Cuplikan Chapter ini
Pukul 4 sore di bawah pohon jambu tepatnya di atas sebuah kursi panjang dengan air yang masih menggenang tampak Abah sedang memijat putranya Ancah yang cukup babak belur karena perkelahiannya denganBashman pagi tadi Tubuhnya yang cukup gempal sebenarnya sedikit menyulitkan abah untuk menekan urat dan otot dengan jemari lentiknya Merasa kurang licin abah membaluri punggung putranya itu dengan sebuah minyak buatan sendiri Minyak Ambang Bahari warisan dari kakek Ancah seorang Dayak Ngaju