Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
[LOKASI: KORIDOR SMA GARUDA – SORE]
Matahari sore menggantung rendah, menyiram koridor sekolah dengan warna jingga yang hangat. Suasana sepi, hanya terdengar suara detak sepatu pantofel yang beradu dengan lantai keramik.
ADITYA berjalan dengan punggung tegak. Seragam OSIS-nya tidak memiliki satu pun lipatan yang salah. Matanya menyisir setiap sudut, memastikan tidak ada pelanggaran sebelum ia pulang.
Langkah Aditya terhenti tepat di depan mading besar. Matanya menyipit tajam.
Di sana, seorang gadis RAYA sedang berlutut di lantai. Seragamnya tampak berantakan dengan dasi yang tidak terpasang. Jemarinya yang mungil belepotan noda biru dan kuning, asyik menggoreskan kuas kecil pada pojok poster pengumuman OSIS yang kaku.
ADITYA
(Suara dingin, memecah keheningan)
Nama dan kelas?
Raya tersentak. Kuasnya hampir terlepas. Ia mendongak, menatap sosok tinggi di depannya yang menghalangi cahaya matahari.
RAYA
(Nyengir tanpa dosa)
Aduh, Kak. Bikin kaget saja. Saya Raya, kelas 11 IPA 2. Anak baru yang... baru saja tersesat di mading ini.
ADITYA
(Menunjuk poster dengan dagunya)
Kamu tahu itu pelanggaran? Merusak properti sekolah dengan coretan tidak berizin.
RAYA
(Berdiri, membersihkan tangannya ke rok)
"Merusak" itu kata yang kasar, Kak. Aku cuma kasih sedikit 'nyawa'. Lihat deh, pengumumannya jadi lebih menarik kalau ada ilustrasi burung kecil ini, kan?
Aditya melangkah satu tindak lebih dekat. Ia mengeluarkan buku saku hitam dari sakunya.
ADITYA
Hidup itu soal aturan, Raya. Tanpa struktur, semuanya hanya kekacauan. Besok pagi, datang ke ruang OSIS jam tujuh tepat.
RAYA
(Miringkan kepala, menatap wajah Aditya lekat-lekat)
Kakak ini... beneran robot, ya? Semuanya harus ada rumusnya? Apa Kakak nggak capek hidup di dalam kotak terus? Sekali-kali, coba lihat langit itu.
Raya menunjuk ke arah jendela. Aditya terdiam sejenak, tanpa sadar mengikuti arah telunjuk Raya. Langit sedang bertransformasi menjadi gradasi ungu dan emas yang luar biasa.
RAYA (Lanjut)
Itu bukan cuma fenomena fisika, Kak. Itu seni. Dan Kakak... butuh sedikit warna di hidup Kakak yang abu-abu itu.
Raya mengedipkan sebelah mata, memungut tasnya yang penuh coretan, lalu berlari kecil meninggalkan Aditya yang masih terpaku.
Aditya menatap punggung Raya yang menjauh, lalu beralih ke poster mading. Burung kecil biru yang digambar Raya seolah-olah sedang menertawakan kekakuannya.
ADITYA
(Bergumam pelan)
Dasar... anomali.