1. Causa Finalis: Berasal dari teori empat sebab (Four Causes) Aristoteles, yang berarti "sebab tujuan" atau tujuan akhir mengapa sesuatu diciptakan dan diarahkan.
2. Crony Capitalism (Kapitalisme Kroni): Sebuah sistem ekonomi di mana kesuksesan dalam bisnis bergantung pada kedekatan (kolusi) antara pelaku usaha (konglomerat) dengan aparatur pemerintah. Keuntungan diraih melalui pemberian izin khusus, konsesi monopoli, dan kebijakan pajak yang diskriminatif, bukan melalui persaingan pasar yang sehat.
3. Paradox of Plenty (Paradoks Kelimpahan/Kutukan Sumber Daya): Fenomena ekonomi-politik di mana negara-negara dengan kekayaan sumber daya alam yang berlimpah (seperti tambang dan gas) paradoksnya cenderung mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, korupsi yang tinggi, serta tingkat kemiskinan warga lokal yang lebih buruk dibandingkan dengan negara tanpa sumber daya alam.
4. Rasio Gini Penguasaan Lahan: Indikator statistik yang mengukur tingkat ketimpangan atau kesenjangan dalam kepemilikan dan penguasaan tanah di suatu wilayah. Semakin mendekati angka 1, semakin menunjukkan bahwa tanah hanya dikuasai oleh segelintir kelompok minoritas (monopoli).
5. Akumulasi Primitif (Primitive Accumulation): Konsep dari teori ekonomi politik Karl Marx yang menjelaskan proses awal lahirnya kapitalisme, di mana kekayaan dipusatkan ke tangan segelintir pihak dengan cara merampas hak milik produsen kecil (seperti petani atau masyarakat adat), memisahkan mereka dari tanahnya (sarana produksi), dan memaksa mereka menjadi buruh upahan.