Cuplikan Chapter ini
Mulut yang berpikir lebih baik daripada otak yang diam Mulut Binar tak henti mengulang-ulang kalimat itu selagi tubuhnya bergerak bermain sendirian Hamparan asri persawahan hijau meliputi gubuk sederhana di mata kaki sebuah gunung Ada air terjun yang senantiasa bagai diliputi kabut terlihat samar-samar dari kejauhan Di pekarangan gubuk itu Binar bersimpuh menyusun bebatuan sedemikian rupa hingga bentuknya sesuai dengan imajinasinya sementara mulutnya masih mengulang-ulang kalimat itu