Cuplikan Chapter ini
Laura duduk di halte kecil dekat kantor memandangi cahaya sore yang mulai memudar Hari itu terasa panjangbukan karena pekerjaan tetapi karena pikirannya terus terbelah dua antara Rafael yang selalu hadir dengan tulus dan Arvin yang entah bagaimana muncul seperti potongan takdir yang tak bisa ditolakPonselnya bergetarPesan dari ArvinAku ada di dekat kantormu Boleh bicara sebentarLaura menggigit bibirTegasnya Arvin bukan seperti cowok agresif dia lebih seperti orang yang tah