Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Genderang Khatulistiwa
Suka
Favorit
Bagikan
#2
1. Sang Penakluk Hiu
Chapter ini masih diperiksa oleh kurator
(3) Sham

Sham adalah sebutan rakyat Haaras untuk matahari. Dalam konteks keagamaan, Sham juga merupakan nama entitas dewa sesembahan bagi para penganut agama Shaizana, agama mayoritas rakyat Haaras, yang dipercaya sebagai penguasa langit dan disimbolkan dalam wujud matahari. Selain dewa Sham, ada pula nama dewi Asta yang oleh rakyat Haaras dipercaya sebagai dewi penguasa bumi.

(4) Baghar

Kota Baghar merupakan pusat pemerintahan daerah provinsi Kepulauan Timur. Kota ini dipimpin secara turun temurun oleh klan Dhaenis, sebagai keluarga yang menjadi penguasa di kota ini.

(5) Kepulauan Timur

Kepulauan Timur adalah salah satu dari kedelapan wilayah bagian administratif negeri Haaras yang, sesuai dengan namanya, terletak di kawasan paling timur negeri Haaras. Berbatasan dengan bagian utara daratan besar Akhom, wilayah bagian ini terdiri dari pulau-pulau yang terpisah oleh wilayah perairan.

(6) Malek

Malek adalah gelar bagi para pemimpin dari kedelapan provinsi negeri Haaras Raya, setara dengan jabatan gubernur. Berbeda dengan gelar Fathi, Saikh, atau Arthemis, gelar Malek bukanlah gelar yang diberikan langsung oleh Baginda Khalefa terpilih. Gelar tersebut lazimnya merupakan gelar yang diwariskan melalui garis keturunan para pemimpin di provinsi masing-masing.

(7) Lakhsman

Lakhsman merupakan gelar lokal bagi para kepala keluarga istana yang hanya digunakan di provinsi Kepulauan Timur. Di provinsi lain di seantero negeri Haaras, penyebutan gelar ini tidak lazim digunakan karena istilahnya yang sangat identik dengan komando tertinggi angkatan laut.

(8) Maleka

Maleka adalah gelar yang disematkan bagi istri seorang Malek (pemimpin provinsi), atau dalam kasus tertentu digunakan untuk menyebut seorang Malek yang berjenis kelamin perempuan.

(9) Saghara

Saghara adalah nama entitas dewa yang menjadi sesembahan bagi warga lokal di pulau Thalab, pulau terluar di provinsi Kepulauan Timur. Dewa Saghara diyakini oleh penduduk pulau Thalab sebagai dewa penguasa wilayah lautan.

(10) Enaki

Enaki secara umum adalah nama dari salah satu kaum atau suku bangsa Haaras kuno yang memiliki perawakan raksasa. Tinggi badan rata-rata kaum Enaki sendiri ditaksir dapat mencapai hingga setara 20 anak tangga. Pada konteks yang lain, istilah Enaki juga sering digunakan oleh rakyat Haaras untuk menyebutkan sebuah benda atau makhluk yang berukuran raksasa.

(11) Babilia

Babilia merupakan jenis satwa unggas berwujud burung kecil yang lazim ditemukan di seluruh kawasan tropis di seantero negeri Haaras. Burung-burung kecil ini dikisahkan memiliki bulu-bulu berwarna keunguan. Selain dikenal karena warnanya yang indah, burung-burung ini juga dikenal memiliki kemampuan memori dalam menghafal jalur. Lantaran kemampuan itu, masyarakat seluruh Haaras memanfaatkan burung-burung Babilia sebagai pengantar surat. Pemerintah Haaras bahkan sengaja membangun menara-menara sebagai pusat penangkaran burung Babilia, sekaligus sebagai tempat pengiriman surat layaknya kantor pos.

(12) Dewan Khoma

Dewan Khoma merupakan sebutan untuk badan legislatif negeri Haaras. Badan ini sengaja dibentuk oleh pemerintahan Haaras sebagai majelis pertimbangan, tempat di mana seluruh kebijakan negara didiskusikan, sebelum akhirnya direkomendasikan kepada Sang Baginda Khalefa selaku pemegang otoritas tertinggi. Dewan legislatif ini beranggotakan para petinggi dari berbagai wilayah bagian yang dipilih sesuai dengan bidang masing-masing.

(13) Arena Rhavatra

Arena Rhavatra adalah sebuah arena pertarungan yang berlokasi di sisi utara pulau Lakh, dekat dengan ibukota Haaras di kota Lakhsatra. Nama Rhavatra sengaja diambil dari nama ilmu sihir kuno yang menawarkan kekebalan. Dahulu kala, pertarungan di arena Rhavatra merupakan sebuah agenda rutin yang diselenggarakan oleh pemerintahan negeri Haaras. Namun, sejak pemerintahan Khalefa ke-21, yakni Baginda Khalefa Naradha Othama, tepatnya sejak 32 kemarau silam, penyelenggaraan agenda pertarungan di arena tersebut kemudian dihentikan secara permanen.
‹ SEBELUMNYA
Prolog
BERIKUTNYA ›
2. Siaran Duka dari Lakhsatra
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)