Cuplikan Chapter ini
Widya selalu percaya bahwa perasaan manusia tumbuh dengan cara yang sederhana Datang perlahan berakar diam-diam lalu suatu hari terasa begitu jelas hingga tak mungkin diingkari Namun pagi itu saat ia berdiri di depan cermin kamar sambil merapikan rambutnya Widya menyadari satu hal yang mengganggunya sejak beberapa hari terakhir perasaan itu tidak lagi sederhanaIa menatap bayangannya sendiriwajah yang dikenal banyak orang di kampusnya senyum yang sering dipuji mata yang konon selalu