disiapkan tempat yang lebih bersih, katanya. Sekolah baru, murid baru, gaji tetap kecil, tekanan tetap besar.

Bu Rahma tertawa kecil, pahit.

BU RAHMA Zaman dulu, dipindahkan itu hukuman. Sekarang… penghilangan.NURUL Mereka tak suka suara yang tak bisa dikendalikan.

Bu Rahma melirik sekeliling. Hati-hati.

BU RAHMA Hati-hati, Nurul. Aku dengar guru SD 08 itu juga di-“relokasi” karena komentar di grup WA.NURUL (menatap lurus) Kalau sistem ini takut pada grup WA, maka negara ini sedang sangat rapuh.

Bu Rahma menahan tawa.

BU RAHMA Kau selalu berani, Nurul. Tapi lihat sekeliling… Guru lain memilih diam bukan karena setuju. Tapi karena mereka punya cicilan.NURUL Aku tidak minta semua orang bicara. Aku hanya ingin ada yang mendengar.

PAUSE.

BU RAHMA Kau tahu sekolah ini mau dijadikan model “smart school” bulan depan? Tanpa rapat, tanpa sosialisasi.NURUL Smart untuk siapa?BU RAHMA Untuk pemilik aplikasi edukasi. Untuk pemilik lahan proyek baru di belakang.NURUL Jadi kita bukan guru lagi… kita operator sistem.BU RAHMA Kita aktor figuran. Di skenario yang bahkan tidak kita baca.

Nurul menutup catatannya.

Wajahnya mulai mengeras, tapi bukan karena marah—karena keputusan.

NURUL Kalau semua ini panggung… Maka aku akan jadi suara sumbang yang tak bisa dihapus dari naskah mereka.

EXT. HALAMAN SEKOLAH – SORE

Langit mendung.

Nurul berdiri memandangi bangunan sekolah.

Lalu menatap layar ponselnya—membuka kembali artikel Fajar yang viral.

NARASI NURUL (V.O.) Mungkin aku tidak sendiri. Mungkin… sudah saatnya suara-suara kecil bertemu dan menggaung bersama.

FADE OUT.



Judul Halaman: “Surat untuk Murid yang Akan Hilang”

INT. RUANG KELAS – PAGI HARI BERIKUTNYA

Kelas tampak kosong.

Papan tulis masih memuat pelajaran terakhir:

“Menghitung Waktu”

NURUL berdiri di depan kelas.

Kursi dan meja belum terisi. Tapi ia tetap bicara, seolah murid-muridnya hadir.

NURUL Hari ini… Ibu tidak akan mengajar seperti biasa. Ibu tidak akan minta kalian buka buku. Tapi Ibu ingin bercerita.

Ia berjalan perlahan di antara kursi-kursi kosong.

Setiap langkah seperti menyapu sisa-sisa suara tawa masa lalu.

NURUL (lanjut) Dulu, Ibu pernah jadi seperti kalian—anak kecil yang percaya bahwa sekolah bisa menyelamatkan. Tapi semakin dewasa, Ibu sadar… kadang sekolah pun harus diselamatkan dari mereka yang pura-pura peduli.

CLOSE-UP: TANGANNYA MELETAKKAN SURAT DI MEJA DEPAN

Kertas itu berjudul: “Untuk Kamu, Muridku yang Akan Dihilangkan Negara”

NURUL (membaca pelan) “Nak… Kalau suatu hari kamu datang ke sekolah ini dan tak menemukan Ibu, Jangan tanya ke mana Ibu pergi. Tapi tanyakan: mengapa guru sepertiku harus pergi?”

Ia menahan tangis.

Suara gemetar, tapi tidak pecah.

NURUL (lanjut) “Kalau suatu hari rumahmu digusur, dan guru-gurumu hanya diam, Tahu lah, itu bukan karena mereka jahat. Tapi karena mereka sudah terlalu lelah melawan sendiri.”NURUL (lanjut) “Tapi kamu— jangan berhenti bertanya. Jangan biarkan jawaban datang dari poster atau aplikasi. Carilah sendiri, di jalan. Di buku. Di hati orang yang kau percayai.”

PAUSE.

Nurul menatap ruang kosong itu.

Dan berkata:

NURUL Karena kadang, yang kita ajarkan bukan pelajaran… Tapi keberanian untuk bertanya di tengah dunia yang minta semua anak untuk diam.

EXT. HALAMAN SEKOLAH – SIANG

Nurul berdiri di bawah bendera.

Ia menyobek selembar catatan pelajaran—lalu menulis di baliknya:

“Jika aku tidak kembali, teruskan suaraku.”

Ia tempelkan kertas itu di balik papan pengumuman.

Tak mencolok, tapi cukup jelas untuk ditemukan oleh siapa yang peduli.

NARASI NURUL (V.O.)

Di negara yang senang membungkam, bahkan surat kecil bisa jadi ledakan.

FADE OUT.



Judul Halaman: “Jejak yang Tak Terhapus Hujan”

EXT. HALAMAN SEKOLAH – SORE HARI, HUJAN GERIMIS

Payung-payung warna-warni berdiri di halaman berlumpur.

Beberapa orang tua murid berkumpul dalam lingkaran kecil, membicarakan sesuatu dengan nada rendah tapi intens.

NURUL keluar dari ruang kelas sambil membawa tas selempang lusuh. Ia hendak pulang, tapi langkahnya terhenti saat mendengar namanya disebut.

IBU RINI (40-an) Itu dia orangnya. Guru Nurul.

Nurul menghampiri.

Wajah-wajah mereka campuran—ada yang resah, ada yang geram, ada yang bingung.

BAPAK DADANG (50) Bu, mohon maaf… kami dapat kabar kalau Ibu ngajarin anak-anak soal politik?NURUL Saya tidak mengajari politik. Saya hanya menjelaskan kenapa beberapa teman mereka tidak bisa sekolah lagi.IBU RINI Tapi anak saya pulang, nanya: “Kenapa rumah kita sempit, Bu?” Dulu dia nggak pernah tanya begitu!NURUL (tegas tapi lembut) Bukankah itu pertanyaan yang layak dijawab?

PAUSE.

Hujan mulai deras.

Air menetes dari atap bocor sekolah ke dekat kaki Nurul.

NURUL (lanjut) Ibu, Bapak… saya bukan musuh anak-anak. Justru saya takut mereka tumbuh tanpa tahu mana yang salah, karena kita terlalu sibuk menjaga mereka dari kenyataan.BAPAK DADANG Kami juga takut, Bu. Takut kalau mereka tahu terlalu banyak, tapi tak bisa melawan. Bukankah itu menyakitkan?NURUL Lebih menyakitkan lagi… kalau mereka tumbuh dan menganggap semua ini normal.

Suasana hening. Hanya suara hujan.

IBU RINI Tapi Bu… nanti Ibu dikeluarkan. Kami tak bisa bantu.

Nurul menatapnya.

Wajahnya teduh, tak meminta bantuan, tapi juga tak mundur.

NURUL Saya tidak mengajar untuk aman. Saya mengajar agar anak-anak tidak dibentuk jadi penonton di hidup mereka sendiri.

Seorang bapak muda melangkah maju.

PAK RIDWAN (30-an), ayah Amin.

PAK RIDWAN Kalau ada apa-apa, Bu… Saya dan istri siap bantu. Anak kami berubah sejak diajar Ibu. Kami tahu bedanya ajaran yang sekadar mengisi kepala, dan yang menumbuhkan hati.

Nurul tersenyum.

Untuk pertama kalinya hari itu, senyumnya tidak mengandung perlawanan.

NARASI NURUL (V.O.)

Mungkin belum semua mengerti. Tapi kadang, cukup satu suara yang percaya… untuk membuat langkah kita terasa lebih kuat.

FADE OUT.


Judul Halaman: “Tumbuh dari Tanah yang Retak”

INT. RUANG KELAS KONTRAKAN – PAGI

Langit mendung di luar, tapi ruangan sempit itu terang oleh mata-mata kecil yang menunggu.

Hanya 7 murid hadir. Mereka duduk tenang, mata mereka menatap penuh ke arah BU NURUL, yang berdiri di depan tanpa buku, tanpa papan tulis.

Di tangannya, sebuah pot kecil berisi tanah retak.

Ia meletakkannya di atas meja.

BU NURUL Ada yang tahu kenapa tanah ini retak?

AMIN (10), anak kurus dengan semangat yang tak bisa dikurung, mengangkat tangan.

AMIN Karena kering, Bu?BU NURUL Iya. Karena kering. Karena lama tak disirami. Tapi lihat baik-baik…

Ia menunjuk ke tengah tanah.

CLOSE-UP:

Tunas kecil tumbuh pelan-pelan di sela retakan.

BU NURUL (lanjut) Tumbuh… tak selalu dari tanah yang subur. Kadang dari yang nyaris mati, justru tumbuh yang paling kuat.

Anak-anak diam. Tapi mata mereka menyala.

BU NURUL (lanjut) Kalian juga begitu. Dunia kita retak. Sekolah ini nyaris dibungkam. Tapi kalian tetap bisa tumbuh. Dan kalian harus.

INT. RUANG TU – BEBERAPA MENIT KEMUDIAN

Dua PEGAWAI TU duduk, mengawasi dari balik jendela.

Salah satunya diam-diam merekam dengan ponsel.

PEGAWAI 1 Masih ngajarin juga… Padahal udah mau dipindah ke luar kota.PEGAWAI 2 Kirim aja videonya. Udah ada surat perintah. Biar cepat diurus.

Mereka saling pandang.

Klik. Kirim.

Layar ponsel gelap.

EXT. BELAKANG RUMAH KONTRAKAN – SIANG

BU NURUL duduk sendiri di anak tangga, membaca catatan hariannya.

TULISAN TANGAN (V.O.) “Kalau aku tak bisa lagi mengajar dengan suara, maka biarlah kata-kataku tinggal lebih lama dari aku.”

Ia memejamkan mata.

Angin pelan menyapu wajahnya.

Seekor burung kecil terbang melintas.

Sayapnya sedikit luka. Tapi tetap terbang.

BU NURUL (berbisik) Bahkan luka… bisa jadi alasan untuk terus terbang.

FADE OUT.



Judul Halaman: “Semua yang Sunyi, Sedang Menahan Luka”

EXT. GANG SEMPIT – PAGI

Langkah kaki AMIN menyusuri gang kecil menuju tempat belajar. Ia membawa tas butut, tergenggam erat.

Di dinding gang, seseorang menempel selebaran baru:

“Waspada! Kegiatan mencurigakan berkedok pendidikan.” “Laporkan jika melihat aktivitas ilegal.”

Amin berhenti. Membaca. Napasnya tertahan.

INT. KONTRAKAN BU NURUL – PAGI

Kelas kembali sunyi.

Hanya tiga anak yang datang.

BU NURUL tetap berdiri di depan, seperti biasa.

Tapi kali ini, ia membuka pelajaran dengan suara lebih pelan dari biasanya.

BU NURUL Pelajaran hari ini… bukan soal angka atau huruf. Tapi soal hati yang kuat, walau tubuh merasa kecil.

Anak-anak diam. Menunduk.

FAJAR masuk perlahan dari pintu belakang, membawa kabar.

FAJAR Mereka sudah di kelurahan. Surat pengosongan ruang kontrakan sudah diproses.

BU NURUL hanya mengangguk. Tak ada reaksi dramatis.

Tapi matanya… mulai berkaca.

BU NURUL Berarti kita harus pindah, sebelum kata-kata kita dibungkam oleh gembok.

INT. RUANG DINAS – SIANG

PEJABAT PENDIDIKAN membuka berkas dan foto-foto kegiatan belajar.

PEJABAT Mereka memang cerdas… Tapi sayang, tidak tahu tempat.STAF Mau diselesaikan pakai surat resmi, atau kita kirim orang?PEJABAT Kirim perintah. Tapi jangan keras-keras. Kita bukan mau bubarkan, kita hanya ingin mereka menyerah.STAF Dan kalau tidak?PEJABAT (dingin) Maka kita buktikan... bahwa negara lebih sabar daripada mereka.

EXT. ATAP KONTRAKAN – SENJA

BU NURUL duduk sendiri di atap. Membaca koran bekas yang dibungkus ke nasi.

Beritanya: “Prestasi Pemerintah Dalam Sektor Pendidikan Meningkat Drastis.”

Ia terkekeh pelan.

BU NURUL (sendiri) Berarti kita ini prestasi juga… Karena tak pernah dihitung.

FAJAR datang. Duduk di sebelahnya.

FAJAR Kalau ini semua gagal, Bu… Ibu nyesel?

BU NURUL menatap langit. Senyum tipis.

BU NURUL Nggak ada yang gagal kalau kita berani memulai. Yang gagal itu… yang pura-pura nggak tahu ada yang perlu diselamatkan.

FADE TO BLACK.



Judul Halaman: “Ketika Kata-Kata Terpaksa Pindah Rumah”

INT. KONTRAKAN BU NURUL – PAGI

Meja sudah kosong. Buku-buku sudah dikemas dalam kardus bekas.

FAJAR sedang mengikat tali rafia. BU NURUL berdiri di tengah ruangan yang kini sunyi.

Tiga anak datang. Wajah mereka bingung.

ANAK 1 Kita belajar di mana, Bu?BU NURUL (lembut) Di mana pun kalian mau menyalakan cahaya.

Anak-anak belum mengerti. Tapi mereka melihat bagaimana semua kenangan pendidikan dikemas seperti barang pindahan.

EXT. DEPAN KONTRAKAN – SIANG

Seorang petugas kelurahan datang membawa surat resmi. Wajahnya tak bernyawa, seperti membaca dari naskah yang ia pun tak paham maknanya.

PETUGAS Kami hanya menjalankan tugas. Kontrakan ini tidak boleh dipakai untuk aktivitas ilegal.FAJAR Kami cuma mengajar anak-anak membaca dan menulis.PETUGAS (dingin) Ya. Tapi tidak terdaftar. Tidak sesuai prosedur.

Fajar mengepalkan tangan. Tapi Bu Nurul menyentuh lengannya.

Tenang. Jangan pakai amarah.

Mereka mundur. Meninggalkan ruang itu. Tapi tidak menyerah.

INT. RUANG SEMPIT BELAKANG WARUNG – MALAM

FAJAR dan BU NURUL membuka kardus. Mereka menyusun ulang papan tulis, buku, dan alat tulis seadanya.

Tempatnya lebih kecil, tapi cukup untuk mulai lagi.

FAJAR Kalau kita terus dipindah… berapa lama bisa bertahan?BU NURUL Mereka bisa gusur tempat. Tapi nggak bisa gusur tekad. Kita bukan membuka sekolah. Kita sedang menanam nyala.

Fajar terdiam. Matanya berkaca. Ia tahu, ini bukan perjuangan biasa.

EXT. SUDUT-SUDUT KOTA – MONTAGE

Anak-anak belajar di bawah kolong jembatan.Seorang remaja membaca puisi dari selebaran diam-diam.Ibu warung menyelipkan fotokopian tugas belajar di kantong belanja.Seorang tukang parkir menempel tulisan di tembok:“Kelas kami dipindah, tapi ilmu kami tidak kabur.”

INT. RUANG DINAS – MALAM

PEJABAT kembali menerima laporan.

Ia membaca selebaran yang kini menyebar di berbagai kota.

PEJABAT (lirih) Mereka diam… tapi menjalar. Kita harus lebih cepat dari keyakinan mereka.




Judul Halaman: “Yang Terusir, Justru Mengakar”

INT. KEDAI KOPI KECIL – MALAM

Sebuah kedai sederhana, penuh dengan suara bisik dan aroma cemas.

FAJAR duduk bersama DWI, seorang mantan guru honorer yang pernah diberhentikan karena "tidak loyal terhadap kurikulum".

DWI Waktu saya nolak manipulasi nilai ujian, saya dibilang duri. Tapi saya nggak nyangka… masih ada yang lebih nekat dari saya.FAJAR (senyum tipis) Saya juga nggak nyangka. Tapi kita belajar… bahwa kebodohan sistemik tidak bisa dilawan sendirian.

Dwi mengeluarkan map lusuh berisi daftar mantan guru-guru seperti dia.

DWI Kami belum mati. Cuma dibungkam. Tapi kalau kalian mulai, kami siap buka suara.

INT. KONTRAKAN BU NURUL YANG BARU – MALAM

Lebih sempit, lebih gelap. Tapi semangatnya justru lebih terang.

BU NURUL menyalakan lilin kecil di tengah ruangan.

Anak-anak duduk melingkar. Mereka menulis satu persatu:

"Kenapa saya ingin tetap belajar."

ANAK 2 (membaca tulisannya) “Karena saya ingin tahu dunia, bukan cuma dengar dari TV.” “Karena saya ingin bantu Ibu baca pengumuman.” “Karena saya nggak mau jadi orang yang bisa dibohongi terus.”

Semua terdiam.

BU NURUL menutup matanya sebentar. Menahan air mata yang hampir jatuh.

EXT. TROTOAR KOTA – SUBUH

Seorang JURNALIS INDEPENDEN, membawa kamera kecil, memotret poster-poster yang tertempel di tiang listrik:

“Belajar bukan kejahatan. Mendidik bukan makar.” “Kalau anakmu bodoh, negara bisa tertawa.”

Ia berbicara di depan kamera dengan suara pelan.

JURNALIS (monolog) Pemerintah bilang sekolah-sekolah ini liar. Tapi yang lebih liar adalah sistem yang mengusir mereka. Dan hari ini… kita mulai merekam yang tidak pernah disiarkan.

INT. STUDIO PODCAST BAWAH TANAH – MALAM

Seorang AKTIVIS MUDA sedang siaran live.

AKTIVIS Hari ini kita bahas kelas-kelas bayangan… Sekolah-sekolah yang lebih jujur dari sistem resminya. Ini bukan sekadar pendidikan. Ini perjuangan menyelamatkan masa depan.

Tiba-tiba, jumlah penonton live melonjak di layar.

SUARA KOMENTAR (TEXT ON SCREEN) “Akhirnya ada yang ngomongin ini.” “Saya juga ikut kelas Bu Nurul waktu kecil.” “Kami di Surabaya mulai ngajar diam-diam juga.”

EXT. LANGIT KOTA – MALAM

Drone shot: kota besar yang seolah tenang, tapi di bawahnya, puluhan titik cahaya kecil mulai menyala.

Mereka bukan bintang. Tapi tanda — bahwa rakyat tak sepenuhnya tertidur.



Judul Halaman: “Saat Kebenaran Diikat Tanpa Tali”

EXT. KONTRAKAN BARU – PAGI

Langit mendung. Burung tak lagi terdengar.

FAJAR membuka pintu. Di hadapannya: dua pria berpakaian sipil, disertai satu petugas kelurahan.

PRIA 1 (tegas, tanpa salam) Kami dari aparat. Fajar Pratama?

Fajar mengangguk perlahan. Anak-anak di belakangnya mengintip dengan takut.

PRIA 2 (dingin) Saudara diduga melakukan aktivitas tanpa izin, yang mengganggu stabilitas wilayah.FAJAR Aktivitas apa? Mengajar anak membaca?PRIA 1 Saudara diminta ikut untuk dimintai keterangan.

Tanpa membantah, Fajar menyerahkan diri.

BU NURUL datang terlambat.

Ia melihat Fajar dibawa pergi. Tak ada borgol, tapi jelas: ini penangkapan.

INT. MOBIL TERTUTUP – DALAM PERJALANAN

FAJAR duduk di belakang. Diam.

PRIA 1 menatapnya dari kaca depan.

PRIA 1 Kenapa sih kamu ribet banget? Biarin aja negara urus pendidikan. Nggak usah sok pahlawan.FAJAR (lirih) Karena saya pernah sekolah di negeri yang katanya merdeka. Tapi tiap pelajaran, hati saya dicekoki bohong. Dan saya muak hidup dalam diam.

INT. KONTRAKAN – BEBERAPA JAM KEMUDIAN

Anak-anak menangis. BU NURUL menenangkan mereka. Tapi suaranya nyaris tak terdengar.

ANAK 3 Kak Fajar ditangkap karena ngajarin kami?BU NURUL (pelan) Kak Fajar tidak ditangkap. Ia sedang menunjukkan bahwa kebenaran kadang harus dibawa pergi… agar akhirnya didengar lebih luas.

EXT. HALAMAN KELURAHAN – SIANG

Berita penangkapan menyebar.

Puluhan warga mulai berdatangan.

Beberapa membawa kertas bertuliskan:

“Jangan ajarkan kami diam.” “Mengajar bukan kriminal.”

Teriakan belum terdengar. Tapi tatapan-tatapan penuh nyala mulai menggantikan takut.

INT. RUANG INTEROGASI – SIANG

FAJAR duduk sendiri. Tanpa pengacara.

Di hadapannya, dua petugas.

PETUGAS 1 Kenapa tidak daftar resmi saja? Kenapa sembunyi-sembunyi?FAJAR Karena kebenaran yang resmi, seringkali sudah dipoles.PETUGAS 2 (dingin) Kamu sadar bisa dituntut pasal subversif?FAJAR (menatap tajam) Saya sadar. Tapi saya juga sadar… kalau anak-anak itu dibiarkan buta, satu generasi akan tumbuh sebagai budak.

INT. KAMAR BU NURUL – MALAM

Ia menulis surat. Tangannya gemetar.

Narasi terdengar sebagai V.O.

NARASI (V.O.) “Jika kami lenyap, tolong teruskan. Jika mereka tutup suara kami, tolong sebarkan. Kami hanya ingin satu hal: agar anak-anak negeri ini tahu… bahwa diam adalah kekalahan yang paling kejam.”

Ia lipat surat itu. Lalu masukkan ke dalam amplop bertuliskan:

UNTUK SIAPA SAJA YANG MASIH BERANI MENDENGAR.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)