Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Skenario
WHO IS THE GHOST
By ARIFZU
EXT. TAMAN - SIANG
Kamera PAN menyisir rerumputan suatu taman hingga merekam dua anak bermain di satu ayunan.
GADIS, 7 tahun, duduk diayunan yang di dorong oleh NALA, 7 tahun. Keduanya adalah anak kembar. Keduanya memakai baju terusan berwarna putih.
Gadis dan Nala makan permen yang mempunyai stik. Gadis tampak tidak suka dengan permennya. Gadis mengeluarkan permen dari mulutnya.
GADIS
Nala. Permen barunya, rasanya
kok aneh, ya?
NALA
Ada rasa asemnya, ya?
GADIS
Iya.
NALA
Tapi aku suka.
GADIS
Aku nggak..
NALA
Ya udah buang aja, kalo nggak suka.
GADIS
Jangaan..
NALA
Katanya nggak suka.
GADIS
Permennya nggak ada lagi.
NALA
Uuh, dasar!
Gadis. Sebentar lagi ganti kamu
yang dorong, ya?
GADIS
Iya. Tapi kamu dorongnya yang
kenceng, dong.
NALA
Okee.
Kali ini Nala mendorong ayunan lebih keras. Semakin keras. Gadis teriak.
GADIS
Akhh.. Nala.. kekencengan..
Nala tetap mendorong ayunan dengan keras. Gadis kembali teriak.
GADIS
Nalaa..
Keduanya tertawa bersama.
EXT. TAMAN - SIANG
DEWI, 13 tahun, mendatangi Gadis dan Nala.
DEWI
Gadis.. Nala.. pulang dulu.
Di panggil ibu..
NALA
Tapi aku belum naik ayunan, kak.
DEWI
Iya. Makan siang dulu.
Ntar diterusin lagi.
NALA
Ahh.. kak Dewi..
DEWI
Iya ntar dilanjutin lagi, Nala.
Ibu sudah nunggu di meja makan.
Ayo Gadis.. Nala..
Dewi berbalik melangkah menjauh dari ayunan.
Gadis dan Nala berhenti bermain ayunan. Nala menarik tangan Gadis turun ayunan. Gadis dan Nala bergandengan tangan.
Nala dan Gadis melangkah terburu menyusul langkah Dewi. Keduanya merangkul Dewi di sisi kanan dan kiri.
Dewi meletakkan kedua tangannya pada pundak Gadis dan Nala.
CUT TO :
INT. RUMAH IBU ROS - MALAM
Foto keluarga berukuran besar diletakkan di ruang tengah sebuah rumah. Tampak IBU ROS, 55 tahun, DEWI 25 tahun, GADIS dan NALA 18, berpose duduk di kursi panjang.
Ibu Ros dan Dewi duduk mengapit Gadis dan Nala. Ibu mengenakan kebaya, Dewi, Gadis dan Nala mengenakan baju terusan bermotif dan warna sama, warna biru muda. Gadis dan Dewi tampak berkaca mata. Selama scene ini terdengar sambungan dialog dari scene sebelumnya.
O.S. NALA
Nanti boleh main lagi kan, kak
O.S. DEWI
Iya. Yang penting, sekarang kita
pulang dulu. Ibu sudah nunggu.
O.S. GADIS
Kak Dewi, permen barunya.
kok aneh, ya?
O.S. NALA
Enak kok, menurut aku.
O.S. GADIS
Tapi rasanya asem
O.S. NALA
Tapi enak
O.S. GADIS
Iya. Tapi asem.
O.S. NALA
Iya. Tapi enak.
O.S. DEWI
Rasanya enak tapi asem
atau.. rasanya asem tapi enak..
O.S. NALA - GADIS BERSAMAAN
(setengah teriak)
Rasanya enak tapi asem -
Rasanya asem tapi enak.
O.S. Suara tertawa Gadis, Nala
dan, Dewi bersamaan
EXT. JALAN SETAPAK - MALAM
Bulan hampir purnama menggantung di atas Dukuh Pamijahan.
EXT. JALAN SETAPAK - MALAM
Areal pemakaman dukuh Pamijahan yang tanpa pagar dan dikelilingi rimbun pepohonan tampak lengang.
EXT. SUNGAI DUKUH - MALAM
Derap tenang air SUNGAI DUKUH yang menangkap cahaya bulan. Sungai dengan air yang jernih hingga tampak dasar dari sungai.
EXT. JALAN SETAPAK - MALAM
Langkah tanpa alas kaki dari seorang cewek, 18 tahun, kelak kita mengenalnya sebagai PUTIH, gadis hantu yang dalam tanda petik "tinggal" di rumah Bibi penjaga pemakaman. Wajah Putih kembar dengan NALA dan GADIS setelah remaja, 18 tahun.
Putih menjejaki jalan setapak berbatu di samping pemakaman Pamijahan.
Membelakangi kamera Putih berjalan di jalan setapak samping pemakaman. Sesekali Putih menoleh ke pemakaman. Putih menoleh ke belakang seperti seseorang telah memanggilnya. Putih mengenakan baju terusan sampai bawah lutut berwarna putih. Baju Putih berlengan panjang.
EXT. SUNGAI DUKUH - MALAM
Putih menuruni lerengan tanah liat yang sudah dibentuk berundak-undak menjadi anak tangga.
Putih berdiri berjarak sedepa dari jangkauan aliran Sungai.
Raut pucat Putih langsung tersenyum ketika pertama memandang riak permukaan air. Putih memejamkan mata untuk menikmati aura sungai.
Putih menoleh ke bale bambu yang berada beberapa meter darinya.
Ketika hendak melangkah ke bale, sudut pandang Putih menangkap sesuatu yang tidak biasa.
EXT. SUNGAI DUKUH - MALAM
Seekor ikan mas berwarna merah cerah berenang di tepian sungai dekat kaki si Putih. Bening air dan cahaya bulan menembus hingga dasar sungai, berhasil menampilkan ikan mas
PUTIH
(lirih)
Wii, cantiik!
Putih merapat pada air.
Putih menekuk lutut.
Pemandangan ikan mas terlihat lebih nyata baginya. Sesaat kemudian muncul seekor ikan mas lain, kali ini berwarna hitam.
Dua ikan mas berenang di depan Putih.
Putih mengulurkan tangan. Telapaknya berusaha mengikuti gerak ikan mas warna merah.
Gerak tangan Putih terhenti ketika sebuah suara lirih terdengar muncul dari seberang sungai.
O.S. SEBUAH SUARA
Terdengar suara antara tawa dan tangis
Putih memandang menyisir perlahan area seberang Sungai.
POV Putih. Pemandangan gelapnya rimbun dedaunan seberang sungai.
EXT. SUNGAI DUKUH - MALAM
Putih kembali menunduk.
Putih kaget dan perlahan menarik tangannya.
EXT. SUNGAI DUKUH - MALAM
Air di sekitar ikan mas hitam berangsur menghitam. Seakan warna sisik ikan mas warna hitam meluntur.
Air makin menghitam, mulai muncul tonjolan kepala dari dalam air.
EXT. SUNGAI DUKUH - MALAM
Putih tersentak.
Putih sontak mundur ketika dengan gerakan lebih cepat si pemilik kepala, Hantu bergaun warna hitam keluar dari dalam air ke hadapan Putih. lkan mas merah terpental dari tubuh Hantu bergaun hitam.
Hantu gaun hitam keluar dari permukaan air mendekat ke arah Putih. Baju basah Hantu gaun hitam terus meneteskan air berwarna pekat.
Putih merangkak mundur untuk menghindar.
Hantu gaun hitam berusaha terus menempel. Hingga Hantu gaun hitam panjang berhasil mengunci posisi Putih yang tidak lagi bisa mundur terhenti oleh dinding lereng.
EXT. SUNGAI DUKUH - MALAM
Si Hantu merapat ke Putih. Si Hantu berjarak setengah langkah dari Putih.
Putih dan Hantu gaun hitam berhadap-hadapan. Suara gemericik aliran sungai seperti menghilang untuk sesaat.
Si Hantu memasang senyum bertaringnya.
Putih tegang memandang wajah si Hantu mendekat.
Sebagian rambut panjang si Hantu menjuntai di depan wajah. Segaris warna merah darah tampak di sudut mata si Hantu gaun hitam.
Hantu gaun hitam menyeringai dan menjulurkan lidah panjangnya mencondongkan tubuh ke arah Putih.
Si Putih spontan menendang bahu si Hantu gaun hitam yang hanya terdorong mundur.
Si Hantu gaun hitam panjang memasang tangan posisi siap mencengkeram dengan kuku-kukunya yang menghitam.
Si Hantu menjulurkan lidah tajamnya, kembali bergerak maju dan langsung mengayunkan cakar hitamnya, Putih cepat merunduk berhasil menghindar dari cakar si Hantu.
Si Putih merangkak cepat ke arah tangga. Putih berusaha sebisanya untuk berdiri, terhuyung berlari ke tangga tanah.
Putih bergegas menaiki tangga. Si Hantu memekik sangat keras di sela Putih menjejaki tangga.
Putih menyempatkan menoleh di sela menaiki anak tangga.
POV Putih. Angin berputar keras di tempat dimana Hantu yang menyerangnya tadi berdiri. Si hantu sudah menghilang.
EXT. SUNGAI DUKUH - MALAM
Putih menunduk dengan ekspresi wajah bertanya tanya. Putih kembali menoleh ke bawah ke tempat hantu menyerangnya tadi.
Putih meninggalkan areal sungai.
INT. RUMAH GAMA - MALAM
Gama, 25 tahun, keluar kamar. Gama meregangkan tubuh dan diakhiri hela napas panjang.
Gama mengangkat mug kopi susunya dari atas meja makan. Gama melihat isi mug kopi hampir kosong. Gama menyesap sisa-sisa kopi. Gama meletakkan mug ke atas meja, berjalan masuk ke kamar.
INT. RUMAH GAMA - MALAM
Gama menatap layar pentium empatnya dengan mata jenuh. Gama mematikan layar.
Tampak 6 pigura berisi sampul novel bertema horor Gama tergantung berjejer di dinding di atas layar monitor. Judul pada sampul diantaranya, Lembah Bersuara, Misteri Rumah Bersumur Dua, Purnama dan Ki Kusumo, Jejak Peninggalan Lurah Menjangan, Gagak Berparuh Putih, Lumbung Kosong.
EXT. JALAN SETAPAK - MALAM
Gama keluar rumah. Tidak jauh meninggalkan rumah menoleh ke arah rumah Bibik. Agak lama Gama menoleh, sebelum kembali melanjutkan langkah ke gang makam.
EXT. WARUNG BU PIYE - MALAM
Dari arah gang makam, Gama mendekat ke warung dan menghampiri Bu Piye yang tengah di dalam warung.
GAMA
Bu Piye, kopi ya..
BU PIYE
Yang biasanya?
GAMA
Ya, Buk. Yang biasanya
Gama duduk di meja panjang beratap langit yang berada beberapa meter di depan warung Bu Piye. Gama menyalakan satu rokok.
Tampak terlihat sebuah motor terparkir bersandar pada salah satu dinding warung.
EXT. PEMAKAMAN - MALAM
Di tengah-tengah pemakaman, BIBIK, 55 tahun, penjaga pemakaman menemani Putih di salah satu pohon kamboja. Putih hanya menatap kosong jauh ke arah kegelapan pohon-pohon sekeliling pemakaman. Bibik melirik Putih dan sesekali ikut melihat ke arah pepohonan.
BIBIK
Eem.. akhir-akhir ini, Bibik lihat kamu jadi sering muram.
BIBIK
(hati-hati)
Sekarang kamu jadi banyak diam?
Putih menoleh ke arah berlawanan dengan posisi Bibik duduk.
EXT. PEMAKAMAN - MALAM
Putih berjalan di sela sela nisan ke arah jalan setapak.
Bibik duduk melihat ke arah Putih yang sudah jauh.
BIBIK
Apa dia kembali mengenang kebersamaannya dengan Gama?
BIBIK
(Seraya berdiri kepayahan)
Aku lebih senang dia tanpa bayang bayang Gama. Harapan kembali bersama Gama akan menyakitinya.