Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
FADE IN:
EXT. JAKARTA – PAGI – GERIMIS RINGAN
Kabut belum bubar. Udara mengandung debu dan janji-janji yang basi.
Dari balik jendela bus kota, FAJAR (30-an) memandangi jalanan macet.
Matanya tajam, tapi lelah. Mulutnya tertutup, tapi pikirannya berisik.
NARASI FAJAR (V.O.) Dulu, aku menulis karena ingin menyelamatkan dunia. Sekarang, aku menulis... hanya agar aku tak ikut mati.
Bus berhenti. Orang-orang berdesakan turun. Fajar ikut, dengan langkah lambat.
Ia melewati spanduk besar:
“Selamat Datang di Ibu Kota Masa Depan”
Ia menatapnya lama… lalu tersenyum tipis. Senyum sarkastik.
INT. KANTOR REDAKSI – RUANGAN FAJAR – PAGI
Meja Fajar dipenuhi catatan, koran lama, dan secangkir kopi yang tak lagi hangat.
Komputernya menyala. Tertulis headline berita yang sedang ia tulis:
“Gubernur Resmikan Proyek Smart City Tahap Kedua”
Fajar berhenti mengetik.
Ia menghapus judul itu. Mengetik ulang:
“Smart City di Atas Kuburan Warga”
Ia diam. Lalu menekan backspace.
Takut? Bukan.
Ia tahu, apa pun yang ia tulis, akan disensor oleh atasan.
NARASI FAJAR (V.O.) Di negeri ini, kebenaran harus izin tayang. Dan kebohongan punya departemen khusus.
Suara langkah mendekat.
Pak Heru (50-an), pemimpin redaksi, masuk.
PAK HERU Fajar. Berita penggusuran itu, jangan dibawa ke headline. Fokus ke teknologi, bukan tragedi. Paham?
Fajar menatapnya. Tak menjawab.
Matanya menyimpan api kecil yang belum padam.
FAJAR (pelan) Tragedi itu bukan cerita. Itu kenyataan.PAK HERU (tegas) Dan kenyataan... tidak menjual. Tulis saja apa yang ingin orang baca, bukan apa yang benar.
Pak Heru pergi. Fajar kembali menatap layar.
Jarinya menari di keyboard, tapi tak ada yang ditulis.
CUT TO BLACK.
Judul Halaman: “Laporan yang Tak Pernah Dikirim”
INT. KANTOR REDAKSI – PAGI – HUJAN MULAI DERAS
Fajar membuka laci meja. Di dalamnya—bukan dokumen—melainkan kumpulan kertas kusut berisi tulisan-tulisan yang tak pernah ia kirim ke redaksi.
Tangannya gemetar saat menyentuhnya. Seperti menyentuh luka lama.
Ia menarik satu lembar.
CLOSE-UP – TULISAN TANGAN: “Anak-anak itu tidak berlari karena bermain… Mereka berlari karena truk penggusur datang lebih pagi dari biasanya.”
Fajar membacanya dalam diam.
Kertas itu ia remas… lalu ia ratakan kembali.
Tidak tega membuangnya, tapi terlalu sakit untuk dibaca ulang.
NARASI FAJAR (V.O.) Di kantor ini, kejujuran diletakkan dalam laci. Disimpan bersama debu. Bersama kopi dingin.Mungkin… agar tidak mengganggu target iklan.
INT. KANTIN KANTOR – SIANG
Fajar duduk sendiri. Sendok menyentuh nasi tanpa rasa.
Di sekitarnya, wartawan lain tertawa melihat berita viral: influencer diundang ke istana.
REKAN 1 Lo liat tuh? Yang pake baju nyala-nyala itu diundang presiden, bro!REKAN 2 Hahaha. Emang sekarang yang viral itu… lebih penting dari yang waras.
Mereka tertawa. Fajar tidak.
Ia berdiri pelan. Meninggalkan meja tanpa suara.
INT. LIFT KANTOR – SIANG
Fajar masuk lift. Ia sendirian. Musik lift pelan, seperti lagu duka.
Wajahnya terpantul di dinding logam: pucat, sayu, kehilangan cahaya.
NARASI FAJAR (V.O.) Dulu, kata ibuku… Menulis adalah menyelamatkan yang diam. Tapi kini, aku merasa... Aku hanya mengabadikan keputusasaan.
TING!
Pintu lift terbuka. Ia melangkah keluar, masuk ke lorong panjang—
lampu-lampu di atasnya berkedip seperti detak terakhir kota yang hampir padam.
FADE OUT.
Judul Halaman: “Berita yang Tidak Diinginkan Negara”
INT. RUANG EDITORIAL – SORE
Ruangan terasa seperti museum suara.
Komputer menyala. Keyboard terdengar, tapi tak satu pun berani mengetik yang seharusnya.
Di sisi ruangan, Fajar berdiri di depan papan whiteboard editorial.
Tertulis topik-topik utama hari ini:
“Penghijauan Ibu Kota Berjalan Lancar”“Pembangunan Tol Rakyat: 92% Selesai”“Ekonomi Pulih, UMKM Tersenyum”
Fajar menambahkan satu catatan kecil di bawahnya, dengan spidol merah:
“13 Keluarga Hilang Tempat Tinggal – Petamburan, Hari Ini”
Sesaat… hanya detik jam dinding yang menjawab.
Lalu terdengar suara Pak Heru, dari sudut ruangan:
PAK HERU Hapus yang itu, Fajar. Kita bukan LSM. Kita media. Dan kita punya kontrak dengan kementerian.
Fajar menatapnya. Kali ini lama.
FAJAR Dan kita juga manusia, Pak. Atau sudah lupa?
Pak Heru mendekat. Senyumnya seperti plastik yang dipaksakan hangat.
PAK HERU (pelan) Kau jurnalis. Bukan penyelamat.Kalau kau mau jadi pahlawan, sana buat channel YouTube dan teriak di jalan.
INT. RUANG PRINT – BEBERAPA MENIT KEMUDIAN
Fajar mencetak laporan investigasinya sendiri. Kertas-kertas itu keluar pelan dari printer tua—
berisik… seperti sedang menjerit.
Ia membacanya sekilas. Judul besar:
“Di Balik Tembok Pembangunan: Suara yang Ditenggelamkan”
Tangannya berhenti di paragraf terakhir.
TULISAN FAJAR (V.O.) “Mereka tidak mati karena gempa, banjir, atau wabah. Mereka mati karena tak disebut dalam berita, tak dilihat dalam layar, dan tak dianggap penting oleh siapa pun yang menulis sejarah.”
Fajar melipat kertas itu.
Ia tak menyimpannya di laci. Ia masukkan ke saku dalam jaketnya.
EXT. LOBI KANTOR – SENJA
Fajar berjalan keluar. Matahari hampir tenggelam.
Cahaya jingga menabrak gedung tinggi, memantul di kaca-kaca mewah yang dibangun di atas reruntuhan orang miskin.
Ia menatap langit, lalu berkata pada dirinya sendiri—
FAJAR (pelan) Jika besok aku diam… maka hari ini aku akan menulis seperti besok tidak pernah datang.
FADE OUT.
Judul Halaman: “Jalan Pulang Tanpa Tujuan”
EXT. JAKARTA – TROTOAR – SENJA KE MALAM
Fajar berjalan kaki. Tak ada bus. Tak ada ojek. Hanya dirinya dan langkah yang lambat.
Orang-orang berlalu-lalang.
Sebagian mengejar waktu.
Sebagian kabur dari waktu.
Fajar hanya… mengambang di antaranya.
NARASI FAJAR (V.O.) Dulu kupikir pulang adalah tempat. Sekarang, pulang cuma jeda antara lelah dan kehilangan.
Ia berhenti di depan sebuah dinding tua. Di dinding itu, mural besar bergambar wajah buruh yang sedang menangis. Di sampingnya tertulis:
“Yang Membisu, Akan Digantikan Oleh Suara Mesin.”
Fajar menyentuh cat tembok itu. Sudah mulai mengelupas.
Seperti janji lama yang akhirnya menyerah pada waktu.
INT. WARUNG KOPI SEMPIT – MALAM
Fajar duduk di bangku plastik. Di depan mejanya, kopi hitam dan nasi bungkus.
Di TV kecil, siaran berita berjalan:
PRESENTER TV (V.O.) “Pemerintah resmi menetapkan kawasan baru untuk pengembangan ekonomi nasional. Proyek ini dipastikan akan memberikan kesejahteraan untuk warga sekitar.”
Warga sekitar yang mana?
Fajar menoleh ke arah jendela.
Di luar, tukang parkir tertidur di atas kardus.
Anak-anak kecil menyanyi minta receh.
NARASI FAJAR (V.O.) Kesejahteraan... kata paling mahal, karena hanya bisa dibeli oleh mereka yang tak pernah mencicipi lapar.
INT. KONTRAKAN FAJAR – MALAM
Kamar sempit. Dinding lembab. Buku-buku berserakan.
Di dinding, foto ayahnya tergantung: berpakaian PNS, senyum tipis.
Di bawahnya, kutipan ayahnya, ditulis tangan oleh Fajar:
“Kalau kau tak bisa mengubah dunia, setidaknya kau jangan ikut menjualnya.”
Fajar menatap tulisan itu. Lama.
Lalu ia duduk, membuka laptopnya.
Membuka file baru.
Mengetik tanpa suara:
“Judul: Negeri yang Tak Pernah Mendengar”
CUT TO BLACK.
Judul Halaman: “Yang Tertinggal dari Sebuah Penggusuran”
EXT. KAWASAN PETAMBURAN – PAGI – BEKAS LOKASI PENGGUSURAN
Kamera perlahan menyapu puing-puing bangunan.
Reruntuhan seng, kasur tipis terbakar, boneka anak-anak yang setengah hancur,
dan sehelai seragam SD penuh lumpur, tergeletak di tengah jalan.
Fajar berdiri di sana. Membeku.
Di sekelilingnya hanya keheningan…
Keheningan yang tidak sunyi, tapi menjerit dalam diam.
NARASI FAJAR (V.O.) Mereka bilang ini demi kemajuan. Tapi tak seorang pun menjelaskan…Kemajuan untuk siapa?
Ia memotret. Bukan untuk berita. Tapi untuk dirinya sendiri.
Agar ingatan ini tak hilang bersama debu kota.
CLOSE-UP – KAMERA FAJAR
Gambar yang ditangkapnya buram.
Bukan karena lensa—tapi karena tangannya bergetar.
NARASI FAJAR (V.O.) Kamera ini pernah kupakai untuk meliput festival musik. Sekarang, untuk memotret reruntuhan rumah anak kecil yang tak sempat bangun.
EXT. SEKITAR LOKASI – BEBERAPA LANGKAH DARI PUING
Seorang ibu tua duduk bersandar pada tiang listrik.
Tangannya menggenggam foto usang—potret keluarga di teras rumah yang tak ada lagi.
Fajar mendekat, pelan.
FAJAR (lembut) Ibu… maaf, saya boleh duduk?
Ibu itu hanya menoleh, matanya basah, tapi ia tak menangis.
Ia hanya berkata:
IBU TUA Rumah saya di sini. Sekarang, alamatnya jadi tanah kosong. Tapi saya belum pindah, Nak. Karena hati saya masih tinggal di sini.
Fajar menunduk. Tak sanggup berkata-kata.
Ia membuka dompet, mengeluarkan uang… lalu urung.
NARASI FAJAR (V.O.) Aku benci saat dunia membuatku merasa tak berguna… Bahkan untuk sekadar membantu seseorang yang hancur.
Ibu itu tersenyum, kecil.
IBU TUA Kau wartawan, ya? Tulis saja… jangan biarkan rumah kami hilang dua kali. Sekali dari tanah, sekali dari cerita.
Fajar mengangguk.
Matanya basah.
Ia menyalakan perekam suara.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama—ia benar-benar merasa menjadi jurnalis.
FADE OUT.
Judul Halaman: “Kebenaran yang Tak Masuk Rubrik”
INT. KANTOR REDAKSI – PAGI BERIKUTNYA
Fajar masuk dengan langkah mantap.
Tangannya menggenggam rekaman suara semalam—
pengakuan, cerita, bukti hidup dari mulut seorang ibu yang tak lagi punya rumah.
Di meja redaksi, wartawan lain sibuk menulis:
tentang festival kuliner, fashion show di istana, dan penghargaan pejabat.
NARASI FAJAR (V.O.) Di kantor ini, kata “darurat” hanya berlaku untuk koneksi internet. Bukan untuk kemiskinan. Bukan untuk luka.
INT. RUANG RAPAT REDAKSI – PAGI
Fajar duduk bersama tim redaksi.
Di layar proyektor, ditampilkan outline berita hari ini.
Pak Heru berdiri di depan, memimpin briefing.
PAK HERU Topik utama kita tetap: “Optimisme Pembangunan”. Jangan terlalu keras. Kita bukan aktivis. Kita perusahaan media.
Fajar angkat tangan.
Suara pelan, tapi jernih.
FAJAR Tapi pembangunan yang Ibu itu ceritakan… adalah puing. Dan suara dia lebih jujur dari semua rilis pers yang kita terima.
Semua menoleh. Hening.
Pak Heru menatap Fajar tajam, seolah suara itu merusak keseimbangan ruangan.
PAK HERU (dingin) Fajar… kau tahu aturan mainnya. Kalau ingin tulis kisah sedih, kau bisa pindah ke blog pribadi. Kita dibayar untuk menampilkan harapan.FAJAR Harapan siapa?
Pak Heru terdiam. Lalu tersenyum samar.
PAK HERU Harapan yang bisa dijual, tentu saja.
Fajar berdiri. Perlahan.
Ia menatap seluruh ruangan—rekan kerja yang dulu ia anggap sekutu,
kini tampak seperti boneka tanpa kata.
Ia melangkah keluar dari ruangan.
Langkahnya berat, tapi tegap.
Di sakunya, rekaman itu tetap menyala.
NARASI FAJAR (V.O.) Kadang yang paling menyakitkan bukan kehilangan pekerjaan… Tapi kehilangan alasan kenapa kau mulai bekerja.
FADE OUT.
Judul Halaman: “Matahari Tak Terbit di Selatan Kota”
EXT. KAWASAN SELATAN JAKARTA – PAGI YANG SURAM
Awan kelabu menggantung seperti ancaman yang tak diucap.
Fajar berjalan menyusuri gang sempit. Bau sampah, sisa genangan air, dan suara radio tua dari balik jendela reyot menyambutnya.
Ia membawa kamera kecil dan buku catatan.
Langkahnya pelan, seperti memasuki makam yang masih bernapas.
NARASI FAJAR (V.O.) Di kota ini, pagi tidak selalu berarti cahaya. Kadang hanya berarti waktu di mana kau harus pura-pura hidup lagi.
INT. RUMAH SEMPIT – DALAM GANG – PAGI
Seorang pria muda, DENI (35), duduk di kursi plastik dengan wajah lesu.
Anaknya tertidur di lantai beralas tikar. Di dinding tergantung kertas surat penggusuran.
DENI Mas, rumah ini memang tak punya sertifikat. Tapi ini satu-satunya tempat kami bisa berteduh dari nasib.
Fajar duduk di lantai. Mendengar. Tidak mencatat, tidak menyela.
DENI (lanjut) Mereka bilang kami ilegal. Tapi anak saya lahir di sini. Istri saya meninggal di sini. Apa salah kami mencintai tanah yang bahkan tak mau menerima kami?
Fajar mengangguk pelan.
Ia menyalakan perekam. Suara Deni terdengar serak tapi dalam.
DENI (V.O.) Kami tak butuh banyak, Mas. Cuma tempat di mana kami bisa mati tanpa harus malu karena hidup.
EXT. HALAMAN RUMAH DENI – BEBERAPA SAAT KEMUDIAN
Fajar berdiri, menatap anak Deni yang masih tidur.
Di tangannya tergenggam mainan rusak—mobil-mobilan plastik tanpa roda.
NARASI FAJAR (V.O.) Kota ini membangun jalan tol di atas tidur anak-anak yang belum sempat bermimpi.Dan tiap kali aku ingin berhenti menulis… Wajah seperti itu memaksaku untuk tetap bertahan.
INT. BUS KOTA – DALAM PERJALANAN KEMBALI – SIANG
Fajar duduk diam. Jendela bus menyajikan pemandangan gedung menjulang, baliho janji, dan deretan trotoar yang lebih bersih dari hati yang membangunnya.
Ia membuka catatannya. Menulis satu kalimat:
“Ini bukan kisah sedih. Ini kenyataan yang disembunyikan dari iklan negara.”
FADE TO BLACK.
Judul Halaman: “Peta yang Tak Pernah Menggambarkan Kami”
INT. PERPUSTAKAAN UMUM – SIANG
Sunyi. Lampu redup.
Fajar duduk di depan meja kayu panjang. Di depannya terbentang peta pembangunan nasional, hasil publikasi resmi pemerintah.
Peta itu berwarna-warni: hijau untuk ruang terbuka, biru untuk infrastruktur, merah untuk kawasan ekonomi khusus.
Tapi tidak ada warna untuk mereka yang tergusur.
NARASI FAJAR (V.O.) Peta ini tak pernah menyebut nama gang tempat anak-anak kehilangan rumahnya. Tak ada simbol untuk penderitaan. Yang ada hanya koordinat—tanpa denyut nadi.
Ia mencoret-coret peta dengan pensil.
Menandai titik-titik kecil: lokasi penggusuran, lokasi bunuh diri warga, lokasi kampung yang menghilang dalam semalam.
Titik-titik itu membentuk pola.
Bukan strategi pembangunan. Tapi jejak penderitaan yang disusun rapi.
CLOSE-UP – TULISAN DI PINGGIR PETA:
“Ini bukan peta. Ini surat kematian rakyat yang ditulis dengan tinta birokrat.”
INT. PERPUSTAKAAN – BEBERAPA SAAT KEMUDIAN
Fajar membuka arsip berita lama.
Satu judul menarik perhatiannya:
“Pemuda Lulusan Cum Laude Tewas Bunuh Diri Setelah Tanah Keluarga Digusur”
Ia membaca cepat. Wajahnya tegang.
Wajah pada artikel itu… dikenalnya.
FLASHBACK – INT. KAMPUS – TAHUN LALU
Fajar dan pria dalam artikel itu pernah duduk satu bangku kuliah.
Tertawa bersama. Berdiskusi soal integritas, kebenaran, dan cita-cita membangun negeri.
PRIA ITU (DALAM INGATAN) “Kalau kita tidak punya tanah… setidaknya kita punya suara.”
Kembali ke masa kini.
Fajar menutup artikel. Matanya basah, tapi tidak menangis.
Tangannya mengepal.
NARASI FAJAR (V.O.) Satu demi satu lenyap. Tapi suara mereka belum mati.Aku harus jadi pembicara dari kata-kata yang tak sempat keluar dari mulut mereka.
INT. TOILET PERPUSTAKAAN – BEBERAPA SAAT KEMUDIAN
Fajar berdiri di depan cermin. Menatap dirinya lama.
FAJAR (pelan) Kalau aku diam… aku akan ikut dikuburkan dalam peta ini.
Ia basuh wajahnya.
Lalu keluar—membawa peta yang sudah ditandai dengan penderitaan yang tak diundang.
FADE OUT.
Judul Halaman: “Headline yang Tak Pernah Terbit”
INT. KAMAR KONTRAKAN FAJAR – MALAM
Lampu temaram. Jendela dibiarkan terbuka, membiarkan angin kota yang basah masuk tanpa izin.
Fajar duduk di lantai. Di hadapannya: laptop menyala, secangkir kopi dingin, dan rekaman suara ibu tua dari penggusuran yang masih terus berputar.
IBU TUA (V.O.) “Kalau bisa, Nak… tolong jangan tulis saya sebagai korban. Saya hanya ibu rumah tangga… yang kehilangan rumah.”
Fajar menutup rekaman.
Ia mulai mengetik. Jemarinya seperti menari di atas luka:
TULISAN FAJAR (di layar): “Mereka tak meminta ganti rugi. Mereka hanya ingin hidup tanpa dihitung sebagai gangguan ekonomi.”
INT. KANTOR REDAKSI – HARI BERIKUTNYA – PAGI
Fajar masuk membawa flashdisk.
Ia duduk di meja kerjanya. Matanya merah, tapi isinya penuh tekad.
Ia kirim file berita ke folder redaksi, lalu mencetak salinannya.
CLOSE-UP – PRINTER MENGELUARKAN KERTAS:
JUDUL: “Yang Tergusur dan Tak Pernah Dianggap Ada” Penulis: Fajar Mahardika
Ia bawa print-out itu ke meja Pak Heru.
FAJAR Ini berita utama hari ini. Kalau tidak bisa naik cetak… saya akan kirim ke publik langsung.
Pak Heru membaca sekilas. Lalu tersenyum.
Senyum yang kaku dan berbahaya.
PAK HERU Fajar… Kau pintar menulis, tapi terlalu keras kepala untuk hidup di dunia nyata.
Fajar diam.
PAK HERU (lanjut) Kau tahu berapa banyak iklan pemerintah di media ini? Naikkan berita seperti ini… berarti mematikan perusahaan. Termasuk gaji teman-temanmu.
Fajar meletakkan berkas di meja. Tidak menjawab.
Ia berbalik, keluar dari ruangan, meninggalkan pintu terbuka.
INT. RUANG PRINTING – BEBERAPA MENIT KEMUDIAN
Fajar menyalakan printer besar. Ia cetak berkasnya sendiri.
Tumpukan kertas keluar satu per satu, seperti selebaran dari masa depan yang ditolak hari ini.
NARASI FAJAR (V.O.) Mungkin headline ini tak akan pernah terbit. Tapi jika esok tak datang… setidaknya aku sudah bicara.
EXT. JALANAN KOTA – MALAM
Fajar mulai menyebarkan kertas itu ke tiang listrik, halte bus, dan papan pengumuman.
Setiap tempelan adalah bentuk perlawanan.
FADE OUT.
Judul Halaman: “Suara dari Lorong-Lorong Kota”
EXT. LORONG KOTA – MALAM
Lampu jalan berkedip seperti ingin padam, tapi dipaksa tetap hidup.
Fajar menyusuri lorong sempit, menempelkan satu persatu berita cetak yang ia tulis sendiri.
Wajah-wajah warga mulai muncul dari balik jendela.
Seorang bapak tua membuka pintu warungnya, membaca sekilas selebaran itu.
BAPAK TUA (pelan) Akhirnya ada yang menulis kita…
Fajar tersenyum kecil.
Tidak membalas. Hanya mengangguk—seolah ingin berkata, “Saya hanya menyampaikan apa yang sudah kalian rasakan sejak lama.”
EXT. TEMPAT SAMPAH UMUM – MALAM
Di dekat tong sampah, Fajar melihat selembar majalah terbuang.
Cover-nya bergambar pejabat tersenyum dengan judul besar:
“Menuju Indonesia Emas 2045”
Ia memungut majalah itu. Menatapnya.
Lalu, tanpa ragu, ia tempelkan kertas beritanya tepat di atas wajah pejabat itu.
CLOSE-UP – DUA LAPIS KERTAS:
Atas: “Warga Didepak Demi Taman Kota”Bawah: Senyuman palsu seorang yang tak pernah tahu harga sewa kontrakan.NARASI FAJAR (V.O.) Negeri ini tak kekurangan ruang untuk taman. Yang kurang… adalah tempat untuk manusia tinggal tanpa takut terusir.
INT. KAMAR ANAK KOST – MALAM
Seorang mahasiswa membaca selebaran Fajar. Ia memotretnya, membagikan ke media sosial.
Caption-nya:
“Berita yang lebih nyata dari headline koran hari ini.”
EXT. JEMBATAN LAYANG – SUBUH
Selebaran itu kini sudah bertebaran di banyak sudut kota.
Beberapa warga mulai membicarakannya.
Di warung kopi, di becak, di musala kecil, di pinggir rel.
INT. KONTRAKAN FAJAR – SUBUH
Fajar duduk, memegang ponselnya.
Notifikasi masuk—ratusan.
Pesan dari orang-orang yang membaca tulisannya.
PESAN MASUK: “Saya juga pernah digusur, Mas.” “Terima kasih sudah menulis ini.” “Akhirnya ada yang bicara untuk kami.”
Fajar meletakkan ponsel.
Ia menatap ke luar jendela.
Langit masih gelap, tapi…
ada secercah cahaya yang mulai merayap dari timur.
NARASI FAJAR (V.O.) Suara… seperti air. Kalau tak bisa ditahan, ia akan mencari celah untuk keluar.Dan malam ini… celah itu terbuka.
FADE TO BLACK.
Judul Halaman: “Pertemuan yang Tak Direncanakan”
INT. KEDAI KOPI TUA – SIANG
Langit di luar mendung, seperti hendak menangis tapi tertahan.
Di dalam kedai sempit, Fajar duduk sendiri di pojok, buku catatan dan kamera kecil ada di atas meja.
Ia menyeruput kopi yang pahitnya terasa seperti kenangan.
Ia tidak sedang menulis. Ia sedang menunggu. Tapi tidak tahu siapa.
Pintu berbunyi.
Masuk seorang perempuan muda, NURUL (28), mengenakan jilbab polos dan tas kain yang penuh stiker protes pendidikan.
Matanya cepat menangkap Fajar.
Ia menghampiri tanpa basa-basi.
NURUL Mas Fajar? Saya Nurul. Guru honorer. Saya baca tulisan Mas. Di tiang listrik depan sekolah saya. Itu bukan berita biasa.
Fajar bangkit, menjabat tangannya dengan gugup dan hormat.
FAJAR Terima kasih… saya tak menyangka ada yang membacanya.
Nurul duduk.
Keduanya saling pandang, canggung tapi hangat—seperti dua orang yang pernah punya luka yang mirip, tapi belum tahu bagaimana cara membicarakannya.
NURUL Saya bukan aktivis. Tapi saya kehilangan banyak murid karena sistem yang mengusir mereka pelan-pelan. Dan tulisan Mas… Itu seperti suara yang saya pendam terlalu lama.
Fajar membuka buku catatannya.
FAJAR Apa Ibu bersedia cerita? Saya tak janji bisa bantu… Tapi saya bisa dengar. Dan menulis.
Nurul tersenyum, kecil tapi kuat.
NURUL Kalau kita tak punya panggung… Mungkin kita harus menciptakan suara yang cukup nyaring agar tak bisa diabaikan.
INT. KEDAI – BEBERAPA SAAT KEMUDIAN
Kamera berputar pelan.
Kopi menghangat, pena mulai menari di atas kertas.
Dua manusia yang sebelumnya asing, kini sedang menyatukan potongan-potongan luka menjadi cerita yang mungkin bisa menyelamatkan yang lain.
NARASI FAJAR (V.O.) Kadang kebenaran tidak butuh massa. Cukup dua orang yang tak takut kehilangan—asal tak kehilangan hati.
FADE TO BLACK.