Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Who is The Ghost
Suka
Favorit
Bagikan
2. Babak Dua Romansa

EXT. JALAN SETAPAK - SIANG

Secercah terang mulai muncul di timur langit dukuh Pamijahan.

INT. RUMAH BIBIK - SIANG

Putih berdiri di ambang pintu depan rumah Bibik, menilik lampu bolam menggantung di rumah besar yang belum dimatikan. Bahu kanan Putih menempel lemah pada kusen pintu.

EXT. RUMAH IBU ROS - SIANG

POV Putih. Lampu bolam teras rumah yang berlantai dua dengan cat warna gading yang masih menyala.

INT. RUMAH BIBIK - SIANG

Putih beralih menerawang jauh ke arah rumah Gama.

EXT. RUMAH GAMA - SIANG

POV Putih. Rumah sederhana milik Gama.

INT. RUMAH BIBIK - SIANG

Putih membidik lama detail rumah Gama sebelum datang suara dari arah belakang menggugah lamunannya.

O.S. BIBIK

Lupakan Gama..

Bibik penjaga pemakaman berdiri di pintu kamar depan.

BIBIK

Bibik nggak ingin kamu kembali membayangkan Gama.

Bibik membelakangi kamera merapat ke Putih. Bibik berdiri di samping-belakang mengawal Putih.

BIBIK

Bibik tahu kamu bisa.

PUTIH

Aku sudah melupakannya, Bik.

(menekan suaranya)

Sudah... melupakannya.

Bibik hendak menyentuhkan telapaknya pada pundak Putih tapi urung. Bibik sangsi dan menurunkan kembali tangannya.

INT. RUMAH BIBIK - SIANG

BIBIK

Untuk sementara, yang bisa kamu lakukan adalah berusaha untuk melupakan dan memaafkan masa lalu kamu.

Putih tertunduk dari sebelumnya memandang rumah besar.

BIBIK

Mengingatnya hanya akan menyakitimu.

PUTIH

Bik..

BIBIK

Ya, sayang?

INT. RUMAH BIBIK - SIANG

Putih berbalik menghadap Bibik tetapi tidak berani menatap langsung mata Bibik.

PUTIH

Menurut Bibik, apa dia sudah

melupakan aku?

BIBIK

Seandainya Gama masih ingat dan

cinta, tapi dunia kalian sudah

nggak lagi sama, sayang..

PUTIH

(Suara Putih hampir senyap)

Gitu ya, Bik.

Putih bergegas ke kamar belakang.

Bibik tertunduk lesu. Bibik penjaga pemakaman yang menoleh jauh ke arah rumah Gama.

EXT. JALAN SETAPAK - SIANG

Sebuah minivan merapat ke depan rumah besar. OKI, 30 tahun, pembantu di rumah besar, keluar dari pintu tengah membawa dua tas kresek besar berisi belanjaan. Oki masuk rumah.

JIMI, 27 tahun, sopir keluarga, meludahkan permen karetnya keluar jendela, sebelum memutar balik mobil di samping rumah.

Jimi melongokkan wajahnya ke spion, memastikan rambut klimisnya tidak berantakan.

lbu Ros, 55 tahun, keluar rumah dan masuk ke mobil yang telah kembali terparkir halaman. Ibu Ros, duduk di kursi depan samping Jimi. Tak lama kemudian, Dewi, 25 tahun, anak pertama Ibu Ros, mengenakan seragam satu instansi perbankan swasta, menyusul Ibu Ros keluar rumah masuk pintu tengah minivan. Sesaat kemudian, minivan meninggalkan halaman rumah besar.

INT. RUMAH BIBIK - SIANG

Di pintu depan rumahnya, Bibik penjaga pemakaman menyempatkan diri mengenakan kalung berliontin kayu. Bibik merapikan rambut panjangnya yang selalu terurai sebelum keluar rumah. Satu tangannya menjepit rokok yang baru dibakar.

EXT. JALAN SETAPAK - SIANG

Bibik keluar rumah berpapasan dengan Nala, 18 tahun, anak bungsu Ibu Ros, keluar dari pintu rumah besar. Nala mengenakan seragam sekolah abu-abu dan tas hitam di bahu, Tangan kanan Nala menenteng rantang susun.

Bibik melempar senyum pada Nala. Nala membalas balik dengan juga tersenyum.

BIBIK

Berangkat?

NALA

Ya, Bik.

Nala melangkahkan kaki lebih cepat meninggalkan Bibik.

EXT. JALAN SETAPAK DUKUH - MALAM

Dari belakang, Bibik memperhatikan Nala mampir ke rumah Gama.

Ketika hampir masuk rumah Gama yang pintunya terbuka, Nala menyempatkan menoleh agak lama ke Bibik. Nala menghilang masuk ke dalam rumah Gama.

BIBIK

(Berjalan sembari menunduk)

Mungkin ini sudah jalannya.

Bibik menghela napas panjang.

Bibik melanjutkan langkah kakinya melewati (tanpa menengok) rumah Gama ke arah gapura gang makam.

INT. RUMAH GAMA - SIANG

Gama keluar kamar mandi dengan handuk membelit tubuhnya.

Gama mendapati Nala di dapur menuangkan air panas ke mug kopinya. Gama langsung mengembangkan senyum.

Nala seketika menoleh mendengar suara sandal basah Gama.

NALA

Merebus air kok ditingal-tinggal! Airnya kering, nggak bisa minum kopi, kak Gama!

Penglihatan Gama langsung tertuju pada rantang di atas meja makannya yang berbentuk bulat.

GAMA

Apaan nih?

Gama membuka tutup rantang.

GAMA

Wiih, nasi goreng.

NALA

Yang masak aku loh, kak.

GAMA

Wah, mudah-mudahan enak, nih.

NALA

Dicicipin dulu dong, baru komentar..

GAMA

OK. Aku ganti baju dulu.

Belum jauh dari meja makan, Gama kembali menengok.

GAMA

Ses Oki pulang kampung lagi ya,

kok kamu yang masak?

Nala membawa kopi ke meja makan bulat. Memindahkan tas sekolahnya dari atas meja menggantungnya di sandaran kursi.

NALA

Hari ini itu, pagi-pagi Ses Oki sudah berangkat ke pasar buat

belanja mingguan.

GAMA

Belanja mingguan?

NALA

Hmm..

INT. RUMAH GAMA - SIANG

Nala mengaduk kopi di depannya.

Nala melihat Gama yang mulai mengenakan kaos singlet.

NALA

Kak Gama, ada salam dari ibu.

Nala menyampaikan pesan tetapi pandangannya tertuju mug kopi. Spontan Gama menoleh pada Nala.

GAMA

(ragu)

Ee.. oh ya, salamin balik, ya.

Gama memandang lama Nala sebelum memasang kemeja ke tubuhnya.

EXT. WARUNG BU PIYE - SIANG

Bibik penjaga pemakaman menunggui Bu Piye, memasukkan bunga ke dalam kantong plastik.

BU PIYE

Apalagi, Bik?

Bu Piye memasukkan sebungkus rokok kretek ke dalam kantong kedua.

BIBIK

Sudah. Berapa, Bu?

BU PIYE

Semuanya, jadi dua puluh.

Bibik menyerahkan beberapa uang lembaran pada Bu Piye.

Deni, 27 tahun, mengendarai motornya dan berhenti di depan meja panjang warung Bu Piye.

Bibik berbalik melihat kepada Deni. Deni langsung menyapa Bibik.

DENI

Belanja Bik?

Bibik merapat ke Deni.

BIBIK

Iya, Den. Ini.

Bibik mengangkat kantong berisi bunganya.

BIBIK

Ada apa Den?

DENI

Biasa Bik, ini ada titipan dari Abah.

Deni menyodorkan lipatan uang kertas kepada Bibik.

BIBIK

Oh, ya. Lama Abah kamu belum ke makam ibu kamu lagi.

DENI

Iya, Bik. Di toko lagi sibuk-sibuknya, kalau sudah agak longgar mungkin bisa ke makam lagi. Saya juga ini nggak bisa lama lama.

BIBIK

Oh gitu.

DENI

Iya, Bik. Saya pamit dulu, Bik.

Balik ke toko.

BIBIK

Iya, Den. Terima kasih ini.

DENI

Sama sama, Bik. Saya yang terima kasih. Bibik masih mau mengurus makam ibu.

Mari Bi, ya?

BIBIK

Ya, Den.

Deni membawa motor kembali ke arah dia datang. Bibik ikut meninggalkan warung.

INT. RUMAH GAMA - SIANG

Di meja makan, Gama mencecap nasi goreng menyendokinya langsung dari rantang.

Gama kini telah berbalut setelan kemeja rapi.

Nala mengeluarkan map plastik berisi draft novel dari dalam tas Gama. Nala membaca judul dan mulai membalik halaman per halaman membaca sekilas novel.

NALA

Eh, gimana nasi gorengnya, kak.

Dari tadi anteng-anteng aja?

GAMA

(menelan isi mulutnya)

Ee, lumayan, aku suka. Nasi goreng kamu rasanya seperti nasi yang... digoreng... gurihnya gimana gitu. Ada bumbu-bumbunya gitu, ya?!

NALA

(sebal)

Ditanyain serius-serius?

GAMA

(Senyum)

Nasi gorengnya enak. Gak rugi ibu kamu punya rumah makan. Besok bawa lagi, ya?

NALA

Malees...!

Gama mengulum senyum. Sebatang rokok kretek Gama keluarkan dari bungkus. Meraba kantong kehilangan korek dipandangan.

GAMA

Duduk didepan, yuk..

INT. RUMAH GAMA - SIANG

Di ruang tamu, Gama mencicip kopi panas. Nala mengibas-kibas sebal asap rokok Gama yang mampir ke wajahnya.

Gama mengamati jam dinding.

GAMA

Kamu nggak telat, jam segini

belum berangkat?

NALA

Jam pertama olahraga, malas

mau ikut.

GAMA

Kebiasaan jeleknya kambuhl! Kamu

tuh, berangkat sekolahnya jangan

naik mobil, tapi digendong. Biar

tambah rajin.

NALA

(sarkas)

Jamu gendong?

Nala penasaran melihat cara Gama menikmati kopi. Nala membajak kopi Gama.

GAMA

Pelan-pelan masih panas. Kamu

nggak biasa minum yang panas.

Baru menempelkan bibirnya dengan bibir mug, Nala kaget dan melepas pegangan mug.

NALA

Aduh.. Hah panas!

GAMA

Tuh, kan?

Nala menggeser kaki menjauh dari genangan kopi tumpah.

NALA

Kak... Gelasnya...

GAMA

Baju kamu nggak kena?

INT. RUMAH GAMA - SIANG

Gama menenteng mug kosongnya ke dapur.

Gama kembali ke ruang depan dengan menyematkan topi warna hijau pupus, penutup rambutnya yang mulai lebat. Gama membawa serta tas miliknya dan tas Nala.

NALA

Maaf ya, kak. Besok aku bawain

nasi goreng yang lebih enak deh,

buat ganti kopinya.

GAMA

Janji ya?!

NALA

Iya. Memangnya aku pernah bohong

ke kak Gama.

Gama menyerahkan tas kepada Nala.

GAMA

Sering, kalee..

NALA

(nyengir)

Ya, kalo kepepet apa boleh buat, kak.

GAMA

Kamu mah, banyak kepepetnya..

NALA

Mm iya, bener.

Keduanya tertawa kecil bersama.

GAMA

Ayo jalan..

Gama dan Nala menggendong tas masing masing untuk kemudian keluar rumah. Pintu tertutup dan dikunci dari luar.

O.S. NALA

Tapi aku baik kan ke Kak Gama.

O.S. GAMA

Gak juga..

O.S. NALA

Baik kalee..

EXT. JALAN SETAPAK - MALAM

Rumah Bibi tampak lengang. Pintu rumah Bibik dalam keadaan terbuka.

INT. RUMAH BIBIK - MALAM

Bibik berdiri di pintu melihat kamar Putih kosong. Putih meninggalkan kamarnya.

INT. RUMAH IBU ROS - MALAM

Langkah kaki Putih berjalan keluar dari kegelapan ruang depan menuju ruang tengah yang lebih terang.

Putih menghampiri meja makan seraya menerawang sekeliling ruangan.

Putih melihat sekeliling ruang tengah yang terhubung dengan meja makan dan dapur.

Putih melihat ke arah tangga dari bawah hingga atas. Putih mendekat ke tangga.

Kaki Putih berjinjit setiap menginjakkan kaki di anak tangga.

INT. RUMAH IBU ROS - MALAM

Putih berjalan di balkon lantai dua. Di depan kamar Dewi, Putih menghentikan langkahnya.

Putih mengurungkan niat membuka pintu kamar Dewi ketika menoleh ke arah pintu kamar Nala yang setengah terbuka. Putih bergeser dari kamar Dewi.

INT. RUMAH IBU ROS - MALAM

Putih memasuki kamar. Pandangan pertamanya tertuju pada tempat tidur.

Putih memandang langit-langit kamar baerjalan ke tempat tidur. Putih memeriksa kolong tempat tidur.

Wajah Putih mencari sesuatu di kolong tempat tidur.

Putih duduk di bibir tempat tidur. Putih memandangi lama meja rias.

Putih bangkit dari duduk bergerak ke meja rias. Putih penasaran dengan bentuk meja rias dengan mengelus tepian bingkai cermin.

Putih mendadak tegang.

tendengar desahan dari dalam lemari di samping meja rias. Belum hilang ketegangan Putih, kali ini terdengar samar benda terbentur di dalam lemari.

Putih menjauh dari meja rias dengan terus mengawasi pintu lemari.

Putih kaget.

Sebuah tangan keluar perlahan dari dalam lemari.

INT. RUMAH IBU ROS - MALAM

Pintu lemari mengeluarkan suara berderit terdorong oleh lengan pemilik tangan.

Kepala dengan rambut panjang terurai hingga menyentuh lantai, mendorong pintu lebih lebar.

Langkah Putih tercekat untuk maju, mendadak keras untuk bergerak.

PUTIH

Bibik..

Si Hantu gaun hitam itu memiringkan kepalanya untuk melirik ke arah Putih.

Dua tangan si Hantu mulai menapak di lantai. Si Hantu merintih kesakitan setiap kali bergerak untuk keluar dari lemari, terdengar suara tulang remuk dari tubuh si Hantu. Rongga mulut menganga yang merintih.

Putih sangat ketakutan, tidak berani menoleh, lengannya membantu kakinya untuk melangkah.

Si Hantu merangkak keluar lemari hingga kurang dari dua langkah dari kaki si Putih.

Putih membuat langkah maju pertama. Cakar keruh si Hantu tidak jauh dari kaki si Putih.

Setelah langkah pertamanya, kaki si Putih terasa lebih ringan untuk melaju. Si Putih langsung bergegas berjalan cepat ke pintu kamar, sesekali melirik ke belakang. Si hantu tampak berbalik merangkak menuju lemari yang terbuka.

INT. RUMAH IBU ROS - MALAM

Di balkon Putih berhasil keluar kamar.

EXT. JALAN SETAPAK - MALAM

Putih berjalan menuju ke pemakaman. Putih masih menyimpan tanya tentang rumahnya.

INT. RUMAH IBU ROS - MALAM

Di kamar Dewi, Nala perlahan mulai terjaga.

Nala melihat Dewi yang tertidur di sofa.

Nala turun dari tempat tidur, mengambil selimut yang tadi ia pakai kemudian mengenakannya pada Dewi.

Nala keluar kamar Dewi.

INT. RUMAH IBU ROS - MALAM

Di kamarnya, Nala meniupkan hawa panas dari mulut pada kedua telapak tangannya sebelum membuka lemari pakaian miliknya.

Dua baju yang digantung pada hanger terjatuh di kakinya. Nala mengambil kedua baju itu dan mengembalikannya ke palang gantungan hanger. Nala mengambil satu sweater untuk menghangatkan tubuhnya.

Nala mengamati isi lemari sambil mengenakan sweater.

Nala duduk di bibir tempat tidur.

Nala duduk dan menunduk lama untuk kemudian menoleh ke pintu kamar. Rambutnya menutupi sebagian besar wajahnya.

Lampu kamar Nala padam.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)