Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Dongeng Putri Bulan dan Kesatria Matahari
Suka
Favorit
Bagikan
8. Scene #11

SCENE 11. EXT. HUTAN — NIGHT

Agras menunggangi kuda menuju hutan dan membuka tudungnya saat tiba seraya memperhatikan hutan yang gelap. Ia mengikat kuda di batang pohon, berjalan kaki memasuki hutan.

Agras mencari batu tersebut dengan cahaya redup keluar dari tangannya. Berusaha berjalan tanpa suara seraya memperhatikan sekitar.

Setelah beberapa lama mencari, Tiba-tiba ia melihat cahaya bulan kian menyinari 1 titik, mematikan cahaya di tangannya dan menghampirinya.

Agras melihat cahaya bulan yang begitu ajaib terserap ke sebuah batu di tengah hutan.

Ia kaget, samar melihat bayangan manusia. Dengan sihir kilatan cahayanya, Agras memperjelas bayangan itu. Sebelum sosok itu sadar dan dengan kecepatan cahaya, Agras sudah menangkapnya.

AGRAS

(memegangi lengan Tuan Putri, menyeringai)

Ketemu!

Raut wajah Agras berubah, terkejut, melihat bayangan itu dari dekat dengan sisa sinar bulan purnama terserap padanya sebelum kembali tertutup awan. Cahaya bulan menembus dada sosok itu.

Agras menatap sosok Tuan Putri dengan raut penuh tanya. Perlahan, sosok itu menampakan wujudnya. Lagi, Agras terkejut, mengenali wajah Tuan Putri tapi dengan dada yang berlubang.

Segera Agras melepas jubahnya dan mengenakannya pada Tuan Putri untuk menutupi dadanya yang berlubang. Tapi seketika jubahnya ikut berlubang.

AGRAS (CONT'D)

(menatap ngeri)

Kenapa?

Tuan Putri terdiam sejenak, melepaskan jubah dan mengembalikannya pada Agras. Bagian jubah yang berlubang, kembali seperti semula.

AGRAS (CONT'D)

Kenapa? Kenapa dadamu berlubang, Putri?

Tuan Putri diam

AGRAS (CONT'D)

Tuan Putri, ada apa dengan dadamu? Tapi, bukankah enggak ada rumor soal ini? Dan katanya Putri terjebak dengan kekuatan sendiri sampai gak bisa terlihat selamanya?!

Tuan Putri diam, menunduk

AGRAS (CONT'D)

(menggenggam lagi tangan Tuan Putri)

Baiklah, maaf atas kelancangan saya. Tapi kalau Putri masih gak mau menjawab, saya bisa menyeret Putri ke tengah keramaian dan membiarkan semua orang menatap jijik karna lubang yang menganga itu. Jika Tuan Putri menjawabnya, saya janji gak akan mengatakannya pada siapapun. Sumpah Kesatria Matahari!

(mengangkat tangan kanan, dan tangan kiri di dada)

Tuan Putri terkekeh sejenak. Memindahkan rambut panjangnya ke depan untuk menutupi sebagian lubang tersebut.

TUAN PUTRI (19)

Semua rumor itu... aku yang menciptakan dan menyebarkannya.

Agras terdiam. Tuan Putri duduk di batunya

TUAN PUTRI (CONT'D)

Mulai dari novel hingga batu ini. Kecuali spekulasi di luar itu yang diciptakan oleh khayalan mereka sendiri. Demi menutupi lubang ini dan aku yang melarikan diri.

AGRAS

Jadi soal Anda yang terjebak oleh kekuatan sendiri karna kutukan?

TUAN PUTRI

Itu bisa dikatakan benar, tapi bisa juga tidak. Kutukannya bukan aku yang terjebak oleh kekuatanku sendiri hingga bisa tak terlihat begitu saja, tapi lubang ini kutukannya.

(merubah sebagian tubuhnya menjadi tak terlihat sekilas)

Kau lihat? Lubangnya ikut hilang, jika aku menggunakan kekuatanku.

AGRAS

Jadi soal Demon itu benar? Lubang itu karna Demon?

Tuan Putri tertawa

TUAN PUTRI

Kau yang seorang Kesatria terbaik kerajaan percaya ada Denin muncul entah dadu mana sebelum batu ini muncul beberapa tahun lalu? Itu cuma dongeng!

Agras mengerutkan dahi

TUAN PUTRI (CONT'D)

Bukan Demon. Aku... kalah dari musuh yang bersarang dalam diriku sendiri.

(melihat lubang di dadanya)

Si ketakutan-ketakutan yang tak beralasan.

Agras terkejut dalam diam

TUAN PUTRI (CONT'D)

Sudah jadi tugas wanita untuk dijodohkan demi kepentingan politik, terlebih untuk gadis bergelar Tuan Putri. Aku yang menyukai kebebasanku selama ini, terlalu takut soal itu. Terlalu takut oleh sesuatu yang bisa saja tidak terjadi. Tapi bagaimana jika terjadi? Terkurung dalam sangkar dan dianggap sebagai boneka pajangan yang harus mengenakan barang-barang bagus untuk menunjukkan tingkat kesejahteraan kerajaannya.

Tuan Putri mengeluarkan air mata dan Agras memandanginya dengan termenung.

TUAN PUTRI (CONT'D)

Saat Ayah membawa kabar soal perjodohanku, ketakutan-ketakutan itu mulai datang bertubi-tubi. Aku berusaha menghilangkannya dengan kekuatanku, tapi...

AGRAS

(berlutut)

Malah jadi seperti ini?

TUAN PUTRI

(terkekeh)

Iya. Konyol kan? Lalu aku meninggalkan surat untuk Ayah bahwa aku kabur, membuat batu ini, menulis penemuan batu ini atas nama anonim, mengirimkannya ke percetakan surat kabar lewat pos dan meledak begitu saja. Karena meledak, sekalian saja aku buat susulan ledakan lainnya dengan novel soal kisah ini.

AGRAS

dan soal Yang Mulia Raja gak mau memindahkan batu ini untuk artefak kerajaan?

TUAN PUTRI

Alasannya mudah, ini bukan artefak sesungguhnya. Pasti para peneliti batu itu juga sudah ditutup mulutnya oleh Ayah, karna Ayah pasti sudah tahu kalau ini cuma mainan yang aku ciptakan.

AGRAS

Soal tutup mulut. Gak ada satu pun yang tahu Tuan Putri hilang. Yang Mulia berhasil menutup mulut semua pekerja di Istana.

TUAN PUTRI

Yaa... seperti itulah penguasa.

Agras terdiam cukup lama, Tuan Putri memandanginya.

TUAN PUTRI (CONT'D)

Maaf. Aku tidak bisa membiarkan diriku ikut denganmu ke istana walaupun kau memaksaku dengan segala cara. Aku tidak bisa membantumu menjadi seorang pahlawan yang membawa Tuan Putri yang hilang kembali ke Istananya atau... menjadikanmu kesatria pengawal pribadiku.

AGRAS

(Terkejut)

Bagaimana bisa kau tahu?

TUAN PUTRI

Aku ada di sana saat itu dan maaf karena ulahku, jabatanmu sebagai kesatria terbaik kerajaan dipertaruhkan.

AGRAS

Tuan Putri tidak perlu minta maaf. Itu sudah menjadi resiko dari pekerjaanku. Kalau begitu, sebaiknya aku segera kembali dan membiarkan Tuan Putri istirahat. Salam untuk kebahagian dan kesejahteraan permata kerajaan.

(Memberi hormat dan mulai beranjak)

TUAN PUTRI

Kau boleh melaporkan hasil temuanku atau keberadaanku!

Agras menoleh ke arah Tuan Putri

TUAN PUTRI (CONT'D)

Dan bisakah kau menyampaikan ini pada Ayahku? Ini!

(Memberikan secarik kertas dan dua buah gelang)

Kau jual saja gelangnya. Aku tahu harganya pasti tidak sebanding dengan jabatanmu yang akan dicopot karena ulahku.

AGRAS

Tidak Tuan Putri, aku tidak bisa mengambil apa yang menjadi milik Tuan Putri.

(Berusaha mengembalikan gelangnya)

TUAN PUTRI

Tidak, kau ambil saja. Anggap saja itu menjadi bentuk permintaan maafku. Tolong, terima saja.

AGRAS

(Menghela napas) baiklah kalau Tuan Putri memaksa. Kalau begitu aku pergi.


Agras berjalan pergi meninggalkan Tuan Putri yang berdiri meatung menadanginya. Agras mengambil kudanya dan menungganginya pergi ke Istana.

CUT TO:


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)