Cuplikan Chapter ini
Waktu yang dilalui warga Desa Samartani menjadi detik-menit-jam-hari-hari sebuah kecemasan di antara rutinitas keseharian mereka Wajah-wajah gelisah ketakutan setiap hari menjadi hal yang sering terlihat oleh satu sama lain di Desa Samartani Mereka belum bisa mengantisipasi apabila asap hitam pekat yang bisa berubah bentuk itu kembali datang menyatroni desa rumah-rumah pasar dan lahan tempat mereka bercocok tanamSementara itu di dekat gubuk keluarga Saiang-Hasyima Binar dan Ranib dudu