Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
"Dear My Raadsel, andai takdir mengizinkan, aku ingin menjadi nakhoda pada bahtera yang hanya bisa kita layarkan di samudra khayal."—Devries van Dietrich; pemuda blasteran keturunan Belanda-Jawa yang jatuh hati pada musuh abadinya selama menjabat sebagai Direktur Nederlandsch-Java Dietrich Cultuurmaatschappij (NJDC).
Akan tetapi status Ayara yang hanya seorang pribumi kalangan jelata secara nyata menegaskan jurang penghalang afair keduanya lengkara bersama di hadapan takhta hierarki kasta. Manalagi prestise ideologi sang Kritikus Kritis Misterius sekaligus reputasi problematik aktivis gerilyawan pionir dekolonialisasi intelektual naungan Aghnivani, menjadikannya dilabeli sebagai buronan daftar hitam Dewan Sensor Pers Hindia Belanda—lantaran narasi argumentasinya yang subversif mampu memorak-porandakan stabilitas rezim di Surabaya era 1940.
Dalam drama sosiopolitik yang dihiasi konflik perang psikologis dari rivalitas perseteruan antarinstansi hingga menjamah latar belakang interpersonal, Dev terjebak kebimbangan dilema moral yang memosisikan nuraninya di antara pilihan loyalitas keluarga ataukah ambisi nafsi yang mulai tergerus empati keberpihakan pada pribumi. Dua persimpangan yang kian menjebaknya dalam pusaran konspirasi penuh intrik, berujung pada perpisahan tragis tanpa titik temu di antara huru-hara jelang konfrontasi pengambilalihan kekuasaan oleh pendudukan Jepang di akhir kolonialisasi Hindia Belanda 1941.
Lantas apakah aditokoh yang menghilang tanpa nama itu benar adanya? Lalu bagaimana wiracarita dirinya terkenang sejarah bilamana sedari awal ditiadakan? Benarkah ketidakmungkinan yang terlalu lengkara tetap memisahkan suratan takdir semesta yang menolak esensi amerta bersama?
.
"Maka perpisahan adalah akhir paling realistis yang kupilih tanpa penyesalan; demikianlah caraku mencintaimu dengan cara yang paling terlarang, ialah dengan tidak memilikimu sama sekali."—Niraksara.