Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Terputih Dalam Hitam
Suka
Favorit
Bagikan
1. Sebelum Langit Berubah
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

FADE IN:

EXT. LANGIT KOTA – PAGI

Matahari terbit perlahan di balik gedung-gedung. Kota mulai hidup. Kendaraan berlalu-lalang. Orang-orang berangkat bekerja.

CUT TO:

INT. RUMAH BHEA – KAMAR – PAGI

Sinar matahari menembus tirai.

Di atas tempat tidur berserakan katalog gaun pengantin, contoh undangan, buku anggaran, dan beberapa lembar daftar persiapan pernikahan.

BHEA (28), cantik, sederhana, penuh ketenangan, duduk di lantai sambil memberi tanda centang pada buku catatannya.

Ia tersenyum.

PONSELNYA BERDERING.

Close Up.

Nama di layar:

RAFSAN CALLING

Bhea mengangkat telepon.

INTERCUT – INT. KANTOR PROYEK RAFSAN – PAGI

RAFSAN (31), rapi, berwibawa namun hangat, sedang berdiri di depan jendela kantornya.

RAFSAN

Sudah sarapan?

BHEA

Belum. Aku lagi perang sama daftar pernikahan.

Rafsan tersenyum.

RAFSAN

Kalau begitu, calon suamimu memerintahkan calon istrinya berhenti bekerja lima menit.

BHEA

Perintah yang bagus.

RAFSAN

Nanti siang aku jemput.

BHEA

Ke mana?

RAFSAN

Rahasia.

Bhea tertawa kecil.

BHEA

Kamu ini.

Mereka sama-sama tersenyum. Telepon ditutup. Bhea memandangi cincin pertunangannya. Ia tersenyum penuh harapan.

CUT TO:

EXT. PROYEK PEMBANGUNAN – PAGI

Suara alat berat. Para pekerja berlalu-lalang. Logo perusahaan berdiri di depan lokasi proyek. Rafsan berjalan memasuki area. Dua rekannya menyambut.

ARGA (32), tegas. DIMAS (30), tampak memendam kecemasan. Arga menyerahkan sebuah map.

ARGA

Target bulan ini tercapai.

Rafsan membuka laporan. Mengangguk puas.

RAFSAN

Bagus.

Dimas terlihat gelisah.

DIMAS

Masih ada satu investor yang belum memberi jawaban.

Rafsan menepuk bahunya.

RAFSAN

Tenang.

Kita sudah terlalu jauh untuk gagal. Arga tertawa.

ARGA

Setelah nikah jangan hilang dari kantor.

RAFSAN

Kalau aku hilang, Bhea yang nyari duluan.

Mereka bertiga tertawa. HOLD pada tawa mereka. Perlahan suara tawa memudar.

CUT TO:

EXT. BUKIT PINGGIR KOTA – SORE

Langit keemasan. Angin bertiup pelan. Mobil Rafsan berhenti. Mereka turun. Bhea memandang hamparan kota.

BHEA

Indah sekali.

Rafsan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Bhea menatap penasaran. Kotak dibuka. Bukan cincin. Sebuah liontin berbentuk bunga teratai.

BHEA

Teratai?

RAFSAN

Bunga yang tumbuh di air keruh...

...tapi tetap mekar.

Aku ingin kita seperti itu.

Rafsan memakaikan liontin ke leher Bhea. Mata Bhea mulai berkaca-kaca.

BHEA

Aku nggak butuh hidup mewah.

Rafsan menatapnya.

BHEA (CONT'D)

Aku cuma ingin pulang...

...kepada orang yang sama...

...setiap hari.

Rafsan menggenggam tangannya.

RAFSAN

Aku janji.

Selama aku hidup...

aku akan menjaga kamu.

Mereka saling menatap. Perlahan berpelukan.

WIDE SHOT

Mereka berdiri di puncak bukit. Terlihat sangat bahagia.

CUT TO:

EXT. BUKIT – JARAK JAUH – SORE

Dari balik pepohonan...

Seorang WANITA BERGAUN HITAM memperhatikan mereka.

Wajahnya belum terlihat jelas. Di tangannya terdapat sebuah MAP KULIT HITAM.

Ia membukanya. Terlihat sekilas sebuah dokumen bertuliskan:

"PERJANJIAN SAHAM"

Wanita itu menutup map.

Senyum tipis.

WANITA

(pelan)

Setiap kebahagiaan...

selalu punya harga.

CUT TO BLACK.

TITLE CARD

TERPUTIH DALAM HITAM

FADE OUT.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)