Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
TALKING HEAD RIDWAN MANTULANGI
RIDWAN MANTULANGI
Mengapa kita harus berjuang? bukankah selama ini, kita hidup makmur dibawah pengawasan penjajah Belanda? Ketika Sultan Zainal Abidin Monoarfa meletakkan jabatannya dan Kesultanan Gorontalo berakhir di Tahun 1878, hanya Pohala'a Suwawa yang masih mempertahankan kedaulatannya, memaksa orang-orang Hollandia itu tidak menerapkan hak politiknya di bagian dalam Leda-leda[1] meskipun secara administratif, Gorontalo menjadi wilayah Afdeling dibawah pengawasan Kota Manado.
Tapi apa yang membuatku bangkit berjuang? karena, semakmur apapun kita ditangan orang lain... harga diri sebagai orang merdeka, tidak lebih dari pada kepatuhan seekor hewan peliharaan. Aku tak ingin hidup seperti itu...
EXT - KEBUN (TABULITI/ SUWAWA) - SIANG (22 JANUARI 1942)
RIDWAN MANTULANGI (27), petani, berlatih seni silat Langga di tengah-tengah hamparan tanaman sayur, tubuh bermandi peluh.
EXT - KEBUN (TABULITI/ SUWAWA) - SIANG (22 JANUARI 1942)
Suhaib Mooduto (27) muncul, mengenakan pakaian safari dan celana kargo, bersepatu lars. Dia berhenti, bersandar pada batang pohon, kemudian berdecak-decak melihat Ridwan yang tekun melatih seni silat Langga.
SUHAIB MOODUTO
(Berkomentar setengah mengejek) Ma diila'o ngopotiya ngohuyi, yi'o otuwawu ohama momulahu Langga.[2] Pantasi ma odiye piloputola lo wumbutamu, aaam... (berpeluk dada)
RIDWAN MANTULANGI
(Menjeda gerakan dan menoleh menatap Suhaib) oh, De'uyito ti'o kiraaa. Omoluwa ti'o yilombu?[3] (menghentikan latihan lalu melangkah mendekati Suhaib)
SUHAIB MOODUTO
(Menurunkan tangan, mengamati suasana siang) aku baru pulang dari Gorontalo (menatap Ridwan).
Keduanya saling berhadap-hadapan. Suhaib kembali memperhatikan sekeliling. Ridwan tertawa pelan dan manggut-manggut.
RIDWAN MANTULANGI
(menatapi Suhaib) kau tidak pulang ke Bangio?
SUHAIB MOODUTO
(Mendecak sejenak lalu menghela napas dan melengos) Belum saatnya aku beristirahat di Leda-Leda.[4] (kembali menatap Ridwan) Ada yang ingin kubicarakan denganmu.
RIDWAN MANTULANGI
(menunjuk ke arah saung, tanpa bicara)
mereka berdua bergerak ke arah saung. Suhaib duduk dilantai, bersila. Begitu juga dengan Ridwan.
SUHAIB MOODUTO
(Mengamati tanaman singkong) kelihatannya, kamu panen besar ke depannya, ya? (tersenyum dan manggut-manggut)
RIDWAN MANTULANGI
(sejenak menatap tanaman singkong, kemudian kembali menatapi Suhaib) Wolo u hepolomayawa mayi wolau?[5] polame'o ti Maryati dipolo dungga mayi... aliheo, pobisala...
SUHAIB MOODUTO
(memicingkan mata menatap Ridwan, kemudian menghela napas dan kembali mengamati sekitar setelah itu menatapi Ridwan) aku membawa pesan dari Pak Nani.
RIDWAN MANTULANGI
(mata berbinar penuh minat. bicara pelan, menekan) tentang apa? katakanlah!
SUHAIB MOODUTO
(menatap tajam Ridwan) kita akan melakukan gerakan merebut kantor pos dan kediaman karesidenan. Untuk lebih jelas...
RIDWAN MANTULANGI
(mencekal lengan Suhaib) Tunggu! besok? besok kita bergerak? aku tidak punya persiapan! (memelototi Suhaib)
SUHAIB MOODUTO
(tersenyum) persiapan apa yang kamu maksudkan? Maryati pastinya sudah paham dan tak akan mempersulitmu, kan?
RIDWAN MANTULANGI
(memelototi Suhaib) Kamu tidak perlu memelototi sepupumu itu. Aku hanya belum mempersiapkan semua!
SUHAIB MOODUTO
(tertawa) baiklah, persiapkan saja sekarang. Aku menunggumu sebentar malam di Lapangan Boludawa. (bangkit dan menuruni tangga saung lalu pergi tanpa menoleh lagi.)
Ridwan Mantulangi menatapi punggung sahabat sekaligus iparnya itu, kemudian mendesah kasar dan kembali menuruni saung dan melangkah mengambil jalan lain menuju ke rumahnya. Tak lama kemudian, dia tiba di belakang rumahnya, tepat Maryati (25) baru saja keluar membawa bekal makan siang.
MARIATI MOLUADU
(terperanjat) hiii, Longola yi'o malola mayi olawu wa wau? Ma polango ombongumu?[6] (mengolok lalu tertawa)
Tanpa bicara, Ridwan menarik tangan Mariati kembali masuk ke dapur. Perempuan itu meletakkan bekal di meja lalu duduk dibangku menatap suaminya.
RIDWAN MANTULANGI
(menatap Mariati) Aku memang lapar, tapi bukan menyusulmu. (duduk disamping Mariati, lalu menerawangi dinding dapur dari bahan pitate[7]) tadi, sepupumu datang un...
MARIATI MOLUADU
(terperanjat) Musli mendatangimu to ilengi[8]? (memekik) apa yang mau dilakukannya disana?
RIDWAN MANTULANGI
(menjawab ketus) memangnya aku menyebut nama Musli? sepupumu yang lain, si Suhaib baru tiba dari kota, mendatangiku (bicara sedikit ketus)
MARIATI MOLUADU
(membulatkan mulut setelah itu bertanya lembut) timongoli mpo bisala wolo to ilengi?[9]
RIDWAN MANTULANGI
(menatapi istrinya, kemudian menekur sejenak lalu kembali mengangkat wajah dan mendesah) ahhh... aku dimintanya ke Lapangan Boludawa sebentar malam. Pak nani sudah menunggu kami disana. (kembali menatap Maryati) kurasa, ini ada hubungannya dengan gerakan aksi.
MARIATI MOLUADU
(diam sejenak menatap suaminya, kemudian menekur) kamu akan ke Boludawa? terus, pulang jam berapa?
RIDWAN MANTULANGI
(mencolek dagu Maryati) kelihatannya, aku tidak akan pulang sampai gerakan aksi ini terwujud. Kamu, diamlah di rumah dan waspadalah. Jangan pernah keluar rumah sampai aku tiba disini.
MARIATI MOLUADU
(mengangkat wajah menatap suaminya) Poodaha dila malo mate, ya?[10] (tatapan tajam)
RIDWAN MANTULANGI
(menelan saliva lalu tersenyum) Yi'o oyiya mola lolametao odelo boyito?[11]
MARIATI MOLUADU
(melengos) entahlah... (menerawangi dinding dapur) aku hanya cemas saja. Ini bukan sekadar gerakan protes warga kepada kepala desa, tapi perjuangan menghadapi pasukan bersenjata.
RIDWAN MANTULANGI
(tersenyum) selama kamu berdoa untuk kemenanganku, kematian tidak akan berani mendekatiku.
MARIATI MOLUADU
(menatap suaminya) aku selalu mendoakanmu. (menghela napas lalu membuangnya dan menganggukkan kepala) baiklah, besiap-siaplah... tapi, habiskan makanan ini.
Mariati membuka bekal makan siang dan Ridwan kemudian menyantap lahap makanan bekal siang yang sudah disediakan istrinya.
(FADE OUT)
(CONTINUED)
[1] Istana Kerajaan. menjadi rumah tradisional yang dihuni para raja Suwawa
[2] Terjemahan: seterik ini siang, kau hanya asyik melatih (silat) Langga, pantas segelap ini warna kulitmu.
[3] Terjemahan: kiranya kamu, kapan datangnya?
[4] Rumah tradisional kediaman para raja Suwawa.
[5] Terjemahan: apa yang hendak kau bicarakan denganku? mumpung Maryati belum tiba. Bicaralah.
[6] terjemahan: kenapa menyusulku kemari? sudah laparkah kau?
[7] bambu anyam.
[8] Kebun
[9] Terjemahan: kalian membicarakan apa di kebun?
[10] Terjemahan: jangan sampai tewas, ya?
[11] Terjemahan: mengapa harus berkata begitu?