Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Charlotte Diana
charlottedeeana
543 Pengikut
Mengikuti
Prianti
prianti11
Temuosohan
temuosohan
Mega permata sari
megantara
Okhie vellino erianto
okinoojoeng
Fraelis Melinda Risamena
fraelis28
krkawuryan
krkawuryan
Ahmad Dodon Yustama
dodonutama
ani__sie
ani647
Chamim Rasidin
panggilajacak
Ahmad Ramdani
chadnova
ulfa Auliya Fitri
auli08
Kharisma deana
kharisma78
HANA PUSPARINI
hanapusparini
Robi Togar Manulang
robimanulang
Dwiwulan Margahayu
lanlan
Lucky Star
luckystar
derai.
derai42
Tri Marenka
trimarenka11
Ismawati
ismaawtiiii
dimas elang
dimas76
Margin
Aliurridha
Ini seperti memasak sup ayam. Mula-mula perlu menyiapkan kaldunya dulu sebagai inti. Setelah kaldunya jadi, saatnya menumis bawang putih. Dilanjut dengan memasukkan wortel, kentang, kol, daun bawang, seledri, dan biji pala. Bagian klimaksnya yaitu dengan koreksi rasa menggunakan garam serta gula. Terakhir sekaligus antiklimaksnya dengan menaburkan brambang goreng. Sayangnya, Margin lebih dari sekadar sup ayam. Plotnya diramu pelan-pelan di bab awal sampai pertengahan dengan bahasa yang tajam, tetapi santai. Di tiga perempat bagian cerita, menjadi titik krusial yang menjelaskan segalanya hingga ke bagian ending. Margin - sebuah catatan harian yang dikarang, tetapi meyakinkan!
Odik Teros
Yesno S
Setiap kata yang tertuang di sepanjang plot, menunjukkan bahwa penulis Odik Teros adalah seorang pujangga. Pujangga ini juga memiliki ciri khas dalam menyajikan tulisan, di mana kalimat yang dirangkai, terdengar memiliki intonasi yang mewarnai perjalanan kisah Pak Odik beserta istrinya. Pemilihan tema serta jalannya cerita yang down to earth pun, membuat pesan yang tersirat tetap masuk ke hati pembaca. Bahkan, terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan terakhir, pesan moral dalam novel ini, mengingatkan pembaca bahwa Urip iku Urup. SEMANGAT!!
Tabu di Tanah Tuba
Ariyanto
Rasa penasaran saya ternyata lebih besar dari ketakutan saya utk membaca novel ini, sehingga akhirnya saya sanggup menyelesaikan proyek membaca Tabu di Tanah Tuba sampai bab terakhir. Ya, di 3 bab pertama, saya memang takut. Atau lebih tepatnya, tak sampai hati membaca kisah pilu bocah-bocah yang tertolak hanya karena mengidap HIV. Namun, tak dipungkiri, mereka memang ada. Nyata. Dan tak pantas diabaikan begitu saja. Baik, tantangan bagi setiap penulis dalam menulis cerita adalah menciptakan tokoh dengan karakter yang kuat. Dalam hal ini, Mas Ariyanto-menurut saya-berhasil membuat Wira menjadi tokoh yang sulit dilupakan. Karakternya begitu menonjol, tetapi tidak berlebihan (seperti halnya manusia, karakter Wira tidak 100% sempurna. Ada sisi kelemahannya). Didukung pula dengan plot cerita yang sederhana, tetapi dibenturkan dengan konflik yang lebih dari sekadar biasa. Over all, ini adalah contoh novel yang menginspirasi. Good luck kak Ariyanto.