[1] Arunika: seberkas cahaya matahari terbit
[2] Suikerfabriek Tjandi (sekarang, PT Pabrik Gula Candi Baru)
[3] Chauffeur: berasal dari bahasa Prancis yang secara harfiah berarti "penghangat" atau "tukang pemanas" (stoker) dari kata kerja chauffer yang berarti "memanaskan". Pada akhir abad ke-19, mobil-mobil awal bertenaga uap sehingga pengemudinya harus memanaskan ketel uap terlebih dahulu agar kendaraan bisa bergerak. Pada era kolonial, profesi ini dianggap sangat mentereng dan bergengsi karena menunjukkan modernitas dan kedekatan dengan teknologi transportasi baru. Seiring masuknya mobil ke Hindia Belanda pada awal 1900-an, istilah ini digunakan untuk merujuk pada pengemudi kendaraan pribadi kaum bangsawan atau pejabat kolonial. Bahasa Belanda menyerap kata chauffeur dari bahasa Prancis tanpa mengubah ejaannya, tetapi dengan pelafalan yang disesuaikan dengan lidah orang Belanda. Penyerapan ke bahasa Indonesia terjadi melalui pendengaran masyarakat lokal terhadap pelafalan orang Belanda. Terdapat adaptasi bunyi pada kata chauffeur dalam bahasa Prancis/Belanda yang dilafalkan kira-kira sebagai "sho-fer" atau "so-fœur", sehingga karena lidah masyarakat lokal saat itu sulit melafalkan bunyi "f" yang diikuti vokal kompleks, bunyi tersebut disederhanakan menjadi "pir" dan bagian depan "chau/sho" berubah menjadi "so". Maka gabungan bunyi tersebut menghasilkan kata "sopir".