Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Humanisme
Suka
Favorit
Bagikan
1. 1
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT.KAMAR KAISARA — SIANG

Kaisara (21) dan Kiara (21) duduk di depan laptop. Keduanya menatap layar dengan tegang, menunggu pengumuman pemenang lomba menulis yang diikuti Kaisara.


KIARA
Udah jam satu siang, kok belum keluar juga pengumumannya, Kai?


KAISARA
Emang sering telat, Ki. Tahun kemarin juga mundur sekitar sepuluh menit.


KIARA
Sumpah... elu yang ikut lomba, tapi gue yang deg-degan. Perut gue sampe mules gini.


(beat)


Gue ke toilet dulu deh.


KAISARA
Ya udah, sana.


Kiara berlari kecil menuju kamar mandi.


Cut To


Beberapa saat kemudian, Kiara keluar sambil mengelus perutnya dengan wajah lega.

KIARA
Alhamdulillah... akhirnya lega juga. Tiga hari sembelit langsung sembuh gara-gara mikirin elu.


(mendekat ke laptop)


Gimana? Udah keluar hasilnya?


Kaisara tersenyum tipis.


KAISARA
Belum menang, Ki.


KIARA
Ah, bohong. Mana ada orang kalah tapi senyum-senyum begitu.


(menyipitkan mata)


Pasti menang, kan?


KAISARA
Serius. Nih, liat aja sendiri.


Kiara melihat layar laptop. Seketika matanya membesar. Ia langsung mencengkeram bahu Kaisara dan mengguncangnya pelan.


KIARA
Anjir... elu kalah lagi?


(heran)


Tapi kok elu santai banget sih? Gak usah pura-pura kuat deh, Kai. Kalo sedih, nangis aja. Teriak juga gapapa.


Kaisara hanya tersenyum tenang.


KAISARA
Apaan sih. Gue beneran biasa aja.


(beat)


Gagal itu bagian dari proses. Gue baru kalah dua kali, belum ada apa-apanya.


(dengan semangat)


J.K. Rowling aja ditolak belasan kali sebelum Harry Potter diterbitin dan akhirnya mendunia. Thomas Alva Edison juga gagal ribuan kali sebelum berhasil.


(menatap Kiara)


Perjalanan gue masih panjang, Ki. Gue gak mau buang waktu cuma buat sedih.


Kiara menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.


KIARA
Iya... dasar si idealis.


Tak lama kemudian, Kiara tertidur dengan posisi berantakan di atas kasur.


Kaisara menatap sahabatnya itu dengan ekspresi prihatin.


KAISARA
Kecapean nih anak...

(pelan)

Pasti gara-gara demo kemarin.


FLASHBACK TO:


EXT. DEPAN KANTOR GUBERNUR – SIANG

Ratusan mahasiswa berdemo menolak izin pembangunan pabrik semen. Spanduk dan suara orasi memenuhi area depan kantor gubernur.

Di barisan belakang demonstran, Kiara berdiri sambil membawa poster.

Kaisara datang tergesa-gesa menghampirinya.

KAISARA
Ki! Kiara!


Kiara menoleh lalu keluar dari barisan.


KIARA
Kenapa?


KAISARA
Pulang yuk. Lu mau sampe kapan di sini?


(beat)


Mama lu nelepon gue, nanyain lu dari tadi.


KIARA
Terus udah lu bilang belum?

KAISARA
Udah. Gue bilang elu lagi demo.

KIARA
Bukan demo doang.


(tegas)

Gue lagi bela kemanusiaan.


Kaisara menghela napas.


KAISARA
Lu gak takut apa? Kalo tiba-tiba ricuh terus aparat nangkep gimana?


KIARA
Santai aja. Aman kok.

(senyum kecil)

Kita turun aksi sesuai prosedur. Lagian ketua komunitas kita anak hukum.


KAISARA
Tetep aja...

KIARA
Udah ya, gue mau balik ke barisan lagi.


(beat)

Thanks, Kai.


Kiara kembali masuk ke tengah kerumunan demonstran.


Kaisara memperhatikannya dari jauh sambil geleng-geleng kepala.


KAISARA
(kesal kecil)
Susah banget ngebujuk si “protector”.


Kaisara menghela napas panjang, lalu menatap Kiara yang kembali berteriak menyuarakan tuntutan bersama massa aksi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)