SCENE 5
LATAR: RUMAH ANDINI (RUMAH PANGGUNG DEKAT PANTAI BERUKURAN SEDANG)
EXT.PEKARANGAN RUMAH ANDINI
Tama menutup pintu mobilnya lalu berjalan menuju rumah panggung yang sepi. Pintunya tertutup dan dari dalam tidak ada suara apa pun. Lampu terasnya juga tidak hidup. Tama mengedarkan pandangannya di sekitar rumah dengan tangan saling bertaut, bertanya-tanya apakah tidak ada orang di rumah. Setelah itu, Tama berjalan ke teras rumah.
CUT TO
SCENE 6
EXT.TERAS RUMAH ANDINI
Tama berjalan ke depan pintu yang tertutup rapat. Ia menaikkan kepalan tangannya ke pintu beberapa kali, hendak mengetuk. Tapi ragu-ragu. Tama memejamkan mata dan menyemangati dirinya sendiri.
Tama (VO)
Ayo, kamu pasti bisa, Tama!
Tama membuka matanya lalu mengetuk pintu tiga kali dengan tekad yang bulat. Tama menunggu sambil menghitung dalam hati. Berharap si gadis yang membuka pintunya.
Tiga menit kemudian, karena tidak ada yang keluar, Tama kembali mengetuk pintu tiga kali. Kali ini sedikit lebih keras. Tama kembali menunggu tuan rumah keluar.
JUMP CUT TO
Sepuluh menit menunggu, Tama memutuskan untuk menyerah. Ia ingin pulang. Ketika Tama hendak membalikkan badan menuju mobil, tiba-tiba pintu rumah dibuka. Tama melihat seorang lelaki separuh baya dengan kaus putih dan celana panjang di hadapannya.
CUT TO
SCENE 7
EXT. DI TERAS RUMAH ANDINI. FOKUS KE DUA TOKOH DI DEPAN PINTU
Seorang lelaki separuh baya yang mengenakan kaus putih dan celana panjang menyambut Tama. Ia berdiri di ambang pintu sambil menatapi Tama dengan tatapan curiga.
Ayah Andini
(nada curiga) Siapa, ya?
Tama
(ekspresi wajah terkejut) Sore... (nada ragu) Om. Saya Tama. Saya tinggal di ujung jalan sana. (menunjuk arah rumahnya)
Ayah Andini
Sore. Ada yang bisa saya bantu, Tama?
Tama
Saya... (tersadar bahwa ia tidak tahu nama si gadis, lalu terlihat sedikit panik dan berusaha menutupinya dengan kembali bersikap ramah) Saya mencari... anak Om. Apakah dia di rumah?
Ayah Andini
(mengerutkan kening, bingung) Anak saya? Siapa?
CUT TO
Tama terdiam dan tersenyum canggung. Diam-diam Tama memandangi isi rumah dari balik pundak Ayah Andini. Saat menemukan foto keluarga tergantung di dinding, ekspresi wajahnya terlihat sangat lega.
Tama
Um... Dia, Om. (menunjuk foto si gadis yang terpajang di foto keluarga dengan percaya diri)
Ayah Andini menoleh ke arah jari telunjuk Tama. Setelah mengerti maksud Tama, ia lalu kembali memutar kepala, memandang Tama dengan gerakan cepat.
Ayah Andini
Dari mana kamu kenal Andini? (tatapan menyelidik, nada menginterogasi)
CUT BACK TO
Tama merasa risih dan gelisah karena pandangan Ayah Andini. Telapak tangannya yang tadinya bertaut kini berkali-kali merapikan kerah kemejanya yang sudah rapi.
Tama
(menelan ludah, mencoba terdengar tenang) Dua minggu yang lalu, saat Om dan keluarga pindah ke sini... (melirik langit yang mulai menggelap)
Maaf, Om. Boleh saya ketemu Andini? Saya ingin mengajaknya ke pantai untuk melihat laut dan sunset. (dengan nada tegas sambil tersenyum sopan)
CUT TO
Ayah Andini
(membuka pintu lebih lebar, lalu menyilangkan lengan) Saya tanya, dari mana kamu kenal Andini? (dengan nada lebih tegas dibanding pertanyaan sebelumnya)
Tama merasa jengkel kepada Ayah Andini yang seperti mengulur waktu. Akan tetapi ia berusaha kembali bersikap ramah, untuk menjaga kesan baiknya pada Ayah Andini.
Tama
(tetap tenang dan mengulangi jawabannya) Dua minggu yang lalu, saat Om--
Ayah Andini
(memotong perkataan Tama sebelum ia selesai bicara) Saya tanya... (suara mengeras dan ekspresi wajah marah) DARI MANA KAU KENAL PUTRIKU YANG MENGHILANG DARI TIGA TAHUN YANG LALU?!
Tama terlihat sangat shock. Dia merasa bingung dan tidak paham akan perkataan Ayah Andini.
Tama
(memiringkan kepalanya sedikit. Ekspresi wajah bingung) Maaf Om, apa maksudnya Andini sudah menghilang selama tiga tahun? Nggak masuk akal sekali. Baru minggu lalu saya dengar Andini bicara di dalam kamarnya, kalau dia ingin lihat laut... Saya juga... (terdiam)
Tiba-tiba Tama merasa sakit kepala yang luar biasa. Ayah Andini di hadapannya terlihat bergoyang. Saat ia akan ambruk, sakit kepalanya mendadak hilang. Ia melihat ayah Andini masih memandanginya dengan tatapan tajam.
CUT TO
Ayah Andini tidak melepaskan pandangannya dari Tama, ingin memastikan apakah Tama jujur atau tidak. Setelah memastikan kejujuran Tama, ekspresi wajah Ayah Andini melunak. Nada bicaranya kembali seperti biasa.
Ayah Andini
Oh... Kau mendengar rekaman suara yang kami putar minggu lalu, ya?
Tama
(masih bingung) rekaman...?
CUT TO
EXT. DI TERAS RUMAH ANDINI, SHOT DARI BELAKANG TAMA - Petang, hari mulai gelap
Ayah Andini masuk sebentar ke dalam rumah, lalu lampu teras menyala. Refleks, Tama melihat langit yang kini telah biru tua sepenuhnya. Matahari telah menghilang. Ketika Ayah Andini muncul kembali, kini ia keluar ke teras rumah.
Ayah Andini
(Duduk di kursi yang ada di teras) Duduk dulu, anak muda. (gerakan tangan mempersilakan)
CUT TO
SCENE 8
EXT. DI TERAS RUMAH ANDINI
Ayah Andini telah duduk di salah satu kursi yang ada di teras. Tapi Tama masih berdiri. Ia ragu untuk duduk karena ia merasa ayah Andini mencurigainya.
Ayah Andini
(tersenyum ramah) Mari duduk. Biar saya ceritakan, pertama-tama, apa alasan saya pindah ke daerah ini.
CUT TO
SCENE 9
EXT. DI TERAS RUMAH ANDINI (CONT'D)
Tama duduk di kursi di hadapan ayah Andini dan mendengar dengan seksama seluruh cerita yang mengalir dari mulut ayah Andini tanpa menanggapi.
Ayah Andini
(menghela napas panjang) Tiga tahun lalu, Andini datang, liburan ke daerah ini bersama teman-temannya. Mereka di sini selama lima hari empat malam, karena ingin merayakan kelulusan SMA.
(mata menerawang jauh) Sebelumnya, Andini dan teman-temannya itu memang sering pergi liburan bersama, dan selalu tidak ada masalah. Saya terbiasa menanamkan kepercayaan kepada anak saya sejak dia masih kecil, agar dia tahu arti tanggung jawab.
Tama mengangguk-angguk kecil. Ia terus mendengarkan cerita ayah Andini tanpa menyela.
Ayah Andini (VO)
Di pagi hari kepulangan mereka, saya menghubungi hp Andini, tapi tidak dijawab. Saya menghubungi salah satu temannya, dan dia bilang mereka sudah di jalan pulang.
INSERT: Suasana di mobil teman-teman Andini saat ayah Andini menelepon mereka.
Ayah Andini
Saya tidak tahu kenapa mereka tidak bilang saat itu, kalau Andini tidak ikut pulang dengan mereka dan berencana untuk pulang terpisah... Mereka baru mengabari saya sore harinya, ketika mereka sudah sampai di depan rumah saya. Mereka memberikan saya rekaman itu, dan meyakinkan saya kalau Andini akan pulang terlambat karena teman barunya di daerah nelayan mengajaknya pergi melihat ikan yang berlompatan... (menelan ludah)
Saya menunggu sampai keesokan harinya, tapi Andini tidak kunjung datang.
Ayah Andini (VO)
Di hari ketiga setelah teman-temannya pulang, hp-nya yang sebelumnya masih tersambung saat ditelepon, meskipun tidak diangkat, saat itu tidak aktif lagi. Saya memutuskan untuk lapor polisi. Polisi pun melaksanakan penyelidikan ke daerah ini tapi nihil.
INSERT: Keadaan tiga tahun lalu, ayah Andini merasa cemas saat operator langsung menjawab teleponnya, mengatakan bahwa hp Andini tidak aktif.
INSERT: ayah Andini mengemudi mobil ke kantor polisi dan melapor anaknya telah hilang dengan wajah tegang.
INSERT: Penyelidikan polisi di daerah nelayan.
CUT BACK TO
EXT. DI TERAS RUMAH ANDINI - Malam hari
Tama mengerutkan dahinya saat mendengar bahwa polisi pernah datang untuk menyelidiki kasus orang hilang.
Tama
Maaf, Om, saya sela sebentar. Tadi Om bilang, tiga tahun yang lalu polisi pernah datang ke sini untuk menyelidiki tentang hilangnya Andini? (dengan nada tidak mengerti)
Ayah Andini
Betul. Apa kamu tahu sesuatu?
Tama
Apa mungkin, Om tahu siapa nama teman baru Andini di sini? Mungkin saya bisa bantu jika tahu namanya.
Ayah Andini
(menggeleng dengan ekspresi muka menyesal) Sayangnya, tidak ada yang tahu siapa namanya.
Tama
Tiga tahun yang lalu itu... (berusaha mengingat-ingat)
Tama ingin mengatakan sesuatu kepada ayah Andini. Tapi karena dia sendiri tidak yakin dengan apa yang akan dikatakannya, dia mengurungkan niatnya.
Tama
Haha.. (tertawa canggung sambil menggaruk rambut di atas telinga kanannya) tidak ada yang penting, Om. Silakan dilanjutkan ceritanya.
Ayah Andini
Yah.. Karena penyelidikan polisi pun tidak membuahkan apa-apa, akhirnya saya memutuskan untuk datang sendiri ke sini. Untuk mencari anak saya dan mengumpulkan petunjuk sekecil apa pun itu. Saya memutar rekaman itu setiap hari, dengan harapan saya bisa mendengar suara orang lain atau melihat sesuatu yang terlewatkan sebelumnya...
(tersentak karena tersadar) Ah! Saya minta maaf karena sudah menyebabkan kesalahpahaman. Kamu malah mengira Andini ada di sini, sampai rapi-rapi begini. (tersenyum dengan rasa bersalah)
Tama
Tidak, Om. Saya yang minta maaf karena menguping dan berasumsi sesuka hati saya. (melihat ke langit yang menghitam)
Sepertinya malam sudah larut, saya permisi pulang dulu, Om. Jika Om butuh bantuan saya, saya akan bantu apa pun yang saya bisa. (berdiri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman sambil tersenyum ramah)
Ayah Andini
(ikut berdiri lalu menjabat tangan Tama dengan hangat) Terima kasih, Tama. Senang rasanya ada warga sini yang mau membantu saya.
CUT TO
SCENE 10
EXT. PEKARANGAN RUMAH ANDINI (Cont'd)
Tama berpamitan kepada ayah Andini lalu berjalan menuju mobilnya. Tama masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.
CUT TO
EXT./INT. DI DALAM MOBIL TAMA
Tama menyalakan mesin mobil, lalu melambaikan tangannya kepada ayah Andini yang berdiri di pekarangan rumah. Ayah Andini membalas lambaian tangannya, lalu mobil Tama pun menjauh dari rumah Andini.