[1] Lari, Mas, cepat! (bahasa Jawa)
[2] Poin, poin (tanda ada calon penumpang). Ikut ini, Pak! Ayo Mas, cepat. Segera! Jika tidak, nanti disalip oleh bus yang di belakang (bahasa Jawa).
[3] Turun mana, Mas? (Bahasa Jawa)
[4] Wah, tidak mau, Mas. Menyusahkan orang cari makan saja. Semua jalur (bus) kok diambil paksa sesukanya sendiri (bahasa Jawa).
[5] Jangan membuka kartu, Mas! Mau kuturunkan di sini sajakah? (Bahasa Jawa)
[6] Sebentar, sebentar. Ini kan Mbak petugas Halte Mangkubumi itu. Benar kan Pak? (bahasa Jawa).
[7] Tahi lalatnya salah ini Mas. harusnya di sebelah kiri, bukan kanan. (bahasa Jawa).
[8] Terus kenapa Mas? Kamu naksir dia? Wah, sainganku ini, Pak. Sungguh, kalah ganteng, kalah rezeki juga. Apa mau dikata. Aku mengantar musuh namanya (bahasa Jawa).
[9] Ya, tetap berangkat lah Nona (bahasa Jawa)
[10] Lho, anaknya sendiri juga disuruh membayar? (bahasa Jawa)
[11] Kalau kamu naik jalur 15 zaman dahulu, sudah pasti gratis, Non. Selain itu, kalau keadaan seperti ini, langsung saja nggak berangkat. Sedang berduka. Tapi, sekarang tidak bisa. Kehilangan partner, tapi tetap bekerja. Bagaimana perasaanku, coba (pikirkan)? Sengaja aku mengambil jam (shift) pagi, agar nanti bisa takziah pukul dua siang. Kamu nanti ikut takziah kan, Jay? (bahasa Jawa).
[12] Nggak bersama dengan Mas yang semalam, Nona (bahasa Jawa)
[13] Anakmu ini lho Pak Jaya, sudah tahu pacaran (bahasa Jawa)
[14] Ya, tidak usah memerah (mukanya) begitulah (bahasa Jawa)
[14] Sudah hafal, pokoknya (bahasa Jawa)