Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Skala Manusia
Suka
Favorit
Bagikan
5. ACT 2 SEQUENCE 5

63. EXT. GEDUNG KEDOKTERAN - ATAP TERBUKA — SIANG

15 MINGGU KEMUDIAN

Eril berjalan diam-diam mendekati Fiki yang berdiri di sisi Gedung berdinding 1 meter menatap ke depan. Dengan dua tangan setengah mengangkat, Eril mengejutkan Fiki.

Fiki berteriak takut jatuh.

Eril tertawa lepas berdiri di samping Fiki menghadap ke depan.

FIKI

(tersenyum)

Eril! Lo benar-benar ya.

ERIL

(tawanya mereda)

Gue cari-cari di perpus, ternyata lo ada disini lagi.

FIKI

Gue lagi menjernihkan pikiran aja, biar lebih tenang buat ujian besok. Gue enggak bisa fokus kalo lagi jenuh belajar. Gue butuh jeda buat istirahat.

Mereka menghadap dan menatap ke depan.

ERIL

Ohhh. (jeda) Enggak kerasa ya, kita kuliah udah hampir satu semester.

FIKI

Iya.

ERIL

Lihat semua bangunan itu. Kota ini kayaknya sudah terlalu padat buat ditempati. Di sana gedung bertingkat dan modern, di sisi lain ada perumahan kumuh beratapkan seng (menunjuk bangunan). Gue rasa, mereka kesulitan dengan hidup mereka.

Fiki menoleh Eril, kemudian kembali memandang ke depan.

FIKI

Iya, mungkin beberapa diantara mereka kesulitan. Yaa, begitulah hidup, memang tidak pernah seimbang. Ada kalanya kita di permukaan mengambil napas sesukanya, atau di dasar-bertahan dengan apa yang ada.

Eril menoleh Fiki tersadar perkataannya sedikit mengangguk-ngangguk.

ERIL

(penasaran)

Fik, sebenarnya ada hal yang janggal bagi gue. Gue mulai ngerasa banyak ingatan gue yang hilang. Terutama sejak pindah ke kota ini, SMA di sini. Kayak, semuanya berlalu gitu aja. (jeda) Tapi ada yang samar-samar gue ingat. Seseorang yang selalu gue perhatiin di kelas. Dia perempuan. Rambutnya diikat. Pergelangan tangannya warna-warni, entah apa itu. Gue enggak ingat wajahnya. Aneh ya?! Apa yang terjadi sama gue?

Fiki bereaksi dengan tatapan terkejut menebak-nebak.

ERIL

Dua bulan yang lalu, gue menemukan catatan harian gue di lemari, tapi tulisannya berakhir di tanggal sebelum gue pindah ke sini. (jeda) Gue yakin pasti menulis keseharian gue di catatan, tapi enggak ada kelanjutannya di sana. Atau mungkin, gue nulisnya di catatan baru?! (melotot tersadar)

FIKI

Catatan?

ERIL

(menggebu-gebu)

Iya, catatan harian. Setiap ada momen yang menyenangkan atau menyakitkan—selalu gue tulis di sana. Aya.. (menyesal) maksud gue, seseorang pernah bilang, punya catatan harian bisa membuat lo merasa jauh lebih baik. Karena jika pun kita enggak punya seseorang untuk bercerita, setidaknya kita bisa menulisnya.

FIKI

Emmm. Ril, lo bener-bener enggak punya teman selain gue?

Eril menatap kecewa ke depan.

ERIL

(kecewa)

Itu dia. Dulu gue punya banyak. (jeda) Seperti yang pernah gue bilang. Gue trauma. Bisa dibilang, rasa kepercayaan gue terhadap pertemanan, udah memudar. Makanya gua putusin bikin batasan.

FIKI

(penasaran)

Terus, kenapa lo mau temanan sama gue?

ERIL

Emmm. Karena, sesuka-sukanya manusia hidup sendiri, mereka pasti butuh seseorang. Dan juga, karena terus-menerus sendirian itu benar-benar menyedihkan, bukan?!

Fiki tertegun menatap Eril, berterima kasih.

CUT TO:

64. INT. RUMAH BELLA - KAMAR BELLA — SIANG

Di meja belajar, Bella menutup bukunya. Meregangkan pinggangnya. Ia membaringkan tubuhnya di kasur, menghembus, melamun sesaat ke langit-langit.

BELLA (V.O.)

Melihatnya setiap kuliah, perasaanku tidak tenang sampai sekarang. Aku jadi kurang aktif di kelas. Tatapannya padaku masih terasa asing. Ini udah akhir semester, dan situasi masih sama selama kita satu kelas. Dia benar-benar tidak pernah berbicara padaku sama sekali.

BELLA

Apa aku yang harus memulainya? Tapi aku terlalu malu dan takut. Tapi, aku tidak bisa tenang jika terus seperti ini. Aku harus meluruskannya.

Bella menggeleng-geleng takut dan kesal pada dirinya.

BELLA

(sedikit ragu dan percaya diri)

Apa aku harus mencobanya besok?! tiga hari lagi Ujian Akhir Semester selesai, dan libur beberapa minggu. Hmmm, oke. Aku akan memberanikan diri. Juga sebaiknya aku mengembalikan catatannya.

Bella mengambil catatan Eril di rak buku dan memasukkannya ke tas, ekspresinya berharap.

Ia melihat kotak gelangnya di meja. Membukanya dan terlihat gelang pemberian Eril berada diantara gelang-gelang warna-warninya.

Bella kembali berbaring, mengangkat tangan kirinya menutupi cahaya lampu ke wajahnya.

INSERT:

Tulisan di gelang itu: Kamu pasti bisa, jangan pernah menyerah.

CUT TO:

65. INT. GEDUNG KEDOKTERAN - KELAS — SIANG

Bella mememasuki kelas menuju kursinya di belakang, mencuri-curi pandang Eril satu baris di depannya.

JUMP CUT TO:

Ujian dimulai.

Bella sesekali melihat Eril. Gelisah memainkan pulpen diatas lembar ujian, kakinya tidak bisa diam.

BELLA (V.O.)

(bimbang, pesimis)

Apa yang harus aku katakan padanya nanti? Bagaimana jika akan semakin menyakitiku setelahnya? Bagaimana ini. (menggigiti bibirnya) Jangan takut lagi Bella, lakukan saja (mengangguk).

JUMP CUT TO:

Ujian selesai.

Bella memasukkan peralatan tulisnya ke tas sambil melihat Eril yang berjalan keluar kelas bersama Fiki.

CUT TO:

66. INT. GEDUNG KEDOKTERAN - LORONG, LUAR KELAS — SIANG

Bella menengok kanan-kiri mencari Eril. Ia melihat Eril berjalan bersama Fiki ke arah kiri. Ia menarik napas panjang, sangat gugup, kemudian berlari kecil mengejar Eril.

BELLA

(gugup, takut)

Eril! (menarik tangan kanan Eril).

Eril berbalik, wajahnya datar dan geram. Menghempaskan tangan Bella tanpa perasaan.

Bella terkejut akan perbuatan Eril.

BELLA

(agak marah, geram, takut, sedih)

Kamu kenapa sih? Kenapa kamu jadi bersikap seperti ini? Kenapa kamu tiba-tiba berubah? Maksud kamu apa? Aku salah apa? Apa karena perempuan itu kamu jadi jijik melihatku?

ERIL

(mengerutkan dahi keheranan, kesal)

Hahh?!

BELLA

(kesal, sedih berkaca-kaca)

Ternyata kamu lebih jahat dari yang pernah aku bayangkan. Kamu tahu, apa yang kamu lakukan itu menyedihkan.

ERIL

(kesal dan marah)

Gue engga ngerti ap yang lo maksud?! Lo gila apa?! Jangan mengada-ngada. Emang apa yang pernah terjadi sama kita? (jeda) Lo tahu, gue benci orang-orang sok kenal kayak lo.

Bella terperangah tak bisa berkata-kata. Air matanya mulai menggenang. Bella menunjuk Eril dengan tangan kiri tak bisa berkata dan tak percaya.

Eril melihat gelang hitam di tangan Bella. Bella berbalik, berlari menjauh menangis. Eril terdiam menatap kepergian Bella.

ERIL

Kenapa dia punya gelang yang sama seperti yang gue buat? (berbisik)

Fiki terdiam kebingungan agak belakang Eril.

FIKI (V.O)

Apa perempuan yang Eril maksud kemarin adalah, Bella? Rambut yang selalu diikat dan gelang warna-warni di tangannya.

Fiki membuka matanya seakan menyadari sesuatu.

Eril merasakan orang-orang memandanginya. Ia kesal, berbalik dan berjalan cepat menunduk.

Fiki mengikuti Eril sambil sesekali melihat ke arah perginya Bella.

CUT TO:

67. INT. SISI JALAN - DALAM MOBIL — SIANG

SFX: SUARA HUJAN SEDANG.

Bella duduk di kursi sopir, menyandar menyikap tangannya, memandangi dedaunan pohon yang bergoyang karena angin hujan sore melalui kaca mobil sampingnya.

BELLA (V.O.)

(sendu, kecewa)

Hari ini menjadi hari yang paling menyakitkan dalam hidupku. Karena seorang laki-laki yang kukira berbeda, dan kusadari aku benar mencintainya. (jeda) Ucapannya sangat menusuk hatiku. Terus terbayang dikepalaku berulang-ulang. (jeda) Kenapa aku masih saja berharap padanya?! Apa aku terlalu bodoh?!

Memperhatikan air hujan yang bergulir di jendela, Bella mulai menitihkan air mata.

BELLA (V.O.)

(geram, sedih, tegar)

Sudah seharusnya sejak awal aku terus menghindarinya, terus menghiraukannya, dan menolak ajakannya hari itu.

Bella menatap langit yang gelap melaui kaca depannya.

BELLA (V.O.)

Seperti inikah akhirnya? Karena memang sudah semestinya, perasaanku untuknya tidak pernah ada.

CUT TO:

68. INT. RUMAH ERIL - KAMAR ERIL — SIANG

SFX: HUJAN.

Eril membuka kotak kecil di mejanya. DALAM KOTAK ITU ADA BEBERAPA GELANG. Eril mengangkat gelang yang sama dengan yang ada di pergelangan tangan Bella.

ERIL

(penasaran, kesal)

Bagaimana bisa dia punya gelang yang sama persis denganku? Apa dia sengaja membuatnya? Tapi tidak mungkin. Aku membuat gelang ini secara khusus hanya dua buah, dan satu lagi ada di Mira. Tapi aku tidak pernah melihat Mira memakainya. Dan bagaimana Bella tahu tentang Mira? Apa dia sampai memata-mataiku? Dia benar-benar perempuan aneh.

Eril menyalakan ponsel dan membuka ruang pesan pada Mira.

ERIL

Masih belum dibalas. Padahal sudah dua minggu sejak ibunya meninggal. Mungkin dia masih butuh waktu menenangkan dirinya sendirian.

SFX: SUARA PERUTNYA KELAPARAN.

69. INT. RUMAH ERIL — SIANG - MONTAGE

  1. Di dapur, Eril membuka tudung saji di meja makan. Hanya ada sebiji telur ceplok dan sedikit nasi keras di mangkuk. Ia tertegun sedih.
  2. Ia duduk, menaburi garam di mangkuk yang berisi nasi keras dan setengah telur. Ia melahapnya dalam empat suapan. Suasana sangat sunyi dan sepi. Saat mengunyah suapan terakhir, Eril mendengar suara sesegukkan membuatnya berpikir sesaat.
  3. Eril menempelkan telinga di pintu kamar Susi yang tertutup, sambil memakan butiran nasi yang menempel di jari-jarinya. Ia mendengar Ibu menangis. Eril sedih lalu melihat ke arah meja kerja ibu yang kosong.
  4. Ia menunduk melihat tangan-tangannya mulai bergemetar dan napas mulai cepat. Ia lari ke kamar dan mengunci pintu.

END MONTAGE:

70. INT. RUMAH ERIL - KAMAR SUSI — SIANG

SFX: HUJAN

Di sudut atap kamarnya bocor.

Susi duduk di lantai menyandari kasur, menangis menatapi foto keluarga di tangannya. Wajahnya lelah kacau.

SUSI

(menangis tersedu-sedu memohon)

Maafin ibu, Eril. Ibu tidak merawat kamu dengan baik (mengusap wajah Eril). (jeda) Tolong aku mas! Aku tidak kuat lagi. (menepuk-nepuk dadanya, agak susah bernapas)

Ia merangkak menuju meja rias, membuka laci dan mengambil obat jantungnya dengan susah payah. Ia meminum obat hingga membasahi sebagian wajah dan sedikit bajunya.

Susi berbaring di kasur masih menangis. Meremas bantal di depan wajahnya dan memukul-mukulnya menahan sedih dan rasa sakit.

CUT TO:

71. INT. RUMAH ERIL - KAMAR ERIL — MALAM

Di meja belajar, Eril menulis di catatan harian lamanya diterangi lampu belajar.

ERIL (V.O.)

(pilu, sedih, pesimis)

Hidupku terasa semakin memberat. Pundakku penuh tumpukan batu yang kutahan dalam diam. Bangkrutnya katering ibu, membuat kakiku semakin goyah. Aku tidak tahu ini akan berlangsung hingga mana. Entah sejauh mana aku akan melangkah dan memperhatikan sekitar. Karena sejak lama hidupku terasa hampa. Yang pasti kuharapkan, hanya mendapat kebahagiaan di akhir. Dan yang kuragukan, (jeda) apakah kebahagiaan itu akan aku dapatkan? Entahlah.

ERIL

(bimbang)

Apa aku harus berhenti kuliah?! Lalu bekerja membantu Ibu?!

CUT TO:

72. INT. RUMAH ERIL — MALAM - MONTAGE

  1. Di meja makan dapur, Eril mengisi botol minumnya dengan air dari teko hingga penuh.
  2. Eril kembali merekatkan telinganya di pintu kamar ibu.
  3. Ia membuka pintu perlahan dan melihat ibu terbaring di kasur, meringkuk, selimutnya masih rapi di bawah kakinya.
  4. Eril masuk menaruh botol minum di meja rias ibu. Kemudian menyelimuti Ibu dan memandangnya khawatir dan sedih.
  5. Saat mengambil botol di meja rias, Eril tak sengaja melihat ke laci yang terbuka. Terdapat kertas bertulis "Riwayat Kesehatan". Eril penasaran dan mengangkat kertas itu.
  6. Eril membaca namanya di riwayat kesehatan itu, membuatnya tercengang. Ia membaca hingga menemukan bagian penyakit yang dideritanya "Retrogade Amnesia", Eril semakin tercengang kelu tidak percaya. Menoleh ibu dengan kecewa tak percaya.

DISSOLVE TO:

Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar