Cuplikan Chapter ini
Kopitaloka sore itu tenang Hujan sudah reda sejak siang menyisakan aroma tanah basah yang samar Di balik bar Sena memperhatikan Egi yang sibuk mengelap meja kosong dengan gerakan mekanis Tak ada semangat di setiap gerakannya hanya tubuh yang bergerak karena harusSena menyeduh dua cangkir kopi lalu menghampiri meja sudut Ia meletakkan satu cangkir di hadapannya satu lagi di kursi kosong di seberangnyaDuduk sebentar Gi katanya singkatEgi menoleh ragu sejenak lalu mendekat dan du